Pdt. Gomgom R. Tumanggor

Pdt. Gomgom R. Tumanggor

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Pdt. Gomgom R. Tumanggor, Motivational Speaker, GKPPD Sada Arih Medan, Medan.

19/09/2026

SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DALAM TUHAN
Filipi 4: 10 - 19

Hubungan antara Paulus dengan jemaat di Filipi sungguh sangat baik, saling mendukung dalam doa dan kebaikan, bahkan jemaat Filipi selalu setia memperhatikan kebutuhan Paulus dalam memberitakan Injil. Sebelum Paulus menulis surat ini jemaat sudah mengetahui bagaimana kondisi Paulus saat di Roma sebagai tahanan. Itu sebabnya Paulus mengatakan dalam ayat 18 bahwa dia telah menerima pemberian mereka sehingga dia merasa berkelimpahan sebab kiriman yang mereka kirimkan kepada Paulus melalui Epafroditus. Dari kondisi dalam tahanan Paulus mengirimkan surat ini kepada jemaat Filipi sebagai tanda kasihnya sebagai bapa rohani mereka juga nasihat-nasihat agar mereka tetap bertumbuh dalam persekutuan di dalam Kristus.

Dalam perikop ini Paulus mengungkapkan rasa syukur dan s**a citanya pada jemaat di Filipi atas segala kebaikan dan perhatian yang dia terima dari jemaat itu. Namun bukan hanya itu saja, melalui ungkapan hati Paulus ini kita juga mendapatkan pelajaran hidup agar kita memahami setiap kondisi dalam hidup ini.

Pertama jangan pernah lupa pada siapapun yang pernah berbuat baik kepada kita. Mari kita contoh jemaat di Filipi ini, mereka sama sekali tidak pernah melupakan Paulus yang telah memberitakan Injil kepada mereka sehingga mereka beroleh keselamatan di dalam Kristus. Bahkan mereka tetap memantau setiap perjalanan Paulus dalam pemberitaan Injil. Saat Paulus ditahan di Roma mereka juga menunjukkan kepedulian melalui pemberian yang mereka kirimkan. Demikian dengan kita, kita tidak bisa hidup tanpa pertolongan orang lain. Bahkan kita tidak akan mengenal iman Kristiani bila tidak ada yang memberitakannya kepada kita. Maka jangan pernah lupa akan setiap perbuatan baik dari siapapun mereka kepada kita.

Berikutnya adalah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Perhatian dan pemberian jemaat Filipi kepada Paulus bukan karena Paulus yang meminta kepada mereka. Ini adalah murni niat baik dan kepedulian jemaat kepada seorang hamba Tuhan. Itu sebabnya Paulus menyatakan bahwa sesungguhnya dia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Dia tahu bagaimana rasanya berkekurangan dan sebaliknya juga bagaimana rasanya berkelimpahan. Dia tahu bagaimana rasanya kenyang dan jega saat kelaparan. Hal ini mengajarkan bagaimana kita memaknai hidup dengan mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Bila saat kita berkekurangan dan kelaparan, jangan langsung mengeluh dan putus asa. Itu adalah sebahagian dari proses dalam perjalanan kehidupan yang pasti memiliki makna dan tujuan kepada kita. Nikmati saja apa yang ada kita miliki dan bersyukur dengan apa yang ada. Sebailknya saat kita kenyang dan berkelimpahan, ingatlah bahwa semua itu bersumber dari Tuhan. Kita harus juga memahami bahwa Tuhan pasti memiliki maksud dan tujuan sehingga kita mendapatkan semua itu. Maka nikmatilah secukupnya dan jadilah berkat bagi sekeliling kita.

Itulah yang disimpulkan Paulus dalam sebuah kalimat: "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku". Dia pada saat itu sedang dalam tahanan di Roma, namun dia sama sekali tidak mengeluh. Dia tetap melaksanakan tugasnya sebagai penginjil walaupun melalui surat-surat yang dia kirimkan kepada jemaat-jemaat. Kita bisa membayangkan bagaimana penderitaan seseorang yang ditahan, padahal dia sama sekali tidak melakukan kesalahan. Namun karena Paulus yang memiliki Tuhan yang memberikan kekuatan kepadanya dia mampu menghadapi segala perkara yang menimpa hidupnya.

Kita yang sedang berperkara pada saat ini, mungkin saja perkara kesehatan, perkara ekonomi, perkara hubungan suami-istri, perkara hubungan antara orang tua dengan anak, perkara antar saudara, perkara pekerjaan, dan masih banyak perkra kehidupan lainnya. Ingatlah bahwa di dalam Tuhan yang memberikan kekuatan kepada kita, kita pasti sanggup menghadapi perkara seberat apapun. Jangan pernah takut dan putus asa, namun tetaplah sandarkan dirimu pada Tuhan, sebab Dialah sumber kekuatan kita.

