The Conversation Indonesia

The Conversation Indonesia

Share

Menyebarluaskan pengetahuan. Memperkuat kebijakan.

Pelajaran dari kesuksesan Como Djarum Group: Modal besar saja tak cukup untuk bisa ‘go global’ 06/06/2026

Como dapat menjadi cermin tentang bagaimana modal Indonesia dapat benar benar bersaing di panggung global.

Pelajaran dari kesuksesan Como Djarum Group: Modal besar saja tak cukup untuk bisa ‘go global’ Como dapat menjadi cermin tentang bagaimana modal Indonesia dapat benar benar bersaing di panggung global.

06/06/2026

“kAn aDA AI😛”

Siapa nih yang dikit-dikit minta tolong AI buat ‘translate’ bahasa asing? Teknologi AI kini mampu menerjemahkan percakapan secara instan. Hambatan bahasa rasanya jadi semakin kecil. Namun, kemampuan memahami bahasa tidak hanya soal mengubah kata dari satu bahasa ke bahasa lain.

Saat belajar bahasa asing, seseorang juga belajar cara berpikir, nilai budaya, hingga cara orang lain memaknai dunia. Proses ini melatih memori, perhatian, dan kemampuan beradaptasi.

Riset bahkan menunjukkan bahwa pengalaman multilingual dapat membantu menjaga fungsi kognitif tertentu seiring bertambahnya usia.

AI mungkin dapat mempercepat komunikasi. Namun, memahami humor, emosi, dan konteks sosial tetap membutuhkan keterlibatan manusia.

Artinya, meski alat terjemahan instan making canggih, bukan berarti kita enggak perlu lagi belajar bahasa asing ya 😉

Baca selengkapnya di website kami.

Dari ‘keyboard’ ke EDM: Bagaimana subkultur ‘jedag-jedug’ membangun jalur musik elektronik di Indonesia 06/06/2026

Bagaimana jika jalur musik elektronik Indonesia justru lahir dan tumbuh besar dari keyboard arranger, speaker rakitan, dan ekologi sosial kampung?

Dari ‘keyboard’ ke EDM: Bagaimana subkultur ‘jedag-jedug’ membangun jalur musik elektronik di Indonesia Bagaimana jika jalur musik elektronik Indonesia justru lahir dan tumbuh besar dari keyboard arranger, speaker rakitan, dan ekologi sosial kampung?

‘Slow violence’ : Dampak jangka panjang perubahan iklim bagi anak dan kaum marginal 06/06/2026

Anak-anak dan orang muda, terutama dari masyarakat miskin, adalah kelompok paling terdampak krisis iklim. Mereka akan mengalami fenomena slow onset climate change, di mana dampak perubahan iklim tidak langsung terasa sekaligus, tetapi terjadi sedikit demi sedikit dalam rentang waktu yang panjang.

‘Slow violence’ : Dampak jangka panjang perubahan iklim bagi anak dan kaum marginal Anak-anak dan orang muda, terutama dari masyarakat miskin, adalah kelompok paling terdampak krisis iklim. Mereka akan mengalami fenomena slow onset...

Orang Laut di Indonesia vs Malaysia: Beda negara, beda cara pengakuan 05/06/2026

Orang Laut berperan penting dalam sejarah maritim Semenanjung Melayu, dan daerah kepulauan lainnya di Indonesia. Namun, kebijakan terhadap mereka jauh berbeda di Johor dan Kepulauan Riau.

Orang Laut di Indonesia vs Malaysia: Beda negara, beda cara pengakuan Orang Laut berperan penting dalam sejarah maritim Semenanjung Melayu, tetapi kebijakan terhadap mereka berbeda di Johor dan Kepulauan Riau.

05/06/2026

Bangun pagi, masak sarapan cantik buat anak & suami sambil bikin video GRWM estetik dengan dress linen bak princess yang jauh-jauh dari dunia kerja. Hello, traditional wife dan feminime energy 💅👡👗

Belakangan ini, algoritma media sosial kita dibanjiri oleh estetika Tradwife (Traditional Wife) dan Soft Girl. Visualnya sangat memanjakan mata: rumah cantik, sarapan estetik, urus anak dengan kegiatan-kegiatan menenangkan yang kalo ditonton.. bikin envy. Di tengah budaya kerja modern yang gila-gilaan, siapa yang tidak tergiur?

Terlihat menenangkan di tengah hustle culture. Tapi, bisa jadi tren ini secara tidak sadar malah meromantisasi pembatasan peran perempuan dan bikin kamu merasa bersalah karena ambis.

Di balik visual yang menenangkan itu, ada standar ganda dan fenomena Neo-Ibuisme Digital yang secara tidak langsung menghakimi perempuan-perempuan berambisi. Kita tiba-tiba merasa bersalah kalau ingin mengejar karier, takut dibilang terlalu maskulin atau mengintimidasi. Enggak ada ‘feminine energy’ nya sama sekali.

Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan mulia, tapi mematikan ambisi perempuan dengan label estetika adalah masalah lain.
Banyak kreator di balik tren ini justru adalah pekerja digital yang sangat ambisius. Mereka memonetisasi ranah domestik, bernegosiasi dengan brand, dan menguasai algoritma.

