Inspirasi Master Rajneesh
Kami menerjemahkan ucapan Master Osho ke dalam bahasa Indonesia, semoga bisa menginspirasi pembaca.
14/06/2026
ENERGI HIDUP
Tujuh puluh persen penyakit bisa disembuhkan oleh siapa pun yang engkau percayai. Kepercayaanmulah yang menyembuhkan. Hanya 30% penyakit - yang adalah penyakit sesungguhnya - membutuhkan obat, membutuhkan bedah. Tujuh puluh persen hanya membutuhkan dokter yang engkau percayai.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan: penyakitmu, kegagalanmu dalam hidup, kecerdasanmu yang belum berkembang, situasimu yang kacau-balau dalam segalanya, hanyalah perbuatanmu sendiri.
Jika engkau bisa memahami satu hal sederhana saja: hidupmu memiliki energi yang melimpah. Engkau hanya perlu tahu, bagaimana cara membangkitkan energi itu untuk berfungsi mendukungmu, bagaimana cara membuat energi itu menjadi sebuah tarian, bukan gaya hidup yang merusak.
Saat bermeditasi, saat mengamati pikiranmu, engkau bisa terbebas dari banyak hal, yang hanyalah khayalanmu. Pada saat engkau sadar di dalam, tidak ada khayalan yang bisa bertahan hidup. Ia pasti mati.
Osho ~ Sermons in Stones, Chpt 20
14/06/2026
DI BALIK KEMARAHAN
Dari seratus orang yang menderita kemarahan, sekitar 50% menderita karena terlalu banyak energi kreatif, sehingga mereka tidak mampu untuk menggunakannya. Masalah mereka bukanlah kemarahan, tetapi mereka akan terus berpikir sepanjang hidup mereka bahwa itu demikian. Begitu masalah didiagnosis dengan benar, setengah darinya sudah terpecahkan.
Curahkanlah energimu ke dalam kreativitas. Lupakanlah kemarahan sebagai masalah; abaikanlah itu. Salurkanlah energimu menuju lebih banyak kreativitas. Tuangkanlah dirimu sendiri ke dalam sesuatu yang engkau cintai. Daripada membuat kemarahan menjadi masalahmu, biarkanlah kreativitas menjadi objek meditasimu. Beralihlah dari kemarahan menuju kreativitas, dan segera engkau akan melihat sebuah perubahan yang sangat besar bangkit dalam dirimu. Dan besok hal-hal yang sama tidak akan terasa seperti alasan untuk menjadi marah, karena sekarang energi sedang bergerak, ia menikmati dirinya sendiri, tariannya sendiri. Siapa yang peduli dengan hal-hal kecil?
OSHO ~ Everyday Osho, Day 18
14/06/2026
CEMBURU
Setiap kali engkau melihat seseorang bahagia, engkau merasa cemburu – tidak bahagia, tidak pernah bahagia. Engkau merasa sengsara. Itulah sikap alami, sikap yang sudah engkau miliki. Dan Patanjali mengatakan pikiran menjadi tenang dengan menumbuhkan sikap ramah terhadap orang yang bahagia – sangat sulit. Bersikap ramah dengan seseorang yang bahagia adalah salah satu hal tersulit dalam hidup.
Biasanya, engkau pikir itu sangat mudah. Tidak! Justru sebaliknya. Engkau merasa cemburu, engkau merasa sengsara. Engkau mungkin menunjukkan kebahagiaan, tetapi itu hanya kepura-puraan, pertunjukan, topeng. Dan bagaimana engkau bisa bahagia? Dan bagaimana engkau bisa menjadi tenang, diam, jika engkau memiliki sikap seperti itu?
Karena seluruh kehidupan adalah perayaan, jutaan kebahagiaan terjadi di seluruh semesta, tetapi jika engkau memiliki sikap cemburu, engkau akan sengsara, engkau akan berada di neraka yang terus-menerus. Dan engkau akan berada di neraka justru karena di mana-mana ada surga. Engkau akan menciptakan sebuah neraka untukmu – neraka pribadi – karena seluruh semesta sedang merayakan.
