NengSyantik
Bercerita lah. Karena itu akan membuatmu bahagia. bagi kamu yang suka membaca dan berimajinasi..
BAB 2
KEHEBOHAN PAGI
“Dinaaaaaaaa cepet” teriakan dan gedoran pintu kamar mandi menghiasi irama pagi itu dikediaman keluarga Kusuma. Bagaimana tidak sibungsu kesayangan berada dikamar mandi satu satunya keluarga itu sudah lebih dari satu jam lamanya. Dan itu bukan lah hal baik dalam keluarga Kusuma. Angga sang abang sudah tidak tahan dengan sikap adik bungsu kesayanganya itu.
Dor dor dor dor
“Dinaaaaaaa cepetan, abang mau boker ini” lagi lagi gedoran pintu dan suara teriakan si sulung kebanggaan keluarga terdengar lagi. Mama yang berada didapur merebus air untuk suami tercintanya hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya menghadapi kelakuan dua anak nya tersebut. Dan papa yang merupakan sosok paling santai sejag*t raya dalam menghadapi tingkah anak anak nya tidak terganggu sedikitpun dengan kehebohan yang diciptakan oleh anak anaknya pagi itu. Beliau dengan santai menikmati secangkir kopi dan sepiring singkong rebus buatan sang istri tercinta dihalaman belakang rumah sambil memandang tingkah laku ayam ayam peliharaanya.
“wooooi kembalikan celana ku, itu mau aku pakai kerja hari ini” teriakan lain terdengar didalam kamar depan tempat siduo bujang putra kembar keluarga kusuma. Anak kedua dan ketika keluarga kusuma ini tidak pernah bisa akur dan memang mereka hanya mau mengalah pada sibungsu kesayangan yang sekarang entah tertidur atau pingsan dikamar mandi sampai sampai sang abang sulung tidak berhenti mengedor gedor kamar mandi.
“No Rafael, kemarin kamu ambil kaosku tanpa bilang, sekarang aku pakai celanamu dan tidak akan aku kembalikan” Raffa pun tanpa memperdulikan lagi umpatan Rafel dan langsung berlari keluar menuju ruang tengah untuk menghindar dari bogeman Rafael. Mereka sudah seperti kucing dan tikus saja yang tidak akan pernah bisa disatukan.
“Raffa balikin aku bilang” teriak Rafael siap siap merebut celana yang ada ditangan Raffa, Raffa yang terus meledek saudara kembarnya sambil berlari menjulurkan lidahnya seolah menang dalam membalas perbuatan saudaranya. Rafael yang sudah emosi diujung tanduk segera menegejar kembaranya yang jahilnya luar biasa menurutnya (la Abang Afel lupa kalau abang Raffa dan dirinya sama ) Raffa yang terkejut segera berlari tidak tentu arah akhirnya berlari kebelakang rumah dan menabrak tiang jemuran yang baru saja mama keluarkan sebelum memasak sayur tadi.
BRUUUK
Jemuran roboh beserta cucian yang masih basah menimpa tubuh Raffa, Rafael mematung didepan pintu tanpa berani mendekat karena bisa dipastikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Raffa Rafaeeeeeeeeeeeel”
Akhirnya teriakan merdu yang sang*t khas dirumah tersebut terdengar juga menambah kehebohan pagi, teriakan seriosa siapa lagi kalau bukan suara sang mama, sang ibunda ratu dikeluarga Kusuma, yang titahnya tidak akan pernah bisa ditolak apalagi dilanggar oleh seluruh keluarga.
“gelut teruuuuuuuuus, sana masih banyak centong sayur mama buat berantem. Kalau mau p*sau juga ada didapur tinggal ambil sana” teriak mama sambil mengaduk sayur yang hampir matang di atas kompor, setetelah suara seriosa sang ibunda ratu terdengar, suasana rumah mendadak hening seakan akan hanya suara jangkrik yang terdengar dibelakang rumah.
“Raffa Rafael, cuci ulang semua jemuran yang kalian robohkan, atau kalian tidak akan ada yang boleh keluar rumah pagi ini. Selesaikan semua sebelum berangkat kerja” titah sang ibunda ratu dengan nada yang terlihat sang*t murka kembali terdengar didalam rumah itu.
Judul : Brond**g Tengil
Penulis : Meinawati N
Di KBM APP
BAB 1
“ Wooy, Maen HP terus, niat jualan ngak?”
Dina berteriak didepan Penjual Buku yang asyik memainkan Hp tanpa melayaninya. Dengan santai Penjual buku yang masih muda tersebut hanya menoleh sambil tersenyum. Karena tidak MasyaAllah akhirnya done juga klau nurutin nafsu masih kurang in masih kurang itu tpi uda alhmdllah bnget dicuekin Dina pun nekat masuk sendiri kedalam Toko untuk mengambil apa yang Dia perlukan.
“Wooy Kresek dimana tempatnya?”
Lagi lagi Dina berteriak di dalam Toko tersebut karena geram lihat penjaganya yang tidak peduli dengan kehadirannya.
