HaruMini
Penulis
21/06/2025
GAIRAH SAHABAT SUAMIKU
Part 1
"Aku akan memberi pinjaman, asal kamu mau tidur denganku malam ini."
Perkataan itu keluar begitu saja dari bibir Elio Herland, pria tampan dan berkharisma yang berusia tiga puluh tahun, dimana ia tengah duduk santai di kursi kulit mahal dalam ruang kerjanya yang mewah. Matanya tajam menatap perempuan di depannya.
Dan kalimat yang Lio, sapaan dari Elio Herland itu terdengar seperti ledakan di telinga Liliana. Ia menatap pria di hadapannya dengan mata melebar, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Liliana atau Lili, begitu ia biasa disapa, perempuan cantik berusia dua puluh enam tahun. Hari ini, ia datang ke kantor Lio pria yang dikenal sebagai sahabat sang suami demi satu hal, meminta bantuan keuangan padanya.
Suaminya, Zian sedang terpuruk. Usaha yang di bangunnya selama ini jatuh bangkrut. Hutang menumpuk, para penagih mulai datang silih berganti. Sementara Zian semakin frustasi karena selama hidupnya tidak pernah kekurangan.
Dan Lili mengikuti perintah sang suami untuk meminta bantuan keuangan pada Lio, saat sang suami sedang meminta bantuan pada sahabatnya yang lain.
Namun, belum lama Lili menyampaikan maksudnya, Lio malah mengucapkan permintaan yang menjijikkan baginya.
"Bagaimana? Bersedia tidak? Kalau kamu bersedia, jangankan hanya lima ratus juta. Satu miliar langsung aku berikan padamu." Suara Lio tenang, seolah-olah yang ia tawarkan bukan sebuah penghinaan.
Tatapan pria itu menusuk. Lili terdiam. Ia tidak tahu harus apa, marah, muak, atau justru sedih.
"Hei, jawab d**g," desak Lio, senyumnya melebar. "Tenang, suamimu tidak akan tahu. Ini akan jadi rahasia kita."
Lili menggeleng cepat, lalu bangkit dari duduknya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Lio dengan nada santai.
"Maaf, aku sudah mengganggu waktumu," jawab Lili datar, berusaha menahan gemetar di suaranya. Hatinya tercabik. Ia datang membawa niat baik, malah disambut dengan hinaan. Ia seorang istri. Seorang perempuan yang punya harga diri. Bagaimana mungkin ia menggadaikan tubuhnya hanya demi uang?
"Tunggu!" Lio berseru.
Langkah Lili terhenti. Ia tak menoleh, namun tubuhnya membeku di tempat.
"Yakin kamu tidak mau?" tanya Lio lagi, kini ia bangkit dari kursi kebesarannya, dan melangkah mendekati Lili. Langkah kakinya terdengar berat, namun tenang. "Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali," ucapnya.
Dengan terpaksa, Lili menatap wajah pria itu. "Maaf, Aku tidak butuh uangmu!" tegasnya, lebih sebagai pernyataan untuk dirinya sendiri daripada untuk Lio.
Senyum sinis mengembang di bibir Lio. "Lili," ucapnya dengan nada mengejek. "Apa kamu lupa tujuanmu datang ke sini? Kamu mau meminjam uang. Artinya kamu butuh uangku. Jangan sok suci."
Lili tidak lagi menimpali ucapan Lio, karena benar apa yang dikatakan oleh Lio, bergegas Ia segera melangkah pergi, namun baru beberapa langkah, tangan Lio menahan lengannya.
"Jika kamu berubah pikiran, kamu tahu harus menghubungi siapa," bisiknya pelan di telinganya.
Lili menepis tangan Lio dengan kasar.
Ia membuka pintu ruang kerja Lio dengan kasar dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Dan Lili benar-benar menyesal telah mengikuti perintah sang suami pergi ke kantor tersebut.
Judul: GAIRAH SAHABAT SUAMIKU
Penulis: N A R A
Hanya di GOODNOVEL
22/02/2025
Part 1
"Bu, aku mohon jangan," suara lirih di sela-sela isak tangis seorang gadis meminta belas kasihan.
Ibu Nindi yang duduk tepat di samping gadis tersebut, coba untuk terlihat tenang. Meskipun dalam hatinya merasa sedih, melihat Putri satu-satunya yang baru menginjak usia sembilan belas tahun, di paksa untuk menikah oleh sang suami dengan pria kaya raya di kampung halamannya.
Salah satu tangan ibu Nindi mengelus kepala sang putri dengan lembut. "Nak, ini yang terbaik untuk kamu. Pak Sofyan akan memenuhi semua kebutuhan yang tidak bisa ayah dan ibu berikan padamu selama ini. Dan kamu akan hidup bergelimang harta bila menjadi istrinya."
Meskipun berat jika sang putri harus menikah dengan pak Sofyan yang sudah tua. Dengan berat hati ibu Nindi meyakinkan sang putri untuk menerima pernikahan yang akan terlaksana esok hari.
Karena sang suami telah meng4ncam ibu Nindi, jika tidak bisa membujuk sang putri untuk menikah dengan pak Sofyan.
Maka ibu Nindi akan di tinggal oleh Herman sang suami.
Tentu saja ibu Nindi tidak mau itu terjadi, karena cintanya yang amat besar pada suami keduanya tersebut yang baru lima tahun menikahinya.
Dinara perlahan menghentikan tangis, dan menghapus air mata yang membasahi kedua p**inya.
Kemudian menegakkan kepalanya untuk menatap pada sang ibu.
