Yayasan Riset Visual Matawaktu
organisasi nirlaba berfokus pd
penelitian, pengarsipan & publikasi
seni visual (khususnya fotografi)
19/05/2026
Catatan visual "Huru Hara H**e Blok M". Terima kasih telah turut serta, tunggu tanggal hunting berikutnya, dan jangan sampai terlewat 📷✨
13/05/2026
# :
The Superlative Artistry of Japan
Diselenggarakan oleh The Japan Foundation bersama Kedutaan Jepang di Indonesia dan Unicorn Gallery, pameran keliling tersebut dirancang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan keterampilan artistik Jepang ke berbagai negara melalui tur global yang berlangsung dari tanggal 05–25 Mei 2026 di Sakura Hall, The Japan Foundation, Jakarta.
Karya-karya yang ditampilkan mencakup berbagai tema, dengan total 38 karya dari 15 seniman lintas generasi, kita diajak untuk menyaksikan langsung evolusi estetika Jepang seperti kerajinan tangan, lukisan, fotografi, arsitektur, dan desain. Dimulai dengan memperkenalkan karya-karya Kogei era Meiji (1868-1912) yang memiliki peran penting dalam memicu tren Japonisme di Eropa abad ke-19.
Seniman yang terlibat yaitu Kimiyo Mishima: seniman yang memilih untuk mengabadikan hal-hal yang bersifat sementara. Dengan keterampilan keramik tingkat lanjut, ia mengubah koran bekas dan majalah menjadi patung keramik yang sangat mirip aslinya. Lalu, Takahiro Iwasaki, mengeksplorasi perspektif mikro dan makro menggunakan benda-benda sehari-hari. Kemudian ada Kaiyodo, Satoshi Araki, Riusuke Fukahori, Yoshihiro Suda, Naoki Nishiwaki, Takeshi Kitamura, Ichiyo Yamamoro, Hiroaki Umeda, Naoki Honjo, Yamaguchi Akira, dan Yasuhiro Suzuki.
Pameran tersebut mengajak tuk mengapresiasi beragam teknik tingkat lanjut khas Jepang yang diterapkan dalam setiap karya, sekaligus kerja keras (doryoku) dan ekspresi artistik yang melampaui batas keterampilan, serta merangkai dialog antara masa lalu dan masa kini.
📝 & 📸 : Shinta Dewi (Magangers26 #2)
11/05/2026
1 Table, 10 Minds :
(Hari 3) TrilogiLakon - Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi
Ruang diskusi yang diinisiasi oleh aRRRah bersama Teater Garasi ini menghadirkan perbincangan lintas disiplin yang mengangkat tiga naskah lakon dalam buku terbitan "Trilogi Lakon Penciptaan Bersama Teater Garasi: Je.ja.l.an (2008), Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), dan Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA, 2015)".
Ketiga naskah tersebut dikatakan sebagai trilogi bukan tanpa alasan. Pertama, ketiganya menjelajahi tema yang saling berkelindan dan berkembang secara berlapis. Kedua, proses penciptaannya berangkat dari metode yang sama, sebuah cara menulis yang merayakan keragaman, yang tumbuh dari praktik teater itu sendiri.
Karya ketiga, Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA), mulai dikembangkan sejak 2013 dan dipentaskan pertama kali pada 2015. Judulnya meminjam larik puisi karya Sapardi Djoko Damono, meskipun pertunjukan ini tidak secara langsung berangkat dari puisi tersebut. Dalam prosesnya, Yudi menemukan bahwa ironi halus dalam frasa itu merepresentasikan refleksi utama karya ini: tentang sejarah keangkuhan dan kebodohan “kita”, sebuah siklus berulang yang terus menghadirkan kegagalan dalam rupa-rupa baru, tanpa benar-benar belajar darinya.
Diskusi dapat dinikmati lebih lengkap di YouTube mataWaktu. Subscribe untuk mengetahui postingan-postingan selanjutnya.
link youtube : https://bit.ly/1Table10MindsKitaAbadi
09/05/2026
Hai, hai, hai… hadir lagi! 📸✨
Kali ini, kami mau ngajak kamu menikmati hiruk-pikuk dan warna-warni cerita dari BLOK M, kawasan yang seolah nggak pernah kehabisan energi dan kejutan baru. Dari deretan kuliner viral, sudut-sudut ikonik yang penuh nostalgia, sampai jejak sejarahnya yang dulu dikenal sebagai “Little Tokyo”, semuanya punya cerita untuk dilihat lebih dekat… dan tentu saja, untuk dibingkai lewat kameramu.
Di perjalanan ini, kita akan berjalan santai, mengamati detail-detail kecil yang sering terlewat, berburu suasana, lalu mengabadikannya dalam frame versi kita sendiri.
Yuk ikut....
