KPPJB Subang
Komunitas Guru Penulis Jawa Barat (KGPJB) Regional Subang
Mewakili perasaan kelas kecoa.
Puisi yang menggetarkan๐
09/09/2026
Inspirasi orang sukses.
๐๐จ๐๐๐ฅ ๐๐ฐ๐๐ฅ ๐๐๐ฌ๐ข๐ซ๐ฎ๐ง
๐๐๐ค๐๐ญ, ๐๐๐ค๐๐ญ, ๐๐๐ค๐๐ญ
Oleh Doddi Ahmad Fauji
Harga lukisan almarhum Nasirun hari ini mencapai miliaran. Padahal modal awalnya hanya tiga: bakat, tekat, nekat.
Tamat SMP di Cilacap tahun 1965, ia nekat merantau ke Yogyakarta. Tidak tahu akan sekolah di mana, bekerja di mana, dan tidak punya biaya sama sekali. Ketika akhirnya diterima di Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta (SMSR), ia harus membiayai hidup dan sekolahnya dengan mencangkul sawah di Gondanglegi separuh hari, separuh harinya lagi sekolah. Ia juga mulai menerima order membuat sketsa batik.
Kisah inilah yang membuat saya teringat pada dua riset besar tentang kesuksesan manusia.
Pertama, riset 20 tahun jurnalis Napoleon Hill. Ditugaskan oleh Andrew Carnegie, ia mewawancarai 500 orang paling sukses di dunia. Hasilnya menjadi buku Think and Grow Rich yang terjual 100 juta eksemplar. Kesimp**annya adalah, kesuksesan bukan hanya ditunjang oleh modal, koneksi, atau keberuntungan, tapi yang utama adalah keinginan yang membara, yang membuat seseorang tidak berhenti sampai itu jadi nyata. Hal ini dilakukan oleh Nasirun muda, setamat SMP, meninggalkan Cilacap dan merantau ke Yogya.
Kedua, di Bengkel Teater Rendra, rahasia yang sama diberi nama yang jauh lebih puitis, yaitu Berdiri di Antara Tiga Gunung Memeluk Rembulan.
Rendra mengatakan, potensi manusia itu ada tiga gunung. Kadang seseorang hanya kuat di satu atau dua gunung. Yang paling celaka, tiga-tiganya tidak punya. Padahal untuk memeluk rembulan, mencapai pencapaian tertinggi, kita harus berdiri kokoh di atas ketiganya secara bersamaan, dengan badan tegak lurus.
Gunung Pertama: Cita-cita atau Tekad Membara.
Ini adalah idealisme. Waktu SD kita selalu ditanya guru, apa cita-citamu? Jawaban kala itu, bisa jadi berasal dari ketertarikan pada satu profesi yang dibiatangkan indah, yang kita dapat dari informasi berita di TV, korab, atau oborlan orang dewasa yang menceritakan kesuksesan sebuah profesi.
Bila sudah agak besar sedikit, katakanlah sudah SMP, di mana bakat kita mulai dicurahkan, kiranya keinginan itu bisa jadi dipengaruhi oleh bakat. Yang paling tepat, cita-cita itu selaras dengan bakar.
Nasirun punya itu, cita-cita dan bakatnya selas, sehingga membuatnya jadi nekat. Dengan modal nekat itulah ia berani ke Yogya tanpa tahu harus sekolah di mana.
Inilah yang disebut Napoleon Hill sebagai burning desire. Tanpa itu, orang berhenti di tengah jalan. Cita-cita yang kuat adalah panggilan nurani yang tetap hidup bahkan dalam keterbatasan paling ekstrem.
Lihat pelukis Hendra Gunawan. Di dalam penjara ia tetap melukis, kadang di atas seng bekas yang diberi sipir. Lihat Pramoedya Ananta Toer. Saat dibuang ke Pulau Buru, ia ternak ayam, telurnya dijual untuk ditukar kertas dan pensil, lalu lahirlah novel Tetralogi Buru. Lihat B**g Karno di penjara Sukamiskin. Dengan informasi terbatas ia menulis pleidoi Indonesia Menggugat yang turut mengantarkan kemerdekaan. Keterbatasan tidak mematikan cita-cita, justru mengujinya.
Gunung Kedua: Bakat atau Spontanitas.
Rendra menyebut bakat dengan istilah spontanitas. Semakin seseorang berhadapan dengan sesuatu dan semakin spontan ia bisa merespons, semakin berbakat ia di situ. Dalam bahasa lain, bakat itu ingin saya beri istilah dengan 'laduni' atau hidayah. Ia datang sendiri, sejak bayi. Ada yang pandai menyanyi, menari, melukis, cerdas dalam pikiran. Ada p**a bakat membaca karakter orang, bahkan kemampuan memprediksi yang sering disebut indigo.
Nasirun memiliki bakat melukis sejak kecil yang didorong oleh kecintaannya pada wayang. Ia melukis wayang-wayang itu.
Tapi bakat saja tidak cukup. Karya Nasirun punya jiwa karena ditopang oleh dua hal, yaitu kejujuran dan kebersahajaan. Apa adanya, bukan karena ada apanya, tidak mengada-ada, bukan pencitraan.
Di zaman sekarang, penyakit pencitraan menular dari artis, politikus, pejabat tinggi, bahkan agamawan ke masyarakat. Itu bahaya. Banyak orang berbakat tinggi hancur bukan karena kurang latihan, tapi karena pencitraan, malah arogan, 'narcissistic personality disorder' yang mengikis otentisitasnya. Bakat tanpa kejujuran akan menjadi palsu.
Gunung Ketiga: Kewajiban atau Latihan dan Bekerja.
Ini adalah aksi nyata. Ide besar tanpa aksi adalah nol besar.
Di Bengkel Teater Rendra, ini dilatih setiap hari. Jam 5 sampai 6 pagi meditasi. Jam 8 sampai 9 pagi diskusi bebas. Temanya apa saja yang sedang aktual. Semua boleh berpendapat. Patokannya bukan siapa yang menang, tapi mana yang salah dan benar secara argumentatif, didukung data dan fakta. Setelah itu kerja tubuh. Mencangkul, beternak, terlibat langsung dengan tanah. Tubuh harus terlibat dengan kehidupan, bukan hanya menjadi seniman di atas panggung, tapi menjadi insan bermasyarakat.
Nasirun menjalani laku yang sama. Seperti pengakuannya sendiri: โDari mulai masuk SMSR saya sudah kerja, mencangkul di daerah Gondanglegi separuh harinya. Demi Allah.โ
Penutup
Maka, Berdiri di Antara Tiga Gunung Memeluk Rembulan berarti:
Gunung pertama adalah Idealisme / cita-cita yang membara.
Gunung kedua adalah Bakat / spontanitas yang jujur dan bersahaja.
Gunung ketiga adalah Kewajiban / belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh.
Ketika seseorang berdiri kokoh di atas ketiganya, tekadnya kuat, bakatnya autentik, dan kerja ladangnya nyata, di situlah ia bisa memeluk rembulan, menggapai pencapaian tertingginya. Seperti Nasirun. *
Tulisan ini merupakan transkripsi dari reel: https://web.facebook.com/share/v/14qwuLRKnqn/
15/08/2026
Gokil euy
Inspirasi dari orang-orang hebat, musiknya syahdu
Lagunya menggugah ๐
11/08/2026
Bacaan yang menarik.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Subang
Alerts
Be the first to know and let us send you an email when KPPJB Subang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.