"Bu, aku tidak ingin menikah. Apa lagi dengan pak Sofyan." entah sudah berapa kali Dinara menolak rencana pernikahannya dengan pak Sofyan, atas perintah ayah tirinya.
Mana mungkin Dinara mau menikah dengan pria yang tidak ia cintai, bukan hanya itu saja. Pak Sofyan yang sudah tua juga sudah memiliki istri lebih dari lima.
"Aku ingin mengejar cita-citaku,"
"Cih!" seru Herman yang baru masuk ke dalam kamar dimana Dinara Putri tirinya tersebut berada. Untuk menimpali apa yang dikatakan olehnya.
Melihat ayah tirinya, membuat Dinara langsung meraih salah satu tangan sang ibu yang baru baranjak dari duduknya. "Bu," ucap Dinara dengan rasa takut yang mencul tiba-tiba ketika melihat ayah tirinya itu.
Ayah tiri yang sering mel3cehkannya. Dari mer3mas k3dua gunxng kembarnya, mengelus k3dua pah4nya dan juga men4bok b0k*ngnya dengan sengaja.
Itulah yang membuat Dinara takut ketika melihat Herman masuk ke dalam kamar dimana ia berada.
Meskipun Dinara sudah menceritakan apa yang dilakukan Herman pada sang ibu.
Tidak membuat ibu Nindi percaya begitu saja pada sang putri.
"Nin, tinggalkan kamar ini. Ada yang ingin aku katakan pada putrimu ini yang tidak tahu di untung. Mau di nikahi juragan tanah malah nangis-nangis seperti anak kecil!" perintah Herman.
"Baik Mas," tentu saja ibu Nindi selalu mengikuti perintah dari suaminya tersebut.
Dinara semakin erat memegang tangan sang ibu. "Bu, tetap disini."
Ibu Nindi melepas tangan sang putri. "Ara, ayah ingin bicara padamu. Lagian di luar tamu masih banyak, selagi ayah ingin bicara padamu, biar ibu yang menemani tamu-tamu itu," ujar ibu Nindi, dan pergi meninggalkannya.
Karena adat di kampung halaman dimana keluarga tersebut tinggal, semua warga akan berkumpul untuk makan-makan sebelum esok pagi dilaksanakan sebuah pernikahan.
Ara memundurkan langkah, ketika Herman berjalan mendekatinya dengan sebelah bibirnya tersenyum miring.
Senyum yang sangat menakutkan bagi Ara.
"Jika kamu menolak menikah dengan pak Sofyan, tahu bukan, apa yang akan aku lakukan padamu!" Herman kembali mengingatkan Ara, tentang anc4mannya.
Tentu saja Ara sangat mengingat anc4man ayah tirinya tersebut, dimana Herman mengancam akan men0da1nya dan m3mbxnuh sang ibu, jika Ara tidak mau menikah dengan pak Sofyan.
"Yah, aku.... aww sak1t Yah!" pek1k Ara, ketika Herman mendorong tubuhnya hingga punggungnya membentur tembok. "Sak1t Yah, tolong lepas!" pinta Ara ketika Herman kini sudah menc3ngkram kedua lengannya.
Namun, tidak dihiraukan oleh Herman, yang terus menatap putri tirinya tersebut dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sudah lama Herman ingin men1kmati tubxh putri tirinya tersebut yang begitu mengg1urkan.
Namun, selalu Herman tahan. Agar pak Sofyan tetap mendapat Ara yang masih per@wan. Dan hutangnya yang berjumlah seratus juta akan lunas.
Dan Herman hanya pu4s menikmati tubuh putri tirinya tersebut, dengan m3r3m@s kedua gxnxng kembarnya, lalu baralih m3r3m4s kedua b0k*ng Ara bergantian.
Kemudian m3ngg3s*k g3sekk^n alat vit4lnya di sela-sela kedua p4h^ Ara untuk meny@lurkan h4srat.
Seperti yang sekarang Herman lakukan, setelah membalik tubuh Ara menghadap tembok dan menahan kedua tangannya.
Herman segera m3ngg3sek g3s3kkan alat v1t4lnya di kedua sela-sela p4h@ putri tirinya tersebut.
"Yah ja–"
"Diam!" seru Herman memotong perkataan dari Ara. "Jika berisik, sekarang juga aku b*nuh ibumu itu!" anc4m Heram seperti biasa.
Ara hanya bisa menangis seperti biasa, tanpa melawan apa yang Herman lalukan padanya, tidak ingin ayah tirinya tersebut benar-benar memb*nuh sang ibu yang sangat Ara sayangi.
Suara pintu yang dibuka begitu kencang, membuat Herman terpaksa menyudahi fant4sinya itu, lalu menatap kearah pintu.
Dimana ada seorang pria yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Ara.
Ara yang punya kesempatan untuk melepaskan diri dari Herman, segera berlari menuju pria yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Kak, tolong aku." Ara bersembunyi di belakang punggung pria tersebut.
"Tenanglah, ada aku disini Ra," ujar pria tersebut.
"Dasar anak ingusan! Mengganggu kesenangan orang saja!" kesal Herman mendapati Rehan pacar dari Ara. "Pulanglah dan jangan pernah dekati Ara, mengerti!"
Namun, Rehan tidak ingin menimpali ucapan dari Herman.
Yang ada ia melempar tas kearah pria tersebut.
"Itu yang Om butuhkan bukan? Ambillah, dan jangan pernah memaksa Ara untuk menikah dengan pria tua bangka itu, mengerti!"