🗓️ Jumat, 15 MEI 2026
⏰ 09.00 – 12.00 WIB
📍 Titik kumpul:
Matawaktu, ITC Fatmawati Blok F No.16
⏰ 08.30 WIB
🎟️ Gratis (daftar via WA: +62-895-635-115-773 )
Beberapa hal kecil yang perlu kamu siapkan:
* Datang 30 menit sebelum ya (pkl. 8.30 wib), untuk registrasi ulang ya.
* Bawa kamera apa pun yang kamu punya: analog, digital, atau cukup HP kesayangan—semua boleh.
* Siapkan uang secukupnya, karena Blok M selalu menggoda untuk jajan.
* Dan tentu, ajak teman😍 Momen seru akan terasa lebih hangat saat dibagi bersama.
Ohya jangan lupa, setelah memotret:
posting hasil terbaikmu, tag , juga sertakan hashtag 😍🥰
Ayo seru-seruan bareng, ngobrol, motret, dan menikmati BLOK M dengan perspektif yang berbeda. 📷✨
04/05/2026
:
Indonesian Women Artists: On The Map
Diselenggarakan oleh Yayasan Cemara Enam bersama Badan Layanan Umum Museum dan C***r Budaya, pameran seni rupa kontemporer ini akan berlangsung di Galeri Nasional Indonesia mulai April hingga Juni 2026.
Mengusung tema “On the Map – Art, Science, Technology & Culture”, pameran ini tidak hanya menyuguhkan keindahan visual, tetapi juga menggali relasi erat antara seni dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta denyut budaya yang membentuk kehidupan modern. Dua belas seniman dari beragam generasi turut ambil bagian: Bibiana Lee, Citra Sasmita (bersama Cinta Bumi Artisan), Dyantini Adeline, Endang Lestari, Ines Katamso, Irene Agrivina, KaNa Fuddy Prakoso, Ni Nyoman Sani, Nona Yoanishara, Rani Jambak, Tara Kasenda, dan Ve Dhanito —masing-masing membawa kekhasan medium dan pendekatan artistik, dari lukisan, instalasi, hingga karya berbasis media baru.
Makna “on the map” sendiri menjadi upaya sadar untuk meletakkan para perupa perempuan dalam peta seni yang lebih luas, sekaligus menegaskan keberadaan, suara, dan perspektif khas mereka. Lebih dari sekadar apresiasi estetis, pameran ini menjelma menjadi refleksi kritis terhadap peran perempuan dalam lintasan seni rupa Indonesia, seraya membangkitkan kesadaran publik akan pentingnya kesetaraan dan keberagaman di dunia seni.
📝 & 📸 : Shinta Dewi (Magangers26 #2)
02/05/2026
1 Table, 10 Minds :
(Hari 2) TrilogiLakon - Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara
Ruang diskusi yang diinisiasi oleh aRRRah bersama Teater Garasi ini menghadirkan perbincangan lintas disiplin yang mengangkat tiga naskah lakon dalam buku terbitan "Trilogi Lakon Penciptaan Bersama Teater Garasi: Je.ja.l.an (2008), Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), dan Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA, 2015)".
Ketiga naskah tersebut dikatakan sebagai trilogi bukan tanpa alasan. Pertama, ketiganya menjelajahi tema yang saling berkelindan dan berkembang secara berlapis. Kedua, proses penciptaannya berangkat dari metode yang sama, sebuah cara menulis yang merayakan keragaman, yang tumbuh dari praktik teater itu sendiri.
Karya kedua, Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), menghadirkan pembacaan atas apa yang disebut sebagai “kenyataan ketiga di Indonesia”, kali ini dengan jarak yang lebih dekat dan konkret. Teater Garasi menyelami kawasan pesisir utara Jawa, sebuah wilayah yang berada di persimpangan berbagai arus budaya: Jawa Tengah (Solo dan Yogyakarta), Jawa Barat (Bandung), hingga Jakarta.
Proyek ini digarap selama enam bulan, dengan riset yang berlangsung bertepatan dengan musim panen di Indramayu, sebuah musim yang identik dengan perayaan. Masyarakat menggelar berbagai bentuk hajatan: dari hiburan rakyat, rasulan, hingga upacara ritual. Pertunjukan ini pertama kali dipentaskan di Jakarta pada Oktober 2010, lalu kembali hadir di Yogyakarta pada Maret 2011.
Sebagai bagian kedua dari trilogi, Tubuh Ketiga memperdalam eksplorasi atas serpihan kebudayaan yang berada di antara berbagai kutub: tradisi dan modernitas, desa dan kota, kolonial dan pascakolonial. Ia berbicara tentang ruang “antara” tentang yang sudah mapan sekaligus yang masih mencari bentuk.
