H R Umar Faruq
Kajian Sejarah | Narasi Populer | Perspektif Kritis
fakta bukan akhir, di sanalah cerita dimulai
17/12/2025
Benar, di Indonesia ada 42.000 pesantren. Jawa Timur sendiri, ada 7.347 pondok yang berdiri. Pun, nama santri dan karya berbahasa Arabnya dari dahulu tersohor dan dikenal di dunia akademik internasional.
Tapi, di tengah data yang fantantis dan nama harum itu, yang saya rasakan, justru di lapangan, di ranah publik, ngaji kitab kuning yang menjadi ruh santri dan pesantren tidak seramai yang dibayangkan, malah mulai memudar. Sedih bila kalangan santri ‘terbuai’ atas nama beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Tampil modis dengan stylish terkeren, boleh saja sih, tapi kalau santri terjebak di dunia ‘selebritas’ dan melupakan ngaji kitab itu baru ‘bermasalah’.
Santri damparan yang bergulat dengan utawi iki iku sudah mulai langka? Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un...
____
15/12/2025
Mengobarkan Cahaya Literasi di Cahaya Qur’an
Satu bulan kemarin, adik perempuan saya melahirkan, karena padatnya aktivitas, keluarga meminta p**ang pas acara selamatan 40 hari lahirnya keponakan. Dari rencana kecil bersama istri juga, kami memutuskan menghabiskan weekend di Madura.
Tapi, beberapa hari sebelum acara, ada dua surat elektronik masuk. Pertama, dari SMP Cahaya Qur’an, Tritunggal, Babat untuk mengisi pelatihan media. Kedua, kewajiban organisasi untuk hadir di Muskerwil RMI PWNU Jatim. 😂
Selama 24 jam, saya biarkan surat elektronik itu. Tanpa jawaban. Keesokan harinya, saya mengambil keputusan agak berat, tidak p**ang ke Madura dan mengiakan undangan SMP Cahaya Al-Qur’an, serta hadir Muskerwil di PP Al Fatimah, Bojonegoro.
Adik saya telepon, meminta maaf. Walaupun merengek dan marah-marah kerena sejak anaknya lahir sampai acara acara 40 hari tidak p**ang, ia sedikit melunak ketika saya pastikan hari Senin setelah dari Bojonegoro akan p**ang ke Madura.
Selanjutnya, saya harus merayu istri, wajahnya sedikit ditekuk, karena rencana jalan-jalan dan weekend bersamanya kandas! 🤣
***
Ala kulli hal, punya waktu singkat, saya berangkat ke SMP Cahaya Qur’an dengan harapan besar. Bukan sekadar berbagi teknik pengelolaan media sosial dan literasi digital yang baik, melainkan harapan dari rahim lembaga pendidikan Islam, akan lahir generasi yang tidak hanya hafal Qur’an, tetapi juga kreatif dan cakap dalam literasi media.
Terkhusus di SMP Cahaya Qur'an, harapannya: Literasi media berlandaskan cahaya ilahiyah yang ada di dada mereka, yaitu Al-Qur'an.
Betapa luarbiasa ketika siswa-siswi Al-Qur’an itu menggunakan kekuatan platform digital untuk menyebarkan kebenaran dan kebaikan. Dan, prinsip jurnalistik mereka sesuai dengan Al-Qur'an. Jurnalis media yang berkepribadian Qur’ani. Subhanallah...
Wa akhiran, tentu saya tidak sendirian, di Yayasan Cahaya Qur’an sudah ada pegiat media yang sangat aktif. Seperti Ust .kholid dan Ustadzah .farahcq yang literasi dan konten-kontennya ciamik.
Selesai pelatihan, saya berdiskusi dengan beliau, Dan, kami sepakat, untuk dibahas lebih panjang di lain kesempatan, sambil ngopi 😎
Tritunggal, 7/12/25
13/12/2025
Siang itu, setelah shalat Jum’at di Malkot, saya tancap gas ke Pagelaran. Tujuannya; Pondok Pesantren Mambaul Ulum di Banjarejo, Pagelaran. Agak jauh memang, tak apalah, walaupun malam harinya mengisi pelatihan di Batu dan ngobrol plus diskusi dengan para Asatidz PP Zawiyah Duru Al-Utsmaniyah sampai Subuh. Bismillah, Tawakkaltu Alallah...
Menemani teman-teman santri bermedia mungkin menjadi motivasi untuk memacu kendaraan, walaupun badan sudah low baterai.