Herman menimpali ucapan Rehan yang menurutnya masih bocil dengan senyum mengejek, karena umur Rehan dan juga Ara sama.
Kemudian Herman mengambil tas yang baru di lempar oleh Rehan, lalu membukanya.
Dan alangkah terkejutnya Herman mendapati tas tersebut penuh dengan uang.
"Aku tahu, Om menyuruh Ara menikah dengan pria tua bangka itu karena hutang. Dan uang itu lebih dari cukup untuk Om membayar hutang padanya, jadi jangan paksa Ara menikah."
Tentu saja Herman tidak mendengar perkataan dari Rehan, karena fokusnya hanya tertuju pada uang yang berada di dalam tas.
Mumpung ada kesempatan melarikan diri, Rehan segera menarik tangan Ara untuk segera meninggalkan kamar.
"Ra, kita harus pergi,"
Ara menganggukkan kepalanya dan mengikuti Rehan, bukan hanya keluar dari dalam kamar, tapi keluar dari rumah melewati pintu belakang tanpa ada satu orang pun tahu.
"Ra naiklah!" perintah Rehan untuk Ara segera naik keatas motor miliknya.
"Kak, ibu."
"Jangan pikirkan ibumu, pikirkan diri kamu sendiri. Herman tidak akan melepas kamu, meskipun hutangnya pada pak Sofyan lunas."
Benar apa yang Rehan katakan, Ara yang tidak ingin mendapat p3l3c*han lagi dari ayah tirinya, segera naik keatas motor Rahen.
Bersambung..........
Judul: Istri Dadakan Mafia Arogan.
Author: N A R A
Eksklusif hanya di GOODNOVEL
22/02/2025
Part 2
"Istri Deri yang datang cuma satu ya?"
"Iya, mungkin yang satu lagi di jalan. Dia kan ada di Jakarta,"
Percakapan ibu-ibu itu begitu mengejutkanku. Jantungku seolah berhenti sejenak mendengar sepotong percakapan ibu-ibu yang berada tidak jauh dariku. Aku mencoba untuk tetap tenang, namun bayangan dan perasaan yang muncul dari kata-kata tersebut langsung mengganggu pikiranku.
Dan percakapan ibu-ibu barusnya kembali mengulik hati dan juga perasaanku, mengenai pertanyaan ibu tadi yang menanyakan, aku istri Deri ya keberapa.
Padahal aku tahu, aku satu-satunya istri Mas Deri.
Dan ibu-ibu tersebut sekarang diam seribu bahasa ketika melihat keberadaan aku, yang ada mengukir senyum padamu.
Kemudian berlalu pergi sambil membicarakan sesuatu, tapi kali ini aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
Di tengah kegundahan karena pertanyaan dan juga percakapan ibu-ibu tadi, aku tetap melangkah dengan menggend**g Lili, putri kami yang sedang sakit. Berjalan menuju rumah mertuaku, yang kini terasa begitu sunyi. Keheningan rumah itu kontras dengan keramaian yang sebelumnya ada. Hanya ada beberapa kerabat dekat Mas Deri yang tersisa di rumah.
Setibanya di teras rumah, Mas Deri menyambutku dengan perhatian yang tulus. "Diana, Lili sudah tidak panas lagi kan?" tanyanya dengan khawatir, dan memeriksa putri kami yang tertidur lepas di gend**ganku.
"Alhamdulillah sudah mendingan, Mas." jawabku sambil menatap wajah Mas Deri, pria yang sangat aku cinta, karena memang Mas Deri adalah suami yang sangat baik.
Namun, perasaan cemas tentang pertanyaan dan perbincangan ibu-ibu tadi mengenai Mas Deri belum juga hilang dari benakku. Aku ingin bercerita kepada Mas Deri tentang apa yang aku dengar tadi.
Tentang pertanyaan ibu-ibu itu yang terus menghantuiku. Tetapi aku terdiam sejenak, merasakan kenyamanan dalam perhatian kecil Mas Deri saat mengelus kepalaku, yang tertutup kerudung.
"Kamu lelah, kalau iya istirahat di kamar," kata Mas Deri lagi. Perhatian kecil darinya selalu membuat hatiku merasa nyaman, meskipun aku tahu dia pun sedang berjuang dengan perasaan dukanya setelah kepergian mendapat bapak mertuaku.
Aku mengangguk dan mengikuti Mas Deri menuju kamar. Setelah menidurkan Lili yang masih tertidur pulas, aku duduk di samping Mas Deri, berusaha mencari kata-kata untuk membicarakan hal yang mengganjal di hati ini.
"Mas," panggilku.
Mas Deri menatap padaku sambil mengukir senyum, senyum yang selalu terukir dari bibirnya. Dan senyum yang membuat aku selalu nyaman bersama Mas Deri. "Ada apa Diana?" tanyanya.
Namun, saat aku hendak membuka pembicaraan, Mas Deri meminta izin untuk mengangkat telepon yang masuk di ponselnya. "Diana, aku angkat telepon dulu. Nanti kita bicara lagi," ucapnya.
Aku hanya mengangguk pelan, meski hatiku masih penuh dengan rasa penasaran yang mengganjal.
Mas Deri pergi meninggalkan aku sendiri di kamar. Kesendirian itu semakin memperkuat keraguan dalam hatiku. Aku tak bisa menahan rasa ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada sesuatu yang belum aku ketahui tentang Mas Deri? Apakah mungkin ada bagian dari hidupnya yang selama ini tersembunyi dariku?