Terakhir adalah bagaimana jemaat memiliki tanggung jawab untuk menopang pekerjaan pemberitaan Injil. Ada dua alasan mengapa hal ini menjadi tanggung jawab bagi kita. Pertama sebab kita telah berhutang pada para hamba Tuhan dalam hal ini adalah gereja, sebab oleh karena gerejalah kita menerima Injil dan anugerah keselamatan itu dari Tuhan. Tanpa gereja kita tidak akan menikmati hidup di dalam Kristus seperti saat ini.

Paulus memberikan contoh yaitu jemaat Filipi yang mengadakan perhitungan hitang piutang kepada Paulus saat dia hendak berangkat dari Makedonia. Jemaat ini melakukan perhitungan kepada Paulus tentang seberapa besar pengeluaran Paulus selama bersama dengan mereka. Mereka merasa berhutang kepada Paulus sebab mereka telah menerima Injil yang dibawakan oleh Paulus. Banyak dari antara kita yang hanya tahu menerima saja, tanpa perduli dengan pengorbanan orang yang telah memberikannya kepada kita. Itu tidak baik.

Alasan yang kedua adalah bahwa Tuhan akan memberkati setiap orang yang mendukung pekerjaan pekabaran Injil. Ayat 19: Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. Artinya Tuhan pasti akan membalas segala yang baik yang kita lakukan dalam tugas pekabaran Injil yang dilakukan oleh gereja.

Untuk itu dukunglah pekabaran injil yang saat ini dilakukan oleh gereja dengan setia menurut apa yang kita miliki dan kemampuan kita. Itu adalah tanggung jawab dan kewajiban kita sebab kita telah terlebih dahulu menerimanya. Lalu kemudian Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita atas apa yang kita berikan menuru kekayaan dan kemuliaan-Nya.

Selamat Hari Minggu

12/09/2026

TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMATNYA
Keluaran 14: 19 - 31

Dalam perjalanan hidup akan ada satu masa kita merasa sedang dalam situasi terjepit. Situasi yang membuat kita bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Demikianlah yang dialami oleh orang-orang Israel yang dipimpin Musa meninggalkan Mesir. Saat mereka berjalan di hadapan mereka adalah laut Teberau dan di belakang mereka adalah tentara Mesir yang ingin mengembalikan mereka kembali sebagai budak. Namun dalam situasi seperti inilah kita melihat dengan jelas bagaimana Tuhan bekerja dengan kuasa-Nya yang luar biasa. Dengan keajaiban Tuhan membawa mereka menyeberangi laut tanpa ada celaka. Sebaliknya para tentara Mesir tenggelam sebab mereka mengikuti jalan yang dilewati orang Israel.

Dalam perikop ini marilah kita merenungkan beberapa hal yang sangat penting dalam menyegarkan iman kita sebagai orang percaya. Pertama dalam situasi sesulit apapun jangan pernah lupa pada Tuhan dan jangan korbankan ketaatanmu kepada Tuhan. Saat Musa dalam situasi yang terjepit dia berseru kepada Tuhan, lalu Tuhan menuntunnya dan dia melakukan apapun yang diperintahkan Tuhan tanpa bertanya apalagi membantah.

Hal ini yang bisa saja sangat sulit bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Dalam situasi sulit naluri kita akan membawa kita untuk mencari solusi dan bahkan bersdia melakukan apa saja asal bisa lepas dari situasi tersebut. Misalnya dalam situasi sakit dengan mudah kita akan tergoda dengan alternatif pengobatan yang bahkan kita tahu itu bertentangan dengan firman Tuhan. Atau dalam masalah dan pergumulan yang lain seolah kita tidak peduli apakah solusi yang kita temukan itu seturut dengan kehendak Tuhan atau bukan.

Melalui nats ini kita diingatkan bahwa dunia mungkin bisa memberikan solusi namun yang terbaik hanya datangnya dari Tuhan. Saat Musa berseru kepada Tuhan, lalu Tuhan menuntunnya agar untuk melakukan apapun yang Tuhan perintahkan agar mereka terbebas. Saat Musa benar-benar taat pada perintah Tuhan maka mereka akhirnya selamat. Demikian juga dengan kita, Tuhan pasti akan memberikan keselamatan dan kemenangan bagi kita dari segala pergumulan hidup ini asal kita sungguh-sungguh berseru kepada-Nya dan taat pada perintah-Nya.

Berikutnya harus ada tertanan dengan kuat dalam hati dan pikiran kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Saat malam hari Tuhan menggerakkan tiang awan untuk berdiri di antara orang Israel dan tentara Mesir sehingga tentara Mesir tidak dapat melihat orang Israel sebab tiang awan itu menimbulkan kegelapan. Lalu keesokan harinya Tuhan memerintahkan Musa untuk mengangkat tongkatnya sehingga air itu terbelah dan bangsa itu bisa berjalan menyeberangi laut dari daratan yang kering.

