Literasisantri

Literasisantri

Share

Ikhtiar Mengembalikan Kejayaan Santri

Photos from Literasisantri's post 09/10/2023

Siapa itu Habib Muhammad Alex Alhamid?

Apakah anda sudah mengetahui siapakah itu sebenarnya Habib Muhammad Alex Al Hamid?

Nah, adapun beliau Al-Habib Muhammad (Alex) bin Muhammad Shodiq bin Al-'Arif Billah Al-Habib Husein (Brani) bin Hadi Al-Hamid, (Probolinggo).

Habib Alex dikenal dengan ahlul kasyaf dan merupakan seorang habib do'anya yang maqbul. Beliau saat ini sedang viral karena mengamanatkan kepada semua orang untuk memasang foto beliau di sosial media kita masing-masing, dan beliau kemudian mendo'akan keberkahan bagi siapa saja yang memasang fotonya tersebut.

Dengan demikian, saat ini banyak sekali orang yang memasang foto Al Habib Muhammad Alex tersebut di berbagai media sosial yang dijadikan sebagai unggahan yang cukup bermanfaat bagi kita yang semoga do'anya beliau bisa terkabulkan. 🤲🏼

05/10/2023

Gusdur Bersama Maulana Habib Luthfi

28/06/2023

"AKHKLAK MULIA 2 WALI AGUNG KETIKA DI PERTEMUKAN (SYAIKHONA KH.UTSMAN AL-ISHAQI SURABAYA & SYAIKHONA KH.ABDUL HAMID PASURUAN)"

Dalam sebuah acara walimatun nikah, Hadlrotusy Syaikh KH. Muhammad Oestman Al Ishaqi RA. atau yang biasa disebut Yai Utsman Jatipurwo Surabaya didaulat untuk memimpin ijab qobul dan Hadhrotusy Syaikh KH. Abdul Hamid RA. atau yang biasa dipanggil Yai Hamid pasuruan memimpin doa. Ketika waktu brrdoa tiba, Yai Hamid RA. 'mengelak'. Beliau merasa Yai Utsman RA. lebih pantas untuk memimpin doa. Kedua Ulama besar tersebut 'saling lempar' dengan argumentasi yang retoris.

Akhirnya Yai Hamid 'kalah'.

''Baik Yai Utsman, saya yang menjadi lampu dengan berdoa dan njenengan yang menyuplai setrumnya''.

Akhirnya keduanya pun saling berpegangan tangan saat mbah Hamid berdoa. Kedua Ulama besar tersebut merasa ada orang lain yang lebih pantas dan lebih berilmu. Sungguh ini adalah suri tauladan dari dua tokoh Ulama yang harus dicontoh para Kiyai, ustadz dan untuk kita semua...

Photos from Literasisantri's post 23/06/2023

"Mengenal lebih dekat Syekh Muhajirin Amsar Addari AL-Batawi: Ahli Hadits dari Betawi Sahabat Seperjuangan Syekh Yasin bin Isa Al-fadani sewaktu belajar mengajar di makkah"

Dalam salah satu dawuhnya, Mbah Maimoen Zubair menegaskan kebanggaan ulama dahulu terhadap kampungnya. Cirinya, menisbatkan nama diri dengan tempat kelahirannya. Biasanya dengan menambahkan ya' nisbat di akhir nama kampung maupun kotanya. Misal, Imam Abu Zakaria An-Nawawi, yang dinisbatkan pada nama Desa Nawa, daerah Hauran, Suriah. Ada juga ad-Damanhuri, Assuyuthi, al-Bukhari, al-Kindi, al-Ghazi, al-Baihaqi, al-Jailani, hingga Imam as-Sya'rani yang dinisbatkan pada kampung Saqiyah Abu Sya'rah (Mesir) dan seterusnya.

Pola pen*sbatan semacam ini berbeda dengan tradisi di kawasan Maghribi (Afrika Utara), yang lebih menyukai penempelan nama kabilah. Misalnya, karena berasal dari kabilah Sanusi, maka Syekh Muhammad bin Yusuf, penulis Ummul Barahin, menggunakan As-Sanusi di belakang namanya. Termasuk kabilah Jazulah yang merupakan asal dari Syekh Sulaiman al-Jazuli, penyusun Dalail Khairat. Yang paling kondang tentu saja Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud alias Ibnu Ajurrum, penyusun kitab nahwu Jurumiyah, yang menggunakan nama Asshanhaji karena lahir dari kabilah Shanhajah.

