Crush In Secret
(Proyek Dongeng Indonesia). Katalog audio evergreen edukasi (Dongeng Nusantara). Terbukti sukses di sekolah. Mencari mitra distribusi global.
Kami adalah Yayasan Bumi Manusia, yang mengelola katalog audio 'Dongeng Indonesia'. Kami adalah inisiatif pendidikan berkelanjutan yang didedikasikan untuk pelestarian dongeng Nusantara, kisah teladan Islami, dan cerita anak mancanegara dalam format audio berkualitas tinggi (storytelling). Katalog kami saat ini meliputi:
Dongeng Nusantara (Fokus utama pelestarian budaya). Kisah Teladan Anak Musli
22/05/2026
Algoritma Jatuh Hati
Karya : Crush In Secret
Di sekolahnya, Fadil dikenal sebagai anak paling dingin. Bukan karena sombong, tapi karena hidupnya terlalu teratur. Semua hal baginya punya pola, rumus, dan kemungkinan yang bisa dihitung.
Nilai ujian? Bisa diprediksi.
Jam hujan? Bisa ditebak.
Bahkan peluang seseorang menyukai orang lain menurutnya hanya soal “persentase kecocokan”.
Sampai akhirnya ia bertemu Elina.
Elina berbeda dari semua orang yang pernah Fadil kenal. Gadis itu berisik, ceroboh, dan selalu datang terlambat. Tapi anehnya, setiap kali Elina muncul, hidup Fadil yang biasanya rapi mulai berantakan.
Pertemuan pertama mereka terjadi di perpustakaan.
“Elu lagi ngapain?” tanya Elina sambil menaruh dagunya di meja.
“Membuat algoritma.”
“Buat apa?”
“Menentukan kemungkinan seseorang jatuh cinta.”
Elina tertawa keras sampai penjaga perpustakaan menegur mereka.
“Kalau cinta bisa dihitung, berarti gampang d**g move on?”
Kalimat itu membuat Fadil diam.
Sejak hari itu, Elina sering mengganggunya. Kadang meminjam pulpen lalu lupa mengembalikan. Kadang memaksa duduk di sebelah Fadil saat jam istirahat. Kadang mengirim pesan random tengah malam hanya untuk bertanya:
"Kalau aku hilang sehari, kamu bakal nyariin nggak?"
Awalnya Fadil merasa terganggu.
Namun tanpa sadar, ia mulai membuat folder khusus berisi semua hal tentang Elina.
Lagu favoritnya.
Minuman kes**aannya.
Tanggal saat Elina pertama kali tersenyum padanya.
Fadil mencoba memasukkan semuanya ke dalam program buatannya.
Hasilnya selalu sama:
“Error: Perasaan tidak dapat diprediksi.”
Malam itu, untuk pertama kalinya Fadil frustrasi pada sesuatu yang tak bisa ia hitung.
Ia akhirnya sadar…
yang berubah bukan algoritmanya.
Melainkan dirinya.
Beberapa minggu kemudian, hujan turun deras sepulang sekolah. Elina duduk di halte sambil memeluk lututnya.
“Aku takut hujan,” katanya pelan.
Fadil mengernyit. “Kenapa?”
“Elu tahu kan? Mama aku meninggal waktu malam hujan.”
Itu pertama kalinya Elina terlihat rapuh.
Biasanya gadis itu selalu tertawa seolah tak punya luka.
Fadil duduk di sampingnya tanpa bicara. Lalu perlahan ia melepas headsetnya dan memasangkannya ke telinga Elina.
Lagu piano lembut terdengar di antara suara hujan.
“Statistik bilang hujan bikin orang merasa kesepian,” kata Fadil pelan.
“Tapi… kalau sama kamu, mungkin persentasenya berubah.”
Elina menatapnya lama.
“Fadil…”
“Hmm?”
“Kayaknya algoritma kamu gagal deh.”
“Kenapa?”
