Rumah Riyadhoh
Komunitas Rumah Riyadhoh
01/01/2023
I have reached 100 followers! Thank you for your continued support. I could not have done it without each of you. 🙏🤗🎉
01/09/2022
Ibadah kamu untuk siapa?
Mungkin ini shalat paling tidak khusyu yang kulakukan. Memiliki anak anak usia balita dan batita itu, ujian banget buat ibu ibu sepertiku. Bukan karena masalah repot mengurusi mereka, tapi ibadah seringkali terganggu. Aku yakin semua ibu yang punya anak balita atau batita pasti pernah merasakannya.
Saat lagi shalat, pas sujud, anak naik ke punggung main kuda kudaan. Saat berdiri, anak merangkul kaki dan bergelayut layaknya ayunan. Saat lagi duduk, minta digendong di punggung. Belum lagi mukena ditarik, atau main sembunyi di dalam mukena. Grrh, pokoknya mau shalat khusyu itu susah banget kalau ada anak anak.
Tidak hanya pas shalat, saat mau ngaji, Al Quran yang kupegang diambil. Kadang, ada sebagian halaman yang disobek.
Dan barusan, aku rasanya kesal sekali. Pasalnya, saat shalat berjamaah bersama suami dan anak anak, si kecil berkali kali naik punggung pas aku duduk dan sujud. Lalu merangkul kaki dan bergelayut saat berdiri. Sedangkan aku harus mengikuti gerakan imam shalat yang saat itu sulit kuimbangi. Jadilah shalatku benar benar terganggu.
Mau marah sama anakku, gak bisa. Karena dia masih batita. Marah sama suami yang jadi imam juga gak bisa karena gak ada alasan. Akhirnya jadi kesal sendiri. Sudah shalat gak khusyu, kesel, lagi. Akhirnya aku diam. Mencoba menenangkan diri.
Begini nasib ibu ibu. Mau khusyu shalat saja gak bisa. Duduk buat ngaji digangguin terus sama anak. Gimana target ibadahku bisa tercapai? Keluhku.
“Kenapa mengeluh sih? Santai ajalah, ibadah digangguin anak anak kan biasa.” Innerku.
Masalahnya, target ibadahku jadi terhambat. Liat, hari ini aku cuman bisa ngaji tiga lembar. Belum lagi shalat maghrib tadi gak khusyu sama sekali. Sedekah hari ini kepake jajan sama anak anak. Shalat dhuha gak jadi karena kerjaan rumah sama ngurus anak anak. Dzikir ku sampai lupa hitungan karena tasbihnya diambil anak anak. Gimana mau lomba ibadah kalau kayak gini?
“Emang lomba ibadah sama siapa?” Tanya innerku lagi.
Ya bukan sama siapa siapa. Tapi kan aku punya target. Dan target ibadahku harus nambah tiap bulannya. Masak ibadah aku gak ada peningkatan. Dari dulu segitu segitu juga. Kan malu.
“Malu? Malu sama siapa?” Tanya innerku lagi.
Malu sama Allah lah. Udah dikasih rezeqi tiap hari, koq ibadahnya gak ningkat.
“AstaghfiruLlah. Emang kamu fikir Allah itu kayak manusia?”
“Yang berfikir picik, melihat ibadah hanya sebatas shalat, dzikir dan teman temannya itu hanya manusia. Yang sok pintar menilai amal ibadah hanya dari zhahirnya saja juga cuman manusia. Dan yang tidak apresiatif terhadap ibadah seseorang juga cuma manusia. Jangan samakan Allah dengan manusia.”
“SubhanaLlahu. Allah Maha Suci dari sifat sifat dan prasangka buruk manusia.”
Maksudnya? Tanyaku heran.
