ALDO ROJAX
ARSV
Aldo Rojax Street Vlog | Art, Histori & Culture | My Youtube ALDO Channel official. Mulus Rahayu Berkah Salamet.
🇮🇩 West Java - Indonesia 🇮🇩
11/08/2026
SDN 024 Coblong Kota Bandung (yang dahulu dikenal sebagai SDN Coblong 1) berlokasi di Jl. Ir. H. Juanda No. 304.
Terdaftar di Portal Dinas Pendidikan Kota Bandung memiliki tanggal Surat Keputusan (SK) pendirian pada 1 Januari 1943. Namun di tahun 2017 mengalami penyesuaian penggabungan atau Regrouping beberapa sekolah lama yang ada di kawasan tersebut hingga bertransformasi menjadi SDN 024 Coblong Kota Bandung.
SDN 024 Coblong Kota Bandung memiliki keunggulan berupa status akreditasi A, lingkungan belajar yang bersih, aman, dan kondusif, serta penerapan model pembelajaran yang inovatif dan efektif.
Sekolah ini juga aktif menjawab tantangan degradasi karakter di era digital melalui kegiatan MPLS dan pembinaan karakter yang terarah.
Memiliki mutu dan standar pelayanan pendidikan yang sangat baik dengan lingkungan sekolah yang kondusif, suasana sekolah yang mendukung kegiatan belajar mengajar.
Menyelenggarakan metode belajar yang efektif dan menyesuaikan perkembangan zaman, selain itu juga memperkuat akhlak dan budi pekerti siswa untuk menghadapi era digital.
Sekolah ini juga menerapkan jumlah siswa per kelas yang terarah agar proses penyerapan materi lebih maksimal.
Jejaknya masih ada di sekitar kita 😱
Penampakan batu-batu Candi 😱
10/08/2026
Enny Arrow, adalah nama yang begitu melekat dalam dunia penulisan Indonesia pada tahun 1977-1992, karya-karyanya adalah yang paling banyak dibaca generasi muda Indonesia.
Jika kita membahas penulis yang satu ini tentulah banyak simpang siur mengenai jejak pribadinya, sangatlah misterius. Sehingga tentangnya sampai saat ini hanyalah opini-opini yang tak pernah terpecahkan keabsahannya.
Di situs Goodreads mengatakan bahwa Enny Arrow lahir dengan nama Enny Sukaesih Probowidagdo, lahir di Desa Hambalang, Bogor tahun 1924. Karirnya yang D imulai sebagai jurnalis pada masa pendudukan Jepang, belajar Steno di Yamataka Agency, kemudian direkrut menjadi salah satu propagandis Heiho dan Keibodan.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Enny Arrow bekerja sebagai wartawan Republikein yang mengamati sepanjang pertempuran di sekitar wilayah Bekasi.
Pada tahun 1965 Enny Sukaesih menulis karangan dengan judul "Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta" karangannya ini merupakan pertama kali ia mengenalkan nama samaran sebagai "Enny Arrow" kata Arrow ia dapatkan sesuai dengan nama toko penjahit di dekat Kalimalang yang bernama Tukang Djahit "Arrow", di toko tempat penjahit itulah Enny Sukaesih pernah bekerja sebagai penjahit pakaian.
Setelah Gestapu 1965, suasana politik tidak menentu, Enny Arrow kemudian berkelana ke Filipina pada bulan Desember 1965, dari Manila ia pergi ke Hong Kong dan kemudian ia mendarat di Seattle Amerika Serikat pada bulan April 1967.
Di Amerika Serikat Enny Arrow mempelajari penulisan kreatif bergaya Steinbeck, setelah menemukan irama Steinbeck, Enny Arrow mencoba beberapa karyanya di koran-koran terkenal Amerika Serikat, salah satu karya Enny Arrow adalah novel dengan judul : "Mirror Mirror".
Pada tahun 1974 dia kembali ke Jakarta dan bekerja di salah satu perusahaan asing di Jakarta sebagai copy writer atas kontrak-kontrak bisnis, semasa dia ini Enny Arrow rajin menulis karya sastra yang sangat berkualitas, karya sastranya yang disebut-sebut mengalahkan popularitas Ali Topan Anak Jalanan adalah "Kisah Tante Sonya". Pada tahun 1980 karya Enny Arrow mendapatkan Berbagai yang luar biasa di banyak penerbit-penerbit rakyat di sekitaran Pasar Senen.