“tuh kresek“
Ardi menunjuk lewat ekor matanya gantungan kresek di sebelah etalase tempat nya berdiri.
Dengan hati yang sang*t d**gkol Dina segera menyambar kantung kresek didekat Ardi.
“Berapa” Dina mengangkat kresek berisi amplop didepan Ardi. Dina semakin geram dan akhirnya meninggalkan uang Rp20.000; diatas etalase di depan Ardi. Karena Pria tersebut hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya tanpa menoleh sedikitpun.
“ Besok aku kesini lagi, tanya harganya” Dina pun beranjak pergi dari sana,.
Tiba tiba tangan kekar menarik tanganya, sontak Dina pun menoleh.
“Berapa nomermu“ Ardi menyerahkan benda p**ih didepan Dina. Hanya lirikan yang tajam dan sinis yang Dina berikan, Dia sama sekali tidak tertarik dengan benda p**ih yang masih menggantung didepannya. Dia melirik tajam pada tangan Ardi yang masih belum melepas tangannya. Ardi tidak peduli sama sekali dan diapun menyambar Hp yang Dina genggam di tangan kirinya. Memasukkan nomernya , benda p**ih ditangan Ardi pun berbunyi.
“nich aku kembalikan ndel” senyum Ardi tip*s.
“kamu gila ya“ mata Dina melotot tajam giginya gemeretuk, tanganya mengepal.
“baru kali ini aku di marahi pembeli, boleh kenalan dekat ya ndel “
“ogaah”.
"besok aku laporin kamu sama Pak Wijaya supaya dipecat". Dina bergegas keluar dengan menahan geram dan mengerutu disepanjang jalan.
Tanpa mereka berdua sadari, di ujung belakang pintu Toko Pak Wijaya memperhatikan pertengkaran tersebut.
Beliau tersenyum dan berjalan menghampiri putra nya sambil menepuk bahunya dari belakang.
sontak Ardi menoleh memamerkan senyum tengilnya.
" kamu s**a dia Ar"
"dia lucu pak, Ar s**a menggodanya"
"jangan pernah permainkan perempuan Ar"
"tidak pak, Ar s**a lihat wajah jutek nya kalau Ar goda, dia apa adanya, dan dia masih berfikir Ar karyawan Bapak"
Pak Wijaya hanya tersenyum dan kembali menepuk bahu kokoh putranya.
"jangan pernah bermain main dengan perasaan wanita Ar, mereka makhluk yang sang*t lemah,laki laki sejati tidak pernah bermainmain dengan hati wanita" pesan bapak Wijaya pada putranya, karena beliau tahu betapa tengilnya putranya.
Diusianya yang masih Remaja Putra nya belum pernah dekat dengan yang namanya teman wanita dan baru kali ini beliau melihat sosok putranya yang lain bisa berinteraksi dengan wanita.
Dengan wajah yang santai Ardi menanggapi ucapan ayahnya dengan santai.
"Ar serius Pak, Ar benar benar s**a dia" Lanjut Ardi melayani beberapa pembeli yang masuk ke Toko Buku Bapaknya.
Pak Wijaya pun sudah fokus kembali melayani pembeli bersama putranya sambil sesekali melirik kearah putranya, hatinya berkata kata kalau putranya sudah dewasa bukan lagi jagoan kecilnya yang selalu digend**g nya kemana mana diatas pundaknya dulu.
Judul : Brond**g Tengil
Penulis : Meinawati N
KBM APP
“Capek Jadi Anak Perempuan yang Harus Manut! Seila Lawan Aturan Jadul Sang Nenek”
..,.........................................
“Kamu itu anak perempuan Sel, mau jadi apa kamu kalau gak nurut sama si Mbah”
“Heran anak gadis kok Yo doyan berontak, apa dulu kamu itu tertukar dalam perut ibumu. Ibu mu Lo manuuut sama Mbah, kok ya kamu bantah trus. Capek Mbah lama lama sama kamu. Anak perempuan itu harus manut Sel. Ndak bantahan kayak kamu gitu” ceramah panjang kali lebar kali tinggi kali lingkaran kali keliling sudah terdengar disebuah rumah yang lumayan mewah di desa Kajen. Rumah lantai satu yang tidak terlalu mewah untuk orang kebanyakan, itu merupakan ukuran mewah untuk masyarakat desa Kajen. Tetua dalam rumah tersebut sedang berceramah. Memberi kuliah subuh yang kecepatan kereta ekspres VVIP. Memberi ceramah pada salah satu cucu perempuan nya.
Mbok Mis, panggilan akrab untuk tetua rumah itu didesanya, dia memang tetua, warga paling tua dirumah dan didesa Kajen. Sehingga warga sekitar sering memanggilnya Tetua Desa Kajen mbok Mis. Nama nya sang*t Singkat Misrah dan dikenal mbok Mis.