“Karena aku udah jatuh hati duluan.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Fadil tidak mencari jawaban logis.
Ia hanya tersenyum.
Karena ternyata, beberapa hal memang tidak diciptakan untuk dihitung.
Beberapa hal… hanya untuk dirasakan.
21/05/2026
Surat Gugatan yang Berujung Pelukan
Karya : Crush In Secret
Hujan turun deras ketika Ferdy duduk diam di ruang tamu apartemen kecilnya. Di atas meja, sebuah amplop putih dengan tulisan Surat Gugatan Cerai terlihat begitu mencolok. Tangannya gemetar saat melihat nama pengirimnya, Tamy.
Tiga tahun menikah ternyata tidak cukup membuat mereka saling memahami.
Ferdy terlalu sibuk mengejar karier sebagai arsitek muda terkenal, sementara Tamy perlahan lelah hidup dalam kesepian. Mereka tinggal serumah, tapi terasa seperti dua orang asing yang hanya berbagi alamat.
Malam itu, Ferdy datang terlambat lagi.
“Aku capek, Ferdy…” suara Tamy lirih sambil menahan air mata.
“Aku kerja buat masa depan kita,” jawab Ferdy tanpa menatapnya.
“Tapi aku kehilangan kamu di perjalanan menuju masa depan itu.”
Kalimat itu menghantam Ferdy lebih keras daripada hujan di luar jendela.
Namun egonya terlalu tinggi untuk meminta maaf.
Keesokan paginya, Tamy pergi meninggalkan apartemen. Yang tertinggal hanya aroma parfum favoritnya… dan surat gugatan di meja makan.
Hari-hari setelahnya terasa aneh bagi Ferdy. Tidak ada lagi suara Tamy yang mengomel karena ia lupa sarapan. Tidak ada lagi lampu dapur yang sengaja dinyalakan saat ia pulang larut malam.
Untuk pertama kalinya, Ferdy sadar… rumah itu ternyata hidup karena Tamy ada di dalamnya.
Beberapa minggu kemudian, mereka bertemu di pengadilan.
Tamy tampil sederhana dengan wajah yang terlihat lebih lelah dari biasanya. Ferdy ingin bicara, tapi suasana terlalu dingin.
Sampai tiba-tiba listrik gedung padam akibat badai.
Ruangan menjadi gelap. Orang-orang mulai panik. Tanpa sadar, Tamy memegang tangan Ferdy erat.
Dan di momen singkat itu, Ferdy merasakan sesuatu yang selama ini hilang—kehangatan.
“Aku masih takut kehilangan kamu…” bisik Tamy pelan.
Ferdy terdiam. Dadanya sesak.
“Aku yang seharusnya takut,” jawabnya lirih. “Karena aku sudah hampir kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintaiku.”
Air mata Tamy jatuh begitu saja.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ferdy memeluk istrinya erat. Tidak ada gengsi. Tidak ada amarah. Hanya dua hati yang sama-sama lelah berpura-pura kuat.
Di tengah gedung pengadilan yang gelap karena badai, surat gugatan itu akhirnya tidak lagi terasa penting.
Karena terkadang, cinta tidak berakhir saat seseorang memilih pergi.
Kadang… cinta justru mulai tumbuh ketika dua orang akhirnya belajar saling mendengar.
20/05/2026
Cinta Rahasia di Balik Sidang Pernikahan
Karya : Crush In Secret
Hujan turun deras saat Agnes berdiri di depan ruang sidang pengadilan agama. Jemarinya menggenggam map biru berisi surat gugatan cerai yang ia ajukan sendiri. Wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya menyimpan lelah yang tak bisa dijelaskan.
Di ujung lorong, Darent datang dengan jas hitam yang masih basah oleh hujan. Tatapannya langsung tertuju pada Agnes, wanita yang selama dua tahun menjadi istrinya… sekaligus orang yang paling sulit ia pahami.
