FLIIndonesia
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from FLIIndonesia, Religious organisation, Manado.
14/07/2025
Rayakan Rumages Wangko Penghayat LAROMA Minta Diberkati oleh Kasuruang Wangko - Manadones MANADO, 15 JULI 2025 – Rumages Wangko (persembahan besar), menjadi salah satu upacara utama yang […]
14/07/2025
25/06/2025
https://youtu.be/yT3o-OVqmsU?si=yRRwTc-HJCnVN5Sl
Bincang Bersama Tokoh Rabi Yahudi : Islam berkembang di Eropa karena peran Ahmadiyah Podcast ini menghadirkan Rabi Yaakov Baruch, Pemuka Agama Yahudi di Indonesia dan pendiri sinagoga pertama di Kota Tondano, Sulawesi Utara. Dalam episode ini...
25/06/2025
24/05/2025
Awal 2 pertemuan FLII pada 13 Januari 2022
12/05/2025
Turut serta dalam kegiatan perayaan Hari Waisak di Arama Kebun Kesadaran bersama komunitas lintas Sulawesi Utara pada Minggu 11 Mei 2025.
10/05/2025
Makna Teologis Kisah Penciptaan Manusia Pertama dalam Agama Malesung
1. Penciptaan sebagai Kehendak Ilahi
Manusia pertama, Naiwaka in tana’ (lelaki) dan Rengan (perempuan), diciptakan oleh kehendak Empung Wailan Wangko’ atau Apo Kasuruang Wangko’, yaitu Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pemelihara dalam ajaran Malesung. Mereka tidak muncul secara kebetulan, tetapi melalui kekuatan angin yang menghisap unsur-unsur bumi, menciptakan manusia dari campuran roh dan materi.
> Makna teologis: Tuhan adalah asal-mula hidup; manusia adalah makhluk sakral yang diciptakan dengan maksud dan tujuan suci, yakni menjadi wakil Tuhan di bumi.
---
2. Manusia sebagai Ciptaan Roh dan Alam
Putaran angin yang membentuk tubuh manusia dari tanah, air, api, dan udara melambangkan bahwa manusia merupakan perpaduan unsur langit dan bumi—roh dan tubuh. Angin sebagai simbol roh ilahi (nafas Tuhan), dan unsur bumi sebagai wujud fisik kehidupan.
> Makna teologis: Manusia adalah makhluk dua dimensi—spiritual dan jasmani—yang harus hidup seimbang antara dunia roh dan dunia materi.
---
3. Wahyu dan Pengajaran Ilahi
Setelah menciptakan mereka, Tuhan tidak membiarkan mereka hidup tanpa arah. Tuhan mengajari mereka cara hidup, termasuk bagaimana mengolah tanah, menjaga api, mengenal musim, hidup dalam tatanan keluarga, serta mengajarkan nilai-nilai ilahi melalui tanda-tanda alam.
Tuhan juga menginspirasi mereka tentang siapa Dia, melalui alam ciptaan sebagai wahyu pertama—angin, cahaya, air, dan gunung menjadi gambaran kehadiran dan kekuasaan-Nya.
> Makna teologis: Wahyu Tuhan dalam Malesung datang melalui alam dan dalam hati nurani manusia. Manusia belajar mengenal Tuhan bukan dari kitab tertulis, tetapi dari ciptaan dan bimbingan langsung-Nya.
---
4. Agama sebagai Ajaran Asli
Dari ajaran Tuhan kepada Naiwaka dan Rengan inilah lahir agama asli Minahasa, yang kelak disebut agama Malesung. Agama ini berisi pemujaan kepada Tuhan Maha Esa, hidup selaras dengan alam, menghormati leluhur, menjaga kesucian diri dan komunitas, serta hidup dalam kasih dan keadilan.
> Makna teologis: Agama bukan buatan manusia, melainkan warisan suci langsung dari Sang Pencipta, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
---
5. Pembangunan Peradaban oleh Bimbingan Ilahi
Tuhan juga mengajarkan prinsip-prinsip peradaban, seperti membagi tanah secara adil, hidup dalam kelompok yang teratur, membangun rumah, menyimpan hasil panen, serta membuat perjanjian antarsuku. Semua ini menjadi dasar identitas Minahasa yang luhur.
> Makna teologis: Peradaban bukan sekadar buatan manusia, tapi pancaran dari hukum-hukum Tuhan yang membimbing masyarakat menuju ketertiban dan kesejahteraan.