Jika seseorang bahagia, apakah yang pertama kali terlintas di pikiranmu? – seakan-akan kebahagiaan itu telah direnggut darimu, seakan-akan dia telah menang dan engkau dikalahkan, seakan-akan dia telah menipumu... Kebahagiaan bukanlah sebuah persaingan, jadi jangan khawatir. Jika seseorang bahagia, itu bukan berarti engkau tidak bisa menjadi bahagia, bahwa dia telah merampas kebahagiaan – sekarang bagaimana engkau bisa bahagia. Kebahagiaan bukan berada di suatu tempat, yang bisa habis oleh orang-orang yang bahagia.
Mengapa engkau merasa cemburu? Jika seseorang kaya, mungkin itu sulit bagimu untuk menjadi kaya, karena kekayaan ada dalam jumlah. Jika seseorang berkuasa dalam hal materi, mungkin itu sulit bagimu untuk menjadi berkuasa, karena kekuasaan adalah persaingan. Tetapi, kebahagiaan bukanlah sebuah persaingan. Kebahagiaan ada dalam jumlah yang tak terbatas...
Patanjali berkata, ketika seseorang bahagia, rasakanlah bahagia, rasakanlah bersahabat. Maka engkau juga membuka sebuah pintu menuju kebahagiaan. Dengan cara halus, jika engkau bisa merasa bersahabat dengan seseorang yang bahagia, engkau segera mulai berbagi kebahagiaannya; itu telah menjadi milikmu juga - segera! Dan kebahagiaan bukanlah sesuatu; ia bukan materi. Ia bukan sesuatu yang bisa dipegang erat oleh seseorang. Engkau bisa membagikannya. Ketika bunga mekar, engkau bisa membagikannya; ketika burung berkicau, engkau bisa membagikannya; ketika seseorang bahagia, engkau bisa membagikannya. Dan keindahannya adalah bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada berbaginya. Ia bergantung pada partisipasimu.
Osho ~ Yoga: The Alpha and the Omega, Volume 2, Chpt 9
14/06/2026
SEBATANG LILIN KECIL
Fungsi sang Master adalah untuk membatalkan apa yang telah dilakukan oleh para guru, imam, orang tua, dan politisi kepadamu. Di sini aku hanya membuat segalanya jelas bagimu. Aku tidak memaksakan disiplin apa pun. Aku tidak memberimu karakter apa pun. Aku hanya memberimu lebih banyak kesadaran, lebih banyak cahaya. Maka engkau harus menemukan karaktermu. Kemudian engkau harus menemukan gaya hidupmu, pola hidupmu.
Aku hanya memberimu sebatang lilin kecil; maka engkau bisa menemukan jalanmu ke dalam kegelapan kehidupan. Dan bahkan sebatang lilin kecil saja sudah cukup. Jika sedikit ruang di sekitarmu menjadi diterangi dan engkau bisa mengambil tiga, empat langkah dalam terang tersebut, itu sudah cukup; karena pada saat engkau telah mengambil empat langkah, cahayanya pergi empat langkah di depanmu. Dengan sebatang lilin kecil seseorang bisa melewati sepuluh ribu kilometer kegelapan.
Osho ~ Dhammapada, The Way of the Buddha, Vol 6, Chpt 2
14/06/2026
KISAH SUFI: BIJAK DALAM KEBODOHAN, BODOH DALAM KEBIJAKSANAAN
Ego selalu berusaha menjadi lebih sempurna, dan ketika engkau ingin menjadi sempurna, engkau harus memilih - engkau tidak bisa total. Jika engkau ingin menjadi bijak, engkau harus memilih: engkau harus meninggalkan kebodohan, engkau harus berjuang melawan kebodohan. Dan jika engkau ingin menjadi sangat bijak, engkau harus memotong segala kemungkinan dari ketidaktahuan, kebodohan, kegilaan.