Kejadian-kejadian ini adalah hal-hal yang ajaib dalam pemikiran orang biasa, namun bagi Tuhan itu adalah hal yang mudah. Untuk itu kita harus yakin bahwa tidak ada yang sulit bagi Tuhan, sebab alam ini juga tunduk pada kuasa-Nya. Bagi kita bisa saja pergumulan kita ini sangat berat dan sangat menekan, namun bagi Tuhan itu adalah hal yang sangat mudah. Maka percaya saja dan taat dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, Tuhan punya jalan dalam segala pergumulan hidup kita.

Yang terakhir dan yang tidak kalah pentingnya adalah saat kita terkepas dan terbebas dari pergumulan yang kita alami jangan pernah tinggi hati namun hendaklah rendah hati di hadapan Tuhan, sebab Tuhanlah yang memberikan itu kepada kita. Saat orang Israel melihat kuasa Tuhan yang membebaskan mereka, maka takutlah bangsa itu kepada Tuhan dan percaya.

Ini sangat penting sebab banyak orang yang merasa setiap kesuksesan dan keberhasilannya adalah hasil dari kerja keras dan kemampuannya saja. Orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa Tuhanlah yang memberikannya kepadanya. Untuk itu marilah kita membangun kesadaran bahwa segala yang kita miliki dan keselamatan dari setiap jalan yang kita jalani semuanya adalah dari Tuhan. Hal ini bertujuan agar kita tidak menjadi sombong dan kemudian jatuh kepada dosa.

Selamat Hari Minggu

05/09/2026

KASIHILAH SESAMAMU SEPERTI DIRIMU SENDIRI
Lukas 10: 25 - 37

Saudara yang terkasih, bagi kita yang tekun membaca alkitab dan aktif dalam ibadah dan persekutuan Kristen, tentu tidak asing dengan kisah orang Samaria yang baik hati ini. Ini adalah kisah perbincangan antara Yesus dengan seorang ahli taurat. Seorang ahli taurat datang berbincang dengan Yesus dengan tujuan untuk mencobai. Dia bertanya bagaimana beroleh kehidupan yang kekal. Yesus tahu latar belakang orang ini sehingga Dia menjawab dengan mengajukan pertanyaan tentang apa yang tertulis dalam hukum taurat. Lalu dijelaskan kesimpulan dari hukum taurat yaitu mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh dan mengasihi manusia seperti diri sendiri.

Seolah belum puas kemudian ahli taurat ini kembali bertanya: siapa sesamanya. Kemudian Yesus menjawab dengan menceritakan seorang Samaria yang baik hati, yang menolong orang yang dirampok di jalan antara Yeriko dan Yerusalem. Ada seorang yang dirampok dan tergeletak di jalan, kemudian seorang imam berjalan namun melewatinya begitu saja. Demikian juga dengan seorang Lewi yang lain. Akan tetapi ada seorang Samaria, kemudian menolongnya dan membalut lukanya. Kemudian Yesus bertanya, siapakah sesama orang yang dirampok itu? Ali taurat itu menjawab orang yang telah menaruh belas kasihan itu kepadanya.

Dari kisah ini kita menarik beberapa hal yang kemudian dapat menjadi renungan bagi kita. Pertama dari inisiatif seorang ahli taurat yang datang berbincang dengan Yesus walaupun dengan tujuan untuk mencobai Yesus. Mencobai dalam hal ini adalah untuk menguji sedalam apa pengetahuan Yesus. Hal ini tentu tidak baik untuk dicontoh, sebab niatnya adalah untuk mempermalukan orang lain. Berdiskusi dan bahkan berdebat itu adalah baik, namun jangan sampai berniat untuk mempermalukan. Pengalaman ahli taurat ini justru dialah yang menjadi malu.

Kemudian mengenai kesimpulan dari hukum taurat, yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi manusia seperti diri sendiri harus kita mengerti dan kerjakan dalam kehidupan sebagai orang Kristen. Kedua hal ini harus seimbang dan berjalan bersama. Tidak ada gunanya bila ibadah kita kerjakan dengan baik dan tekun namun kita tidak mampu berdamai dengan sesama. Sebaliknya juga tidak berguna bila kita mampu menjaga hubungan dengan sangat baik kepada sesama namun meninggalkan ibadah kita kepada Tuhan. Hendaklah kedua hal ini kita kerjakan bersamaan.

Spesial mengenai kasus tentang siapa sesama kita manusia. Yesus memberikan keterangan yang sangat jelas dan tegas. Sesama manusia adalah orang yang sama-sama memiliki empati dan perasaan yang sama atas apa yang dirasakan orang lain. Orang Samaria yang baik hati itu menolong tanpa peduli dengan siapa dan apa latar belakang orang yang ditolongnya. Bahkan dia mengesampingkan hukum dan aturan adat demi menunjukkan rasa pedulinya. Yang ada dalam hatinya adalah dia harus menolong sebab orang itu adalah sesamanya manusia.