Mereka menikah bukan karena cinta. Semua berawal dari kesepakatan keluarga bisnis yang hampir bangkrut. Darent membutuhkan nama baik keluarga Agnes untuk menyelamatkan perusahaannya, sedangkan Agnes membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibunya.
Pernikahan itu dingin. Tidak ada makan malam romantis. Tidak ada kata “aku mencintaimu.” Yang ada hanya rumah besar yang terasa kosong dan dua orang asing yang pura-pura bahagia di depan dunia.
“Sidangnya lima menit lagi,” ucap Agnes pelan tanpa menatap Darent.
Darent mengangguk singkat. “Aku tahu.”
Hening.
Untuk pertama kalinya, Darent merasa takut kehilangan sesuatu. Bukan perusahaan. Bukan reputasi. Tapi Agnes.
Selama ini ia terlalu sibuk menjadi pria sempurna sampai lupa menunjukkan perasaannya. Ia diam-diam memperhatikan Agnes setiap malam tertidur di sofa sambil menunggu dirinya pulang. Diam-diam menyimpan foto candid Agnes di ponselnya. Bahkan tanpa Agnes tahu, Darent selalu meminta asistennya mengirim bunga ke rumah sakit tempat ibu Agnes dirawat.
Namun semuanya terlambat.
“Kalau sidang ini selesai…” Agnes menahan suaranya yang mulai bergetar, “kita nggak perlu pura-pura lagi.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada apa pun.
Darent akhirnya membuka suara, sesuatu yang jarang ia lakukan dengan jujur.
“Kalau aku bilang aku nggak mau cerai?”
Agnes menoleh cepat. Untuk pertama kalinya, pria dingin itu terlihat rapuh.
“Kamu bilang apa?”
Darent menarik napas panjang. “Aku mungkin gagal jadi suami yang baik. Tapi aku nggak pernah menganggap pernikahan ini palsu.”
Agnes terdiam.
“Dan masalah terbesarku…” Darent tersenyum pahit, “aku jatuh cinta sama kamu terlalu dalam, tapi terlalu terlambat buat mengakuinya.”
Air mata Agnes jatuh tanpa izin.
Selama ini ia pikir hanya dirinya yang diam-diam mencintai. Ternyata di balik sikap dingin Darent, ada cinta yang disembunyikan rapat-rapat.
Pintu ruang sidang terbuka.
“Saudara Darent dan Agnes, silakan masuk.”
Mereka saling menatap beberapa detik yang terasa begitu panjang.
Namun kali ini, Darent perlahan menggenggam tangan Agnes.
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai…
Agnes tidak melepaskannya.
16/05/2026
"Cinta di Ufuk Senja Berdarah"
Karya : Crush In Secret
Senja di kota kecil itu selalu berwarna merah pekat, seolah langit menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Di tepi bukit tempat matahari tenggelam, Ghea berdiri setiap sore, menunggu seseorang yang tak pernah pasti datang.
Namanya Dewa.
Mereka dulu adalah dua jiwa yang saling mencintai diam-diam sejak sekolah. Namun hidup memisahkan keduanya. Ghea memilih tinggal untuk merawat ibunya yang sakit, sementara Dewa pergi ke kota demi mengejar masa depan. Mereka berjanji akan bertemu lagi di bukit senja saat semuanya membaik.
Tahun demi tahun berlalu.
Ghea tetap datang ke bukit itu, membawa harapan yang mulai rapuh. Banyak orang berkata Dewa telah melupakan kota kecil ini. Ada yang bilang ia sudah bertunangan. Ada juga yang bilang ia tak akan kembali.
Namun sore itu berbeda.
Langit merah menyala seperti darah yang tumpah di cakrawala. Angin berhembus membawa aroma hujan. Dari kejauhan, seorang pria berjalan pelan dengan langkah pincang dan wajah yang lelah.
“Ghea...” suaranya parau.