Tetapi manusia seutuhnya benar-benar berbeda. Dia bijak dalam kebodohannya; dia bodoh dalam kebijaksanaannya. Dia tahu bahwa dia bodoh - itulah kebijaksanaannya. Dalam dirinya, yang berlawanan saling bertemu. Lao Tzu berkata: Semua orang tampaknya bijaksana kecuali aku. Aku tampaknya bodoh. Semua orang berusaha menjadi bijak, berusaha menjadi berpengetahuan, berusaha menjadi cerdas - memotong, menyembunyikan, menekan kebodohan. Tetapi kebodohan memiliki keindahannya sendiri - jika ia bisa digabungkan dengan kebijaksanaan. Maka kebijaksanaan adalah total. Dan orang bijak terbesar dalam dimensi totalitas juga selalu bodoh. Mereka sangat sederhana dan polos, sehingga mereka terlihat bodoh. Lao Tzu pasti terlihat bodoh bagi banyak orang. Dia terlihat bodoh; dia adalah keduanya. Dan itulah kesulitannya: pikiran mencari kesempurnaan. Siapa yang akan mendatangi Lao Tzu? Tidak ada yang ingin menjadi bodoh dan bijaksana. Dan engkau bahkan tidak bisa memahami, bagaimana seseorang bisa menjadi keduanya. Bagaimana orang bisa menjadi keduanya?
Dikisahkan bahwa seorang Sufi mistikus sedang bepergian dan datang ke sebuah kota. Dan namanya telah sampai ke sana sebelum dirinya, ketenarannya sudah dikenal. Maka orang-orang berkumpul dan berkata, "Ajarkanlah sesuatu kepada kami."
Mistikus itu berkata, "Aku bukan orang yang bijak, karena aku juga bodoh. Engkau akan bingung dengan ajaranku, jadi lebih baik biarkanlah aku diam." Tetapi semakin dia berusaha menghindarinya, semakin mereka bersikeras, semakin mereka tertarik dengan kepribadiannya.
Akhirnya dia menyerah dan berkata, "Baiklah. Jumat yang akan datang ini, aku akan datang ke masjid ..." Itu adalah desa muslim. "... dan apa yang engkau ingin aku bicarakan?"
Mereka berkata, "Tentu saja, tentang Tuhan."
Jadi dia datang - seluruh desa berkumpul, dia telah menciptakan sensasi yang sedemikian. Dia berdiri di mimbar dan mengajukan pertanyaan: "Apakah engkau tahu apa pun, tentang apa yang akan aku katakan, tentang Tuhan?"
Penduduk desa tentu saja menjawab, "Tidak, kami tidak tahu apa yang akan engkau katakan."
"Kalau begitu," katanya, "tidak ada gunanya, karena jika engkau tidak tahu sama sekali, engkau tidak akan bisa mengerti. Sedikit persiapan diperlukan, dan engkau benar-benar tidak siap. Itu akan sia-sia dan aku tidak akan bicara." Dia meninggalkan masjid.
Penduduk desa bingung: apa yang harus dilakukan? Mereka membujuknya lagi pada hari Jumat berikutnya. Jumat berikutnya dia datang lagi. Dia mengajukan pertanyaan yang sama; semua penduduk desa sudah siap. Dia bertanya, "Apakah engkau tahu apa yang akan aku bicarakan denganmu?"
Mereka berkata, "Ya, tentu saja."
Jadi dia berkata, "Maka tidak perlu berceramah. Jika engkau sudah tahu - selesai. Mengapa tanpa perlu menggangguku dan membuang waktumu?" Dia meninggalkan masjid. Penduduk desa benar-benar bingung: apa yang harus dilakukan dengan pria ini? Tetapi sekarang minat mereka menjadi gila. Dia pasti menyembunyikan sesuatu! Jadi mereka kembali membujuknya.
Dia datang, dan sekali lagi dia menanyakan pertanyaan yang sama: "Apakah engkau tahu apa yang akan aku bicarakan?"
Sekarang penduduk desa menjadi sedikit lebih bijaksana. Mereka berkata, "Setengah dari kami tahu, dan setengah dari kami tidak tahu."
Mistikus itu berkata, "Maka itu tidak perlu. Mereka yang tahu bisa memberi tahu mereka yang tidak tahu."