Kehidupan dimasa muda nya yang sang*t keras dan sering kekurangan membuat Sikap nya sang*t keras kepala dan tidak bisa dibantah. Siapapun tidak bisa membantahnya, termasuk ke 7 anak mbok Mis. 2 perempuan dan 5 laki laki. Salah satu perempuan itu adalah bunda nya Seila. Bagi mbok Mis, semua kedua anak perempuan dan ke 4 cucu perempuannya harus bisa seperti dia, pekerja keras dan bisa di andalkan keluarga. Berbeda dengan anak laki laki. Bagi mbok Mis, anak laki laki adalah raja. Bebas berlaku apa saja dirumah.
Siang itu, Seila pergi bermain dengan teman teman nya. Ke 3 adek Seila sudah pergi tidur karena kelelahan membantu bunda Jeni membersihkan rumah dan halaman yang tidak kita kira luasnya. Tidak hanya itu, Bunda Jeni juga harus menumbuk padi di lumbung, memasak memakai kayu bakar, semua pekerjaan yang harus melakukan adalah perempuan. Semua pekerjaan adalah tugas perempuan, bukan tugas laki laki.
Seila yang memang tidak pernah taat aturan dirumah selalu membantah apapun yang dikatakan Neneknya. Setiap ucapan neneknya selalu dilanggar. Tidak peduli salah atau benar. Karena pada akhirnya dia juga harus kena huk*man.
“Enak banget ya jadi laki laki, bangun boleh siang, makan tinggal makan, boleh tidak kerja. Seila juga mau Mbah. Kok enak banget paman paman aja yang boleh. Kenapa buka paman pan saja yang bantu bunda?” Salah satu Omelan sSeila ketika disuruh mbok Mis membantu Bunda di dapur.
“Kamu itu anak perempuan Sel, mau jadi apa kamu kalau gak nurut sama si Mbah”
“Heran anak gadis kok Yo doyan berontak, apa dulu kamu itu tertukar dalam perut ibumu. Ibu mu Lo manuuut sama Mbah, kok ya kamu bantah trus. Capek Mbah lama lama sama kamu. Anak perempuan itu harus manut Sel. Ndak bantahan kayak kamu gitu”
“La kenapa harus dibeda beda si Mbah, kita kan sama sama manusia, sama sama hidup dirumah kenapa harus berbeda”
“Ya wes pkok e aturane Mbah ya gitu, kamu harus nurut”
“Ndak mau lah Mbah, Ndak enak kok disuruh manut”
“Eh dibilangin kok bantaaaaah terus”
“Ya biarin lawong Mbah yang salah kok”
Judul : SEILA
Penulis : Meinawati N
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App
04/04/2026
BAB 2
KEHEBOHAN PAGI
“Dinaaaaaaaa cepet” teriakan dan gedoran pintu kamar mandi menghiasi irama pagi itu dikediaman keluarga Kusuma. Bagaimana tidak sibungsu kesayangan berada dikamar mandi satu satunya keluarga itu sudah lebih dari satu jam lamanya. Dan itu bukan lah hal baik dalam keluarga Kusuma. Angga sang abang sudah tidak tahan dengan sikap adik bungsu kesayanganya itu.
Dor dor dor dor
“Dinaaaaaaa cepetan, abang mau boker ini” lagi lagi gedoran pintu dan suara teriakan si sulung kebanggaan keluarga terdengar lagi. Mama yang berada didapur merebus air untuk suami tercintanya hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya menghadapi kelakuan dua anak nya tersebut. Dan papa yang merupakan sosok paling santai sejag*t raya dalam menghadapi tingkah anak anak nya tidak terganggu sedikitpun dengan kehebohan yang diciptakan oleh anak anaknya pagi itu. Beliau dengan santai menikmati secangkir kopi dan sepiring singkong rebus buatan sang istri tercinta dihalaman belakang rumah sambil memandang tingkah laku ayam ayam peliharaanya.
“wooooi kembalikan celana ku, itu mau aku pakai kerja hari ini” teriakan lain terdengar didalam kamar depan tempat siduo bujang putra kembar keluarga kusuma. Anak kedua dan ketika keluarga kusuma ini tidak pernah bisa akur dan memang mereka hanya mau mengalah pada sibungsu kesayangan yang sekarang entah tertidur atau pingsan dikamar mandi sampai sampai sang abang sulung tidak berhenti mengedor gedor kamar mandi.
“No Rafael, kemarin kamu ambil kaosku tanpa bilang, sekarang aku pakai celanamu dan tidak akan aku kembalikan” Raffa pun tanpa memperdulikan lagi umpatan Rafel dan langsung berlari keluar menuju ruang tengah untuk menghindar dari bogeman Rafael. Mereka sudah seperti kucing dan tikus saja yang tidak akan pernah bisa disatukan.
“Raffa balikin aku bilang” teriak Rafael siap siap merebut celana yang ada ditangan Raffa, Raffa yang terus meledek saudara kembarnya sambil berlari menjulurkan lidahnya seolah menang dalam membalas perbuatan saudaranya. Rafael yang sudah emosi diujung tanduk segera menegejar kembaranya yang jahilnya luar biasa menurutnya (la Abang Afel lupa kalau abang Raffa dan dirinya sama ) Raffa yang terkejut segera berlari tidak tentu arah akhirnya berlari kebelakang rumah dan menabrak tiang jemuran yang baru saja mama keluarkan sebelum memasak sayur tadi.