"Tidak," ucapku menepis pikiran negatif yang tiba-tiba melintas di benakku. "Aku harus cerita pada ibu mengenai perkataan ibu-ibu tadi."
Aku tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasa cemasku kepada ibu mertuaku. Keadaan sedang tidak mendukung, dan aku tidak ingin menambah beban di tengah suasana duka.
Namun, rasa ingin tahu itu semakin membesar. Seharusnya, aku bisa menahan diri dan mempercayai suamiku sepenuhnya.
Tetapi, percakapan ibu-ibu itu terus mengganggu pikiranku.
Aku mulai bertanya-tanya, apakah aku terlalu overthinking atau memang ada hal yang tidak aku ketahui tentang suamiku? Entah mengapa, rasa ragu itu terus hadir di pikiranku.
Dan akhirnya aku keluar dari dalam kamar untuk bicara pada ibu mertuaku.
Bersambung....
Judul: SETELAH PENGKHIANATAN (TERNYATA AKU DIMADU)
Penulis: N A R A
Bisa baca di KBM App dan GOODNOVEL
21/02/2025
Part 2
Stevy mendengus kesal, ketika baru saja memasuki rumah sederhana yang ia tempati setahun belakangan ini.
Kedua matanya terus tertuju pada wanita yang begitu ia benci, sedang menyapu lantai rumah tersebut.
"Dimana Papi?" tanyanya pada wanita tersebut.
Wanita tersebut menghentikan aktivitasnya dan menaruh sapu yang berada di salah satu tangannya.
Kemudian membalik tubuhnya untuk menatap pada Stevy yang kini sudah berdiri tidak jauh darinya.
Senyum terukir dari kedua sudut bibir wanita tersebut. "Kamu sudah pulang? Maaf, mami tidak melihat kamu masuk."
"Jangan basa-basi, gue nggak s**a. Dimana Papi?"
"Ada di kamarnya Stev, oh ya. Kamu pasti lapar, mami sudah menyiapkan makanan untuk kamu makan,"
Namun, Stevy tidak menanggapi ucapan wanita tersebut. Yang ada terus menatapnya tidak s**a.
Karena bagi Stevy wanita yang ada dihadapannya tersebut adalah wanita pembawa sial.
Bagaimana tidak pembawa sial, setelah sang papi menikah lagi dengan wanita tersebut, kehidupan mewah yang selalu Stevy nikmati sejak kecil.
Tidak pernah lagi ia rasakan, akibat sang papi mengalami kecelakaan hebat setelah menikahi wanita tersebut.
Membuat sang papi lumpuh total, berbarengan dengan harta benda yang dimiliki satu persatu di sita oleh pihak bank.
Dan akhirnya Stevy mau tidak mau, menjalani hidup secara sederhana, dan kadang sering kekurangan bersama sang papi dan juga mami tirinya tersebut.
Mahira, nama wanita tersebut kini menautkan keningnya. Saat Stevy menyodorkan selembaran kertas padanya.
"Apa ini Stev?"
"Lo punya mata 'kan? Baca saja sendiri!"
Hira membaca selembaran kertas tersebut dengan seksama, dimana Stevy mendapat peringatan dari sekolah karena sudah tiga bulan belum juga membayar uang spp.
"Gue nggak mau tahu, besok pagi uang itu sudah harus ada! Atau Lo emang sengaja nggak ngasih gue uang spp biar gue di keluarin dari sekolah, iya?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu Stev, tentu saja apa yang kamu katakan tidaklah benar. Mami ini melihat kamu lulus dari sekolah itu."
"Eleh, jangan banyak bacot lo!"
"Jujur Mami belum gajian Stev,"
"Nggak usah pakai alasan, gue mau uang itu besok pagi!"
"Stev..."
"Diam, pembawa sial!" seru Stevy dan menendang sapu yang tadi Hira taruh. "Kalau bukan karena lo, gue nggak akan mengalami ini semua, dan lo harus bertanggung jawab, paham!"
Stevy meninggalkan mami tirinya tersebut sambil terus menggerutu, tak lupa satu tangannya menyambar apapun yang bisa ia raih lalu melemparnya kesembarang arah.
Hira mengelus dadanya, sudah terbiasa ia mendapati anak tirinya berlaku kasar.
Setelahnya ia menatap surat peringatan yang masih berada di satu tangannya.
Uang empat juta lima ratus yang tertulis di selembaran kertas tersebut, karena Stevy sudah tiga bulan belum membayar spp begitu besar bagi Hira yang hanya bekerja di sebuah toko roti.
"Aku harus mencari uang ke mana untuk membayar spp Stevy." ucap Hira, tidak mungkin ia meminjam pada pemilik toko roti tempatnya bekerja, sedangkan hutangnya saja belum lunas.
"Hira..."
Suara seorang pria dari salah satu kamar membuat Hira segera masuk ke dalam kamar itu.
"Iya Mas, ada apa?" tanya Hira pada sang suami yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
"Aku mendengar suara Stevy, apa dia sudah pulang?"
"Sudah Mas, baru saja dia pulang. Apa Mas mau bertemu dengan Stevy?"
"Tidak untuk hari ini, aku tidak ingin Stevy sedih melihat aku." jawab papi Tedi yang baru saja dinyatakan terkena penyakit jantung.
"Tapi Stevy perlu tahu jika Mas..."
"Hira," papi Tedi meraih salah satu tangan istrinya tersebut, yang berdiri disisi tempat tidur, dan menghentikan ucapan Hira. "Aku tidak ingin membuatnya sedih Hira, karena aku yakin hidupku tidak akan lama lagi."