Inilah orang yang bijak dan bodoh - dia terlihat bodoh tetapi dia sangat bijaksana dalam kebodohannya; dia terlihat sangat bijak tetapi berperilaku seperti orang bodoh. Jika engkau memahami kehidupan, semakin dalam engkau pergi, semakin dalam engkau akan memahami bahwa keseluruhannya pantas untuk dipilih. Itu berarti tidak perlu memilih. Pilihan akan memotong-motong keseluruhannya, dan apa pun yang engkau dapatkan akan terpisah-pisah dan mati. Kebijaksanaan dan kebodohan ada bersama dalam kehidupan; jika engkau memotongnya, maka kebijaksanaan akan terpisah dan kebodohan akan terpisah, tetapi keduanya akan mati. Seni kehidupan terbesar adalah membiarkan mereka tumbuh bersama dalam keseimbangan, sehingga kebijaksanaanmu membawa sifat kebodohan tertentu, dan kebodohanmu membawa sifat kebijaksanaan tertentu. Maka engkau menjadi penuh.
OSHO ~ Tao The Three Treasures, Vol 1, Chpt 2
13/06/2026
TANPA DISIPLIN
Aku bukan bagian dari kelompok orang-orang bodoh tua ini. Aku tidak sakit mental. Aku tidak pernah merasa diriku rendah karena aku tidak pernah membandingkan diriku dengan siapa pun. Aku tidak pernah merasa diriku lebih unggul dengan alasan yang sama. Engkau bisa merasa lebih unggul atau lebih rendah hanya ketika engkau membandingan. Tetapi, bagaimana aku bisa membandingkan?
Aku tidak melihat ada orang lain yang sama sepertiku. Aku melihat setiap orang unik. Dan jika setiap orang unik, maka tidak ada pertanyaan tentang perbandingan; maka tidak pertanyaan tentang kesetaraan juga.
Orang-orang ini, yang telah terus menyiksa diri mereka sendiri... tentu saja, pertanyaan muncul di dalam pikiranmu: denganku, tidak ada penyiksaan diri. Engkau tidak diminta untuk tidak tidur bermalam-malam sekaligus, engkau tidak diminta untuk tidak makan selama berminggu-minggu sekaligus, engkau tidak diberi disiplin apa pun, karakter tertentu apa pun.
Aku tidak bisa memaksakan karakter atau disiplin apa pun kepadamu. Aku bukan musuhmu. Aku hanya bisa membantu keberadaanmu mekar. Dan kecuali jika ia mekar, kita tidak tahu apakah ia bunga mawar atau bunga teratai. Kita akan harus menunggu dan melihat ketika ia mekar.
Di masa lalu, tidak ada seorang pun yang memiliki kesabaran untuk menunggu dan melihat apa yang terjadi ketika seseorang mekar. Mereka semua berusaha memaksakan sesuatunya - dengan semua harapan baik, tetapi mereka telah menciptakan umat manusia yang lumpuh ini.
Tidak ada seorang pun yang sedang mekar, karena tidak ada seorang pun yang diterima dengan sifat alaminya, apa pun itu. Engkau diberitahu, bagaimana engkau seharusnya untuk diterima, untuk dihormati, untuk menjadi mulia dalam masyarakat ini - bagaimana engkau seharusnya.”
Osho ~ Sermons in Stones Chpt 20
13/06/2026
MALAM GELAP JIWA
Ketika pikiran mulai menghilang, datanglah sebuah celah, jeda. Sebelum sesuatu yang melampaui pikiran turun, ada celah di sana. Yang lama sudah pergi dan yang baru belum datang, karenanya terasa seperti di padang pasir.
Para mistikus Kristen mempunyai nama yang tepat untuk itu - mereka menyebutnya "malam gelap jiwa." Seseorang merasa benar-benar kering, kosong - dan kosong secara negatif. Kekosongan itu mempunyai sifat kegelapan, bukan cahaya - tidak ada kehijauan di mana pun, bahkan oasis pun tidak ada, bahkan cakrawala yang jauh pun tidak ada. Padang pasir ini harus dilalui.
Banyak orang menjadi takut dan mereka melarikan diri kembali ke dunia ilusi mereka. Ini adalah hasil yang wajar, karena semua kehijauan yang sudah ada sebelumnya hanyalah ilusi, hanyalah halusinasi. Engkau yang menciptakannya - ia tidak ada di sana.
Sekarang mimpi-mimpi telah hilang, dan layar kosong ... Engkau telah duduk dalam sebuah bioskop, dan di layar kosong itu ada banyak hal - bunga-bunga dan pegunungan yang indah, dan sungai dan lautan, dan orang-orang, dan semuanya dihuni - dan tiba-tiba proyektornya telah berhenti: layarnya kosong.