Alasan lain adalah, berharap akan banyak karya-karya santri di media sosial dari wilayah Malang selatan, karena di kecamatan Pagelaran saja ada ratusan pesantren berdiri.
Menurut pengamatan saya, media pesantren banyak yang masih jalan di tempat, malah ada yang posting setahun sekali kalau pas haul, istilahnya, la yahya wala yamut... ;)
Alhamdulillah, ada 30an santri ikut pelatihan.
***
Takut kehilangan momentum, saya meminta pihak keluarga pondok membentuk departemen media Mambaul Ulum. Dengan manajemen dan pengaturan rapi, diharapkan media Mambaul Ulum bisa terorganisir dan produksi konten berjalan dengan baik.
Setelah shalat Maghrib, dengan tenaga tersisa, bersama asatidz dan santri terpilih, kami berdiskusi, sharing, dan bagaimana media dan literasi di PPMU bisa semarak dan meriah.
Syukran Alallah, teman-teman santri mantap mendirikan wadah kreasi resmi, yang kemudian bernama; El-Fath. Keredaksian ini akan melauching Mading dan Buletin dalam waktu dekat! Ciamik!
Bangkitkan Pena Santri! Demikian kalau boleh saya simpulkan ketika 8 jam saya di Mambaul Ulum Banjarejo.
Ala kulli hal, minggu kemarin, ketika oret-oretan ini dibuat, redaksi Al-Fath mengabarkan kalau beberapa hari ke depan mading siap diluncurkan. Kemudian disusul buletin segera digarap!.
Al-Fath, bagi saya adalah panggung bagi santri Mambaul Ulum untuk mengekpresikan diri, lumbung kreasi bagi ide, opini, dan suara kesantrian kepada masyarakat global.
Wa akhiran, ratusan kilometer dan lelahnya perjalanan, semoga bisa terobati dengan menggeliatnya literasi dan konten santri di media sosial, khususnya di Mambaul Ulum, Banjarejo, Pagelaran, Malang. Amin...
___
12/12/2025
Kota Santri itu, Lagi 'Berisik'
Sekitar 494 tahun lalu, tepatnya 12 Rabul Awal 938 Hijriyah atau bertepatan dengan 24 Oktober 1531 Masehi, di tanah Bang Kulon (Nama awal Bangkalan yang berarti; Kerajaan Madura Barat) hidup sosok raja agung yang memimpin Keraton Pelakaran menuju puncak keemasan.
Pangeran Pratanu, ia bersama Empu Bageno nyantri kepada Sayyid Ja'far Shodiq atau Sunan Kudus. Ada versi lain mengatakan bahwa Pangeran Pratanu belajar Islam dari Empu Bageno, Patih Kerajaan Plakaran yang mengaji langsung kepada Sunan Kudus.
Setelah bertahta menggantikan Raja Pragalbo, Pangeran Pratanu bergelar Panembahan Ki Lemah Duwur. Pada masa pemerintahan beliaulah, Kerajaan Pelakaran berada di puncak kejayaan. Kalau boleh dikatakan, Madura barat waktu itu adalah Baldatun Thayyibah wa Rabbun Ghafur. Subahanallah sekali.
Di bawah kepemimpinan Ki Lemah Duwur, Arosbaya dengan lokasi strategis di pesisir barat p**au Madura disulap menjadi pusat kegiatan pelayaran dan niaga. Tidak lama, Keraton Pelakaran menjadi salah satu kerajaan abad 15 akhir yang berkembang pesat sebagai penguasa poros maritim di selat Madura bagian barat.
Tidak hanya ekonomi pemerintahan yang maju dan rakyatnya makmur, Ki Lemah Duwur merupakan tokoh utama penyebar Islam terbesar di zamannya. Di masa kerajaanya, ia seorang raja yang pertama kali membangun masjid tempat ibadah dan pusat pendidikan. Masjid Besar Arosbaya yang berdiri megah sampai sekarang itu, menjadi monumen kesejahteraan rakyat dan Islam sebagai agama utama.
***
Sekarang, 500 tahun kemudian, minggu kemarin ketika saya p**ang menginjakkan kaki di tanah para raja ini, seliweran di media sosial begitu banyak suara menyebut nama Bangkalan. Bukan tentang sejarah atau semarak keilmuan dari puluhan ribu santri di ratusan pesantren, tapi, jubelan komentar menyesakkan dari belakang layar ponsel itu, dengan serampangan menilai Bangkalan, menghakimi, bahkan memvonis, seolah-olah ia adalah sebuah tayangan live tanpa jeda iklan.