“Allah itu Maha Mengetahui. Allah itu Maha Melihat Zhahir dan Bathin. Allah Tahu kalau kamu sudah berusaha khusyu saat ibadah padaNya. Lalu Allah juga Tahu kalau anak anak yang Dia titip padamu ikut partisipasi saat kamu shalat, ngaji, dzikir, dan ibadah lainnya. Apa lantas Allah menilai ibadah mu jelek?”
“Allah Maha Mengapresiasi. (Laa udhii’u ‘amala ‘aamilin minkum min dzakarin au untsa). Allah tidak menyia nyiakan amal perbuatan seseorang diantara kalian, laki laki atau perempuan. Fa man ya’mal mitsqoola dzarrotin khoiron yarroh. Allah akan Membalas amal baik manusia, walaupun amalnya hanya sebesar biji atom.”
“Kamu fikir Allah akan menyia nyiakan shalat kamu yang sambil harus memegang anak yang naik ke punggung kamu? Atau kamu fikir hanya ibadah mahdhoh kamu saja yang Membuat Allah senang?”
“Allah Akan Mencintaimu saat kamu mengurus titipan titipanNya, anak anak yang kamu rawat. Anak anak yang kamu ajak shalat, anak anak yang ikut kamu ngaji, anak anak yang kamu ajari, anak anak yang kamu ajak main, kamu beri jajanan, kamu gembirakan dan hibur setiap saat. Allah juga Sangat Menghargai pekerjaan kamu mengurus rumah, mencuci, memasak, membersihkan rumah, melayani suami dan anak anakmu. Semua itu amal ibadah kamu yang ghoiro mahdhoh. Dan semua itu Bernilai Besar di sisi Allah.”
Ingat gak dengan kisah para shahabiyah zaman Rasul?”
“Atsma binti Yazid, wakil kaum perempuan, pernah protes pada Rasul. Karena para laki laki bisa mendapat pahala dari shalat berjamaah dan jihad sedangkan para perempuan lebih diutamakan beramal di dalam rumah. Mengurus rumah, melayani suami dan anak anak mereka. Bagaimana bisa mereka mampu menyamai ibadah para laki laki dan mendapat pahala seperti kamu laki laki?”
“Dan RasulluLlah SAW menjawab bahwa amal nya para wanita di dalam rumah bisa menyamai amal para laki laki. Para perempuan bisa mendapat pahala yang menyamai pahala untuk para laki laki dengan pekerjaan dan urusan mereka di dalam rumah.”
“Dengan jawaban itu, para wanita mukmin merasa senang. Karena yang mereka tuju adalah Allah. Bagaimana bisa Menyenangkan Allah. Bukan jenis amalnya. Dan saat mereka tahu bahwa amal ibadah mereka dalam bentuk mengurus rumah dan keluarga bisa menyenangkan Allah, sama seperti shalat berjamaah di masjid atau jihad, mereka, para wanita itu gembira.”
“Jadi kenapa kamu mesti kesal dan merasa terganggu dengan masalah anak anak yang terkesan mengganggu ibadah kamu?”
Aku paham itu. Aku hanya kesal karena target targetku jadi banyak terbengkalai karena anak anak.
“Memangnya kamu ibadah untuk siapa? Untuk Allah atau untuk target Ego kamu?”
Jleb.
“Kalau kamu ibadah untuk Allah, dan kamu yakin Allah Maha Mengapresiasi amal ibadah manusia, kenapa kamu kesal saat target harian tidak tercapai karena kamu mengurus titipan titipan Allah?”
“Kenapa mesti mengeluh saat harus shalat sambil digelayuti anak yang Allah titip? Toh kamu shalat untuk Allah, ngurus anak juga untuk Allah. Meski repot, tapi kalau untuk Allah, berharap Allah Ridho Allah, kenapa kesal ?” Retoris Innerku.
Masalahnya target ibadah harian aku jadi gak tercapai.