BRUUUK
Jemuran roboh beserta cucian yang masih basah menimpa tubuh Raffa, Rafael mematung didepan pintu tanpa berani mendekat karena bisa dipastikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Raffa Rafaeeeeeeeeeeeel”
Akhirnya teriakan merdu yang sang*t khas dirumah tersebut terdengar juga menambah kehebohan pagi, teriakan seriosa siapa lagi kalau bukan suara sang mama, sang ibunda ratu dikeluarga Kusuma, yang titahnya tidak akan pernah bisa ditolak apalagi dilanggar oleh seluruh keluarga.
“gelut teruuuuuuuuus, sana masih banyak centong sayur mama buat berantem. Kalau mau p*sau juga ada didapur tinggal ambil sana” teriak mama sambil mengaduk sayur yang hampir matang di atas kompor, setetelah suara seriosa sang ibunda ratu terdengar, suasana rumah mendadak hening seakan akan hanya suara jangkrik yang terdengar dibelakang rumah.
“Raffa Rafael, cuci ulang semua jemuran yang kalian robohkan, atau kalian tidak akan ada yang boleh keluar rumah pagi ini. Selesaikan semua sebelum berangkat kerja” titah sang ibunda ratu dengan nada yang terlihat sang*t murka kembali terdengar didalam rumah itu.
Lain di tempat jemuran lain p**a dikamar mandi belakang rumah masih terdengar suara Angga yang setia menggedor gedor pintu kamar mandi dengan suara rengekan nya.
“Adeeeeeeek, cepet d**g, abang sudah tidak tahan ini”
Dor dor dor
“adeeeeeeeeeeeeek”
Dor dor dor dor
“DINA PUTRI KUSUMA cepet Abang bilang” sekali lagi Angga berteriak memanggil adeknya yang masih betah berlama lama dikamar mandi.
“Abang Anggaaaaaaaaaaaa” nah kan terdengar lagi teriakan sang ratu rumah.
“pukul terus itu pintu sampai roboh sekalian” lanjut mama memarahi anaknya. Papa yang sudah mendengar teriakan istri tercintanya akhirnya beranjak dari tempat duduk dan menghampiri nya, dengan penuh cinta Papa Kusuma memeluk istri tercintanya dan mulai menggodanya.
“Nyanyian mama merdu sekali sich pagi ini, keluar yuk sayang, temani papa beli bubur ayam di pojokan sana” sambil tangan nya mematikan kompor yang masih menyala. Lekas papa Kusuma mengandeng dan menarik tangan mama untuk diajak berjalan keluar rumah sambil berkata pada ketiga putranya “kalian berdua lekas selesaikan kekacauan pagi, dan kamu Abang Angga lekas bangunkan putri tidur itu”
Judul : Brond**g Tengil
Penulis : Meinawati N
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah :
https://read.kbm.id/book/read/dcaa4cb4-0518-48a0-957f-f80d0559df3c/f7cf4c3c-fc39-4328-908c-e59901e0dc26?af=b131ecfc-2462-44c6-caca-27b6552dd231
18/03/2026
"Lina, tolonglah. Jangan seperti ini. Tega kamu menju al rumah kita. Mas dan adik madumu akan tinggal di mana setelah ini? Apa kau tak kasihan pada Ibu. Pikirkanlah baik-baik, jangan e go is."
"E go is katamu? Lalu, pernikahan diam-diammu itu? Ck, sepertinya kamu butuh cermin buat ngaca."
"Kenapa? Apa hanya karena pernikahan keduaku kamu jadi berubah seperti ini? Harusnya dengarkan dulu penjelasanku, Lina. Aku berhak menikah lagi. Aku ingin punya anak dan kau tak bisa memberiku."
Plakk!
"Aduh!"
Lina me nam par p**iku dengan keras. Sakit sekali. Ke ter laluan dia, berani kurang a jar padaku.
"Jaga sikpamu, Lina! Ke ter laluan!
Aku menunjuk dengan tangan kanan.
"Terserah apa katamu, aku tak peduli lagi!"
Lina membuang muka. Merasa tak berdosa. Ia berjalan cepat meninggalkanku. Harus bagaimana melembutkan hati istri tuaku itu. Keben cian membuatnya bu ta seperti ini. Ia bahkan sang*t berani padaku sekarang.
"Mbak, sadarlah, Mbak. Duh."
Kutepuk-tepuk p**i Mbak Menik. Ia masih tak sadarkan diri. Mana tu buhnya lumayan berat, pegal kakiku menahan kepalanya.
Akhirnya kubiarkan saja Mbak Menik pingsan di atas lantai. Sementara aku berlalu mengejar Lina.
***
"Jadi deal, ya, Pak. Nanti kita ke no ta ris, sekalian ngurus balik nama."