Bangkalan satu bulan terakhir terasa seperti sebuah amfiteater terbuka, namun tanpa penonton fisik. Ia bergerak, bernapas, dan menjalani hari-harinya di bawah tatapan ribuan mata digital yang tidak pernah benar-benar hadir. Seperti biasa, suara-suara tanpa perasaan itu datang bergema dari kejauhan. Suara yang berasal dari jempol-jempol asing yang mengetik kalimat tajam di kolom komentar, atau mereka yang terlalu percaya diri tampi di depan kamera layaknya seorang saksi kunci yang melihat langsung.
Prihatin sekali, ketika banyak dari mereka adalah kelompok yang kerap aji mumpung nimbrung di tengah keramaian media untuk menaikkan akunnya dengan cara aneh, membuat konten dengan narasi opini pribadi tanpa data valid, serta para saksi palsu yang dengan yakin telah mengikuti setiap detik kejadian. Padahal, yang mereka telan hanyalah potongan video dari potongan video orang lain, narasi serampangan yang diolah sekenanya, dan kesimp**an yang tergesa-gesa. Sumbernya? Katanya. Aneh murakkab!
Mereka bukan warga setempat, bukan tetangga juga. Keluarga yang bersangkutan? Sama sekali bukan!. Sebagian besar hanyalah penumpang lewat yang kebetulan mampir ke keramaian virtual. Mereka datang dengan lagak semangat yang sesaat, menjatuhkan vonis moralitas, lalu pergi begitu saja, meninggalkan jejak panas dan perih di permukaan. Mereka tidak akan atau perlu tinggal serta tidak peduli melihat dampaknya. Tanpa rasa simpati dan sembrono, tidak memikirkan konsekuensi dari kata-kata, konten, dan semburat negatif yang dilempar di media sosial.
Mereka adalah legiun tak kasat mata yang dengan tiba-tiba, setiap orang menjadi seorang ahli: berkomentar seperti pakar sosiologi yang mengupas akar masalah, berteriak dan marah seperti korban langsung yang terluka, menuduh dengan lantang seperti penyidik utama yang memegang bukti kuat.
Sekali lagi, inilah yang paling menusuk: katanya. Sumbernya bukan fakta yang diverifikasi dan tabayun, bukan kesaksian yang bertanggung jawab, melainkan bubur informasi yang dimasak dari cuplikan pendek yang diambil di luar konteks, potongan screenshot yang dipotong di tengah kalimat, dan bumbu-bumbu emosi yang ditambahkan oleh orang yang entah siapa dan apa kepentingannya.
Kebenaran, di tangan mereka, menjadi barang yang fleksibel, dapat dibengkokkan sesuai framing yang paling menarik perhatian. Yang mereka cari bukan solusi, melainkan engagement: tawa, kemarahan, atau validasi atas pandangan pribadi mereka. Tidak lebih dari makelar jalanan, yang penting jualannya laku.
Ironis, dan sungguh disayangkan sekali. Dalam lautan informasi yang membanjiri, justru banyak yang tertipu dan percaya bulat-bulat pada kabar burung yang tidak memiliki dasar pijakan, pada informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kepercayaan diletakkan pada tangan-tangan anonim daripada pada realitas yang nyata.
Parahnya, informasi palsu ini tidak berhenti sebagai kesalahan semata. Ia diubah menjadi plesetan yang merendahkan, dijadikan bahan olok-olok dan meme yang tidak lucu. Tawa kolektif pun pecah, menjadi jokes pengisi waktu tak bermanfaat. Tanpa tahu dan peduli, di balik tawa receh itu, ada luka yang tidak terasa menyakitkan banyak pihak.
Berita receh yang seharusnya hanya menjadi gumaman kecil di sudut media, kini pecah di ruang maya dan membuncahkan fitnah di dunia nyata, dikipasi oleh emosi dan engagement, menjadi drama besar yang tidak proporsional.
Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah serekan fitnah dimana-mana. Kabar burung yang tidak berdasar itu kini membentuk citra, menjadi vonis permanen yang melekat pada satu pihak, satu komunitas, satu keluarga, satu gelar yang seharusnya dihotmari, satu nama tentunya, Bangkalan.
