Media Rakyat Bekerja
media untuk rakyat
09/02/2023
CNN Indonesia -- Jumlah korban tewas akibat gempa Turki-Suriah per Kamis (9/2) mencapai 17.176 orang.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melaporkan korban meninggal dunia di negaranya bertambah menjadi 14.014 jiwa.
Sementara korban tewas di Suriah tercatat sebanyak 3.162 jiwa. Rinciannya, 1.900 di wilayah yang dikuasai pemberontak dan 1.262 di wilayah yang dikendalikan pemerintah, menurut media pemerintah negara itu.
28/10/2020
Kesehatan Mental di Tengah Jadi Alumni
" Ada beberapa titik tanah kosong untuk praktek pertanian. Jika tak sanggup di lahan yang luas, pekarang sendiri jadi opsi. " Jelasnya saat menghimpun pemuda kebun pekarangan. " Tapi kenapa kamu masih miskin?"
Ia terdiam mendapati respon lawan bicaranya. Bingung!
Di jeda lumayan panjang. Salah seorang teman yang sedikit gempal meminta pertolongan untuk mendaftarkan dirinya ke prakerja; sebab ia gaptek. Teman yang berkacamata menembalnya dengan jawaban "iya, tapi kalo keterima 70:30."
Negosiasi selesai malam pun berakhir. Tapi ungkapan temannya itu membekas pada ingatannya. Apakah menjadi kaya itu harus, tapi kaya itu seperti apa? Haruskah membantu teman menggunakan prinsip berniaga?
Diesok harinya, ketika ia diperjalanan Cileunyi-Cicaheum didapatinya seorang teman yang tengah dilanda kebingungan. Ketika ditanya, motornya mogok. Ia pun menemaninya sambil bertukar kabar.
Si pengendara Vespa bertanya " p**ang kerja?"
Ia menjawab " enggak, aku belum kerja," lalu dilanjutkan dengan mengisahkan perjalanan mencari kerja selama 8 bulan pasca lulus dari perkuliahannya.
Akhirnya vespanya menyala. Mereka berpamitan sambil menitip pesan untuk menjaga keselamatan masing-masing.
Ia melanjutkan perjalanannya untuk menemui salah seorang teman. Di depan kampus Cibiru ia menepikan motornya di bahu jalan. Nongkronglah mereka berdua. Setelah memesan tutut, cerita mengalir begitu saja.
" Kemarin aku menolak ajakan pekerjaan. Soalnya, kerjaan itu di indomaret. Meskipun posisiku bakal diatas lulusan SMA, tapi aku mempertimbangkannya. Sedikit gengsi, namun aku lebih berat pada efek ke orang-orang dalam memandang kampus itu sendiri." Ungkap si rambut lurus.
" At least, kamu dapat penghasilan. " Jawab si pengdara motor tadi.
" Betul. Cuman perasaanku gak mendukung aja. Rasanya seperti menggadaikan ilmu dengan cuan, bro. " Jawab si rambut lurus sambil terkekeh.
" Kau seperti Kisah Sulaiman saja saat ditawarkan pilihan oleh Allah. Inget gak. Itu, harta, kekuasaan, dan ilmu. Kan dia milih ilmu. Tapi diakhir, dia mendapatkan ketiganya." Ungkap pengedara setelah menghempaskan asap tembakau gayo.
" Hahaha, terus terang. Aku hanya bingung saja untuk memilih. Rasanya, pertimbangannya karena aku membawa gelar. Jadi ragu ke sana kemari. Selintas terpikir olehku, kenapa ya, dulu, saat kita masih mahasiswa tidak ada pengarahan. Setidaknnya sosok alumni hadir untuk memberikan pemahaman dasar. Kan ia telah mencicipi suasana luar kampus. Tapi, sudahlah. Aku pun sekarang alumni dan kebingungan sendiri. "
Mereka berdua hanya diam. Tidak berucap lagi tentang apapun.
Lalu, si pengendara menuliskan kegelisahannya di note gawainya. Baginya, menulis bisa meredakan kekhawatiran serta rasa tidak nyaman atas kehidupannya. Hal itu yang diyakini selama ini.
Di note si pengendara tertulis:
Ditengah pandemi, suara tentang kesehatan mental menggaung dari kota ke kota. Di desa-desa, kesehatan mental tidak pernah diperhatikan. Sedikit lelah banyak resahnya karena ekonomi keluarga tidak stabil. Pekerja di-PHK, pedagang hilang lapak.