Bagaimana dengan ulama Nusantara yang ada di Makkah? Yang pasti, keberadaan mereka di tanah haram ini dinisbatkan kepada asalnya: al-Bantani, al-Banjari, al-Falimbani, al-Baweyani, as-Sidarjawi, al-Bimawi, al-Jugjawi, al-Bughuri, al-Banyumasi, al-Batawi, al-Fadani hingga al-Kelantani. Mereka berkumpul, saling belajar dan berbagi. Mereka juga menghimpun diri dan bahkan bisa menyelenggarakan pendidikan melalui sebuah lembaga legendaris, Darul Ulum, Makkah.


Foto ini saya ( Gus Rijal Mumazziq) dapatkan dari KH Dhiyaz Almaqdisi Muhajirin. Foto pengajar Madrasah Darul Ulum, Makkah tahun 1950-an. Ayahnya, Syekh Muhajirin Amsar Addari, duduk di samping Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Keduanya ahli hadits. Sama-sama produktif berkarya. Syekh Yasin keturunan Minangkabau, lahir dan wafat di Makkah, sedangkan Syekh Muhajirin lahir di Betawi, belajar dan mengajar di Makkah, lalu kembali ke tanah air merintis pesantren An-Nida' al-Islamy, Kota Bekasi. Mbah Maimoen Zubair, ketika berada di Makkah pada 1950-an sempat ngaji hadits kepada beliau, dan menyebutnya dengan panggilan hormat ‘Syaikhuna’.

Reputasi keilmuannya layak diacungi jempol. Syekh Muhajirin atau orang Betawi menyebutnya Tuan Guru Jirin, menulis empat jilid Misbahudz Dzalam, Syarah Bulughul Maram. Karya yang indah dan berbobot. Beberapa karya lainnya masih ditahqiq dan rencana diterbitkan lagi. Dalam catatan keluarga, kurang lebih ada 30 kitab yang ditulis. Kajiannya lintas disiplin ilmu: tafsir, nahwu, balaghah, ushul fiqih, ushulul hadits, faraid, sirah nabawiyah, mantiq, dan fiqh. Komplit, betul!

Dalam sebuah riwayat, Syekh Muhajirin pernah ditawari posisi sebagai m***i di salah satu negara bagian di Malaysia. Namun dengan halus menolak dan lebih memilih kembali ke Tanah Air, merintis pesantren dan mengajarkan ilmu kepada masyarakat. Sebagaimana ulama terdahulu, bangga dengan kampung halamannya.

Kecintaan terhadap tanah kelahiran bisa dimaklumi, sebab ditempa oleh ulama ‘lokal’ dengan kemampuan ‘internasional’. Dalam catatan Rakhmad Zailani Kiki, penulis buku ‘Genealogi Intelektual Ulama Betawi’, Syekh Muhajirin ditempa oleh Guru Asmat (Kampung Baru, Cakung), H Mukhoyyar, Mu`allim H Ahmad, Mu`allim KH Hasbiallah (pendiri Yayasan Al-Wathoniyah), Mu`alim H Anwar, Muallim H Hasan Murtaha, Syekh Muhammad Tohir, Ahmad bin Muhammad murid dari Syekh Mansyur Al-Falaky, KH Sholeh Ma`mun (Banten), Syekh Abdul Majid, dan Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang).

Sebagaimana hukum bumerang, semakin jauh dilempar, kelak bakal kembali ke titik awal. Demikian p**a dengan Syekh Muhajirin. Kelak, setelah menempuh pendidikan di Makkah, pun kembali ke Tanah Air.

Pakar falak sekaligus ahli hadits kelahiran 10 November 1924 ini wafat di Bekasi 31 Januari 2003 M.

Wallahu a'lam bisshawab.

Sumber: Rijal Mumazziq Z, Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember Jawa Timur. 19 April 2021.

31/03/2023

Malam ini, mari sami luangkan kirim doa teruntuk Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari yang wafat 7 Ramadhan 1366 H.

78 tahun lalu Hadratussyaikh KH. M Hasyim Asy'ari wafat, di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.

Al Fatihah 🤲🤲

Want your school to be the top-listed School/college in Magetan?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Address


Magetan