Sementara itu, algoritma yang sama perlahan menghukum dan melabeli perempuan biasa yang berorientasi karier sebagai sosok yang “terlalu agresif” atau “kurang feminin”.

Ini yang dalam psikologi disebut sebagai The Double Bind. Perempuan berada di posisi serba salah: dituntut sukses dan tegas agar diakui, tapi kalau terlalu menonjol malah dicap “bossy” dan kehilangan simpatinya sebagai perempuan.

Kita sedang berhadapan dengan Neo-Ibuisme Digital, di mana nilai perempuan kembali diukur dari kesempurnaan domestiknya.

Baca artikel selengkapnya di sini: https://theconversation.com/terjebak-tradwife-dan-feminine-energy-tren-yang-membatasi-dan-mengontrol-perempuan-282732

Krisis baru setelah Hormuz akan terus berdatangan, sekuat apa ekonomi kita meredamnya? 05/06/2026

Variabel-variabel seperti kondisi geopolitik, perkembangan teknologi, faktor lingkungan, ancaman perang dan wabah penyakit sudah tak bisa lagi disepelekan.

Krisis baru setelah Hormuz akan terus berdatangan, sekuat apa ekonomi kita meredamnya? Variabel-variabel seperti kondisi geopolitik, perkembangan teknologi, faktor lingkungan, ancaman perang dan wabah penyakit sudah tak bisa lagi...

05/06/2026

CSR Tambang gagal menjangkau masyarakat adat. Apa alasan dibaliknya?

Perusahaan tambang kerap menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) sebagai bentuk pembagian manfaat pembangunan. Namun, efektivitas program tersebut masih dipertanyakan. Persoalannya bukan semata pada banyak atau sedikitnya program yang dijalankan, melainkan pada siapa yang diakui sebagai penerima manfaatnya.

Di Indonesia, masyarakat adat menjadi salah satu kelompok yang paling dekat dengan dampak aktivitas tambang. Menurut Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), terdapat sekitar 2.449 komunitas adat dengan jumlah populasi yang diperkirakan mencapai 20 juta orang. Mereka umumnya memiliki keterikatan kuat dengan tanah dan wilayah yang juga menjadi lokasi berbagai aktivitas ekstraktif.

Masalah muncul karena belum ada definisi yang seragam mengenai masyarakat adat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN, serta Kementerian Dalam Negeri menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi masyarakat adat. Akibatnya, perusahaan seringkali menentukan penerima manfaat berdasarkan batas administratif desa. Padahal masyarakat adat tidak selalu dapat dipetakan melalui batas wilayah tersebut karena memiliki hubungan historis, kultural, dan ekologis yang lebih kompleks.

Dalam praktiknya, banyak program CSR berfokus pada pembangunan infrastruktur, pelatihan, atau bantuan sosial. Sementara itu, masyarakat adat menghadapi persoalan yang lebih mendasar, seperti kehilangan ruang hidup, perubahan mata pencaharian, hingga degradasi lingkungan. Situasi serupa juga terjadi pada Program Pemberdayaan Masyarakat yang bersifat wajib. Masyarakat adat dapat terlibat dalam kegiatan, tetapi belum tentu memiliki posisi yang menentukan dalam perencanaan maupun evaluasi program.

Dampak dari ketidakjelasan ini terlihat pada proses pengakuan wilayah adat. Dari sekitar 30,1 juta hektare wilayah adat yang telah dipetakan oleh Badan Registrasi Wilayah Adat, baru sekitar 8 juta hektare yang memperoleh pengakuan. Artinya, sebagian besar wilayah adat masih berada dalam posisi hukum yang belum sepenuhnya jelas.

Tanpa pengakuan yang lebih tegas terhadap masyarakat adat, distribusi manfaat pembangunan akan terus mengikuti batas administratif dan bukan kelompok yang paling terdampak. Karena itu, persoalan utama bukan sekadar memperbanyak program CSR, melainkan memastikan siapa yang diakui sebagai penerima manfaat pembangunan sejak awal.

*Konten ini diolah dari artikel The Conversation Indonesia https://theconversation.com/mengapa-csr-perusahaan-tambang-gagal-bagi-masyarakat-adat-masalahnya-ada-pada-pengakuan-280581

04/06/2026

Wacana merombak fokus tugas dosen belakangan ini jadi sorotan 😮

Selama ini, sistem Tri Dharma menuntut mereka jadi "Superman" yang harus jago di tiga bidang sekaligus: Pendidikan, Penelitian, Pengabdian.

Berawal dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang menggagas sistem "Satu Dosen Satu Fokus", muncul ide kalau dosen difokuskan sesuai talenta utamanya saja.

Konsep ini berusaha membebaskan akademisi dari tuntutan yang tidak realistis. Jika seorang dosen memiliki bakat pedagogis yang brilian, ia akan difokuskan ke ruang kelas tanpa ditagih target publikasi riset yang tidak masuk akal. Sebaliknya, jika ia analitis dan produktif di laboratorium, ia diarahkan penuh menjadi peneliti.
Namun, kebijakan yang terlihat sempurna di atas kertas ini menyimpan risiko laten.