Berbeda dengan imam dan orang Lewi yang lewat itu. Mungkin dalam pemikiran mereka bahwa orang yang tergeletak itu sudah meninggal. Sesuai aturan agama Yahudi apabila mereka menyentuh mayat maka mereka akan najis. Daripada menjadi najis lebih baik dilewatkan saja. Inilah orang-orang yang lebih tunduk pada aturan dan aturan agama untuk bertindak. Orang-orang seperti ini tidak mengutamakan hati dan perasaannya, melainkan lebih mengutamakan aturan dan hukum-hukum.

Yesus lebih senang dengan orang yang mengutamakan perasaan dan hati untuk melakukan kebaikan daripada orang yang dibatasi oleh hukum-hukum dan batasan-batasan lain. Bila sesama kita butuh pertolongan, tidak perlu bertanya siapa dia dan bagaimana latar belakangnya, lekaslah menolongnya sebab itulah sesama kita. Hendaklah kita benar-benar memahami firman Tuhan ini dan melakukannya dengan baik dan sungguh-sungguh.

Selamat Hari Minggu

29/08/2026

FIRMAN-MU MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU
Yeremia 15: 15 - 21

Yeremia adalah nabi yang bertugas di Yehuda saat Yehuda sedang dalam masa kemerosotan. Marak terjadi ketidakadilan, yaitu penindasan kepada yang miskin dan lemah, termasuk prektek penyembahan berhala yang dilakukan para pemimpin mereka dan diikuti para rakyat. Saat seperti ini Allah menugaskan Yeremia untuk menegor mereka agar segera bertobat, sekaligus memberitahukan bahwa kehancuran akan melanda mereka bila mereka tidak berbalik kepada Allah.

Namun yang didapat bukanlah pertobatan, namun justru sebaliknya mereka kemudian membenci Yeremia, mengusirnya bahkan mengancam nyawanya. Yeremia hidup kesepian dan sendiri sebab tidak ada satupun dari antara mereka yang percaya dengan apa yang dikatakannya. Mereka lebih percaya pada perkataan babi-nabi palsu yang menjanjikan keamanan dan kenyamanan.

Melihat kenyataan ini Yeremia sangat bersedih. Dia tahu bahwa tidak ada satupun yang dapat menahan murka Tuhan. Sebentar lagi Tuhan akan menghukum mereka. Bangsa itu akan diberikan kepada bangsa yang rakus sehingga segal harta mereka akan dirampas dan menjadikan mereka menjadi budak musuh dan ditawan di negeri yang sama sekali tidak mereka kenal.

Lalu Yeremia berseru kepada Tuhan agar Tuhan tetap mengingatnya dan memperhatikan hidupnya. Dia juga memohon keadilan atas apa yang dilakukan orang yang memusuhinya sebab dia sangat tertekan dengan celaan yang ditanggungnya. Dalam situasi yang sangat berat dan tertekan, Yeremia tidak lepas dari Tuhan. Justru dia hanya menyampaikan segala kegelisahannya kepada Tuhan. Dia tidak mencari teman, atau sahabat untuk menjadi tempatnya bercerita. Namun dia hanya menyampaikan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, juga segala kegelisahannya kepada Tuhan.

Pengakuan ini ditegaskan dengan sebuah pengakuan Yeremia yang sangat menginspirasi. Dia mengatakan bahwa dia sangat menikmati firman Tuhan sebab firman Tuhan adalah kegirangan dan kes**aan baginya. Pada saat kesesakan dan kegelisahan tentu kita akan mencari cara atau siapa yang bisa memberikan jalan keluar dan menghibur kita. Maka melalui nats ini Yeremia membagikan pengalaman imannya bahwa yang bisa menghiburnya dan yang dapat membuat hatinya girang adalah firman Tuhan.

Tentu hal ini menjadi pengingat yang sangat penting bagi kita. Bukan hanya Yeremia yang memberikan kesaksian seperti ini, namun bila kita membaca Alkitab kita akan menemukan bahwa firman Tuhan itu sungguh sangat menolong kita dalam segala situasi. Firman Tuhan akan menghibur, menguatkan, menginspirasi, memberikan pengharapan dalam hidup. Maka hendaklah kita juga demikian, yaitu menjadikan firman Tuhan sebagai pengisi hati dan pikiran kita, sehingga tetap girang bahagia, sehingga dapat menikmati hidup.

Lalu Tuhan memberikan jawaban kepada Yeremia yang mengatakan bahwa Tuhan akan tetap menjadikannya pelayan-Nya. Tuhan akan tetap menjadikannya sebagai penyambung lidah-Nya. Artinya Tuhan menjamin kehidupannya. Musuh-musuh itu pasti akan datang dan menggangu namun Tuhan akan membetenginya sehingga tidak akan terganggu. Tuhan akan tetap menyertainya untuk menyelamatkannya. Firman Tuhan ini tentu membawa harapan akan hidup sebab Tuhan menyertai.

