Islam Inside
aamiin :)
Silahkan share/bagikan atau copas postingan di halaman kami jika memang menurut anda sangat bermanfaat, agar teman kita yang lain pun dapat turut membacanya, sehingga mudah-mudahan menjadi amal shalih untuk kita .. Disini kita berbagi informasi tentang dunia islam ...
Silahkan share/bagikan atau copas postingan di halaman kami jika memang menurut anda sangat bermanfaat . Jangan sungkan untuk membe
Dua puluh satu hari telah gugur tanpa suara,
seperti daun yang jatuh tanpa disadari pemiliknya.
Ramadhan kini berdiri di ambang paling rahasia,
sementara kau masih menawar-nawar kesungguhan jiwa.
Malam-malam ini mungkin tak kembali dua kali,
tapi kau masih sibuk pada hal yang tak abadi.
kau takut kehilangan dunia,
namun santai saja kehilangan peluang mendekat kepada-Nya.
Sepuluh malam terakhir bukan sekadar angka,
ia ruang paling sunyi untuk jiwa.
Di sana doa tak lagi sekadar kata,
melainkan jeritan hamba yang sadar akan fana.
Jika kau hanya sibuk pada dunia,
sementara malam-malam ini terlewat begitu saja,
jangan heran bila esok kau menyesali,
karena waktu tak bisa kau ulang kembali.
9
Dua puluh hari telah usai, Ramadhan berjalan pelan meninggalkan jejak waktu,
di depan sepuluh malam terakhir menunggu dalam hening yang syahdu.
Di sanalah rahasia langit sering turun tanpa gemuruh maupun tanda,
malam yang sunyi, namun nilainya lebih luas dari seluruh dunia.
Di awal... engkau berlari penuh harap mengejar cahaya,
seolah setiap detik ingin kau isi dengan amal dan doa.
Kini ketika pintu rahmat terbuka semakin lebar di hadapan jiwa,
justru langkahmu melambat… seakan letih lebih kuat daripada rindu kepada-Nya.
Dua puluh hari berlalu, gerbang sepuluh terakhir terbuka,
di sanalah rahasia malam turun tanpa suara.
Ramadhan kini tiba di puncak waktunya,
namun banyak hati justru mulai lengah dan lupa.
Di awal engkau berlari dengan menyala-nyala,
seolah seluruh jiwa ingin mengejar pahala.
Tapi saat ganjaran dilipatgandakan oleh Yang Maha Kuasa,
langkahmu justru melambat, dan semangatmu meredup begitu saja.
Hari ke-dua puluh terlewati, Ramadhan mengajak jiwa berkontemplasi,
kesadaran menepi dari riuh dunia dan ilusi.
Ego runtuh dari singgasana eksistensi,
manusia belajar kecil di hadapan Yang Abadi.
Lapar menjadi dialektika sunyi,
antara nafsu dan nurani yang saling menguji.
Di ambang sepuluh malam terakhir yang suci,
hati pulang mencari makna Ilahi.
Di ambang dua puluh hari perjalanan,
jiwa seharusnya mulai menemukan kedalaman.
Bukan hanya lebih sabar dalam ucapan,
tapi lebih jujur dalam pengakuan.
Ramadhan bukan sekadar mengurangi dosa,
ia mengubah cara pandang pada dunia.
Jika pandanganmu masih sama seperti sebelumnya,
mungkin puasamu belum benar-benar menyentuh makna.
Ayat-ayat turun sebagai cahaya,
bukan sekadar bunyi yang kau baca.
Ia menghidupkan hati yang rela,
dan menampar batin yang pura-pura.
Jika setiap teguran terasa biasa,
mungkin hatimu telah terbiasa pada dosa.
Bukan Ramadhan yang kurang bersinar,
namun batinmu yang mungkin redup dan semakin hambar.
Puasa memurnikan keinginan,
menyaring antara kebutuhan dan dorongan.
Namun kau masih terjebak dalam pembenaran,
bahwa semua keinginan adalah kewajaran.
Ramadhan tak melarang kenikmatan,
ia hanya meminta keseimbangan.
Jika hasrat sederhana saja tak mampu kau kendalikan,
bagaimana godaan yang lebih besar bisa kau menaklukkan?
Di malam yang sunyi dan panjang,
doa-doa melayang tanpa riang.
Langit tak pernah tertutup bagi yang melangkah sumbang,
yang tertutup hanyalah hati yang enggan pulang.
Jika kau merasa jauh dari ketenangan,
jangan salahkan keadaan.
Barangkali yang perlu kau luruskan bukan arah kehidupan,
melainkan niat yang sejak awal goyah oleh kepentingan.
Sembilan belas hari berlalu bak lembaran tipis,
yang perlahan-lahan habis terkikis.
Ramadhan hampir memasuki puncak yang sunyi,
tempat dimana rahasia malam menanti.
Kau masih merasa biasa saja,
seolah semuanya akan selalu ada.
Padahal kesempatan tak selalu berulang,
ia bisa pergi tanpa pamit untuk pulang.
Puasa adalah latihan melepaskan,
bukan hanya makanan, tapi ketergantungan.
Ia mengajarkan bahwa yang kau genggam erat,
sering kali justru membuatmu terikat.
Namun kau masih ragu melepas kebiasaan lama,
yang jelas-jelas menjauhkanmu dari cahaya.
Ramadhan tak memaksa,
ia hanya menunjukkan mana yang fana dan mana yang bermakna.
Delapan belas hari berlalu di ambang sunyi,
tempat kesungguhan diuji kembali.
Semangat awal mungkin telah pergi,
tinggal rutinitas yang dijalani.
Ramadhan tak tertipu oleh kebiasaan,
ia menilai getar keyakinan.
Jika ibadahmu berjalan tanpa kesadaran,
itu hanya gerak, bukan penghambaan.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Address
Jalan MARS DIRGAHAYU NO. 37
Coblong
40191
Opening Hours
| Monday | 09:00 - 17:00 |
| Tuesday | 09:00 - 17:00 |
| Wednesday | 09:00 - 17:00 |
| Thursday | 09:00 - 17:00 |
| Friday | 09:00 - 17:00 |
| Saturday | 09:00 - 17:00 |
| Sunday | 09:00 - 17:00 |