Di lapangan, risikonya cukup menantang. Pertama, ada ancaman lahirnya spesialisasi yang terlalu kaku. Padahal, pengajaran yang tajam sering kali lahir dari pengalaman riset yang kuat. Begitu pun sebaliknya, riset menemukan relevansinya dari interaksi kritis dosen dengan mahasiswa di kelas. Jika pemisahan ini terlalu tegas, rantai keilmuan berisiko terputus.

Kedua, kita berhadapan dengan realita ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Kampus-kampus menengah atau daerah dengan rasio dosen dan mahasiswa yang timpang tidak memiliki keistimewaan untuk "memilih fokus". Bagi mereka, sistem dosen palugada adalah satu-satunya cara bertahan hidup agar kegiatan operasional kampus tidak lumpuh total.

Ketiga, dan yang paling rentan secara psikologis, adalah potensi lahirnya kasta akademis. Di dunia pendidikan, jumlah dan reputasi riset sering kali dipandang lebih bergengsi dibandingkan sekadar mengajar. Ada ketakutan besar bahwa kontribusi seorang "Dosen Pengajar" akan dianggap sebagai warga kelas dua dibandingkan "Dosen Peneliti".

Pada akhirnya, sebuah universitas harus memosisikan dirinya sebagai satu kesatuan ekosistem kolaboratif. Keberagaman kapasitas dalam satu fakultas—ada dosen yang hebat meneliti, pendidik yang luar biasa di kelas, dan penggerak sosial yang andal di masyarakat—seharusnya dilihat sebagai elemen-elemen yang saling melengkapi, bukan disekat-sekat secara kaku.

Lalu, bagaimana kita mencari titik keseimbangannya? Kalau menurutmu sendiri, kebijakan ‘satu dosen satu fokus’ akan lebih banyak untung atau ruginya? 🤔

Baca artikel selengkapnya di sini: https://theconversation.com/dosen-bukan-superman-realita-di-balik-memisah-tugas-mengajar-dan-riset-283922

04/06/2026

Iklim makin panas, standar lari makin tinggi, apa kabar nasib pelari kalcer?

Lari menjadi salah satu olahraga yang paling populer dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang memilih lari karena sederhana, tidak membutuhkan fasilitas khusus, dan bisa dilakukan hampir di mana saja.

Namun, aktivitas yang terlihat sederhana ini kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kenaikan suhu global dan memburuknya kualitas udara membuat pengalaman berlari di luar ruangan menjadi lebih berat sekaligus kurang aman.

Laporan Strava menunjukkan 75% pelari mengaku panas ekstrem memengaruhi rencana olahraga mereka. Sementara itu, 27% pelari terdampak kualitas udara yang buruk. Risiko yang muncul bukan hanya rasa tidak nyaman saat berlari. Paparan panas berlebih dapat meningkatkan risiko dehidrasi, heat stroke, hingga gangguan ginjal akut.

Sementara itu, polusi udara bisa mengurangi kemampuan pernapasan, yang dalam jangka panjang dapat memicu iritasi dan peradangan paru.
Di tengah krisis iklim, muncul berbagai teknologi yang seolah menawarkan solusi bagi para pelari. Mulai dari aplikasi latihan, pelacak GPS, program berbasis AI, hingga berbagai perangkat digital pendukung berlari.

Teknologi berbasis data terutama AI sangat boros energi dan air. Pusat data AI juga meningkatkan emisi karbon dan limbah elektronik.

Di sisi lain, masifnya iklan tertarget dan konten bersponsor dari para runfluencer membuat kita silau dan lebih konsumtif terhadap kebutuhan tracking data. Entah untuk kebutuhan personal, maupun pamer pencapaian di media sosial.
Para runfluencer juga mempromosikan sepatu, tren mode pakaian dan peralatan lari terkini, yang menormalkan konsumsi berlebihan fast fashion. Fenomena ini turut berkontribusi terhadap 2-8% emisi karbon global.

Perubahan ini menunjukkan bagaimana budaya lari juga ikut bergeser. Fokus tidak lagi hanya pada aktivitas berlari itu sendiri, tetapi juga pada berbagai produk dan layanan yang mengelilinginya.

Karena itu, tantangan pelari saat ini bukan hanya beradaptasi dengan cuaca yang semakin panas, tetapi juga menjaga agar lari tetap menjadi aktivitas yang menyehatkan, sederhana, dan berkelanjutan.

Memilih waktu latihan yang aman, mendengarkan kondisi tubuh, serta menggunakan perlengkapan sesuai kebutuhan adalah beberapa cara untuk tetap menikmati lari tanpa terjebak pada tekanan performa, tren, maupun konsumsi yang berlebihan.

*Konten ini diolah dari artikel The Conversation Indonesia https://theconversation.com/bukan-sekadar-tren-bagaimana-perubahan-iklim-dan-pengaruh-runfluencer-mengancam-hobi-lari-kita-282152

Want your business to be the top-listed Media Company in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Address


Jakarta