Cerita Rakyat

Cerita Rakyat

Share

Menyiapkan Suara Hati

15/03/2026

Dikira beruntung ternyata buntung. Seorang wanita yang merupakan buruh dikebun sawit di desa Tempirai, ia tanpa sengaja memukan benda peninggalan jaman dulu yang berupa emas murni namun emas itu kini sudah di amankan polisi sebagai aset negara.

Entah kabarnya wanita itu kini seperti apa. Biasanya negara kita ini ... ya tahu sendiri seperti apa, tidak perlu embel embel untuk menjelaskan semuanya.

Sumber_seliweran fb

04/03/2026

Pada Senin, 23 Januari 2026, seorang remaja perempuan bernama Najwa dilaporkan meninggalkan rumah dari kawasan Simpang Tiga dengan alasan ingin meminta izin bekerja ke Medan.

Namun, izin tersebut tidak diberikan oleh orang tuanya karena tujuan keberangkatan Najwa dinilai tidak jelas, termasuk dengan siapa ia akan pergi.

Meski telah dilarang, Najwa tetap bersikeras untuk berangkat setelah menerima telepon dari temannya.

Najwa kemudian berlari sendiri ke arah Bandara Rembele dan diikuti oleh orang tuanya yang berusaha mengejar.

Dalam perjalanan tersebut, orang tua Najwa melihat sebuah mobil hitam sejenis Toyota Agya dengan nomor polisi BL 1282 NC mengikuti dari belakang.

Namun, perhatian orang tua lebih terfokus pada Najwa sehingga tidak sempat memperhatikan pergerakan mobil tersebut secara detail.

Setibanya di sekitar area homestay Bandara, mobil tersebut masih terlihat mengikuti. Saat perhatian orang tua teralihkan sesaat, Najwa tiba-tiba sudah berada di dalam mobil hitam tersebut dan langsung dibawa pergi, sehingga tidak dapat dikejar lagi.

Setelah kejadian itu, Najwa sempat menghubungi dan menyampaikan bahwa dirinya berada di Masjid Simpang Tiga. Namun, setelah dicek, Najwa tidak ditemukan di lokasi tersebut. Selanjutnya Najwa kembali menginformasikan berada di kawasan Serba 35 Simpang Tiga.

Pihak keluarga bersama aparat kepolisian langsung menuju lokasi, namun hasilnya tetap nihil.

Komunikasi terakhir, Najwa menyebutkan dirinya berada di Takengon. Keluarga kembali melakukan pencarian ke wilayah tersebut, namun hingga saat ini Najwa belum juga ditemukan.

Pihak keluarga berharap adanya bantuan dari masyarakat dan pihak berwenang untuk membantu melakukan pencarian serta mengungkap keberadaan Najwa secepatnya.

Jika ada masyarakat yang melihat atau mengetahui informasi terkait Najwa, diharapkan segera melapor kepada pihak kepolisian terdekat dan Hubungi Nomor Orang Tua An Rasidah dan Syahputra 0812-6070-9822

21/10/2023

Tipu daya Susuk Pemikat

"Aku ingin separuh hartamu jatuh ke tangan anak kita, Kakang." Ning berucap sambil berkacak pinggang, matanya melotot menatap suaminya.

Damar hanya mengangguk, tatapannya kosong. Ia masih begitu mencintai Ning, di hatinya masih terukir nama Ning namun Ning tidak peduli samasekali, Ning yang hobi berselingkuh dengan banyak laki-laki pun tak membuat Damar menyerah.

"Pikirkan lagi, Ning. Kasihan Nyimas, dia masih terlalu kecil." Damar memperhatikan raut wajah putrinya yang ber-ubah menjadi sedih.

"Aku tidak peduli. Bukankah Kakang tahu kalau mas Randra lebih segalanya daripada kakang," tegas Ning kemudian berlalu pergi.

Randra adalah adik sepupu Damar, selain wajah tampan Randra juga punya pemikat agar wanita selalu terpikat padanya, berbeda dengan Damar yang tak menginginkan hal itu karena ia ingin di cintai dengan setulus hati walau pun dalam keluarganya masih kental dengan mistis namun Damar sama sekali tidak peduli.