Enny Arrow bukan saja penulis yang berkibar karena karya-karyanya, ia juga merupakan penantang atas sastra-sastra yang berpihak pada kaum pemmodal, sampai pada Kematian Enny Arrow pada tahun 1995 tak satupun orang Indonesia tau siapa Enny Arrow, dan dia menolak bukunya dijual di toko-toko buku besar.
Lalu siapakah Enny Arrow sebenarnya? Dan sampai kapan perdebatan dan simpang siur tentangnya terus bergulir? Yang jelas Enny Arrow adalah menjadi sebuah potret manajemen marketing paling hebat pada masanya, bagaimana ia menjual kepanasaran hingga kini siapa sebenarnya dirinya.
10/08/2026
Nano Suratno, atau lebih dikenal dengan nama populernya adalah Nano S. Lahir di Tarogong, Garut-Jawa Barat pada 4 April 1944, Wafat di Bandung pada 29 September 2010. Ia adalah seorang maestro, komponis, dan musisi pop serta karawitan Sunda asal Tarogong, Garut, Jawa Barat. Ia terkenal karena memadukan musik tradisional Sunda (seperti degung) dengan unsur musik modern, serta menciptakan lagu legendaris berjudul "Kalangkang".
Sejak umur 5 tahun Nano sudah dibawa pindah ke Bandung oleh orangtuanya. Kedua orang-tuanya, Iyan S dan Nyi Nonoh termasuk keluarga pecinta seni, walaupun sehari-harinya sebagai wiraswasta. Di lingkungan keluarga, sejak kecil Nano dianggap memiliki kemampuan menyanyi yang diwarisi dari kakek dan buyutnya yang juga dalang wayang golek. Ketika masih di bangku SD, Ia sering diminta memperlihatkan kemahirannya dalam pertemuan keluarga.
Karena minatnya yang besar kepada musik karawitan dan dorongan kakaknya, setelah lulus SMP, Ia melanjutkan ke Konservatori Karawitan di Bandung pada tahun 1961. Setelah tamat, Ia mengajar di SMPN 1 Bandung pada tahun 1965-1970, kemudian pindah ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) (1970-1995) di mana Ia menjabat sebagai Ketua Jurusan Karawitan dan Wakil Kepala SMKI.
Beberapa tahun kemudian, Ia kuliah di Akademi Seni Tari Bandung dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Jurusan Karawitan Sunda, sampai selesai.
Sejak 1995 sampai pensiun (2000), Nano menjadi Kepala Taman Budaya Provinsi Jawa Barat .
Ia menghabiskan hidupnya di Bandung, tepatnya Gang H Ahmad, Jalan Muhammad Toha.
Nano memiliki istri bernama Dheniarsah dan dikaruniai 3 orang anak. Salah satu putrinya bernama Nantia Rena Dewi Munggaran.
Dalam meniti karirnya, Nano mulai menciptakan lagu sejak tahun 1963 sampai akhir hayatnya dengan kumpulan hampir duaratus album. Tahun 1964, Ia bergabung dengan kelompok Ganda Mekar pimpinan Mang Koko, tetapi beberapa tahun kemudian ia mendirikan kelompok sendiri yang diberi nama Gentra Madya (1972). Banyak menciptakan lagu karawitan Sunda, di awal masih memperlihatkan pengaruh gurunya, Mang Koko, tetapi kemudian mulai memperlihatkan karakternya sendiri.
Pada 1976, Ia menyusun buku kawih untuk bahan pelajaran di sekolah menengah dengan judul “Haleuang Tandang”.
Dalam pergelaran yang disebut prakpilingkung (keprak,kacapi,suling,angklung), Nano mempunyai komposisi Sunda dan Belanda sekaligus mengkritik berbagai ketidakberesan dalam masyarakat. Ia juga mentertawakan diri sendiri karena sering terjebak dalam situasi yang lucu.
Pada tahun 1979, Nano mengikuti Festival Komponis Muda Indonesia I yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan membawakan komposisinya Sang Kuriang. Selanjutnya, Nano menggelar pertunjukan karawitan Gending Sangkuriang di Festival Komponis Muda yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki.