Air mata Ghea jatuh seketika. Itu Dewa.
Ia berlari memeluk pria yang selama ini hanya hidup dalam kenangan. Tubuh Dewa kurus, tangannya penuh bekas luka, dan matanya menyimpan ribuan cerita pahit.
“Aku pulang... tapi terlambat ya?” bisik Dewa.
Ghea menggeleng sambil menangis. “Aku masih di sini.”
Dewa tersenyum tipis, lalu menyerahkan sebuah cincin sederhana. “Aku menabung bertahun-tahun untuk ini. Aku ingin pulang membawa masa depan... tapi ternyata hidup lebih kejam dari rencana.”
Barulah Ghea tahu, Dewa selama ini bekerja keras, jatuh bangun, bahkan kehilangan banyak hal demi menepati janji.
Namun saat mereka saling menggenggam tangan, tubuh Dewa tiba-tiba melemah. Ia tersungkur di pangkuan Ghea.
“Aku sakit... dan waktuku tak banyak,” ucapnya lirih.
Langit senja makin merah, seolah ikut menangis.
Ghea memeluknya erat. “Kenapa baru bilang sekarang?”
“Karena aku ingin pulang sebagai lelaki yang menepati janji... bukan sebagai orang yang kalah.”
Di bawah ufuk senja berdarah itu, Dewa menghembuskan napas terakhir dengan kepala di bahu wanita yang paling ia cintai.
Sejak hari itu, Ghea tetap datang ke bukit setiap sore. Tapi kini ia tak lagi menunggu.
Ia hanya tersenyum menatap langit merah, karena di sanalah cinta mereka abadi di ufuk senja berdarah.
16/05/2026
"Peluk Aku Sebelum Senja Hilang"
Karya : Crush In Secret
Senja selalu menjadi waktu favorit Miska. Di tepi bukit kecil dekat kota, ia sering duduk sendirian menatap langit jingga sambil menunggu seseorang yang mungkin tak akan datang lagi.
Orang itu adalah Jesa, sahabat masa kecil yang pergi tanpa janji, tanpa kabar, dan meninggalkan terlalu banyak kenangan.
Hari itu, langit tampak lebih indah dari biasanya. Angin berhembus lembut, membawa aroma hujan yang belum turun. Miska memeluk lututnya, menahan sesak yang selalu datang setiap senja.
“Aku tahu kamu masih ke sini.”
Suara itu membuat napasnya terhenti.
Miska menoleh cepat. Di sana, berdiri Jesa dengan senyum yang dulu selalu menenangkan hatinya.
“Kamu...” suara Miska bergetar. “Kenapa baru datang sekarang?”
Jesa berjalan mendekat, matanya penuh penyesalan. “Karena aku bodoh. Aku pergi mengejar banyak hal, sampai lupa kalau yang paling berharga selalu ada di sini.”
Air mata Miska jatuh begitu saja. “Kamu tahu berapa lama aku menunggu?”
Jesa tak menjawab. Ia hanya membuka kedua tangannya.
“Kalau masih ada sedikit tempat di hatimu... peluk aku sebelum senja hilang.”
Miska menatapnya lama, lalu berlari kecil memukul dada Jesa sebelum akhirnya tenggelam dalam pelukannya. Hangat. Sama seperti dulu.
Di balik langit jingga yang perlahan redup, dua hati yang lama tersesat akhirnya pulang ke tempat yang sama.
15/05/2026
"Cinta Pertama di Ujung Langit"
Karya : Crush In Secret
Naura selalu percaya bahwa cinta pertama datang dengan cara sederhana tatapan singkat, senyum malu-malu, atau kebetulan kecil yang tak disengaja. Tapi ia tak pernah menyangka, cinta pertamanya justru datang di tempat paling jauh dari keramaian: sebuah bukit di ujung kota, tempat langit terlihat seolah menyentuh bumi.