Ketika Penghasilan jadi tercekik. Biaya sekolah anak-anak semakin melangit. Diperlukannya gawai untuk belajar. Yang tidak punya gawai bisa pinjam. Yang tidak punya kuota bisa nge-wifi. Tapi itu hanya pengalihan perhatian saja. Nyatanya tidak demikian. Jauh lebih repot dari itu!
Ditengah pandemi, kegelisahan tiap orang semakin kentara. Khawatir tertular, karir yang menukik, aktivitas yang terhambat. Semua sebab pandemi.
Tapi jika kesehatan mental pagebug karena sosio-ekonomi, ditengah jadi alumni pun kesehatan mental terancam juga; bahkan serupa dengan efek pandemi.
Semenjak jadi alumni, siasat hanya terfokus pada karir, supaya melejit. Hal itu menjadi beban moral tersendiri. Sebab tidak sedikit pencapaian itu ditujukan untuk orang lain. Hal ini yang menjadi kegelisahan. Ketika gagal, pasti terpuruk. Ketika tertinggal, merasa paling rendah.
Karena beban pikiran mendesak untuk mencapai apa yang direncanakan. Waktu jadi terasa lebih sedikit. Muncullah anggapan bahwa spending time with the love one or friends is dull activities. Hingga akhirnya pertemuan antar teman mesti didasari kepentingan berniaga atau bermitra saja.
Bahkan, ancaman penilaian sosial kerap terjadi. Seperti yang tertular covid-19 saja. Mereka, alumni, menyandang gelar strata 1, dipinta hasil pembelajarannya oleh sosial. Meski tidak seharusnya, tapi mereka meminta itu.
Maka, ancaman kesehatan mental dipicu oleh berbagai kondisi. Namun dalam setiap kondisi, ancaman dan self-defensenya terletak dari pola pikir. Kelak kita akan mengerti kenapa Pram mengatakan 'harus adil sejak dalam pikiran.'
Penulis: Idang
--OPINI--
23/10/2020
Selebaran Informasi!
Seperti pemilihan umum
Suara kita yang menentukan.
Satukan suara.
Kita berada dipihak yang mana?
Beberes Rumah; Terapi Kecemasan
Setiap pagi hari Pimred mediarakyat, Erwin, mengawali aktifitas sederhanya tanpa keluh; Ia bangun pagi, mandi, membersihkan ruang kerjanya dan halaman luar, kemudian memberi sarapan pada semput. Meski Ia belum sarapan, namun semut menjadi prioritas utama ketimbang perutnya sendiri. Lalu, Ia pun menyirami tanaman yang berada tepat di depan kantornya.
Pagi hari itu, suasana kantor cukup hangat. Ada yang mencermati semut sedang membopong sebutir gula putih itu; ada yang bermain gitar sambil menyanyikan lagu karyanya sendiri. Selain aktiftas yang bernuansa hobi, aktiftas domestik pun menjadi syarat langkah awalnya. Seperti merapikan tempat tidur, mencuci piring dan pakaian.
Dewasa ini, aktifitas domestik misalnya beberes menjadi hal yang dikesampingkan. Bermula dari pengikisan pemaknaannya, maka terabaikanlah aktiftas itu. Jenis terabaikannya pun beragam jenis; ada yang membiarkan lingkungannya berantakan dan ada p**a yang memperkerjakan orang lain. Di sisi lain, ada seorang wanita asal Jepang, Mari, mengukapkan pengalaman beberesnya dalam sudut pandang kejiwaan- yang diarsipkan dalama novelnya; The Life-Changing Magic of Tidying Up.
Dalam novelnya ia mengisahkan kalau beberes-khususnya rumah, menjadi perjalanan dalam mencapai kesadaran dalam diri. Misalnya beberes tempat tidur; baginya, aktiftas itu bentuk serta ucap syukur atas kenyamanan dan rasa aman yang diterima semalaman itu.
" Pada dasarnya, beberes itu sebuah kegiatan untuk memulihkan keseimbangan antara orang-orang, barang milik mereka dan rumah mereka," dari penggalan novel The Life-Changing Magic of Tidying Up, halaman 177.
Bagi Erwin sendiri, aktiftas bebersih supaya meningkatkan mental bertanggung jawab, tuturnya di personal chat. Selain itu, Erwin pun menyebutkan, sedangkan bangun pagi sendiri-mengikuti putaran matahari.