"Mas, jangan bicara yang tidak-tidak. Dokter mengatakan Mas bisa sembuh dari penyakit jantung."
"Sudah cukup aku menjadi bebanmu, Hira."
"Mas, jangan bicara seperti itu. Aku juga menginginkan Mas sembuh, soal uang bisa aku cari."
Papi Tedi menatap pada Hira penuh haru, ia tidak menyangka jika istrinya tersebut masih bertahan berada disampingnya dan menjadi tulang punggung untuknya dan juga sang putri.
Padahal bisa saja Hira pergi meninggalkan papi Tedi yang sudah tidak memiliki harta sedikitpun. Apa lagi papi tedi mengalami lumpuh total dan sekarang terkena penyakit jantung.
"Maaf Hira, aku belum sempat membahagiakan kamu." ucap papi Tedi dengan terus menggenggam satu tangan istrinya tersebut.
Hira tidak ingin menimpali ucapan papi Tedi. "Mas kita akhir pembicaraan ini, aku mau pergi."
"Ke mana? Bukannya hari ini kamu libur?"
"Menemui ibu,"
"Sebentar." papi Tedi yang baru menyadari Hira membawa kertas disalah satu tangannya.
Mengambil kertas tersebut dan juga membacanya. Rasa bersalah menyelimuti pria berusia empat puluh lima tahun tersebut.
Karena lagi dan lagi bukan hanya dirinya yang menjadi beban Hira, tapi juga Stevy sang putri.
"Aku akan meminjam uang pada ibu untuk membayar tunggakan spp Stevy, semoga ibu punya simpanan."
"Hira, sekali lagi maafkan aku karena sudah menjadi bebanmu."
"Tidak masalah Mas," ucap Hira sambil mengukir senyum, untuk menutupi lelahnya hidup yang ia jalani. Tapi Hira tidak bisa terlepas begitu saja dari kehidupan yang dijalaninya saat ini.
***
Dan benar saja, magrib menjelang. Hira pergi menemui ibunya di rumah yang begitu mewah.
Rumah yang menjadi tempat tinggal sang ibu yang bekerja sebagai pembantu di rumah tersebut.
"Hira," wanita paruh baya menyambut kedatangan Hira di depan pintu gerbang rumah tersebut. "Yuk masuk,"
"Apa Majikan Ibu ada?"
"Tidak, sedang pergi keluar negeri." jawab ibu Ani, dan menggandeng tangan Hira menuju rumah belakang, tempatnya beristirahat dan juga tinggal setelah selesai bekerja di rumah utama.
Ibu Ani menatap sang putri dengan wajah sedih. Ia tahu kehidupan Hira seperti apa, dan itu semua karenanya.
Setelahnya ibu Ani memeluk putrinya tersebut. "Maafkan ibu, Hira."
Hira tidak menanggapi ucapan sang ibu, dan memilih terus memeluk ibunya tersebut dengan erat.
Bagi Hira, pelukan sang ibu. Bisa membuat beban hidupnya yang entah sampai kapan harus ia pikul terasa ringan.
"Tapi kamu harus tetap bertahan, Hira." ibu Ani melepas pelukannya, satu tangannya kini mengelus p**i putrinya tersebut yang baru berusia dua puluh dua tahun.
Meskipun sebenarnya ibu Ani tidak tega melihat kehidupan yang Hira jalani, tapi demi balas budinya pada Tedi. Pria yang sangat berjasa bagi keluarganya. Ibu Ani tetap meminta Hira bertahan hidup menjadi istri Tedi dan menjadi ibu tiri untuk Stevy.
"Iya Bu, aku akan bertahan."
"Terima kasih Hira, andaikan saja kecelakaan itu tidak menimpa Tedi tentu kamu akan hidup enak bersama dengannya."
Ibu Ani masih mengingat, bagaimana ia merelakan Hira menikah dengan duda beranak satu. Karena ia pikir Hira akan hidup bahagia, dengan pria yang berjasa itu bagi keluarganya.
Setelah Tedi menolong ibu Ani dan suaminya yang telah meninggal dunia, keluar dari penjara dan membayar denda hingga milyaran. Saat keduanya mendapat fitnah keji membunuh seseorang, padahal mereka tidak melakukan apa pun.
Namun, kenyataan pahit yang ibu Ani dapatkan setelah Hira menikah dengan Tedi.
"Bu, sudahlah. Jangan bahas hal itu lagi, ada yang ingin aku katakan pada ibu."
"Apa putrimu itu berbuat kasar lagi?" tanya Ibu Ani tahu sikap Stevy pada Hira, karena sang putri sering memberi tahu perlakuan putri tirinya itu pada sang ibu.
"Bukan Bu,"
"Terus?"
"Apa Ibu masih punya simpanan uang? Kalau ada aku pinjam dulu."
"Semua uang simpanan ibu, sudah ibu berikan padamu kemarin. Apa biaya rumah sakit Tedi belum lunas?" tanya balik ibu Ani, tahu Tedi sekarang terkena serangan jantung dan butuh biaya besar untuk pengobatannya.
"Sudah Bu,"
"Terus, untuk apa kamu ingin meminjam uang?"
"Aku lupa dengan spp Stevy, dan ternyata dia sudah menunggak tiga bulan."
"Berapa? Sepertinya ibu masih ada uang lima ratus ribu. Kamu bisa menggunakan uang itu untuk membayar spp putrimu."
"Aku butuh empat juta lima ratus Bu. Spp Stevy perbulannya satu juta lima ratus," jelas Hira, diakhiri dengan menghela nafas panjang.