Aku melongo. Jabat tangan antara Lina dan seorang pria yang katanya pembe li rumah, membuat kepalaku seketika berputar hebat. Kesepakatan sudah dibuat. Aku terlambat.
"Tidak, tidak bisa, Pak. Ini rumah saya!"
Aku berteriak sambil setengah berlari mendekat.
"Rumah saya? Ing*t, ya, Mas. Kamu cuman num pang hidup di sini."
"Tapi ini rumahku juga!"
"Apa? Maksudnya bagaimana Bu Lina?" Pria itu menjadi ragu. Baguslah. Kesempatan untuk bisa membatalkan.
"Hohoho, jangan dengarkan pria ini, Pak. Sepertinya obat yang harus ia minum habis. Jelas sekali keterangan di surat rumah beratas namakan aku. Sok-sokan ngaku miliknya. Begini saja, kalau masih tak terima, kamu bisa bawa ke jalur hu k*m. Kita selesaikan di sana."
Deg!
Lina lancar sekali berbicara. Seperti sudah terlatih berkata seperti itu. Atau jangan-jangan ada yang mengajarinya? Lina-ku biasanya lembut, tapi sekarang ....
"Mari, Pak. Kita buat kesepakatan di luar saja. Saya gerah di sini."
***
Mondar-mandir sambil berpikir. Isi kepalaku buntu. Lina tak ada gentarnya. Ia bahkan me nan tangku ke jalur hu k*m. Jelas saja aku kalah. Tak punya bukti kepemilikan. Lina pemilik yang sah.
Tap!
Tap!
Tap!
Lagi, highells yang digunakan Lina menggema di telingaku. Menoleh cepat ke arah pintu utama. Lina datang setelah mengantar calon pembeli ke luar rumah.
"Hanya satu minggu. Penghuni baru akan menempatinya. Silakan berkemas dari sekarang, Mas."
Lina berujar dengan tenang. Tanganku g*tal, sampai akhirnya ....
"Plakk!"
Aku me nam parnya. Kesal! Istri tak tahu diri. Berani sekali pada suami.
"Ke ter laluan kamu, Lina!" desisku setelah me nam par.
Lina mengusap pelan. Ia lalu tersenyum sekilas. Kulihat bekas lima jari milikku membekas di pi pinya. Jelas saja sakit. Karena aku pakai tenaga, tapi anehnya, Lina diam tak meri ngis.
"Kamu bilang aku ke ter laluan? Oke, baiklah. Sekarang dengarkan aku, Mas. Kamu menikah lagi tanpa izinku. Menyuruhku mudik ke rumah Ibu, aku menurut saja karena kupikir kamu mendukung usahaku agar bisa hamil. Aku mencari pengobatan di sana, ya, hampir seminggu."
Lina menarik napas dalam. Ia menatapku.
"Tapi fakta di sini. Kamu diam-diam menikah lagi, bahkan didukung penuh oleh keluargamu. Apa ini bukan ke ter laluan?" tanyanya lagi.
"Kamu salah paham. Aku menikahi Ratih karena ingin punya keturunan. Mas pikir dengan tak memberitahu, kamu akan setuju saja. Karena Mas yakin, jika meminta izin, jelas sekali kamu akan menolak."
"Yakin hanya ingin keturunan saja? Apa kamu pikir aku bu ta? Tak tahu apa-apa soal Ratih? Bukankah dia tetangga satu kampungmu di desa? Kalian bahkan pernah pa ca ran. Hahahaha, aku tahu semuanya, Mas. Sekarang, sudahlah. Semuanya telah usai. Silakan me nik mati kehidupan barumu dengannya. Aku sudah melayangkan gu g*t cerai di pengadilan. Tunggu saja surat pemberitahuannya turun."
Lina mengibas rambutnya kemudian pergi. Ada yang ber de nyut sa kit dalam hati saat ia berkata gug*t cerai. Tak kusangka Lina akan seperti ini.
Keputusan untuk menikahi Ratih rupanya membawa ma sa lah baru. Kehidupanku, harta yang menjadi milikku, harus dimulai dari angka nol lagi.
S*alan!
***
Bersambung ....
Sudah tamat di KBMapp
Judul : Pengantin Baru Suamiku
Penulis : Amaliyah Aly
Link baca ada di kolom komentar, check 👇
https://read.kbm.id/book/detail/40639f8a-a139-0ff6-1c1a-9b805385a7cb?af=1bbd70ff-232d-8034-0d4c-3610a18d5188
18/03/2026
YANG KU TEMPUH DEMI ANAK. SELAMAT MENIKMATI MASA TUA DI PENJARA IBU MERTUA KU
Anita POV
"Buk, bisa bicara sebentar," aku menghampiri ibu mertua yang tengah memberi makan ayam di kandang.
Ibu tidak mengiyakan tapi juga tak menolak. Aku anggap ibu setuju kita bicara.
Setan berhasil mengompori, kali ini emosiku sudah diujung ubun, aku tak memiliki pengendalian. Aku sakit hati dengan kelakuan ibu terhadap ragilku.