Di sanalah ia bertemu Kafa, lelaki pendiam yang hampir setiap sore duduk sendiri sambil membawa kamera tua. Kafa jarang bicara, tapi matanya selalu penuh cerita. Naura yang penasaran mulai datang setiap hari, pura-pura menikmati senja, padahal diam-diam menunggu Kafa.
Hari demi hari, mereka mulai berbagi hal-hal kecil. Tentang mimpi Naura yang ingin melihat dunia, tentang Kafa yang takut kehilangan orang-orang yang ia sayang, tentang awan yang berubah warna saat sore datang. Bersama Kafa, Naura merasa waktu berjalan lebih lembut.
Suatu senja, saat langit berwarna jingga keemasan, Kafa menyerahkan sebuah foto pada Naura. Foto itu adalah dirinya, sedang tertawa tanpa sadar memandang langit. Di belakangnya tertulis kalimat sederhana:
"Cinta pertamaku ternyata datang seindah senja."
Naura tersenyum, menahan wajahnya yang memanas. Untuk pertama kalinya, ia tahu bagaimana rasanya menjadi alasan seseorang menunggu sore datang.
15/05/2026
"Kamu Adalah Warna Langitku"
Karya : Crush In Secret
Aneth selalu menyukai langit. Baginya, warna langit bisa menjelaskan perasaan yang tak mampu diucapkan manusia. Langit pagi berwarna harapan, langit sore berwarna rindu, dan langit malam menyimpan kesepian yang diam-diam menenangkan.
Setiap pulang sekolah, Aneth duduk di halte tua dekat taman kota hanya untuk memandang senja. Di sana, ia sering bertemu Geri cowok pendiam yang selalu membawa kamera usang dan senyum tipis yang sulit ditebak.
“Kenapa kamu s**a foto langit terus?” tanya Aneth suatu sore.
Geri menatap layar kameranya lalu tersenyum kecil. “Karena langit selalu berubah, tapi tetap indah.”
Sejak hari itu, mereka mulai pulang bersama. Aneth bercerita tentang mimpinya menjadi penulis, sementara Geri diam-diam memotret Aneth yang tertawa di bawah cahaya senja. Hari-hari terasa lebih hangat sejak Geri hadir.
Sampai suatu sore hujan turun deras, dan Geri tak datang ke halte seperti biasanya. Hari berikutnya, bangkunya kosong lagi. Dan lagi. Hingga seminggu kemudian, Aneth menerima sebuah kotak kecil yang dititipkan penjaga halte.
Di dalamnya ada kamera usang milik Geri dan sepucuk surat.
"Aneth, aku harus pindah jauh lebih cepat dari yang kubayangkan. Aku nggak pandai bilang selamat tinggal, jadi aku titip semua foto langit yang pernah kuambil. Tapi dari semuanya, kamu tetap warna langit yang paling indah."
Tangan Aneth gemetar membuka galeri kamera itu. Ratusan foto langit tersimpan di sana. Pagi, sore, malam. Namun di sela-selanya, ada banyak foto dirinya sedang tertawa, melamun, bahkan diam memandang jalan.
Aneth menangis sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia sadar... kadang seseorang datang hanya sebentar, tapi cukup untuk mengubah seluruh warna hidupmu.
15/05/2026
"Orang Asing yang Menjadi Segalanya"
Karya : Crush In Secret
Fataya tidak pernah percaya pada pertemuan kebetulan. Baginya, semua orang datang dengan alasan, meski kadang alasannya hanya untuk pergi.
Suatu malam, saat hujan turun deras di terminal kota, Fataya duduk sendirian sambil memeluk tas kecilnya. Ia baru saja kehilangan pekerjaan, ditinggal sahabat, dan tak tahu harus pulang ke mana. Dunia terasa sempit dan gelap.
Di sampingnya, seorang pria asing duduk sambil membawa dua gelas kopi hangat.
“Yang satu buat kamu,” katanya santai.