"Maaf Hira, ibu tidak punya uang sebanyak itu."
"Tidak apa-apa kalau ibu tidak punya, aku akan meminjam pada ibu Lili siapa tahu dia akan memberi pinjaman." ujar Hira menyebut nama Bosnya di tempatnya bekerja.
"Sekali lagi maafkan ibu, Hira."
Hira tersenyum sambil menatap ibu Ani, tak lupa tangannya menggenggam tangan yang keriput milik sang ibu.
"Ibu tidak salah, jangan terus meminta maaf." kata Hira. "Dan ya Bu.Aku tidak bisa lama-lama disini, aku ingin menemui ibu Lili."
"Tidak apa-apa Hira, kalau ibu Lili tidak memberi pinjaman, hubungi ibu. Nanti coba ibu pinjam sama majikan ibu,"
"Tidak udah Bu, aku tidak enak dengan majikan ibu. Karena ibu sering aku suruh meminjam padanya,"
"Tidak apa-apa Hira, majikan ibu sangat baik."
"Tidak usah Bu, aku yakin ibu Lili mau memberi aku pinjaman."
***
Setelah pulang dari rumah dimana sang ibu bekerja, Hira bergegas menuju toko roti tempatnya bekerja, untuk meminjam uang pada bosnya.
Hira turun dari angkot yang ia naiki, dan ingin menyeberang jalan menuju toko roti di seberang jalan.
Namun, karena pikirannya terus fokus bagaimana caranya ia bisa mendapatkan uang untuk membayar spp Stevy dan seminggu lagi suaminya harus ke rumah sakit, dan itu membutuhkan biaya yang cukup besar.
Terkejut dengan suara klakson motor besar yang menuju kearahnya.
Membuat Hira malah berjongkok dan memegangi kedua telinganya.
"Kalau mau bunuh diri nyebur aja ke laut, dasar bodoh!" kesal Haka. Untung saja ia bisa mengendalikan motor gedenya, dan menghindari menabrak seorang perempuan yang masih berjongkok hanya beberapa senti dari motornya. "Eh, lo bangun nggak! Gue tabrak juga nih."
Bersambung..............
Judul: KAU TOLAK CINTAKU, KUTIDURI MAMIMU
Author: HaruMini
Tamat dan gratis hanya di Fizzo
20/02/2025
Part 1
"Kamu istri Deri yang ke berapa?" tanya wanita paruh baya dengan nada yang santai, namun cukup mengejutkan.
Kehidupan rumah tanggaku terasa tenang setelah menikah dengan Mas Deri, suami yang penuh perhatian. Kami tinggal di kota yang berbeda dari orang tua Mas Deri, dan meskipun begitu, hubungan kami dengan keluarga besarnya berjalan cukup baik.
Hari itu, aku datang ke rumah mertua karena adanya sebuah peristiwa duka yang menyelimuti keluarga kami.
Papa mertuaku baru saja meninggal, dan meskipun aku tinggal di kota yang jauh, aku merasa perlu untuk hadir meski hanya sebentar untuk memberikan penghormatan terakhir untuk papa mertuaku.
Namun, ada satu kejadian yang membuatku sedikit terkejut, bahkan merasa canggung.
Ketika aku sedang menggend**g Lili, putriku yang baru berusia empat tahun, seorang wanita paruh baya mendekat dan menanyakan sebuah pertanyaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Seolah ada asumsi yang tidak tepat tentang hubungan kami. Aku sempat berpikir, apakah ia sengaja ingin mengusikku atau memang benar-benar tidak tahu siapa aku.
Tidak ada yang lebih membingungkan bagi seorang istri selain dihadapkan pada pertanyaan yang meragukan status hubungan kita dengan suami.
Dalam kebingunganku, aku sempat menatap wanita itu, mencoba mencari jawaban atau penjelasan dari tatapannya.
Namun, Bibi Sumi, bibi dari suamiku, tiba-tiba datang mendekatiku. "Diana." ucapnya padaku.
Lalu dia menatap pada wanita paruh baya yang baru saja melontarkan pertanyaan yang cukup membingungkan untuk. "Yu, itu. Di suruh pulang, katanya buruan," kata Bibi Sumi, memberikan isyarat agar wanita tersebut segera meninggalkan kami.
Setelah wanita itu pergi, Bibi Sumi semakin mendekat. "Diana, maafkan papa mertua kamu ya. Kalau dia ada salah, doakan semoga meninggal dalam keadaan khusnul khotimah," kata Bibi Sumi dengan nada lembut.
Aku hanya mengangguk dan membalasnya. "Amin, Bi."
Meskipun papa mertuaku sudah tiada, kenangan tentang kebaikan dan kasih sayangnya tetap ada di hati kami. Hari itu adalah hari yang penuh dengan kesedihan bagi keluarga besar suamiku. Aku merasa kehilangan seorang sosok yang selama ini selalu memberikan dukungan, baik secara moral maupun materi. Meski begitu, aku tetap harus menjalani peran sebagai ibu yang harus menjaga Lili, yang tiba-tiba demam dan sangat cengeng. Hingga aku tidak bisa pergi ke makam, mengantar jenazah papa mertuaku.
Dan aku memutuskan menjauh dari rumah mertua, untuk menenangkan Lili di tempat yang agak jauh dari keramaian.
"Gimana, Lili sudah tidak cengeng?" tanya Bibi Sumi dengan khawatir, tahu jika putriku sedang demam.
"Alhamdulillah Bi, sudah tidak cengeng lagi," jawabku dengan senyum kecil. Meski hatiku masih terasa berat karena perasaan kehilangan.
