Siraman Rohani
Siraman Rohani yang memberkati dan menguatkan
12/01/2026
BELAJAR PERCAYA
Percaya itu mudah diucapkan,
tetapi sulit dijalani.
Kita sering berkata, “Saya percaya Tuhan,”
namun masih gelisah saat jalan hidup terasa gelap.
Masih takut ketika doa belum dijawab.
Masih ingin mengendalikan segalanya sendiri.
Padahal percaya bukan tentang
mengerti rencana Tuhan,
melainkan berani berjalan
meski tidak tahu apa yang akan terjadi.
Percaya berarti menyerahkan
apa yang tidak sanggup kita ubah,
dan setia melakukan
apa yang Tuhan percayakan hari ini.
Tidak semua doa dijawab cepat.
Tidak semua air mata langsung berhenti.
Namun Tuhan tidak pernah terlambat—
Dia bekerja dalam diam,
saat kita belajar berserah.
Jika hari ini hatimu lelah,
ingatlah:
Tuhan tidak meminta kita kuat,
Dia hanya meminta kita percaya.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu,
dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
(Amsal 3:5)
Percaya bukan menghilangkan masalah,
tetapi memberi damai
di tengah masalah.
13/11/2025
Pernahkah Anda merasa hampa?
Tuhan tempat yang baik untuk berlindung.
12/11/2025
Ulangan 4:40 TB
"Berpeganglah pada ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu untuk selamanya.”
11/11/2025
09/11/2025
Selamat Pagi
05/11/2025
Santapan Harian
Jangan Ambil Sekalipun Mampu
Ulangan 2:1-25
Seorang pelajar ditangkap yang berwajib setelah meretas peladen (server) sebuah agen perjalanan untuk mendapat tiket gratis. Saat ditanya, mengapa ia melakukan kejahatan itu, jawabnya, "Karena saya mampu."
Dua hal menarik kita temukan dalam perikop hari ini. Pertama, keberadaan para raksasa yang dahulu mendiami daerah-daerah perlintasan bangsa Israel. Orang Emim (10), Hori (12), Zamzumim (20), dan Awi (23) adalah bagian dari ras raksasa. Dikatakan bahwa TUHAN telah memunahkan mereka. Kedua, TUHAN melarang bangsa Israel menduduki daerah-daerah di sepanjang perjalanan mereka. Ia telah mengalokasikan daerah daerah itu bagi suku-suku Kanaan (5b, 9b, 19b). Namun, TUHAN menyerahkan negeri orang Amori yang di sebelah timur Sungai Yordan.
TUHANlah yang empunya segala suku dan bangsa di muka bumi. Ia memberi tanah warisan kepada semua anak-Nya. Setiap bangsa memiliki kaveling masing-masing. Kepada mereka Ia berpesan, "Jangan mengingini rumah sesamamu" (Kel 20:17).
Namun, umat manusia telah dikuasai oleh natur dosa. Maka, TUHAN senantiasa mengawasi kelakuan mereka. Ras atau suku yang jahat Ia hukum. Orang fasik yang melampaui batas kesabaran-Nya, Ia lenyapkan. Itu sebabnya, ras raksasa dan suku Amori harus dibinasakan. Kejahatan mereka telah genap di mata TUHAN (bdk. Kej 15:16).
Perintah "Jangan mengingini" mudah dilakukan bila kita tidak memiliki kuasa untuk merampas atau mengambil. Ceritanya akan berbeda jika kita memiliki kuasa untuk merampas atau mengambil milik orang lain. Maka, yang tersisa adalah kemauan untuk taat kepada Taurat.
Tanyakanlah di dalam hati kita, "Pernahkah saya memakai jabatan atau kuasa saya untuk mengambil hak orang lain?" Atau, "Pernahkah saya membeli sesuatu hanya untuk memiliki apa yang dimiliki oleh tetangga saya?" Jika jawabannya iya, mintalah ampun kepada Tuhan. Lalu, belajarlah mensyukuri jabatan atau harta yang kita miliki. Jadilah raksasa-raksasa iman pada zaman ini! [PHM]
Santapan Harian
Berdiam Diri dan Introspeksi
Ulangan 1:41-46
Perasaan bersalah kadang mendesak manusia mengambil tindakan yang salah. Oleh karena bersalah, seseorang merasa bahwa ia sanggup mengubah situasi. Itulah yang menjadi motivasi di balik serbuan nekat bangsa Israel.
Musa menceritakan bahwa, alih-alih mau menerima hukuman TUHAN dan melakukan introspeksi, mereka malah menyerbu ke arah pegunungan (43). Maka, turunlah pasukan Amori yang terlatih dan mengalahkan mereka (44). Situasi jadi tambah runyam karena TUHAN kemudian membiarkan Israel untuk waktu yang lama (45, 46).
Melalui perikop ini Musa memberikan sebuah pelajaran penting: Bila Allah menghukum kita, diamlah dan terimalah. Hukuman itu adalah cara Allah mendidik kita agar menjadi dewasa secara mental dan rohani. Musa sendiri menerima hukuman Allah dengan legawa (37). Faktanya, tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menebus dosa-dosa kita. Prinsip ini jelas di dalam Alkitab. Di mata Allah, segala kesalehan manusia adalah "seperti kain haid" (Yes 64:6).
Sayang sekali, banyak orang Kristen merasa harus melakukan sesuatu bagi Allah untuk menunjukkan penyesalan dosanya. Beberapa orang memberi derma dalam jumlah besar, melakukan perjalanan ke tanah suci, dan hal-hal lain yang dilakukan menurut caranya sendiri. Orang-orang itu lupa bahwa Tuhan membenci setiap daya upaya yang tidak sesuai dengan cara dan waktu-Nya. Raja Salomo mengingatkan kita: "Untuk segala sesuatu ada masanya" (Pkh 3:1).
Mungkin saat ini Anda sedang menanggung akibat dari kesalahan di masa lalu. Mungkin Anda sedang memikirkan cara untuk membatalkan sanksi dari Tuhan. Berhentilah! Jangan berbuat nekat! Jangan coba coba memperbaiki situasi Anda dengan cara-cara dunia! Lebih baik kita berdiam diri dalam waktu yang lama daripada situasi menjadi makin runyam dalam sekejap.
Mari berharap kepada belas kasihan Tuhan, "... tidak untuk selama-lamanya Ia menyimpan amarah" (Mzm 103:9). Makin kita bergantung pada-Nya, makin Ia menyatakan kemurahan-Nya. [PHM]
03/11/2025
Jangan ragukan penyertaan TUHAN!
02/11/2025
Mulailah hari ini dengan ucapan syukur.
01/11/2025
Yeremia 29:11
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Semarang
50515