Layarnya kosong karena apa pun yang engkau lihat sebelumnya hanyalah ilusi ... itu maya. Banyak orang menjadi takut dan mereka menyalakan proyektornya lagi - sekali lagi mereka mengisi dunia dengan fantasi mereka sendiri.
Inilah saat di mana keberanian dibutuhkan. Inilah saat ketika seseorang benar-benar menjadi sannyasin (pencari kebenaran). Jadi biarlah padang pasir ini ada. Engkau harus melewatinya, dan semakin dalam penerimaanmu, semakin cepat ia akan menghilang. Terkadang ia bisa menghilang dalam sekejap, itu tergantung pada intensitas penerimaannya.
Jika engkau menerima, engkau berkata, "Tidak apa-apa. Aku akan hidup dengan layar yang kosong tetapi aku tidak akan menciptakan ilusi apa pun lagi. Semua urusan cinta, hubungan, semua keinginan, keserakahan, dan semua ambisi itu - aku tidak akan membawa mereka lagi. Jika itu padang pasir, jadi biarlah; aku siap untuk hidup dengan padang pasir ini."
Begitu engkau benar-benar siap, tiba-tiba engkau akan melihat bahwa padang pasir itu juga menghilang. Sama seperti kehijauan telah menghilang, padang pasir juga menghilang. Gambar-gambar menghilang, sekarang layarnya telah menghilang, dan kemudian untuk pertama kalinya engkau menjadi sadar akan kenyataan - yang luar biasa indah. Ia sangat berwarna... ia bercahaya.
Jadi inilah dua hal: pertama-tama film harus dimulai, kemudian layar harus menghilang. Kemudian engkau menghadapi kenyataan, dunia nyata apa adanya. Tetapi untuk menjadi mampu melakukan itu, inilah harga yang harus dibayar.
Para mistikus Kristen mengatakan bahwa ada tiga tahap pertumbuhan batin. Yang pertama mereka sebut via purgativa (melalui penyucian). Orang harus menjadi murni sepenuhnya, murni dari semua ilusi - itulah penyucian.
Tahap kedua mereka sebut via illuminativa (melalui cahaya). Ketika orang telah menjadi sepenuhnya murni dari ilusi, tahap kedua akan datang - cahaya yang besar akan turun. Hidup akan menjadi mulia. Orang akan merasa sangat sangat puas, sangat dekat dengan rumah.
Dan kemudian tahap ketiga mereka sebut via unitiva (melalui penyatuan). Orang menjadi satu dengan kenyataan. Tidak ada orang yang melihat dan tidak ada hal yang dilihat.
Pada tahap pertama tidak ada cahaya dan itu sangat menyakitkan - penyucian. Sangat banyak mimpi berharga yang rusak. Ini menyakitkan, dan orang merasa kering, karena semua yang dia pikirkan sebagai jus tidak lain daripada mimpi.
Pada tahap kedua orang merasa sangat bahagia tetapi masih ada sesuatu yang hilang. Dia bahagia tetapi dia belum menjadi kebahagiaan. Dia bercahaya tetapi dia belum menjadi cahaya. Ya, terang telah datang, tetapi ia terpisah darimu - dualitas masih ada.
Pada tahap ketiga, via unitiva (melalui penyatuan), orang menjadi satu dengan semesta. Hanya kemudian perjalanannya selesai ... ziarahnya selesai.
OSHO ~ What Is, Is, What Ain't, Ain't, Chpt 19
13/06/2026
MENGAPA AKU TIDAK MERASAKAN YANG ILAHI?
Pertanyaan:
Tolong jelaskan, mengapa kami tidak merasakan yang Ilahi, yang ada di sini sekarang, di dalam dan di luar, yang adalah engkau, aku, dan segalanya.
Jawaban Osho:
Pertanyaan ini dari Swami Yoga Chinmaya. Karena engkau terlalu banyak dan terlalu berat pada dirimu sendiri.