"Bengong, cepat ngomong. Ibu banyak kerjaan," ujarnya dengan nada yang tak enak didengar telinga.
Aku tidak kaget dengan sikap yang seperti itu, sebelum aku menjadi menantu, ibu yang paling kelihatan tidak s**a. Entah apa salah yang pernah aku perbuat. Setiap kali yang aku lakukan selalu salah dimatanya.
"Mengenai Aera. Anita mohon, tolong ibu bersikaplah lembut terhadap dia," aku meminta dengan serius. Agar ibu iba dengan keadaan anak itu yang baru ditinggal Mas Yudi, papanya. "Ibu boleh membenci Anita, tidak s**a sama Anita, ibu boleh. Tapi jangan Aera. Dia tidak memiliki saladdddh apapun. Sekali lagi, tolong, Bu. Perlakukan Aera sama seperti cucu yang lainnya." Sekitaran bola mataku terasa panas.
Ibu berhenti dari aktifitas menabur beras untuk anak-anak ayam.
Bisa dibilang aku telat menegur ibu. Menurutku ini waktunya. Dulu semasih ada Mas Yudi, aku tak mempermasalahkan sikap yang seperti itu. Bukan berarti aku s**a dengan perlakuan ibu yang sungguh spesial terhadap si bungsu. Pikirku, si bungsu tidak masalah, karena kasih sayang kami bisa menggantikan dan lebih besar tak tertandingi. Namun setelah Mas Yudi meninggal, otomatis kasih sayang untuk anakku yang malang berkurang.
"Anita tidak meminta ibu menyukai Aera, tapi setidaknya ibu bersikaplah lembut terhadap anak itu," aku membiarkan air mata lolos lagi. Kesedihan kehilangan suami belum sembuh, luka batin ditambah lagi dengan sikap ibu. "Anita tidak mempermasalahkan ibu benci aku, jangan Aera," ulangku.
Ibu tidak menjawab. Dia berlalu pergi.
Aku menggepalkan kedua tangan di sisi jahitan baju. Menguatkan diri. Sekarang hanya aku yang menjadi sandaran untuk anak-anak. Tak boleh rapuh di depan mereka.
Setelah cukup lama aku menenangkan diri, aku pun segera masuk ke dalam. Lama-lama berada di kandang ayam, membuat kepala tambah pusing. Bukan lagi karena memikirkan sikap ibu yang menurutku kekanakan, tapi ditambah bau kotoran ayam.
"Ma, dipanggil akung," Aira si mbarep menghampiriku. Dia memeluk dan mehujaniku ciuman-ciuman kecil. Kebiasaan anak pertamaku kalau seharian lama tak bertemu denganku. "Kata akung, Aira disuruh sekolah disini, Ma."
Deg
Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar aduan Aira. Aku seperti mendapatkan firasat buruk lagi.
"Aira nggak mau. Di rumah akung jauh kalau ke mana-mana."
Aku bisa lega. Aira menolak. Akan aku gunakan alasan ini untuk senjata.
Aku mengusap lembut kepala Aera. Anakku sudah besar rupanya, dia mengerti dengan kalimat yang diucapkan orangtua.
"Mama akan bicara dengan akung. Mama juga nggak mau jauh-jauh dari anak mama yang cantik jelita ini." Aku membingkai wajah Aira. Pahatan sempurna pemberian Gusti Allah yang mirip dengan almarhum papanya.
"Benar ya, Ma."
"Iya. Sekarang kamu main lagi hih sama saudara-saudara."
Setiap kali dulu Mas Yudi mengajak liburan di rumah mertua, aku tak pernah membatasi anak-anak bermain dengan sepupu-sepupunya. Bahkan aku juga mengizinkan Aira tidur dengan nenek dan akungnya, Anakku butuh bersosial juga dengan saudara. Kuberi kebebasan asal mereka nyaman.
Aku menemui mertua lelaki. Ternyata mereka berk*mpul di ruang tamu. Belum bubar meski acara tahlilan sudah selesai. Aku berasa tengah di sidang.
"Nggeh, Pak. Kenapa bapak memanggilku?"
Obrolan orang-orang menjadi hening. Pandangan keluarga Mas Yudi mengarah kepadaku. Seakan tatapan mereka menelanjangi dan mengulitiku. Sinis. Yang aku tangkap.
"Duduk sini," bapak menepuk-nepuk tempat kosong sebelahnnya.
Aku manut.
"Begini, nduk. Sekarang mas-mu Yudi sudah meninggal. Di Surabaya, kamu juga bekerja."
Bapak bicara bertele-tele. Kenapa tidak langsung ke inti permasalahan. Begini aku jadi greget.
"Bapak takut, anak-anakmu tidak ada yang mengawasi lagi nanti."
Meski lidah sudah terasa g*tal untuk menjawab, aku masih upayakan menggigitnya. Menunggu agar bapak selesai mengutarakan maksudnya. Meski aku bisa menebak dari aduan sulungku tadi. Pasti yang dibicarakan tak akan jauh dari hal tersebut. Aku tahu sopan-santun. Menyela pembicaraan orangtua bentuk ketidaksopanan.