*
Malam telah kembali, menjemput pada peristirahatan untuk menghilangkan lelah di tubuh namun Damar masih duduk di teras rumah menunggu sang istri kembali.

Setelah permintaan Ning tadi siang Damar merasa dirinya tak berguna menjadi suami namun di tengah kegundahan hatinya seseorang datang sambil mendorong sepedanya lewat di depan rumah Damar, pandangan laki-laki paruh baya yang mendorong sepeda itu menatap sesekali buku coklat yang ia pegang.

"Kau masih menunggu, Ning?"

"Bagaimana Bapak tahu?" Damar bangkit dari duduknya lalu beranjak mendekati laki-laki paruh baya yang kini telah menghentikan langkahnya setelah Damar mendekat.

"Aku tahu segalanya, bahkan yang tidak kau tahu sekali pun," ungkapnya membuat Damar semakin penasaran.

Damar duduk di anak tangga rumah panggungnya lalu memperhatikan wajah asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Wajah yang tidak pernah ia lihat dalam suasana apa pun di desanya.

"Apa bapak baru di kampung ini?" tanya Damar ragu, ia teramat takut menyinggung hati orang lain.

"Aku orang lama, jangan khawatirkan apa yang belum terjadi tapi khawatirkan apa yang sedang terjadi." Laki-laki itu mendorong sepedanya lagi namun damar menghentikannya.

"Katakan apa yang Anda maksud." Damar menarik tangan laki-laki paruh baya itu yang hendak melangkah pergi.

"Wanita yang teramat kamu cintai sedang menikmati keindahan duniawi bersama orang yang ia cintai, termasuk anak yang bersamamu saat ini bukanlah anakmu."

Damar bergetar mendengar penjelasan dari laki-laki itu, ia menatap kosong ke arah lain, sungguh ia tak percaya bahwa Ning telah berkhianat cukup lama padanya.

Awal menikah dengan Damar, Ning nengaku kalau ia sedang hamil anak dari Damar sebab Damar pernah menggauli Ning satu kali dalam pengaruh obat-obatan yang sama sekali tidak Damar tahu.

Nyatanya semua trik itu hanyalah permainan Ning untuk mendapatkan suami karena telah di hamili oleh Randra.

Tangan damar bergetar, ia ingin bertanya hal lain pada laki-laki itu namun laki-laki paruh baya itu telah menghilang di sampingnya.

"Randra." Damar mengambil celur*t lalu mengasahnya, ia akan bersenang-senang dengan darah malam ini.

*

Ketukan pelan terdengar di rumah yang terbilang mewah di bandingkan rumah Damar yang hanya berpintu bambu usang.

"Kang Damar, ada apa mencariku selarut ini?" tanya Randra setelah membuka pintu sedikit.

"Di mana Ning?" Mata Damar sudah memerah menatap Randra namun Randra tidak menyadarinya.

"Dimana? Dia istrimu, Kang. Kenapa bertanya pada ...."

Sebelum Randra melanjutkan ucapannya Damar telah menggoreskan celur*t di leher Randra setelah mendengar suara Ning yang sedang memanggil Randra dan semakin mendekat ke arah pintu.

Ning si primadona desa kini tak lagi menjadi idaman hati Damar setelah ia mengetahui jika anak yang selama ini Damar besarkan bukanlah anaknya.

"Kang Damar." Ning berdiri di ruang tamu sementara Damar masih berada di ambang pintu setelah menyeret tubuh Randra ke semak-semak begitu cepat.

"Sudah menikmati surga bersama Randra bukan? Sekarang giliranku," ucap Damar lalu berjalan mendekati Ning.

Ning berlahan mundur, ia memandang celur*t yg ada di tangan Damar. Saat ini Ning sungguh tak ingin mati di tangan Damar tanpa ia sadari Damar memiliki motif lain di balik semua ini.

"Maafkan aku, Kang."