***
Tidak terasa, saya, Anda, mereka dan kita semua terjebak di lautan ghibah dan mengumbar keburukan orang lain, atau malah menebar fitnah. Berkenaan dengan hal ini, Allah Subhanahu wa Taala memberikan peringatan dalam Al-Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan aib orang lain dan janganlah kamu menggunjing (ghibah) sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu s**a memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh karena itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hujurat: Ayat 12)
Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa ayat ini (QS al-Hujurat: 12) asbabun nuzulnya berkenaan dengan peristiwa salah seorang sahabat bernama Salman Al-Farisi yang bila selesai makan, s**a terus tidur dan mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang menggunjing perbuatannya. Maka turunlah QS al-Hujurat ayat 12 yang melarang seseorang mengumpat dan menceritakan aib orang lain.
Selaras dengan larangan Allah SWT tersebut, Rasulullah SAW juga melarang mengumbar aib orang lain. Sebagaimana sabdanya:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا إِخْوَانًا
“Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan p**a saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara” (HR Bukhari).
***
Ala kulli hal, kalaupun merasa agak percuma membeberkan beberapa ayat dan dalil keagamaan, riuh media sosial seharusnya bisa disederhanakan, lebih sejuk dan tampil layaknya orang-orang berpendidikan. Proses hukum saja, laporkan bila ada kesalahan yang dilakukan, sekali lagi, seharusnya dilakukan dengan cara elegan dan tidak berisik hingga menyeret banyak pihak, penafsiran kacau yang sembarangan, serta framing opini yang serampangan.
Berlarut-larut ribut media sosial di ranah Bangkalan sama sekali tidak bijak, atau mohon maaf saya katakan kampungan. Kalau riuh itu dimunculkan oleh orang dalam sendiri, warga Bangkalan sendiri, amat kecewa, perih dan menyedihkan. Apa Anda tidak merasa, sedang "membuang sampah" di rumah sendiri? Perilaku baik? Ah, saya ragu mengiakan.
Padahal, beberapa saat lalu, Bangkalan sedang dalam suasana haru dan s**a cita menggelar prosesi tasyakuran Nyelase Agung, penghormatan akbar ini wujud syukur atas dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 melalui Keputusan Presiden No. 116/TK/2025 kepada ulama kharismatik, Sayikhul Masyayikh ulama nusantara, guru bangsa cahaya ilmu internasional dari tanah garam, Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Al Bangkalani.
Ribuan orang dari kalangan santri, masyarakat umum, hingga pejabat turun ke jalan, bersama-sama jalan kaki dalam kirab menuju Maqbaroh Syaikhona Muhammad Kholil di Martajesah. Sepanjang prosesi, suasana khidmat tercipta ketika lantunan nadhom Alfiyah Ibnu Malik menggema bergantian dari barisan peserta. Kirab ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga gambaran kuat kedekatan emosional serta penghormatan mendalam warga Madura terhadap warisan keulamaan Syaikhona Kholil.
Juga, dalam beberapa bulan terakhir, Bangkalan terus berbenah, perbaikan infastruktur jalan dilakukan perbaikan menyeluruh di hampir semua wilayah kabupaten. Banyak bermunculan anak-anak muda yang berani memulai dan membuka unit usaha dan tradisi "kerja di luar daerah" sudah mulai terkikis. Termasuk saya, membuka usaha di Bangkalan karena melihat potensi geliat ekonomi kreatif anak mudanya berkembang.
***
Wa akhiran, ketika para netizen itu pergi mencari tontonan berikutnya, Bangkalan tidak akan kemana-mana, tidak juga perlu ada perkataan "sembuhkan Bangkalan" karena daerah ini akan baik-baik saja, Bangkalan tidak akan menjadi buruk. Mungkin, yang perlu diobati adalah cara berpikir ketika melihat sesuatu, cara memperlakukan cerita yang belum jelas, cara mencari kebenaran dari sebuah berita di media sosial, dan berhati-hati dalam berkata.
Tidak semua hal bisa dikomentari, tidak harus juga kita ada di semua tempat. Apalagi, bukan ranah dan kapasitas kita berada di sana. Kita tidak tahu, justru komentar dan konten serta tampilnya kita di media sosial memperkeruh masalah, menjadi sumber fitnah baru, membingungkan masyarakat, kemudian riak-riak perpecahan timbul di tengah-tengah masyarakat. Lebih lanjut, media kita menjadi tempat tambang dosa, dan selama postingan itu ada, dosa akan terus tertambang, menumpuk dan mengalir ila yaumil qiyamah.
Bangkalan, sekali lagi, sekarang, besok, lusa, dan selamanya akan baik-baik saja.
___
Martajesah, 10 Desember 2025
____
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the public figure
Address
Jl. Sentra Konveksi RT 06 RW 03 Dusun Beton Kecamatan Babat
Lamongan