Selain itu, Nano membuat komposisi Umbul-Umbul yang ditayangkan pada televisi nasional dengan membawa 75 orang dan memainkan 15 ragam komposisi musik Sunda.
Selain bermusik, Nano juga dikenal sebagai penulis sajak dan cerita pendek berbahasa Sunda. Karyanya pernah di muat dalam majalah Mangle, Hanjuang, Cupumanik, Seni Budaya, Koran Sunda dan lainnya. Cerita pendeknya dikumpulkan dengan judul Nu Baralik Manggung (Yang pulang sehabis pertunjukan).
Pada 31 Maret 2006, Nano pernah menjadi salah satu Dewan Redaksi Harian Koran Sunda hingga penerbitan terakhir 29 September 2007.
Segudang prestasi Nano dapatkan sepanjang hidupnya. Pada tahun 1980, salah satu karyanya berjudul Karawitan Gending Sangkuriang disertakan di Festival Musik Internasional di Taiwan. Ini adalah prestasi luar biasa bagi Nano dalam membawa seni karawitan Sunda di kancah internasional.
Pada 1981 hingga 1982, Nano mendapat beasiswa dari The Japan Foundation untuk belajar selama setahun di Tokyo National University of Fine Arts and Music, Universitas Kesenian Tokyo, untuk mempelajari perbandingan tangga nada Sunda dan Jepang, terutama antara alam musik Kecapi dan Koto. Selain itu, Ia juga belajar meniup Sakuhachi dan memetik Shamisen, yang kemudian membuat kolaborasi alat-alat itu pada ciptaannya dan membuat beberapa lagu karawitan Sunda yang berbahasa Jepang, diantaranya Katakana Hiragana Uta, Ueno Koen dan D'enshano Uta.
Pada 1988, Ia diminta oleh kelompok kesenian Jepang Min on impresario, untuk mengadakan pertunjukan kesenian Sunda di berbagai kota seluruh Jepang selama 40 hari dengan 22 kali pertunjukan. Selain itu, Nano juga berkunjung ke Hongkong, Philipina, Belanda, Australia, Amerika Serikat, dan sebagainya untuk mengadakan pertunjukan.
Pada 1990, Ia diundang oleh departemen musik Universitas Santa Cruz untuk mengajar dan membuat pergelaran dalam Spring Performance.
Pada Oktober 1999, di Jepang, Ia memainkan lagu ciptaannya yang berjudul “Hiroshima“, yang dibuat khusus untuk memenuhi permintaan Wali Kota Hiroshima yang mengenalnya sebagai pencipta lagu.
Popularitasnya semakin menanjak setelah album-album rekaman kasetnya banyak diminati oleh masyarakat, diantaranya Kalangkang (Bayangan, 1989), lewat suara Nining Meida yang sekaligus mengorbitkan nama penyanyi itu, Kalangkang dalam versi pop Sunda yang dipopulerkan Detty Kurnia meraih penghargaan BASF Award (1989), dan setahun kemudian meraih penghargaan HDX Award yang terjual 2 juta kopi.
Tiga tahun kemudian Cinta Ketok Magic (1992), melalui suara penyanyi dangdut Evie Tamala meledak di pasaran sehingga mendapat HDX Award tingkat Nasional.
Meskipun lagu-lagu ciptaannya berjenis karawitan, tetapi dengan cepat memperoleh penggemar di seluruh Indonesia, bukan hanya dari kalangan orang Sunda saja, apalagi setelah lagu-lagu itu dijadikan pop Sunda.
Selain itu, Ia juga membuat lagu untuk Gending Karesmen bersama Wahyu Wibisana, Rahmatullah Ading Affandie, dan lainnya. Gending Karesmen ciptaannya antara lain Deugdeug Pati Jaya Perang, Raja Kecit, 1 Syawal di Alam Kubur, Perang, dan sebagainya.
Nano S meninggal dunia di RS Immanuel, Kota Bandung, pada 29 September 2010 akibat sakit yang memicu pembuluh darahnya pecah.
Ternyata masih banyak peninggalan masa lalu di sekitar kita 😱
Bagian belakang Goa Belanda Tahura Bandung.