"Bapak sama ibu hanya ingin membantu kamu mengawasi mereka, bapak berharap kamu mengizinkan agar Aira bisa tinggal dan mengenyam pendidikan disini. Bagaimana?"
"Hanya Aira?" Aku memastikan.
"Kamu ngarep, anakmu super power juga kami tampung disini?" Suara nyolot ibu menggema.
"Bu, pelankan suara kamu," bapak mertua mempering*tkan. "Hanya Aira saja. Bapak pikir Aera masih kecil dan banyak membutuhkan ibunya."
"Anita terserah anaknya, Pak. Bapak bisa langsung tanya Aira."
Disisi terjahat dalam hati, aku menunggu siapa yang bakalan menang dalam kasus ini. Kalian akan ditolak oleh sulungku.
Aira dipanggil. Dia duduk di dekatku. Sementara Aera, si kecil memilih duduk di pangkuanku.
Mertua mulai menggencarkan cara membujuk mbarepku agar mau sekolah di sini. Mulai dibelikan sepeda, diajak jalan-jalan setiap Minggu, hingga bujukan-bujukan yang menurutku konyol mereka utaran, mbarepku dengan pendirian teguh ingin tetap sekolah di Surabaya.
Tanpa aku tutupi, senyum puas mengembang di ujung bibirku. Aku lega. Aira menolak.
"Bujuklah itu anak, kamu," ibu menyuruhku.
"Anita dan Mas Yudi pernah sepakat ketika mendidik anak-anak kita tidak boleh memaksakan keinginan orangtua. Kita orangtua yang modern memberikan kebebasan untuk anak-anak. Meski sekarang papanya telah tiada, cara mendidik yang Mas Yudi terapkan juga akan saya lanjutkan untuk diterapkan pada Aira dan Aera. Tidak akan memaksa mereka menuruti pilihan orangtua selama mereka memiliki pilihan sendiri dan nyaman dengan pilihan itu."
"Omong kosong! Mana bisa kamu sekarang mendidik anak kamu? Ibuk yakin, kembalinya kalian ke Surabaya, pasti kamu lebih sibuk dan cinta dengan pekerjaan kamu. Mengabaikan anak-anak kamu." Ibu menuduhku.
Aku melongo mendengar ucapan yang tidak masuk akal dan mengada-ada.
"Ma, aku nggak mau sekolah disini," anakku Aira mengiba.
"Bapak dan ibu mendengarkan? Aira tidak mau. Tolong hargai keinginannya."
"Alah, itu pasti kamu yang mengajarkan anak membangkang seperti itu. Memang ya sejak awal ibu melihat kamu perempuan licik."
*
Judul Suamiku Meninggal Di Kamar Pemandu Lagu
Penulis Pena Supini
Aplikasi KBM
18/03/2026
Bab 5
Malam itu, seusai salat Magrib, Azka belajar membaca dan berhi tung. Arini sengaja tidak mema sukkan putranya ke taman kanak-kanak karena keterbatasan bi aya. Ia memu tuskan untuk mengajarinya sendiri di rum ah.
“Tahu nggak, mending Azka mas ukin ke TK aja. Aku yang bakal bia yain semua keperluannya. Biar aku yang langsung kasih ke sekolahnya, supaya Ibu ku nggak ikut cam pur lagi,” ucap Dani.
Arini hanya mengangguk pelan, tak berkata apa-apa.
Setelah salat Isya, Dani berkata, “Azka, main yuk, jalan-jalan naik motor sama Ayah!”
Azka mengangguk antusias.
“Apa Ibu juga boleh ikut?” tanyanya po los.
Dani tidak langsung menjawab. Ia malah melem parkan pertanyaan pada Arini.
“Kamu mau ikut, Rin?”
Karena pertanyaan itu bukan ajakan tul us, Arini menggeleng pelan.
“Ibu di rum ah aja, ya. Ibu mau istirahat.”
“Tapi nanti p**angnya ke sini, kan, Ayah?” tanya Azka lagi.
Dani mengangguk singkat. “Iya.”
Setelah itu, Dani dan Azka pergi jalan-jalan berdua. Mereka baru p**ang sekitar pu kul sembilan malam.
Begitu masuk rum ah, Azka langsung bercerita dengan wajah ceria.
“Ibu, tadi aku makan soto ayam. Aku disua pin tante-tante... Namanya Tante Diana. Katanya dia pa car Ayah.”
Arini terdiam. Ta tapannya langsung beralih ke Dani, yang hanya diam membi su tanpa ekspresi.
Tanpa banyak bicara, Arini mengajak Azka mencuci kaki.
“Ayo, bobok. Udah malam.”
Azka mengikuti Arini mas uk ke ka mar dan ti dur di sampingnya.