Saudara sekalian, sebagai orang percaya tentu kita tidak lepas dari berbagai masalah, tantangan hidup juga berbagai pergumulan. Maka firman Tuhan ini menguatkan kita agar kita tetap taat dan menjadikan Tuhan sebagai tempat untuk menyampaikan segala keluh kesah kita. Tuhan pasti mendengar dan memberikan jawaban bahkan menunjukkan jalan yang akan kita jalani.

Jadikan firman Tuhan segai penuntun jalan, sebab firman Tuhan dapat memberikan kita semangat, hati yang penuh s**a cita dan kegirangan. Tanpa firman Tuhan kita akan tersesat di antara banyak godaan dan ajakan dunia yang ingin menyesatkan kita. Untuk itu jangan pernah lepas dari firman Tuhan.

Yang paling utama adalah Tuhan akan menyertai setiap orang yang berserah kepada-Nya dan hidup dengan taat pada-Nya. Bila Tuhan yang beserta kita maka tidak akan ada lagi hal yang perlu ditakuti dalam hidup ini. Penyertaan Tuhan akan menyelamatkan walaupun kejahatan tetap bekerja dan pergumulan datang silih berganti. Tetaplah kuat sebab kita sedang berlindung di bawah kuasa Tuhan yang maha kuat itu.

Selamat Hari Minggu

22/08/2026

TEGUH BERPEGANG PADA KEBENARAN
Efesus 4: 7 - 16

Nats ini dimulai dari sebuah pernyataan penting bahwa kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Artinya kita semua memiliki karunia dan tentu karunia itu berbeda-beda menurut ukuran pemberian Tuhan. Maka untuk memahami dan untuk dapat menggunakan karunia ini dengan baik, maka kita setidaknya harus memiliki dua kesadaran penting. Pertama adalah bahwa karunia yang kita miliki adalah pemberian Kristus. Kedua, karunia itu diberikan adalah untuk tugas pelayanan.

Dalam hal karunia ini, orang-orang sering menjadi kontraproduktif saat mereka bermegah atas karunia yang dimiliki, kemudian membandingkan karunia yang satu dengan yang lain, dan menjadikan orang-orang yang dianggap memiliki karunia tertentu di posisi lebih tinggi dari yang lain. Hal ini menjadi sumber masalah dalam komunitas, seperti yang dialami oleh jemaat di Efesus.

Untuk itu Paulus menekankan beberapa hal agar kesatuan tetap terjaga walau dengan karunia yang berbeda-beda. Tidak ada seorangpun yang dapat bermegah atas karunia yang dimilikinya sebab karunia itu bukan dari dirinya sendiri melainkan pemberian dari Tuhan. Kemudian setiap karunia hendaklah digunakan untuk melayani layaknya tubuh yang terdiri dari berbagai-bagai organ dengan satu kepala yaitu Kristus.

Paulus mencontohkan Yesus sendiri yang rela menjadi manusia dan menderita agar kita beroleh keselamatan. Paulus mengutip apa yang tertulis dalam Mazmur 68: 19 yang mengisahkan seorang panglima perang yang turun ke medan peperangan, dan kemudian saat dia beroleh kemenangan dia naik ke tempat tinggi dan membawa tawanan-tawanan. Artinya Tuhan Yesus dengan kemuliaan-Nya saja rela turun agar kita beroleh kemenangan. Maka kita juga harus demikian, harus mengunakan karunia yang kita miliki untuk melayani, bukan untuk meninggikan diri.

Dalam nats ini dituliskan banyak karunia yang diberikan Tuhan bagi orang-orang percaya, namun semua itu adalah sebagai contoh bukan menyatakan bahwa hanya itu saja karunia yang Tuhan berikan. Tentu masih banyak karunia yang lain yang tidak dituliskan oleh Paulus dalam nats ini. Namun dalam konteks Efesus pada saat itu banyak orang yang mengaku sebagai pengajar, pemberita Injil, gembala, orang-orang kudus yang kemudian menimbulkan perselisihan.

Untuk itu Paulus menekankan bahwa setiap karunia itu harus digunakan untuk mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Bila telah demikian kita telah menjadi dewasa dalam iman, bukan lagi layaknya anak-anak yang masih mampu diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.

Oleh sebab itu hendaklah kita orang percaya tetap berpegang teguh dalam kebenaran di dalam kasih untuk bertumbuh dengan baik dalam Kristus. Bila kita bertumbuh dalam Kristus dengan segala karunia yang dimiliki maka kita akan hidup dengan rapi dan teratur sebab diikat menjadi satu oleh pelayanan untuk kemuliaan sang kepala, yaitu Kristus.