Damar hanya mengangguk, berulang kali Ning meminta maaf pada Damar namun berulang kali p**a Ning mengingkarinya.

Jam terus berdetak, pay*dara Ning kini berada di tangan Damar lalu ia letakkan di tangan Randra yang sudah tak bernyawa di semak-semak. Damar telah memotongnya.

"Ayo sayang ikut Ayah. Di sini terlalu banyak orang jahat." Damar menggendong Nyimas lalu membawanya pergi.

Damar sudah memikirkan segala konsekwensinya, ia telah pergi dari desa untuk selamanya. Ia sungguh tak ingin hidup dengan orang-orang yang selalu baik di depan namun busuk di belakang, contohnya adalah Randra adik sepupunya sendiri.

**

18 tahun pun berlalu, kini Nyimas telah menjelma menjadi putri cantik dan pandai ilmu bela diri karena Damar sendiri yang mengajarkannya.

"Kang. Aku ingin kelapa tapi akang yang mengambilnya," kata Nyimas sambil tersipu malu setelah tersenyum.

Rumah yang berada di tengah hutan itu terlihat begitu indah dengan aliran sungai di sampingnya.

Laki-laki yang wajahnya sedikit lebih tua dari Nyimas memanjat pohon kelapa sedangkan Nyimas duduk di tepi sungai namun matanya beralih saat ia sedang melihat seseorang sedang ketakutan karena seekor harimau mengejarnya.

Jiwa kemanusiaan Nyimas bangkit, ia berlari nyaris terbang dan menolong laki-laki yang kini sudah begitu tua.

"Bapak tidak apa-apa?"

Laki-laki itu menggeleng lalu mengusap p**i Nyimas.

"Siapa namamu?"

"Nyimas."

Laki-laki itu tersentak lalu mundur beberapa langkah, lalu mengerutkan keningnya. Ia merasa heran karena tragedi terjadinya pembuahan yang terjadi pada Ning beberapa tahun lalu Nyimas hilang tanpa jejak.

"Kau tinggal dengan siapa?" tanya laki-laki itu lagi.

"Calon suami yang telah merawatku dari dulu," jelas Nyimas bahagia.

"Perkenalkan aku dengannya."

Nyimas mengangguk karena begitu dengan bisa bertemu dengan orang lainnya sain calon suaminya.

"Kakang, Nyimas p**ang."

Langkah Nyimas tertahan saat laki-laki tua yang mengikutinya tidak lagi dapat berjalan saat melihat siapa calon suami Nyimas.

"Dia ayahmu!" Tegas laki-laki tua itu namun Nyimas semakin bingung.

"Jangan berdusta, bagaimana bisa? Jika dia ayahku maka dia akan seusiamu, Pak."

Sungguh Nyimas bingung saat ini hingga satu panah menembus perut laki-laki tua yang berada di samping Nyimas.

"Aku tidak ingin kau mempercayai siapa pun selain aku," pungkas calon suami Nyimas yang tak lain adalah ayah Nyimas sendiri.

"Pergilah ke neraka!" Nyimas melemparkan tombak hingga menembus jantung Damar dan membuat pembuluh darah pecah. Tubuh Damar jatuh terkapar seperti seekor babi liar yang terkena tombak.

Nyimas tersenyum penuh kemenangan, seseorang yang telah datang dan menyakinkan dan memecah teka-teki yang pernah hadir di dalam mimpinya kini tak lagi membuat Nyimas seperti seekor singa namun berwujud kucing.

**
Hikmah yang dapat kita petik.

Apa yang telah kita tanam itu yang akan kita petik.

07/07/2023

"Sanggup? Harus, karena kalau haus itu butuh minum bukan mimpi."

04/07/2023

"Mencari cinta pada pasangan yang mendua, bagaikan memisahkan padi dari kump**an kerikil."

~Cerita Rakyat~

29/06/2023

"Hari ini kemarau melanda hati, bisa jadi besok hujan yang bisa menyejukkan kalbu."

~Benang Biru~

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Takengon?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Website

Address


Takengon