Malam itu, Arini berba ring di samping Azka. Ia menatap langit-langit, mencoba men elan bulat-bulat kenyataan yang baru saja diso dorkan takdir. Air matanya meng alir diam-diam, memba sahi bantal yang sudah terlalu sering menjadi tempat tvmpah segala kesedihan.
Da da Arini terasa per ih, seperti ada duri yang menvsuk perlahan tapi pasti. Bukan hanya karena pengkhi anatan, tapi karena ia sadar... dirinya mulai tidak diinginkan.
Pagi ini, Arini pergi ke tukang sayur untuk membe li bahan masakan. Ia sengaja ingin memasak makanan kes**aan Dani, karena hari ini suaminya berada di rum ah.
“Tumben, Mbak Arini pagi-pagi be lanja. Baru dapet lot re, ya?” celetuk seorang ibu sambil tertawa kecil.
Arini hanya tersenyum.
“Belan janya banyak, Mbak?” tanya ibu yang lain.
“Iya, Bu. Ini ada Bapaknya Azka di rum ah,” jawab Arini pelan.
“Oh, pantesan bel anja banyak.”
“Kira-kira Bu Erna tahu nggak kalau kamu bela nja hari ini?” tanya seorang ibu lagi dengan nada menyel idik.
“Kayaknya sih nggak tahu, Bu.”
“Waduh, buruan deh, bela njanya. Sebentar lagi dia datang. Bisa ramai warung Bu Ida nanti!”
Arini yang memang sudah selesai berbel anja segera p**ang dan mulai memasak. Ia menyiapkan hidangan dengan hati-hati, berharap Dani senang.
Tak lama setelah masakan matang, terdengar ketukan pintu dan suara khas ibu mertua, Bu Erna.
“Wah, hari ini masaknya istimewa, nih!” seru Bu Erna sambil langsung ma suk tanpa menunggu jawaban.
“Udah matang, kan?” tanyanya, tapi tak menunggu jawaban. Ia langsung melangkah ke dapur, mengambil mangkuk plastik, dan mulai me nuang masakan ke dalamnya.
Arini hanya terdiam. Tidak berkata apa pun. Ia memilih menahan diri.
Dani yang baru saja keluar dari kam ar ma ndi mendapati ibunya sedang sibuk di dapur.
“Bu... Ibu ngapain ke sini?” tanyanya heran.
Bu Erna terkejut, mengira Dani sudah berangkat kerja.
“Ini... Ibu cuma minta sayur sedikit, kok. Buat makan siang,” jawabnya santai.
Dani melihat mangkuk bekas sayur Arini sudah kosong. Ha tinya langsung pa nas.
“Ibu... maksud Ibu apa? Ibu kepengin ya Arini dan Azka kela paran?” Nada suaranya mulai meninggi. “Ing*t, Bu, cucu Ibu itu, Azka, a nakku. Ga jiku selama ini sebagian besar Ibu yang pakai. Tapi kenapa Ibu malah berbuat ja hat sama a nakku sendiri?”
“Halah! Kamu tahu apa. Buktinya sampai sekarang mereka nggak ma ti kelaparan, kan?”
Lalu Bu Erna mena tap taj am Arini.
“Heh, kamu Arini, pa kai apa sih? Pa kai jam pe-jampe, ya? Sampai Dani mau tid ur di sini!” katanya penuh pra sangka.
Arini masih tetap diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mu lutnya.
“Bu, taruh lagi sayurnya. Aku mau makan,” kata Dani tegas.
“Ya udah, makan aja. Nih, Ibu ambilin sis anya. Ibu bawa sebagian, ya.”
“Terus Azka sama Arini makan apa, Bu?”
“Ya nggak tahu. Bukan urvsan Ibu!”
Dani men arik napas panjang, berusaha menahan emosi.
“Taruh lagi, Bu. Itu Arini masak buat kita. Kalau Ibu mau ambil sedikit, nggak apa-apa. Tapi jangan semua.”
“Di rum ah belum masak. Ibu sama Delia, Dian, dan adikmu, Kuncoro, juga belum ma kan. Udah, Ibu bawa aja! Ribet banget, sih.”
“Oke. Ibu boleh bawa, tapi mulai bulan depan aku nggak akan ka sih u ang lagi ke Ibu.”
“Kamu ngan cam Ibu, ya? A nak dur haka! Gara-gara perem puan mis kin ini, kamu berani ngan cam Ibu!” tangan Bu Erna mela yang, hendak menjam bak ram but Arini, tapi langsung dite p*s Dani.
“Gara-gara kamu, Dani jadi ngela wan Ibu! Lihat aja nanti... Ibu svndut lagi kamu pakai ba ra kayu seperti waktu itu, biar kamu kapok dan tahu diri!”
Dani terdiam. Ia terkejut mendengar pengakuan ibunya. Jadi... lvka ba kar di punggung Arini yang pernah ia lihat semalam—itu... benar karena disvndut bar a oleh ibunya sendiri?
Judul A nakmu, Aku dan Kamu
Penulis :Zakiyah
Pf KBM
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Address
Alerts
Be the first to know and let us send you an email when NengSyantik posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.