Video ternama

Video ternama

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Video ternama, Media, prof. ida bagus mantre, Denpasar.

29/12/2025

SIHIR PELAKOR

Kamu pertama kali menyadarinya dari bau.

Bukan parfum.
Bukan juga bau tanah.

Melainkan bau kembang layu bercampur darah—datang tiba-tiba setiap kali suamimu p**ang larut malam.

Awalnya kamu mengira itu hanya perasaan perempuan yang terlalu lelah. Tapi lalu perubahan itu datang satu per satu. Cara suamimu menatapmu kosong. Sentuhannya dingin. Dan kebiasaan barunya: menyebut nama perempuan lain saat setengah tidur.

Ratih.

Nama itu seperti duri di dada.

Kamu menyelidiki diam-diam. Sampai suatu sore, kamu melihatnya sendiri: seorang perempuan bergaun merah duduk di warung seberang kantor suamimu. Rambutnya panjang, hitam, matanya menatap ke arahmu—padahal kamu yakin dia belum melihatmu.

Saat matanya bertemu dengan matamu,
perempuan itu tersenyum.

Dan kamu langsung muntah darah.

Sejak hari itu, rumahmu tidak pernah benar-benar tenang. Di sudut kamar, kamu sering melihat bayangan perempuan duduk menyisir rambut. Di cermin, bayanganmu kadang tersenyum sendiri—padahal kamu tidak.

Kamu tahu.
Ini bukan sekadar perselingkuhan.

Ini sihir.

Dari seorang pelakor yang tidak ingin berbagi—ingin memiliki sepenuhnya.

Tubuhmu semakin lemah. Rambutmu rontok. Setiap malam, kamu bermimpi berada di dalam tanah sempit, sementara suara perempuan itu berbisik di telingamu:

“Pergi saja. Dia bukan milikmu lagi.”

Akhirnya kamu datang ke seorang perempuan tua di pinggir desa. Ia hanya menatapmu lama, lalu menggeleng pelan.

“Dia tidak hanya ingin suamimu,” katanya.
“Dia ingin menggantikan hidupmu.”

Air matamu jatuh.
“Kapan…?”

“Malam Jumat Kliwon,” jawabnya. “Saat darah dan cinta sama-sama dipanggil.”

Malam itu kamu p**ang, memandangi suamimu yang tidur p**as. Kamu ingin membencinya. Ingin berteriak. Tapi yang keluar hanya tangis.

Karena kamu sadar—
ia juga korban.

Tepat tengah malam, udara berubah dingin. Perempuan bergaun merah muncul di ujung ranjang. Kali ini wujudnya jelas: wajahnya cantik, tapi matanya hitam berlubang.

“Sudah waktunya,” katanya.

Kamu berdiri, tubuh gemetar.
“Apa kurangnya aku?” tanyamu lirih.

Perempuan itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, senyumnya runtuh.

“Aku hanya ingin dicintai,” katanya pelan. “Tak pernah ada yang memilihku.”

Kamu menangis.
Bukan karena takut—
tapi karena kasihan.

Dengan sisa tenaga, kamu mengucapkan doa yang diajarkan perempuan tua itu. Bukan doa balas dendam. Melainkan doa pelepasan.

Cahaya putih menyelimuti kamar. Perempuan itu menjerit—bukan karena sakit, tapi karena kehilangan. Tubuhnya memudar, berubah menjadi gadis kecil yang menangis sebelum akhirnya lenyap.

Pagi datang.

Suamimu terbangun sambil memanggil namamu. Ia menangis, memelukmu, meminta maaf tanpa tahu kenapa.

Tapi kamu tersenyum.

Karena tubuhmu terasa ringan.

Terlalu ringan.

Beberapa hari kemudian, kamu pergi untuk selamanya.

Di pemakaman, suamimu bersujud, menangis seperti anak kecil. Di antara tangisnya, ia berbisik:

“Maaf… aku terlambat memilih.”

Dan malam itu, saat ia p**ang ke rumah kosong, ia mencium bau yang sangat ia kenal.

Bukan bau sihir.
Bukan bau kembang.

Melainkan aroma masakanmu.

Hangat.
Tenang.

Seperti pelukan terakhir.

24/12/2025

Kuntilanak di Desa Wirajaya

Desa Wirajaya akan benar-benar mati setelah pukul sepuluh malam. Pintu rumah tertutup rapat, lampu dipadamkan, dan tak seorang pun berani melewati kuburan tua di ujung desa—jalan pintas yang membelah kebun bambu dan pemakaman.

Joko tahu larangan itu.
Tapi malam itu ia tak punya pilihan.

Hujan baru saja reda saat Joko menuntun motornya yang mogok. Jalan memutar terlalu jauh. Satu-satunya jalan p**ang adalah melewati kuburan Wirajaya.

Begitu kakinya menginjak tanah pemakaman, udara berubah dingin. Batu nisan berdiri miring, sebagian retak, sebagian tak bernama. Pohon kamboja menjatuhkan kelopaknya yang basah, beraroma manis bercampur anyir.

Lalu terdengar suara itu.

Tangisan perempuan.