Saudara yang terkasih, dalam konteks kita saat ini hendaklah kita juga berefleksi dari apa yang disampaikan firman Tuhan ini. Hendaklah kita menggunakan karunia yang kita miliki untuk tugas pelayanan demi kemuliaan Kristus. Apapun latar belakang kita dan sekecil dan sebesar apapun kemampuan kita, kita dipanggil untuk tugas pelayanan untuk kemuliaan Kristus. Hendaklah kita dengan penuh syukur atas karunia Tuhan yang kita miliki untuk saling membangun dan menguatkan agar tujuan demi kemuliaan Kristus itu sungguh-sungguh nyata.

Marilah kita senantiasa berpegang pada kebenaran dan kasih agar kita bersama-sama bertumbuh dalam tugas pelayanan demi kemuliaan Kristus, sesuai dengan panggilan kita masihng-masing.

Selamat Hari Minggu

15/08/2026

TAATI HUKUM DAN TEGAKKAN KEADILAN
Yesaya 56: 1 - 8

Bila suatu bangsa atau kelompok dinyatakan merdeka maka dengan sederhana dikatakan bahwa bangsa itu tidak lagi tertindas dan tunduk pada kelompok atau bangsa tertentu. Merdeka sama dengan bebas untuk hidup tanpa harus tunduk pada kuasa dari apapun. Namun kebebasan yang dimaksud bukanlah bebas untuk bertindak ses**a hati. Kita bebas memperjuangkan hak kita tanpa harus mengganggu atau melanggar hak orang lain.

Hal itu yang Tuhan jelaskan dalam nats khotbah ini. Bangsa Yehuda pada saat itu telah merdeka dan kembali ke tanah air mereka setelah sekian lama hidup dalam pembuangan. Dulu mereka diperlakukan dengan tidak adil dan semena-mena, namun sekarang mereka telah bebas dari perbudakan itu. Namun bukan berarti mereka menjadi dibenarkan untuk bertindak ses**a hati mereka.

Pesan Tuhan bagi mereka adalah agar mereka menaati hukum dan menegakkan keadilan. Hukum dapat didefenisikan sebagai aturan-aturan hidup yang mengikat bagi seluruh orang yang disepakati atau ditetapkan untuk dilaksanakan guna menciptakan hidup yang teratur dan tertib. Sementara keadilan adalah ketika semua orang dapat mendapatkan haknya tanpa mengganggu hak orang lain. Hukum sangat perlu ditaati dan keadilan harus ditegakkan. Bila demikian maka Tuhan akan memberikan berkat-Nya baik kepada umat-Nya yang taat juga yang datang dari kelompok yang lain namun telah taat kepada Tuhan.

Orang yang menaati hukum dan menegakan keadilan seturut dengan firman Tuhan, maka orang demikian adalah orang yang dekat kepada Tuhan. Maka tidak ada yang dapat memisahkan Tuhan dari umat-Nya dan umat yang dekat kepada Tuhan tidaklah bagaikan pohon yang kering. Orang yang taat kepada hukum Tuhan adalah orang yang pastinya dekat kepada Tuhan, dan tidak ada yang dapat memisahkannya dari Tuhan. Orang yang demikian juga adalah orang yang tetap bertumbuh dan berbuah dengan membuahkan buah-buah yang baik dan berkenan kepada Tuhan.

Kemudian ketaatan pada hukum dan menegakkan keadilan di dalam Tuhan adalah tanda kualitas persekutuan yang terjaga bersama dengan Tuhan. Orang-orang yang hidup demikian maka dia akan menikmati hidup dengan kualitas persekutuan yang baik kepada Tuhan. Dalam nats ini Tuhan berfirman akan mengumpulkan baik orang Yahudi dan semua orang yang taat kepada-Nya untuk diberikan kes**aan. Bahkan ibadah mereka adalah ibadah yang berkenan kepada Tuhan.

Hal inilah yang menjadi renungan bagi kita dalam minggu ini. Kita hidup dengan keterikatan yang kuat kepada hukum. Mulai dari kelompok terkeci seperti keluarga hingga pada kelompok paling besar memiliki hukum masing-masing. Demikian juga kita sebagai umat Tuhan, kita tidak dibenarkan untuk hidup ses**a hati. Ada hukum yang ditetapkan Tuhan untuk kita taati. Bila kita taat pada hukum-hukum tersebut, bukan berarti kita menjadi tidak bebas, namun itu pertanda bahwa kita adalah bagian dari komunitas, dan kita adalah pemiliknya. Demikian dengan hukum-hukum Tuhan, bahwa kita taat pada hukum Tuhan adalah pertanda bahwa kita memiliki kedekatan yang sangat dekat kepada-Nya. Dengan kata lain kita akan terlihat benar sebagai umat Tuhan saat kita taat pada hukum-Nya.