Aktifitas beberes bagi sebagian kaum milenial dianggap tidak bermakna lebih; Pandangan Abah Suhe sendiri lain halnya. Ia menuturkan pandangannya tentang pola hidup yang salah satunya, kerja fisik; seperti nyapu, ngepel, ngebon dan lain halnya. Baginya, salah satu aktifitas ini dapat memulihkan kesadaran dari kerangkeng halusinasi serta menjaga kesehatan tubuh.
" Nggak kuat kerja pemikiran, harus kerja perasaan, pakai puasa dan wiridan-biar sehat wal-afiat... Enggak kuat kerja pikiran dan perasaan, harus kerja fisik: nyapu, nyuci, masak, ngebon dan lainnya... Jika pikiran gak kepakai, perasaan gak terasah fisik badan gak terokah... Halusinasi mulai menyusupi diri dan darah-- pastilah jadi sakit parah, " tutur Abah Suhe dari group whatsup mediarakyat.
Penulis: Idang
"Rest In Peace Indonesia"
Rakyatbekerja.com,—Kita sibuk melakukan perpecahan tapi tiba-tiba memimpikan persatuan.
Di negara ini sepertinya terlalu kebanyakan penceramah ketimbang yang ingin diceramahi—mungkin sudah hampir punah? Saking sibuknya berceramah, berlomba lomba mengumandangkan kebenaran, kita jadi sering lupa menceramahi diri sendiri. Dan yang diperlombakannya kebenaran versi pribadi, madzhab, Ormas, dan lain sebagainya. Padahal, Tuhan menyuruh kita agar berlomba lomba dalam kebaikan bukan kebenaran. Karena sesunguhnya kebenaran yang benar benar–benar, hanya milik-Nya. Kebenaran itu lebih baik simpan saja di dapur masing masing; kita hidangkan kebaikan dan keindahan saja.
Apakah karena ingin disebut alim kau rela membodohi saudaramu, ingin disebut benar kau salahkan yang lain, ingin disebut malaikat kau setankan yang lain, ingin jadi muslim kau kafirkan yang lain, ingin surga yang lain kau masukan neraka, ingin mulia kau hinakan yang lain—ingin tinggi dengan cara merendahkan?!
Sebetulnya pertikaian itu bukan gara gara perbedaan tapi, salah dalam menyikapi perbedaan. Sedari dulu penyebab pertikaian itu karena jenis manusianya sensitif dan tidak bahagia. Perlu disadari bahwa perbedaan itu mutlak takdir sedangkan, pertikaian itu pilihan. Manusia makhkuk sosial yang hidup berdampingan, sedangkan perbedaan anugrah. Seharusnya perbedaan jadi alasan saling kenal mengenal, saling memahami, mengasihi, memberi rasa aman dan tergerak untuk saling menyelamatkan.
Kita harus sangat meyakini bila kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa itu tergantung perilaku manusianya. Persis seperti dalam lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya, "Bangunlah jiwanya bangunlah badannya." Bahwa kita adalah bangsa yang besar, kaya akan bahasa, budaya, dan sumber daya, berbeda-beda tapi satu jua " Bhineka Tunggal Ika."
Pada orang tua didiklah anaknya untuk menjadi orang bahagia bukan orang kaya, biar hidup ini dinikmati bukan dimanip**asi. Kelak, generasi selanjutnya tidak akan senang bertikai seperti keluarga yang berebut warisan melainkan hidup dengan harmoni dalam kebiasaan berbagi dan terbangun solidaritas yang sampai pada persaudaraan. Peranan orang tua sangat penting dalam membangun spirit putra putri bangsa agar tidak menjadi manusia yang cenderung egois dan serakah, tapi manusia yang jujur, senang bergotong royong dan menjaga rasa bersaudara.
Dengan demikian, kehidupan di tanah surga ini akan terus dikenang dan didambakan karena telah tercipta para penghuni yang berperasaan, peduli sesama, tidak memiliki waktu untuk membenci dan mensiasati karena terlalu sibuk mencintai dan mengasihi sehingga suatu hari nanti kita bisa menikmati kehidupan dalam suasana tenang dan damai.