Jauh… memanjang… seperti angin yang tersangkut di tenggorokan orang mati.

Joko menelan ludah. Ia teringat cerita orang tua desa:
“Kalau tangisnya jauh, jangan senang. Itu tandanya dia sedang mendekat.”

Tangisan itu berhenti.

Sunyi.

Langkah Joko terdengar terlalu keras di telinganya sendiri. Saat ia melewati makam paling tua—nisan kayu bertuliskan Ayu—angin mendadak berputar.

Tangisan kembali terdengar.
Kali ini… tepat di belakangnya.

Joko membeku.

Dari balik nisan, muncul sosok perempuan. Rambutnya hitam panjang menutupi wajah. Gaun putihnya koyak, perutnya menganga hitam seolah pernah dipaksa terbuka dari dalam.

Perempuan itu mengangkat wajahnya.

Mata hitam tanpa putih menatap Joko. Bibirnya tersenyum lebar—terlalu lebar—dengan darah kering menempel di sudutnya.

“Joko…”
Ia memanggil namanya.

Joko tersentak.
Ia tidak pernah memperkenalkan diri.

“Aku Bidan Ayu,” suara itu lirih, serak.
“Anakku… kau lihat anakku?”

Tanah di depan makam tiba-tiba bergerak.

Krek… krek…

Sesuatu merangkak keluar dari balik nisan. Bayi pucat tanpa mata, tubuhnya dingin dan basah, tertawa kecil sambil menyeret kuku ke tanah kuburan.

Joko berteriak dan berlari sekuat tenaga.

Tapi langkahnya terasa berat. Di mana pun ia berbelok, kuburan itu seperti tak berujung. Tangisan berubah menjadi tawa, bercampur suara bayi menangis dan tertawa bersamaan.

Tiba-tiba…
DOR!

Joko terjatuh.

Di atasnya, wajah Bidan Ayu menggantung terbalik, rambutnya menyentuh tanah.

“Kalau kau lewat kuburanku,” bisiknya,
“kau harus menggantikan.”

Gelap menelan segalanya.

Pagi hari, warga menemukan Joko duduk bersila di tengah kuburan, menatap nisan Bidan Ayu. Matanya terbuka, tapi kosong. Dari mulutnya menetes tanah hitam bercampur darah.

Sejak malam itu, kuburan Desa Wirajaya tak lagi sepi.

Warga sering melihat sosok laki-laki berdiri kaku di antara nisan, menuntun motor rusak, menunggu seseorang lewat.

Dan saat angin malam membawa tangisan perempuan dan tawa bayi…

Itu artinya Joko sudah tidak sendirian lagi.

24/12/2025

KU KUBUR ISTRIKU DI RUANG TAMU

Tak ada yang aneh dari rumah itu—setidaknya dari luar, berdiri sendiri menghadap sawah. Orang-orang hanya tahu satu hal: suami-istri itu jarang terlihat keluar rumah sejak hujan besar tiga Minggu lalu.

Nama suaminya Wiryo. Pendiam. Matanya selalu merah seperti kurang tidur. Istrinya, Ratna, terakhir terlihat malam Jumat Kliwon. Setelah itu… hilang.

Wiryo bilang Ratna p**ang ke rumah orang tuanya. Tapi anehnya, setiap malam dari rumah itu terdengar suara orang menyapu tanah, tepat dari ruang tamu.

Aku datang sebagai tukang servis radio. Wiryo memintaku memperbaiki radio tua yang selalu menyala sendiri pukul dua dini hari. Begitu masuk ke rumah, hawa dingin langsung menekan dada. Bau tanah basah… padahal tidak hujan.

Ruang tamunya luas, tapi kosong. Tak ada kursi. Tak ada meja. Hanya karpet lusuh membentang di tengah lantai.

“Jangan duduk di situ,” kata Wiryo cepat, matanya menatap karpet.

Radio di sudut ruangan mendadak berbunyi. Bukan lagu. Bukan berita. Tapi suara perempuan berbisik:

“Aku masih di sini, Mas…”

Tangan Wiryo gemetar. Ia mematikan radio dengan kasar.

Saat aku jongkok memperbaiki kabel, jari-jariku menyentuh lantai. Tanah. Lantai ruang tamu bukan papan—melainkan tanah yang ditutup tipis.

Aku menarik karpet sedikit.

Di bawahnya… tanah galian. Tidak rata. Seperti kuburan yang ditutup asal-asalan.

Wajah Wiryo berubah pucat. Nafasnya tersengal.

“Aku cuma mau dia diam,” katanya lirih.
“Dia terlalu banyak bicara… terlalu banyak bertanya.”

Tangannya menunjuk ke lantai.

“Aku kubur dia di sini. Biar setiap tamu menginjaknya. Biar dia tahu… rumah ini milikku.”

Tiba-tiba tanah itu bergerak.

Karpet terangkat sedikit. Muncul tangan kurus penuh tanah. Kuku hitam panjang mencakar udara.

Suara Ratna terdengar jelas. Bukan dari radio. Tapi dari bawah kakiku.

“Mas… kenapa aku di bawah lantai?”