Fataya menatap curiga. “Kita kenal?”
Pria itu tersenyum kecil. “Belum. Nama aku Degi.”
Fataya hampir menolak, tapi dinginnya malam membuat tangannya menerima gelas itu. Dari obrolan singkat yang awalnya canggung, malam itu berubah menjadi percakapan panjang tentang hidup, mimpi, dan rasa lelah yang sama-sama mereka sembunyikan.
Sejak malam itu, Degi sering muncul di hidup Fataya. Kadang menunggu di halte dengan roti cokelat favoritnya, kadang mengirim pesan sederhana: “Hari ini kamu hebat karena masih bertahan.”
Perlahan, Fataya yang dulu tertutup mulai tertawa lagi. Ia mulai berani melamar pekerjaan baru, berani berjalan sendiri, berani bermimpi lagi. Semua karena ada Degi, orang asing yang datang tanpa diundang tapi menata ulang dunianya.
Namun saat Fataya merasa Degi sudah menjadi segalanya, pria itu justru menjauh. Pesan tak lagi dibalas. Telepon tak pernah diangkat.
Hingga suatu hari, Fataya menerima sebuah amplop dari rumah sakit. Di dalamnya ada surat tulisan tangan Degi.
"Fataya, maaf aku pergi diam-diam. Aku cuma nggak mau kamu melihatku semakin lemah. Aku sakit sejak lama, dan waktuku mungkin tidak banyak. Tapi mengenalmu adalah bagian terbaik dalam hidupku. Kalau nanti aku benar-benar pergi, jangan ikut hilang bersamaku. Karena aku datang bukan untuk menghancurkanmu, tapi untuk membuatmu hidup lagi."
Tangan Fataya gemetar. Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia berlari ke rumah sakit, tapi semuanya terlambat. Degi telah pergi beberapa jam sebelum ia datang.
Di kursi kosong ruang tunggu, Fataya duduk sambil menangis. Ia sadar, orang yang dulu hanyalah asing kini telah menjadi rumah, harapan, dan segalanya.
Dan kadang, kehilangan paling sakit datang dari seseorang yang dulu bahkan tidak kita kenal.
15/05/2026
"Kamu Datang Saat Aku Hancur"
Karya : Crush In Secret
Qisty pernah percaya bahwa cinta bisa menyelamatkan segalanya. Sampai suatu hari, orang yang paling ia perjuangkan justru pergi membawa semua kepercayaannya. Sejak saat itu, Qisty berubah. Ia menutup diri, berhenti percaya pada janji, dan memilih menjalani hari-hari hanya sekadar bertahan.
Di luar, ia terlihat baik-baik saja. Masih tersenyum, masih bekerja, masih bercanda. Tapi di dalam, hatinya seperti rumah kosong yang lampunya padam.
Lalu Beryl datang.
Mereka bertemu secara tidak sengaja di toko buku kecil dekat halte. Saat itu, buku yang sama jatuh bersamaan dari rak dan tangan mereka saling menyentuh. Qisty buru-buru menarik tangannya, tapi Beryl hanya tersenyum santai.
“Kalau kamu ambil bukunya, aku rela. Tapi kalau senyumnya juga diambil, itu kejam.”
Qisty memutar mata dan pergi. Namun anehnya, pria itu terus muncul di hidupnya. Kadang di kedai kopi, kadang di halte, kadang hanya lewat dengan sapaan singkat seolah semesta sengaja mempertemukan mereka.
Beryl berbeda. Ia tidak memaksa masuk ke hidup Qisty. Ia hanya hadir sebentar, sabar, dan hangat. Saat Qisty diam, Beryl menemani. Saat Qisty marah, Beryl mendengarkan. Saat Qisty menangis, Beryl tidak banyak bicara, hanya menyodorkan tisu dan duduk di sampingnya.
“Aku rusak,” kata Qisty suatu malam.