Penulis: Ucan Kaheman
Editor: Idang
21/04/2020
"BAPER” Berani peduli bersama Rakyat
Pada 16 April 2020, komunitas Taman Baca Cipeundeuy berkolaborasi dengan MTs Darruttalim menggelar gerakan aksi berbagi masker gratis serta simulasi cuci tangan di Desa Wangunjaya, Garut. Gerakan mandiri ini digelar berdasarkan tujuan yang sama yaitu, mewujudkan kembali budaya berbagi serta memberi pemahaman dalam menghadapi wabah COVID-19, supaya tidak 'ugal-ugalan' karena ketidaktahuannya.
Tindak lanjut setelah berbagi masker dan simulasi cuci tangan ini, mereka akan tetap membuka donasi untuk gerakan tahap lanjutan, yakni mensosialisasikan pola hidup bersih dan sehat secara kontinu serta menciptakan ketahanan pangan alternatif—berbagi sembako dari hasil donasi.
Gerakan aksi ini bermula karena gagapnya pemerintah daerah dalam menghadapi wabah COVID-19. Oleh karenanya, mereka berharap gerakan aksi sebagai bentuk penyadaran bagi masyarakat dan pemerintah desa khususnya.
Terhitung dari kasus pertama hingga per April 2020, sikap menghadapi wabah virus ini masih saja ada yang ugal-ugalan. Seperti panic buying, menyudutkan ODP/PDP yang membuat psikisnya terganggu.
Sedangkan pemerintah desa Wangunjaya sendiri khususnya, mereka cenderung abai terhadap fenomena ini. Misalnya saja, pemberian edukasi hanya melalui banner, bahkan tidak melakukan apapun sama sekali. Hal ini membuktikan, bahwa pemerintah cenderung menyepelakan wabah virus saat ini. Maka, gerakan aksi ini, secara implisit, merangkul pemerintah yang gagap menghadapi wabah.
Oleh karena itu, mereka berharap gerakan ini sebagai bentuk saling menyadarkan. Seperti memberikan pemahaman dasar pencegahan wabah, menciptakan alternatif ketahanan pangan—kebiasaan berbagi pangan— ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan. Lalu menunjukan akses agar program pemerintah desa itu bisa tepat sasaran dan berdampak positif.
Per 16 April 2020, Desa Wangunjaya, Garut masih berstatus zona hijau. Oleh karenanya, gerakan aksi penyadaran dimaximalkan, terutama penyadaran ketahanan pangan alternatif serta PHBS sebagai pencegahan masuknya virus COVID-19.
Penulis: Idang
Sumber: Anang
18/04/2020
Belajar Ekonomi Nasionalis dari Kulonprogo
Hasto Wardoyo, bupati Kulonprogo, Hasti Wardoyo yang seorang dokter spesialis kandungan lulusan Universitan Gadjah Mada ini, seorang yang lincah dalam mengurus wilayahnya. Saking lincahnya, sorot media pun tak menyadari gerakannya itu mesti diinformasikan karena menginspirasi.
Upaya bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, dalam mengurus daeragnya bertolak belakang dengan pimpinan pusat yang mana mengutamakan impor.
Apa yang terjadi di Kulonprogo saat ini? Teladan dalam Senyap.
Kulonprogo bukanlah daerah yang jadi sorotan media. Bukan kota besar seperti Bandung, Surabaya, apalagi Jakarta. Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, tak sepopuler Emil. Meski tanpa sorotan Media, Hasto, telah meletakan spirit kemandirian bangsa. Ia mengajak warganya keluar dari kemiskinan dengan kekuatannya sendiri.
Ia memberi teladan dalam senyapnya publikasi serta memulai dengan 'gerakan bela dan beli' Kulonprogo yakni, mengeluarkan kebijakan berpakaian bagi para pelajar dan PNS di wilayahnya. Mereka diwajibkan mengenakan seragam bati geblek renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu.
Ternyata, dari jumlah 80.000 pelajar dan 8.000 PNS, kebijakan ini mampu mendongkrak industri batik lokal. Sentra kerajinan batik tumbuh pesat. Awanya hanya dua, kini menjadi lima puluhan. Hingga akhirnya, ribuan pengrajin batik Kulonprogo, biasanya bekerja di Yogyakarta, kini bekerja di Kulonprogo.
Uang ratusan miliar rupiah dari usaha kecil inipun berputar di Kulonprogo. Puryanto, seorang pengusaha batik di desa Ngentarejo, mengaku omzetnya meningkat bahkan pernah hingga mencapai 500 persen.