Demikian halnya dengan keadilan. Hidup dalam keadilan adalah kerinduan kita bersama. Hak kita tidak terganggu dan kita juga tidak mengganggu hak orang lain. Adil bukan dalam perspektif sama rata. Untuk itu keadilan ini perlu ditegakkan agar tidak lagi terjadi penindasan. Kita tidak senang dengan penindasan maka kita jangan sampai menjadi pelaku penindasan. Tuhan adalah Pembebas.

Demikianlah ciri hidup orang yang bersekutu dengan baik bersama dengan Tuhan. Tuhan akan memberkati orang yang demikian, menjadikannya bertumbuh dan berbuah dan hidup dalam kes**aan. Ibadahnya adalah ibadah yang berkenan kepada Tuhan.

Selamat Hari Minggu

08/08/2026

TENANGLAH, JANGAN TAKUT!
Matius 14: 22 - 33

Nats khotbah ini tentu tidak asing lagi bagi kita, bahkan mereka yang belum percaya pada Kristus juga ada yang telah mendengar atau mengetahui tentang kisah Tuhan Yesus yang berjalan di atas air ini. Bahkan ada juga orang yang berusaha melakukannya dengan berbagai trik untuk maksud-maksud tertentu. Poin utama yang ingin disampaikan pada kita melalui teks ini adalah agar kita tetap tenang, tidak ragu, dan tidak takut menghadapi apapun yang terjadi. Namun ada juga beberapa hal lainnya yang tidak kalah penting untuk kita renungkan.

Kisah ini adalah lanjutan dari peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang (tanpa dihitung perempuan dan anak-anak). Peristiwa itu sangat fenomenal namun Yesus tidak ingin ada eforia yang berlebihan dari peristiwa besar itu. Justru Yesus memerintahkan murid-murid-Nya segera pergi. Maknanya adalah semua hal pasti akan berlalu. Apakah itu peristiwa s**a cita, atau duka cita, keberuntungan atau kesialan, semuanya akan berlalu. Ini membuat kita semakin menyadari bahwa hidup akan terus berjalan.

Dalam suasana yang fenomenal dengan mujizat luar biasa yang terjadi, Yesus justru memilih untuk sejenak menyendiri dan berdoa. Umumnya manusia ketika dia sedang mengalami s**a cita atau dalam keadaan gembira, akan menikmati kegembiraan itu dengan orang-orang. Sehinga terkadang akan lupa untuk berdoa juga mengucap syukur. Teladan inilah yang ditunjukkan Yesus kepada kita, bahwa dalam situasi apapun tetap berikan waktu bersekutu secara pribadi bersama dengan Tuhan dalam doa.

Kemudian saat murid-murid di tengah danau, perahu mereka diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kemudian Yesus datang menghampiri mereka dengan berjalan di atas air. Sesunguhnya bisa saja Yesus mendahului mereka ke tepian di tujuan mereka tanpa harus menemui mereka di tengah danau. Namun Yesus tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan gelombang maka Yesus datang kepada mereka.

Hal ini menyatakan bahwa sesungguhnya Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendirian menghadapi badai dan gelombang hidup. Saat kita berhadapan dengan badai dan gelombang kehidupan ini Tuhan Yesus ada bersama dengan kita. Dia sangat peduli dengan kita sehingga tidak membiarkan kita sendirian. Maka jangan pernah merasa engkau sedang sendirian menghadapi gelombang kehidupan ini. Walaupun kita tidak dapat melihat dan meraba-Nya, namun kuasa-Nya tetap menyertai kita.

Saat murid-murid melihat Yesus di atas air, mereka mengira hantu sehingga semakin takut. Namun Yesus berkata: "tenaglah! Aku ini, jangan takut!" Sungguhlah mereka tenang saat mereka mengetahui bahwa Yesus sedang bersama dengan mereka. Hal ini sunguh sangat penting. Mengapa kita sangat takut saat berhadapan dengan berbagai pergumulan dan sangat sulit untuk keluar dari ketakutan itu? Jawabannya karena kita tidak menyadari bahwa kita sedang bersama dengan Yesus. Bila kita menyadari bahwa kita sedang bersama dengan Yesus maka hati kita akan tetap tenang walau sekuat apapun badai yang menerjang.

Datanglah Petrus yang apakah niatnya untuk menguji atau hanya sekadar penasaran. Dia meminta agar Yesus menyuruh dia juga berjalan di atas air. Lalu Yesus berkata: "datanglah! Kemudian dia berjalan, namun ketika dirasanya tiupan angin takutlah dia dan mulai tenggelam. Dia teriak minta tolong lalu Yesus menolongnya. Katakanlah bahwa Petrus ingin dirinya naik kelas melebihi murid-murid yang lain. Dia bersama dengan murid yang lain telah di posisi aman di perahu, lalu dia ingin mencoba untuk serupa dengan Yesus yang berjalan di atas air. Awalnya dia bisa, namun karena ketakutannya dia menjadi gagal.