Beryl menatap langit. “Barang pecah bisa diperbaiki. Tapi kamu bukan barang. Kamu manusia yang sedang terluka.”
Kalimat itu membuat pertahanan Qisty runtuh. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menangis tanpa menyembunyikan wajahnya.
Hari demi hari, Qisty mulai tertawa lagi. Mulai percaya lagi. Mulai hidup lagi. Semua karena seseorang yang datang bukan untuk menyelamatkannya, tapi untuk menemaninya sembuh.
Suatu sore, di tempat pertama mereka bertemu, Beryl menyerahkan buku yang dulu jatuh dari rak. Di halaman pertama tertulis:
"Aku tidak datang saat kamu sempurna. Aku datang saat kamu hancur, supaya kamu tahu… bahkan dalam keadaan itu pun, kamu tetap layak dicintai."
Qisty menutup buku itu dengan mata berkaca-kaca.
Kadang, seseorang datang bukan saat kita siap. Tapi saat kita paling membutuhkan alasan untuk bertahan.
14/05/2026
"Kita Dipertemukan oleh Hujan"
Karya : Crush In Secret
Adit selalu membenci hujan. Baginya, hujan hanya membawa macet, jalanan becek, dan kenangan yang tak ingin ia ingat. Setiap kali langit mendung, ia memilih pulang cepat dan mengurung diri di kamar.
Namun sore itu berbeda. Saat hujan turun deras, Adit terjebak di bawah atap halte tua yang nyaris roboh. Ia berdiri sambil kesal, menunggu reda.
Lalu datang seorang gadis berlari kecil menerobos hujan. Rambutnya basah, wajahnya penuh tawa, seolah hujan adalah taman bermain. Gadis itu berhenti tepat di samping Adit sambil terengah.
“Untung ada halte,” katanya sambil tersenyum.
Adit hanya mengangguk singkat.
“Kamu nggak s**a hujan, ya?” tanya gadis itu lagi.
“Kelihatan banget?”
“Iya. Orang yang s**a hujan biasanya nggak pasang muka sedih begitu.”
Adit menatapnya heran. “Memangnya kamu s**a hujan?”
Gadis itu mengulurkan tangan. “Fika. Dan aku cinta hujan.”
Sejak pertemuan aneh itu, Adit dan Fika sering bertemu setiap kali hujan datang. Kadang di halte yang sama, kadang di kedai kopi dekat jalan itu. Fika selalu punya alasan sederhana untuk bahagia—bau tanah setelah hujan, suara rintik di jendela, atau langit abu-abu yang menurutnya romantis.
Sedikit demi sedikit, Adit mulai menunggu hujan turun. Bukan karena ia mulai menyukai cuaca itu, tapi karena hujan selalu membawa Fika.
Sampai suatu hari, hujan turun sangat deras, namun Fika tak datang. Hari berikutnya, tetap tak ada. Minggu demi minggu, halte itu kosong.
Adit mencari ke kedai kopi, ke jalan biasa mereka lewati, tapi Fika seakan lenyap ditelan langit.
Sampai pemilik kedai menyerahkan sebuah amplop kecil yang ditujukan untuk Adit. Di dalamnya ada surat dari Fika.
"Adit, maaf kalau aku pergi tanpa pamit. Aku harus pindah kota mengikuti pengobatan ibu. Tapi aku senang, karena dulu hujan mempertemukan kita. Sekarang, setiap kali hujan turun, jangan sedih lagi ya. Anggap saja itu caraku menyapa dari jauh."
Adit menatap langit yang mulai mendung. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum saat tetes pertama jatuh di pipinya.
Karena kini ia tahu, hujan bukan tentang kehilangan.
Hujan adalah cara semesta mempertemukan dua hati yang tak sengaja saling menemukan.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the school
Website
Address
Jalan Raya Cibodas, PO BOX 3 Sdl, Cipanas, Kabupaten Cianjur
Cianjur Regency
43253