"Syukurlah, oh ya Bibi pulang dulu ya," kata Bibi Sumi, namun aku mencegahnya dia pergi.
"Bi tunggu," kataku, menahan langkahnya.
"Ada apa Diana?" tanya Bibi Sumi sambil menatapku penuh perhatian.
"Ibu-ibu tadi siapa Bi?" tanyaku, masih merasa penasaran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita paruh baya itu. Karena aku benar-benar tidak mengenali wanita itu.
"Oh itu, ibu-ibu RT sebelah. Dia ngomong apa sama kamu?" tanya Bibi Sumi, seolah tahu apa yang wanita tadi tanyakan.
"Dia bilang aku istri mas Deri yang ke berapa," jawabku, menceritakan secara singkat apa yang wanita paruh baya tadi tanyakan padaku.
Bibi Sumi hanya menggelengkan kepala, lalu berkata. "Jangan didengar apa yang dia katakan, ibu tadi rada-rada aneh, sudah ya. Bibi pulang dulu,” katanya dengan lembut, berusaha menenangkan aku.
Aku hanya mengangguk, meskipun pertanyaan dari wanita tadi masih terngiang-ngiang di pikiranku.
Kemudian aku memutuskan untuk kembali ke rumah mertua, saat Lili sudah terlelap di gend**ganku, apalagi palayat mulai membubarkan diri dari rumah mertuaku.
Namun, baru beberapa melangkah, aku mendengar beberapa ibu-ibu membicarakan Mas Deri.
Bersambung........
Judul: SETELAH PENGKHIANATAN (TERNYATA AKU DI MADU)
Penulis: N A R A
Sudah TAMAT di KBM APP
20/02/2025
Part 1
"Najis!" seru seorang gadis berseragam putih abu-abu.
Menggapai ucapan pria yang baru saja mengutarakan cintanya.
Tampan? Ya, tidak ia pungkiri pria yang masih berdiri di hadapannya memang memiliki ketampanan diatas rata-rata.
Namun, ketampanan pria tersebut tidak di barengi dengan perilakunya yang arogan.
Sampai-sampai tiga tahun di kelas dua belas, belum juga lulus sekolah. Dan betah menjadi dedengkot di sekolah menengah atas tersebut.
"Nyesel lo nolak cinta gue, Stev."
Stevy tersenyum mengejek. "Sorry ye, tidak ada kata penyesalan di dalam hidup gue, minggir! Malu maluin gue aja." serunya, karena Haka mengutarakan cintanya tepat di halaman sekolah dengan disaksikan puluhan siswa.
Stevy yang ingin meninggalkan Haka, menghentikan langkahnya sejenak. "Dan satu lagi, gue tidak sudi pacaran dengan pria brengsek seperti lo, paham!
Bukan tanpa alasan Stevy mengatakan hal tersebut, sudah menjadi konsumsi publik jika pria tersebut sering bergonta ganti pasangan.
Bergegas Stevy meninggalkan Haka, dimana pria tersebut kini mengepalkan kedua tangannya untuk meredam emosi.
Karena baru kali ini Haka mendapat penolakan dari gadis yang sudah lama ia incar. Dan itu menjadi sebuah hinaan baginya, apalagi di saksikan puluhan murid.
"Sialan!" seru Haka, lalu menendang bola basket yang sudah sejak kapan berada di samping kakinya ia tidak tahu.
"Sabar, tidak semua yang lo inginkan bisa lo dapatkan, Ka."
"Banyak bacot, lo." kesal Haka pada salah satu sahabatnya yang sedari tadi berdiri tidak jauh darinya.
"Haka!!!!!!!!!"
Haka dan kedua sahabatnya menatap pada sumber suara, dimana guru BP yang berteriak memanggil Haka.
Karena bola basket yang Haka tendang membuat salah satu jendela ruang kepala sekolah pecah.
"Hadap Bapak, sekarang!" perintah Pak Tejo guru BP di sekolah tersebut.
"Lo si Ka, kalau emosi nggak tahu tempat, kena sangsi lo mampus!"
"Bacot!" kesal Haka menimpali ucapan Roy.
"Sono lu pergi, untuk kali ini gue nggak bakal temenin lo menghadap pak Tejo. Gue nggak mau gara-gara temenan sama lo jadi nggak lulus sekolah."
"Gue juga nggak mau. Bokap gue pasti langsung coret nama gue dari kartu keluarga kalau sampai nggak lulus," sambung Roy menimpali ucapan Roni.
Haka tidak ingin menggubris ucapan kedua sahabatnya, lebih memilih berjalan santai menuju ruang BP dimana Pak Tejo sudah menunggunya di depan pintu.
"Ron, gue takut Haka akan melakukan sesuatu pada Stevy."
"Sama Roy, kita tahu. Penolakan sama saja menghinanya."
"Mudah mudahan nggak sih,"
"Semoga saja, takut di perkaos tuh cewek."
"Ish, Haka nggak gila kali."
"Siapa tahu otaknya konslet."
"Eh, tahun ini dia lulus nggak yah?"
"Semoga, masa mau empat tahun di kelas dua belas, keburu aki-aki."
"Bisa aja Lu."
Roy dan juga Roni menertawakan sahabatnya itu, dari keduanya baru masuk sekolah menengah atas tersebut hingga sebentar lagi lulus, masih saja melihat Haka di kelas dua belas.
Sementara itu, Stevy yang baru masuk ke kelas terus menggerutu. Apa lagi kedua sahabatnya terus menatap kearahnya. "Ngapain kalian liatin gue hah?!"