10/08/2026
Detty Kurnia, lahir 15 Agustus 1961 dan wafat pada 20 April 2010. Detty Kurnia adalah penyanyi legendaris asal Bandung, Jawa Barat, yang mempopulerkan musik pop Sunda dan dangdut. Ia dikenal luas berkat kemampuannya memadukan musik tradisional Sunda dengan unsur modern, serta sukses membawa nama musik Sunda go international hingga ke Jepang.
Detty Kurnia merupakan putri dari musisi gamelan Sunda Iding Martawidjaja. Ia mulai bernyanyi sejak usia dini dan merilis rekaman pertamanya di usia belia.
Ia memiliki karakter vokal kuat serta merdu dalam membawakan lagu-lagu melankolis maupun dinamis khas Sunda.
Detty Kurnia mencapai masa kejayaannya pada era 1970-an hingga 1990-an lewat lagu-lagu ikonik seperti "Mawar Bodas" dan "Maribaya". Ia seringkali berkolaborasi dengan seniman Sunda lainnya, termasuk almarhum Darso.
Prestasi internasional menjadi duta budaya Indonesia dan tampil di berbagai ajang internasional, termasuk di Osaka dan Tokyo, Jepang.
Detty Kurnia merilis album bertajuk Dari Sunda (1991) di bawah label Jepang Wave Records. Album Dari Sunda masuk dalam daftar lima album terbaik versi majalah musik Inggris, Q Magazine.
Akhir hayatnya ia masih tetap produktif berkarya walaupun sudah dalam kondisi sakit, ia masih merilis album Tapak Cinta pada tahun 2009.
Detty Kurnia meraih penghargaan tingkat nasional seperti BASF Award dan HDX Award lewat lagu populer "Kalangkang", serta memenangkan AMI Awards 2006 untuk kategori Lagu Daerah Terbaik lewat "Duriat Pegat".
Popularitasnya di dunia internasional tak diragukan lagi, ia memiliki basis penggemar hingga ke luar negeri, termasuk popularitas yang tinggi di negara Jepang.
Pada 20 April 2010 Detty Kurnia meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung akibat penyakit kanker stadium empat.
10/08/2026
SDN 023 Pajagalan Kota Bandung, yang juga (dahulu bagian dari SDN/SDPN Pajagalan), adalah sebuah sekolah dasar negeri berakreditasi A yang berlokasi di Jalan Pajagalan No. 58, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat.
Dulu, pada tahun 1951, SDN 023 Pajagalan Bandung belum menggunakan nama sekolah dasar negeri seperti sekarang, melainkan bernama Sekolah Rakjat (SR). Pada masa peralihan tahun 1950-an awal di Indonesia, jenjang pendidikan dasar umum dikenal dengan sebutan Sekolah Rakyat (SR) menggantikan sistem sekolah masa kolonial Belanda.
Perubahan nama, berubah secara bertahap menjadi Sekolah Dasar (SD) seiring penataan nomenklatur oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menjadi SD Negeri di dekade berikutnya.
Perkembangan dan aktivitas terkini sekolah ini aktif menjalankan program pendidikan karakter berbasis Profil Pelajar Pancasila serta kegiatan ekstrakurikuler seperti kepramukaan.
Dalam perjalanannya, sekolah ini juga terus beradaptasi dengan sistem pendidikan modern, termasuk penguatan literasi dan pembentukan karakter siswa (dikenal dengan visi sekolah Insan Kamil).
SDN 023 Pajagalan Kota Bandung (dikenal juga sebagai SDPN 58) dengan memiliki keunggulan utama berakreditasi A. Sekolah ini fokus pada visi "Insan Kamil" yang membentuk siswa kreatif, berakhlak mulia, mandiri, melek teknologi, dan literat melalui pembelajaran aktif yang mengasah kemampuan berpikir kritis serta kerja sama.
Kompetensi 4C: Mengajar siswa agar pintar berpikir kreatif, kritis, bisa bekerja sama, dan pandai bicara.
Fokus IPTEK & Literat: Membiasakan siswa akrab dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya membaca.
Goa Jepang 😱
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Address
Masih Di Dunia
Bandung
170945