Tidak hanya dalam segi berpakaian, Ia pun mewajibkan pada PNS untuk membeli beras [10kg/bulan] hasil produksi petani Kulonprogo.Bahkan beras raskin yang dikelola Bulog setempat, kini menggunakan beras produksi petani Kulonprogo.
Sang Bupati yang juga dokter spesialis kandungan ini membuat PDAM dalam mengembangkan usaha rakyat dengan memprodusi Air kemasan merek AirKu (air Kulonprogo ).
AirKu kini menguasai seperempat ceruk pasar air kemasan di Kulonprogo. Anto, staf setempat, menuturkan, kini jumlah permintaan lebih besar dari produksi. Karena itu, volume produksi AirKu akan segera ditingkatkan.
Selain menyumbangkan PAD, keberadaan air kemasan ini membangkitkan kebanggaan warga setempat dengan mengkonsumsi air produk sendiri.
Dalam membela hak kesehatan rakyat, Ia pun memberlakukam Universal Coverage dalam pelayanan kesehatan. Yakni, Pemkab Kulonprogo menanggung biaya kesehatan warganya Rp. 5.000.000/orang. Untuk mengimbangi program Universal Coverage, RSUD Wates Kulonprogo memberlakukan layanan tanpa kelas. Artinya, ketika kelas 3 penuh, pasien miskin bisa dirawat di kelas 2, kelas 1, bahkan VIP.
Bahkan di Kulonprogo, minimarket tidak diizinkan untuk membuka usaha di wilayahnya, kecuali mau bermitra bersama Koprasi yang bersyarat dan ketentuannya. Salah satu syaratnya menampung produk UKM [...] dan memperkerjakan karyawan dari anggota koprasi. Dan setelah bermitra, penamaannya pun tidak menggunakan nama minimarket tersebut, namun diganti jadi Tomira (Toko Milik Rakyat).
Berbagai kebijakan lewat Program Bela dan Beli, ternyata mampu menurunkan angka kemiskinan di Kulonprogo; Dari 22,54 % pada tahun 2013 menjadi 16,74 % pada tahun 2014 (data Bappeda).
Oh ya, jika Anda ke Kulonprogo, Anda tak akan menemukan papan iklan rokok. Pemerintah Kulonprogo memang menolak sponsor dari perusahaan rokok. Kebijakan ini tentu mengurangi pendapatan daerah. Namun, memimpin daerah bukan cuma soal menggenjot pendapatan tapi, 'menempatkan posisi moral' yang memihak rakyat.
Sumber data: Ahmad Taufik
Penulis: Abah
Editor: Idang
Belajar Ekonomi Nasionalis dari Kulonprogo Listen to this episode from Rakyatbekerja on Spotify. Bupati Kulonprogo ini tegas dan tepat sasran dalam menjawab masalah sosial. Ia fokus dalam memberdayakan potensi warganya. Ketika pemerintah pusat sibuk memberi bantuan, Bupati Kulonprogo sibuk mengembangkan kapabilitas warganya. Baginya, bekal u...
10/04/2020
'Berkeringat' Untuk Meringankan Beban Orang Tua
Rakyatbekerja.com, Garut - Jagatullah (14) anak dari keluarga buruh sepatu ini memilih 'mengeluarkan keringat' daripada membebani orang tuanya. ketika anak-anak seusianya lebih memilih untuk bermain, dia lebih memilih bekerja demi menyetabilkan keadaan ekonominya.
Jagat, panggilan anak ini, seorang anak asal kampung Teureup kecamatan Banyuresmi kabupaten Garut, dikenal sebagai anak yang rajin dalam bekerja. 'Keringat' sudah menjadi teman sehari-harinya, tak peduli hujan ataupun panas dia akan mengerjakan rutinitas yang sering dikerjakannya di peternakan, berlokasi dekat rumahnya, milik Abah Suhe.
Pekerjaannya memasak hu'ut untuk pakan ayam, angsa, bebek, hingga membersihkan kandang. Kalau ada pekerjaan lain yang harus dikerjakan, dia selalu siap untuk mengerjakannya.
"Unggal poe ka kandang, masak hu'ut langsung maraban, lamun dititah ngala awi langsung digawean," tutur Jagat, 11 Maret,2020, Garut.