"Cie yang habis di tembak," ledek Mia.
"Sama dedengkot sekolahan," sambung Zia, meskipun keduanya tahu Stevy tidak menerima Haka.
"Diam lo berdua, gue lagi nggak mood."
"Habis di tembak kok nggak mood."
"Berisik!"
Mia dan Zia tersenyum berhasil meledak Stevy, lalu keduanya duduk di samping kanan dan juga kirinya.
"Kenapa lo nolak dia, Stev?" tanya Zia penasaran.
"Hem, dia tampan loh. Idaman lo banget," kata Mia.
"Apa lo berdua lupa siapa dia hah?"
"Dedengkot sekolah, brengsek, sebulan sekolah sebulan nggak."
"Play boy cap minyak gosok alias miskin," Zia melengkapi perkataan Mia.
"Itu lo berdua tahu, gue pingin punya pacar kaya raya bukan menang tampang. Kalian tahu sekarang gue miskin, dan itu karena wanita sialan itu!"
"Iya, kita tahu."
"Kalau begitu, tutup mulut lo berdua buat ngomongin si miskin itu."
"Oke-oke,"
Sementara itu pak Tejo terus menggelengkan kepalanya, melihat Haka duduk dengan kedua kakinya ia letaknya diatas meja kerjanya.
"Kenapa? Tidak s**a?" tanya Haka pada pak Tejo.
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir pak Tejo, ia selalu tahu siapa yang sedang ia hadapi.
"Bilang sama papa, gue tidak sengaja. Beres 'kan?"
"Sampai kapan kamu seperti ini Haka? Merusak, bikin onar dan masih banyak lainnya."
"Jika tidak ada yang ingin Pak Tejo katakan lagi, gue pergi."
"Sebentar lagi kamu ujian, apa kamu tidak ingin lulus?"
"Tinggal edit jika nilai jelek, apa susahnya jadi guru bodoh sekali!"
"Itu ilegal dan juga merusak citra sekolahan papa kamu ini, Ka." jelas pak Tejo, meskipun sekolah menengah tersebut milik keluarga Haka.
Haram bagi pak Tejo membantu murid di sekolah tersebut dengan cara menambah kekurangan nilai.
"Bapak harap tahun ini kamu tidak menghilang begitu saja saat ujian." kata Pak Tejo mengingatkan Haka, karena setiap ujian kelulusan dia seperti menghilang di telan bumi.
"Tergantung pada Papa."
Pak Tejo duduk di kursinya dengan tatapan tertuju pada Haka. "Ada masalah apa kamu dengan Papamu?" tanyanya penasaran, sudah sejak lama pak Tejo meyakini ada masalah antara Haka dengan papanya selaku pemilik sekolah tersebut dan juga pengusaha kaya raya.
"Gue ngantuk Pak." bukannya menjawab pertanyaan dari pak Tejo.
Haka malah beranjak dari duduknya dan menjatuhkan tubuhnya di sofa tidak jauh dari meja kerja Pak Tejo.
"Bangunin gue, saat jam pulang."
"Lebih baik kamu masuk kelas Ka."
"Gue akan memberi perhitungan pada Gadis itu."
"Ka, berhenti membuat onar." pinta pak Tejo tahu gadis yang Haka katakan barusan siapa.
Siapa lagi jika bukan Stevy yang tadi menolak mentah-mentah cinta Haka.
Namun, Haka tidak menanggapi ucapan pak Tejo dan segera memejamkan matanya.
Dan benar saja, saat pulang sekolah Haka yang tidak terima Stevy menolak cintanya.
Menghadang gadis tersebut yang belum lama keluar dari kelas.
"Minggir lo, najis! Gue alergi sama pria miskin sepertimu!" seru Stevy dan mendorong tubuh Haka menjauh darinya.
Haka menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya menatap pada Stevy, gadis yang sudah lama ia kagumi, tapi tidak untuk sekarang setelah gadis tersebut menolak mentah-mentah cintanya, dan itu termasuk penghinaan menurut Haka.
"Semoga lu benar-benar dapat cowok miskin!"
"Oh tidak mungkin, gue cantik. Mudah bagi gue mendapat cowok kaya raya, bukan cowo seperti lo yang pantas di samakan dengan anjeng!" tegas Stevy.
"Kurang ajar!" Emosi memuncah dari diri Haka membuatnya ingin memukul Stevy.
Namun, dengan segera Roni dan juga Roy mendekat dan menahan tubuh Haka.
"Ka, tahan emosi lo."
"Jangan tahan Gue!"
"Stev pergi!" perintah Roy. Tahu jika sahabatnya sudah emosi apa pun akan dilakukannya.
"Kembali lo!" seru Haka melihat Stevy pergi sambil menunjuk kedua jari jempolnya menghadap kebawah. "Kurang ajar, lihat saja apa yang akan gue lakuin sama lo. Bukan lo aja tapi, keluarga lo!" kesalnya.
"Sabar Ka."
"Iya Ka, tahan emosi. Kata pak ustadz emosi temennya setan."
"Suruh pak ustadz bilang sendiri ama gue!" kesal Haka menimpali ucapan Roy.
"Mau insaf nih?" tanya Roni.
"Alhamdulillah!" sahut Roy.
"Koplak, lu Kristen Roy."
Bersambung......
Judul: KAU TOLAK CINTAKU, KUTIDURI MAMIMU.
Author: HaruMini
Sudah tamat hanya di Fizzo
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Depok