Pasti ada dari antara kita yang demikian. Percaya pada Tuhan Yesus yang berkuasa atas segala sesuatu, dan yang mampu membawa kita lebih hebat lagi. Namun saat kita menjalani proses dan proses yang harus dilalui terlihat menakutkan karena mengetahui kita tidak sanggup. Akhirnya kita terjatuh dan gagal. Orang yang ingin maju di dalam Yesus, harus memiliki keteguhan hati dan pendirian yang kuat bahwa bila kita berjalan bersama dengan Tuhan Yesus, kuasa-Nya akan mengalahkan segala yang menakutkan dan menjadikan kita berhasil.

Sebagai manusia takut itu adalah hal yang biasa dan itu normal. Namun jangan sampai kita dikuasai oleh ketakutan. Jangan lagi ada perasaan bimbang bila kita telah berjalan bersama dengan Yesus.

Selamat Hari Minggu

02/08/2026

SEMUA JANJI TUHAN DIPENUHI
Yosua 21: 43 - 45

Setelah bangsa Israel berhasil merebut tanah Kanaan, yang dipimpin oleh Tuhan melalui Yosua, maka mereka membagi tanah itu sesuai dengan suku mereka masing-masing. Yosua memimpin proses pembagian itu dan berlangsung dengan baik. Maka dengan demikian genaplah sudah apa yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham, setelah mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana.

Tuhan bukan hanya memberikan tanah atau negeri untuk mereka tempati, namun Tuhan juga mengaruniakan juga kepada mereka keamanan di segala penjuru. Tidak ada satupun dari antara musuh mereka yang mampu berdiri menghadapi mereka. Semua musuh mereka diserahkan kepada mereka. Segala yang baik yang dijanjikan Tuhan kepada kaum Israel semuanya dipenuhi oleh Tuhan.

Dari informasi yang disampaikan dalam kitab Yosua ini kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan itu setia pada apa yang telah dijanjikan-Nya. Tidak ada satupun dari apa yang telah dijanjikan-Nya sebelumnya tidak terpenuhi, akan tetapi semuanya telah terpenuhi. Fakta inilah yang sangat perlu kita imani dalam hidup ini.

Adakah dari antara kita sekalian yang tidak pernah ingkar janji? Bila kita periksa perjalanan hidup kita, tentu sangat sulit bagi kita untuk beerkata bahwa kita tidak pernah ingkar janji. Atau mungkin kita telah menormalisasi atau membiasakan berjanji palsu. Bagi yang melakukannya akan mencari seribu satu alasan, dan bahkan tidak perlu memikirkan terkait janji yang diucapkannya. Sementara bagi yang dibohongi atau ditipu, ini adalah sesuatu yang sangat mengecewakan. Bisa saja hal tersebut membuat hilang kepercayaan bagi orang yang melakukan ingkar janji tersebut.

Bahkan bila ada seseorang yang berjanji kepada kita, kita sudah mempersiapkan diri untuk kecewa bila janji yang diucapkan orang tersebut tidak terlaksana. Atau sudah terlintas di pikiran kita bahwa janji itu pasti tidak akan terjadi sebagaimana mestinya. Bila demikian nilai dari berjanji atau perjanjian itu tidak lagi bernilai baik, namun justru telah bernilai buruk. Kita tidak lagi percaya pada janji dan kita juga merasa biasa saja bila janji yang kita ucapkan tidak kita laksanakan. Contoh paling sering kita alami adalah pada saat kampanye pemilu, pilkada, dsb. Kita telah merasa biasa saja saat diberikan janji, dan orang yang berjanji juga tidak merasa bersalah bila janji yang diucapkannya tidak bisa dilaksanakannya.

Hal itu sangat berbeda dengan Tuhan, sebab bagi Tuhan janji itu adalah diri-Nya sendiri. Keilahian-Nya ditentukan pada kesetiaan-Nya pada janji-Nya. Bila Tuhan telah berjanji maka Dia pasti akan memenuhuinya. Inilah yang dialami oleh bangsa Israel pada zaman Yosua ini. Demikian bagi kita, bila Tuhan telah menjanjikan keselamatan bagi kita, keselamatan itu pasti akan menjadi milik kita. Bila Tuhan berjanji memberikan perlindungan, penyertaan, berkat bagi kita, maka itu pasti akan menjadi milik kita. Percayalah!

Bila kita pernah kecewa oleh janji orang lain kepada kita, ingatlah bahwa Tuhan tidak akan mengecewakan kita. Dia setia pada janji-Nya.

Selamat Hari Minggu

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Medan?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Website

Address


GKPPD Sada Arih Medan
Medan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pdt. Gomgom R. Tumanggor posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Subscribe

We will notify you when anything happens in Medan.