" Tiap hari ke kandang, masak pakan ternak terus ngasih makan juga...semisal disuruh ngambil bambu ke hutan, langsung dikarjain."
Dari hasil kerjanya, ia bisa membiayai dirinya sendiri sejak kelas 6 SD hingga sekarang, kelas 2 SMP. Hal ini bukan karena orang tua yang memaksanya untuk bekerja tapi, dia bekerja karena kesadaran sendiri.
" Karunya ka kolot lamun menta wae, mending neangan duit sorangan," ujarnya menegaskan bahwa dia tidak ingin merepotkan lagi orang tuanya.
" Kasian ke orang tua kalau masih minta, lebih baik nyari uang sendiri."
Sejak dini Jagat sudah memahami bahwa persoalan ekonomi yang dilalui keluarganya merupakan persoalan yang tidak bisa dilewati dengan hanya diam saja. Pada akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk bekerja–dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Lamun eweuh saung, urang teu apal om ayena ge bakal kumaha" ungkapnya, setelah mendapati kesempatan untuk bekerja di peternakan Abah Suhe.
" Kalo gak ada ' Saung', aku gak tahu om sekarang bakal kaya gimana."
Masih banyak hal yang bisa di pandang secara luas jika kita melihat kehidupan jagat. Jika hari ini anak yang bekerja di bawah umur itu menjadi persoalan, kenapa kita lupa bertanya kalau anak-anak yang masih sangat muda seperti Jagat harus sampai bekerja.
Kita seringkali tidak bertegur sapa dengan diri ketika melihat peristiwa di depan mata. Keadaan Jagat yang mesti 'berkeringat' di usia muda bukan tanpa alasan. Ada cerita dibaliknya. Alasannya sederhana, faktor ekonomi yang tidak stabil.
Pertanyaan bagaimana negara memandang persoalan ini tak kunjung ada jawaban. Maka kita mesti menjawab sendiri yakni, jangan menanti dari pihak lain–mulailah sendiri.
Jagat rela 'berkeringat' agar dia bisa meringankan beban orang tuanya dan itu adalah sebuah perbuatan dan bakti yang baik dari seorang anak pada orang tua.
"pokonamah om urg mah kahareupna ge urg mah mbung ngariweuhkeun kolot". ungkap Jagat sebagai pengakhir ceritanya.
" Intinya om, sampai kapan pun aku gak mau bikin orang tua kerepotan."
Penulis: Bocek
Editor: Idang
Berkeringat untuk meringankan beban orang tua by Rakyatbekerja • A podcast on Anchor Manusia selalu dibenturkan dengan pilihan, padahal ia tak pernah memilih sebetulnya; hanya menjalankan suratan. Tapi persoalan hidup bukan hanya diratapi, mesti dijalankan agar tercipta alur peradaban. Bagi Jagat, semangat hidup muncul disaat ada rasa mengasihi. Ia bekerja karena ingin membantu oran...
10/04/2020
Manusia adalah mahluk pencerita. Kami pun menyajikan kisah seputar rakyat dalam bentuk podcast. Silahkan didengarkan dengan rasa bahagia.
Rakyatbekerja • A podcast on Anchor Kisah rakyat tentang siasat bertahan hidup
15/01/2020
http://rakyatbekerja.com/bisnis-atau-komunitas-fajar-memilih-ke-duanya-bersinergis/
Bisnis atau Komunitas; Fajar Memilih ke Duanya Bersinergis – RakyatBekerja Facebook0Tweet0Pin0 Rakyatbekerja.com, Bandung-Fajar Nugaraha (25) berbisnis rental outdoor sekaligus founding father komunitas Ruang Hidup. Fajar, selama 3 tahun-an menyeimbangkan kesetabilan ruang riung dengan bisnis. Prosesnya, mulai memunculkan sisi dilematis, di tengah perjalanan; antara profit...
15/01/2020
http://rakyatbekerja.com/trending-undercut-di-zaman-milenial/
Trending Undercut di Zaman Milenial – RakyatBekerja Facebook0Tweet0Pin0 Rakyatbekerja.com, Bandung- Mimar Nurul Muttaqin (19), pemuda asal Garut ini mentasbihkan dirinya untuk bekerja dan bertahan hidup jauh dari saudara sedarah. Ia bekerja sebagai tukang pangkas rambut di salah satu Barbershop yang berlokasi di desa Manisi, Cibiru, Bandung. Mimar (1...
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Cianjur Regency