Karena engkau tidak bisa tertawa, yang Ilahi tersembunyi. Karena engkau terlalu tegang, engkau tertutup. Dan hal-hal yang engkau pikirkan ini - bahwa yang Ilahi ada di sini-sekarang, di dalam dan di luar, engkau dan aku - hanyalah hal-hal kepala, mereka bukan perasaanmu. Mereka adalah pemikiran, bukan hal yang disadari. Dan jika engkau terus berpikir seperti ini, mereka tidak akan pernah menjadi pengalaman. Engkau bisa meyakinkan dirimu sendiri dengan seribu satu argumen bahwa ini demikian, tetapi mereka tidak akan pernah menjadi pengalamanmu. Engkau akan terus melewatkannya. Ini bukan pertanyaan tentang argumen, filsafat, pemikiran, perenungan - tidak. Ini adalah pertanyaan tentang menenggelamkan dirimu dalam-dalam, dalam perasaan dari fenomena itu. Orang harus merasakannya, bukan memikirkannya. Dan untuk merasakannya, orang harus menghilang.
Engkau sedang mengusahakan hal yang sama sekali mustahil: dengan berpikir, engkau sedang berusaha menyadari Tuhan. Itu akan tetap menjadi sebuah filsafat; itu tidak akan pernah menjadi pengalamanmu.
Dan kecuali jika itu adalah sebuah pengalaman, itu tidak membebaskan. Itu akan menjadi ikatan; engkau akan mati dalam ikatan dari kata-kata itu.
Osho ~ Come Follow to You, Vol 1, Chpt 4
13/06/2026
Dunia terus memperbarui dirinya sendiri, menghidupkan kembali dirinya sendiri. Itulah mengapa ia mengambil orang-orang tua, dan membawa bayi-bayi kecil kembali ke dunia. Ia mengubah orang-orang tua menjadi bayi-bayi kecil.
Semesta terus memenuhi dunia dengan orang-orang baru. Setiap kali ia melihat seseorang telah benar-benar terjebak - sekarang tidak ada lagi aliran, tidak ada lagi sari kehidupan, dan orang itu hanya menyusut dan tanpa perlu menjadi beban di bumi - maka kehidupan menyingkirkannya.
Orang itu kembali ke semesta, dihancurkan. Tanah kembali ke tanah, langit kembali ke langit, udara kembali ke udara, api kembali ke api, air kembali ke air. Kemudian dari tanah itu, dari air dan api itu, seorang bayi dilahirkan - mengalir, muda, segar, siap untuk hidup dan menari lagi. Sama seperti bunga yang datang ke pohon, sama seperti pohon yang berbunga, bumi terus melahirkan bayi, terus menciptakan bayi-bayi baru.
Osho ~ Yoga: The Alpha and the Omega,Vol 10, Chpt 10
13/06/2026
Pesanku bukanlah sesuatu yang hanya untuk didengarkan. Pesanku bukanlah doktrin, bukan filosofi. Pesanku adalah alkimia khusus, ilmu pengetahuan tentang perubahan total, jadi hanya mereka yang bersedia mati sebagai diri mereka, dan lahir kembali menjadi sesuatu yang sama sekali baru, yang bahkan tidak bisa mereka bayangkan saat ini. Jadi hanya bagi sedikit orang yang berani itu, yang akan siap untuk mendengarkan, karena mendengarkan akan menjadi berbahaya. Setelah engkau mendengarkan, engkau tidak bisa melarikan diri darinya. Dan kemudian tanpa komitmenmu engkau telah berkomitmen, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dari pihakmu dan engkau telah tamat.
Dengan mendengarkan, engkau telah mengambil langkah pertama untuk lahir kembali. Jadi ini bukanlah filsafat, di mana engkau hanya membuatnya sebagai jubah dan membual tentangnya. Ini bukanlah doktrin, di mana engkau bisa menemukan penghiburan atas pertanyaan-pertanyaan yang mengusik. Sebuah doktrin, yang bisa membuat pertanyaan-pertanyaan itu ditundukkan kemudian perlahan-lahan dilupakan.
Bukan! Pesanku bukanlah komunikasi kata-kata. Ini jauh lebih berbahaya. Ini tidak kurang dari kematian dan kelahiran kembali.
(OSHO - From Misery to Enlightenment)
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Address
Jakarta