---
6. Kehidupan sebagai Siklus Ilahi
Dari keturunan mereka lahirlah sembilan generasi hingga Apo Lumimuut, yang diselamatkan dari Ampuhan (banjir besar) akibat letusan Gunung Manembo dan Makatembo. Ini adalah bentuk penyaringan ilahi, dan kelahiran kembali umat manusia dalam kesucian.
> Makna teologis: Dalam setiap zaman, Tuhan menjaga umat-Nya dari kehancuran dan membangkitkan pemimpin spiritual baru untuk meneruskan perjanjian ilahi.
---
Theological Meaning of the Creation of the First Humans in the Malesung Religion
1. Creation as Divine Will
The first humans, Naiwaka in tana’ (the man) and Rengan (the woman), were created by the will of Empung Wailan Wangko’ or Apo Kasuruang Wangko’—the Almighty and Guardian God in Malesung belief. They did not arise by chance but were brought into being by the swirling wind drawing elements from the earth, forming human beings from a union of spirit and matter.
> Theological meaning: God is the source of life; humans are sacred beings created with a divine purpose—to represent the Creator on earth.
---
2. Humans as a Union of Spirit and Nature
The swirling wind that formed human bodies from earth, water, fire, and air symbolizes that humans are a fusion of the heavenly and the earthly—of spirit and body. Wind represents the divine breath, while the earthly elements shape physical life.
> Theological meaning: Humans are dual beings—spiritual and physical—meant to live in harmony between the world of spirit and the world of matter.
---
3. Revelation and Divine Instruction
After creating them, God did not leave them without guidance. God taught them how to live—how to cultivate the land, manage fire, understand the seasons, live within family structures, and recognize moral and spiritual values through signs in nature.
God also revealed divine presence through creation, making nature itself the first revelation—with wind, light, water, and mountains as symbols of the divine.
> Theological meaning: God's revelation in Malesung comes through nature and inner conscience. Humans learn about the Creator not through written scriptures but through direct guidance and the sacredness of the natural world.
---
4. Religion as Original Teaching
From God's teachings to Naiwaka and Rengan emerged the original Minahasan religion, later known as the Malesung faith. This religion includes reverence for the One God, harmony with nature, ancestral respect, personal and communal purity, and a life rooted in compassion and justice.
> Theological meaning: Religion is not man-made—it is a sacred inheritance directly from the Creator, shaping humanity's relationship with God, with each other, and with the earth.
---
5. Civilization as Divine Guidance
God also imparted principles of civilization—land distribution, communal living, house-building, food storage, and alliances among tribes. These form the foundation of the noble Minahasa identity.
> Theological meaning: Civilization is not merely a human invention but a reflection of divine law, guiding society toward harmony and prosperity.
---
6. Life as a Sacred Cycle
From Naiwaka and Rengan came nine generations, culminating in Apo Lumimuut, who survived the Ampuhan (Great Flood) caused by the eruption of Mount Manembo and Mount Makatembo. This event was a form of divine purification, a rebirth of humanity in holiness.
> Theological meaning: In every age, God protects His people from destruction and raises spiritual leaders to continue the sacred covenant.
10/05/2025
Kemarin, Jumat 9 Mei 2025, Forum Lintas Iman Indonesia (FLII) bertemu beberapa aktifis lintas iman dari Jogja dan Lampung serta Sulawesi Utara.
Sambil menikmati pisang goreng dan kopi di Sinagoga (tempat ibadah umat beragama Yahudi) kami menyimak Pdt. Elga Sarapung dari # mengajak kami untuk mempublikasikan gerakan lintas iman di Sulawesi agar masyarakat tahu.
29/04/2025
https://youtu.be/q41k52p-fLY?si=TX1MtqDjJPDKaLaN
Bincang Bersama Tokoh: Kordinator Gerakan Perempuan Sulawesi Utara Dalam episode ini, akan berbincang dengan Pdt. Ruth Ketsia Wangkai, M.Th., Koordinator Gerakan Perempuan Sulawesi Utara sekaligus seorang pendeta yang aktif ...
29/04/2025
LP
Kegiatan Makan Malam Paskah Lintas Iman pada10 April 2025 di Sinagoga Har HaShamayim Tondano
29/04/2025
Terlibat dalam kegiatan Donor Darah pada Minggu, 27 April 2025 di Manado. Kegiatan ini dilaksanakan oleh umat Buddha dalam rangka menyambut Hari Waisak.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Manado