Wiryo berteriak histeris. Ia mundur. Terpeleset. Kepalanya menghantam tembok. Darah mengalir, matanya terbuka menatap langit-langit.

Tanah di ruang tamu kini terbuka. Ratna keluar perlahan, lehernya miring, mulut penuh tanah, matanya kosong.

Ia berdiri di atas tubuh suaminya.

Pagi harinya, warga menemukan rumah itu terbuka. Wiryo mati kaku di ruang tamu. Tak ada tanda kuburan. Lantainya kembali papan utuh.

Hanya radio tua yang masih menyala, memutar suara perempuan tertawa pelan.

Dan sampai sekarang, tak ada satu pun tamu yang berani duduk di ruang tamu rumah itu.

24/12/2025

Lantai Paling Sunyi di Rumah Susun Blok C

Tidak ada yang mau tinggal di lantai 7 Rumah Susun Blok C.

Bukan karena lift sering rusak, bukan p**a karena angin malam yang menusuk.
Alasannya lebih sederhana—setiap orang yang pindah ke sana, tidak pernah bertahan lama.

Aku baru tahu itu setelah menandatangani kontrak.

Hari pertama pindah, lorong lantai 7 terasa berbeda. Lampu neon berkedip, cat dinding mengelupas seperti kulit mati, dan udara… dingin, meski siang hari.
Langkah kakiku menggema terlalu keras, seolah lorong itu kosong tapi sedang mendengarkan.

Unitku 7C.

Saat pintu kubuka, bau apek bercampur besi langsung menyergap. Bukan bau rumah kosong—lebih mirip ruangan yang lama ditutup setelah sesuatu yang buruk terjadi.

Malam pertama, aku terbangun pukul 02.13.

Bukan karena mimpi.
Melainkan suara air menetes dari plafon.

Tik… tik… tik…

Padahal kamar mandi kering.

Lalu terdengar langkah kaki di luar unit. Pelan. Diseret. Seolah orang itu berat… atau kakinya tak utuh.

Aku menahan napas.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintuku.

Kemudian… ketukan.

Tok… tok… tok…

Pelan, sopan—terlalu sopan untuk jam segini.

Aku tidak membuka pintu.

Keesokan paginya, aku bertanya ke penjaga rusun.

Wajahnya langsung berubah.

> “Mas… lantai 7 itu seharusnya dikosongkan.”

Katanya, lima tahun lalu, seorang ibu dan anaknya tinggal di unit 7C. Suaminya kabur, meninggalkan utang dan rasa malu.
Malam hujan, warga mencium bau busuk dari lorong.

Pintu 7C didobrak.

Si ibu ditemukan gantung diri di kamar,
sementara anaknya terkunci di kamar mandi—
mati kehausan.

Sejak itu, penghuni sering mendengar air menetes,
langkah kaki diseret,
dan ketukan pintu—
selalu pukul 02.13.

Aku tertawa kaku.
Kebetulan, pikirku.

Malam ketiga, listrik mati.

Gelap total.

Di tengah gelap, aku mendengar suara anak kecil menangis dari kamar mandi.

“Bu… haus…”

Aku tidak punya anak.

Perlahan, pintu kamar mandi terbuka sendiri.
Udara dingin mengalir keluar, membawa bau busuk yang sama seperti malam pertama.

Di balik gelap, ada bayangan kecil, berdiri…
dan di belakangnya, sosok wanita tergantung—
kepalanya miring, matanya menatapku tanpa berkedip.

Tangannya terangkat… menunjuk gelas kosong di meja.

Sejak malam itu, aku pindah.

Tapi anehnya…

Setiap pukul 02.13,
di mana pun aku tinggal sekarang,
aku selalu mendengar…

tok… tok… tok…

Dan suara anak kecil berbisik dari balik pintu kamar mandi:

> “Om… airnya mana?”

---

08/08/2024

Terima kasih banyak untuk penggemar berat baru saya! 💎 Soimah Umasugi, Reny Sheptiany, Risty Daeng, Mardiyati

12/07/2024

Mobil mainan, Mobil monster, Mobil balap, Mobil damtruk, Excavator, Damkar

14/03/2024

Wooow... Ada Mobil Mainan, Mobil Mobilan, Mobil Balap, Mobil Dam Truk, Mobil Beko, Mobil Besar

13/03/2024

Menemukan Pesawat Terbang, Pesawat Tempur, Helikopter, Mobil Balap, Mobil Mobilan, Mainan Anak Anak

10/03/2024

Wooww Ada Pesawat & Mobil Mainan

28/02/2024

Terima kasih banyak untuk penggemar berat baru saya! 💎 Har Casperria Pms

25/02/2024

Wooow... Ada banyak mobil mainan, Mobil Balap, Mobil mobilan, mobil monster, Pesawat tempur, pesawat Terbang

24/02/2024

Wooow... Ada Mobil Mainan, Mobil Mobilan, Mobil Balap, Pesawat Terbang, Helikopter

Want your business to be the top-listed Media Company in Denpasar?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Culinary Team

Attire

Telephone

Address


Prof. Ida Bagus Mantre
Denpasar