Diskusi dapat dinikmati lebih lengkap di YouTube mataWaktu. Subscribe untuk mengetahui postingan-postingan selanjutnya.
link youtube : https://youtu.be/vJxrFcaIAc4
30/04/2026
:
"Narasi Personal dalam Praktik Fotografi"
Buku foto sering dianggap layaknya album, hanya sebagai tempat penyimpanan foto secara fisik. Padahal, fungsinya bisa lebih dari itu. Ia dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan yang begitu dalam dan penuh makna. Bahkan, untuk sesuatu hal yang sulit diucapkan oleh pembuatnya sendiri.
Sebab, ada foto-foto yang pada awalnya dibuat memang tidak pernah ditujukan untuk dilihat orang lain. Dirasa terlalu pribadi. Namun, ketika disusun menjadi sebuah buku, gambar-gambar itu justru menemukan pembacanya. Ceritanya terasa sangat dekat, meski kita tidak mengenal siapa pun di dalamnya.
Ya, di situlah kekuatan dari buku foto personal. Kemampuannya menghadirkan cerita yang sangat intim, tetapi tetap dapat dirasakan secara luas. Kisah-kisah yang sangat pribadi. Tentang cinta, kehilangan, keluarga, maupun identitas yang begitu personal, namun dapat beresonansi kuat. Bahkan, pada pembaca yang memiliki pengalaman dan latar belakang yang berbeda.
Artikel mataWaktu bisa dibaca lebih lengkap di matawaktu.org
30/04/2026
Record Store Day (RSD) merupakan perayaan internasional tahunan yang diadakan setiap Sabtu ketiga bulan April. Pada tahun ini , jatuh pada tanggal 18 April. Tujuannya yaitu merayakan budaya rekaman independen. Acara ini diharapkan dapat menyatukan seluruh elemen yang ada di industri musik untuk mendukung rilisan fisik seperti vinyl, kaset, dan CD.
Membawa semangat itu p**a, mataWaktu merayakan RSD. Tahun ini merupakan kedua kalinya. Pertama kali, mataWaktu menyelenggarakannya di tahun 2024. RSD mataWaktu: No Music, NO!SE tahun ini memiliki program baru, yaitu Groove Story. Program yang akan menjadikan musik sebagai gerbang untuk mengungkapkan perjalanan hidup tak hanya musikus atau komponis, namun siapapun yang mencintai musik sekaligus sebagai gerbang lini masa perjalanan hidupnya.
Terima kasih kepada para penampil , , , , , ; para pendukung acara .records, , , , , .id, , , serta seluruh sahabat mataWaktu yang telah hadir, berpartisipasi, dan memberikan dukungan penuh dalam perayaan ini.
Kehadiran dan antusiasme sahabat sekalian menjadi energi yang tak ternilai, serta alasan utama bagi kami untuk terus melangkah. Sampai jumpa kegiatan mataWaktu selanjutnya.
24/04/2026
10 Minds, 1 Table : TrilogiLakon
Ruang diskusi yang diinisiasi oleh aRRRah bersama Teater Garasi ini menghadirkan perbincangan lintas disiplin yang mengangkat tiga naskah lakon dalam buku terbitan "Trilogi Lakon Penciptaan Bersama Teater Garasi: Je.ja.l.an (2008), Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), dan Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA, 2015)".
Ketiga naskah tersebut dikatakan sebagai trilogi bukan tanpa alasan. Pertama, ketiganya menjelajahi tema yang saling berkelindan dan berkembang secara berlapis. Kedua, proses penciptaannya berangkat dari metode yang sama, sebuah cara menulis yang merayakan keragaman, yang tumbuh dari praktik teater itu sendiri.
Je.ja.l.an lahir dari proyek pertunjukan Teater Garasi yang dimulai pada akhir 2007 dan pertama kali dipentaskan pada Mei 2008. Setelah sebelumnya menelusuri isu-isu abstrak dalam proyek Waktu Batu (2001–2006) : waktu, transisi, dan identitas. Kolektif Teater Garasi ingin masuk dan menelisik ihwal kenyataan-kenyataan yang tergelar dalam realitas sehari-hari dan memaparkan “teater keseharian” (theatre of everyday life) yang hidup di ruang-ruang urban.
Diskusi dapat dinikmati lebih lengkap di YouTube mataWaktu. Subscribe untuk mengetahui postingan-postingan selanjutnya.
link youtube : https://bit.ly/1Table10MindsJejalan
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the school
Website
Address
Ruko ITC Fatmawati Blok F No. 16, Kebayoran Baru
Jakarta
12150
Opening Hours
| Tuesday | 11:00 - 19:00 |
| Wednesday | 11:00 - 19:00 |
| Thursday | 11:00 - 19:00 |
| Friday | 11:00 - 19:00 |
| Saturday | 11:00 - 19:00 |
| Sunday | 11:00 - 19:00 |