“itulah masalah utamanya. Kamu ibadah untuk mencapai target. Kamu ibadah untuk memenuhi ego kamu. Bukan murni untuk Allah. Kamu merasa puas saat target harian kamu tercapai. Ibadah kamu bukan untuk Allah semata. Tapi untuk kepuasan ego kamu. Kamu jadi merasa tertekan saat target tak tercapai. Lalu kamu tumpahkan rasa tertekan itu dalam bentuk kesal pada anak anak kamu. Menganggap mereka sebagai pengganggu Ego kamu. Pada akhirnya, ibadah seperti itu bukan mendekatkan, malah menjauhkan kamu dari Allah.”
“Esensi ibadah menghamba pada Allah jadi hilang. Berganti menghamba pada ego diri. Yakinlah jika ibadahmu seperti ini, Kamu akan lelah. Jangankan kenikmatan ibadah, bahkan kedekatan dengan Allah pun tidak akan tercapai. Pada titik tertentu, ibadah seperti ini hanya akan berakhir tanpa hasil. Ibarat bulir padi yang kosong. Tidak ada isi.”
Aku diam.
Benar.
Aku sudah tersesat. Ibadahku bukan untuk Allah. Untuk ego pribadi. Atas nama target. Pantas saja aku tidak merasakan nikmatnya. Dan pantas saja jika aku jadi merasa anakku pengganggu ibadahku.
Padahal jika saja aku tidak terbuai target si ego, se repot apapun ibadah sambil ngurus anak anak, tidak akan membuatku kesal. Bukankah Rasul pun pernah sujud lama saat shalat karena cucu beliau bermain main di punggungnya? Dan Beliau tidak kesal apalagi marah pada cucu Beliau SAW.
Ya karena shalat adalah ibadah mahdhoh yang disukai Allah. Mengurus anak titipan Allah, dan membuat anak senang juga ibadah ghoiro mahdhoh yang disukai Allah. Jadi, seharusnya kedua amal tersebut, aku lakukan saja dengan senang hati.
“Memiliki target dalam ibadah bukanlah hal yang salah. Jadikanlah target sebagai penyemangat untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Namun jangan jadikan target sebagai tujuan. Karena itu hanya akan memperbesar ego dan menjauhkan keikhlasan dalam ibadah. Simplenya, jika ibadah kita untuk Allah, sadarilah bahwa Allah lah yang membuat kita mampu mencapai target. Bukan diri kita sendiri. Dan pada saat target tidak tercapai, kita segera sadar betapa lemahnya diri kita. Bahkan untuk ibadah pun kita butuh Bantuan Allah.”
Laa haula wa laa quwwata illa biLlahi.
Ampuni aku yaa Allah. Aku tersesat. Ibadahku bukan untukMu. bimbing aku yaa Allah agar bisa beribadah hanya untukMu. Aamiin.
Mau mendapat bimbingan untuk bisa ikhlas ibadah untuk Allah? Ikuti privateclass MMA “Mudahnya Mencintai Allah” bersama Komunitas Rumah Riyadhoh. Acara diselenggarakan setiap hari ahad. Bertempat di ruang training Toko Kue Rafita’s Cake. Training ini terselenggara atas kerjasama Komunitas Rumah Riyadhoh bersama Toko Kue Rafita’s Cake.
Wassalam.
www.rumahriyadhoh.com
31/08/2022
Hadiah
Malam ini, Aghna gelisah sekali. Pasalnya, malam ini ada panggung tujuh belasan yang acaranya, selain aneka lomba untuk anak usia SD ke atas, namun juga ada pembagian hadiah untuk pemenang lomba tujuh belasan minggu sebelumnya. Sebagai pemenang lomba lari untuk anak usia TK, Aghna merasa malam ini dia akan dipanggil ke panggung dan mendapat hadiah. Apalagi gosip dari tetangga juga sudah ramai, kalau pemenang lomba sebelumnya bakal dapat hadiah.
Sayangnya, sejak maghrib, hujan turun. Otomatis Aghna gak bisa keluar rumah. Dia gelisah, khawatir hadiahnya gak dia dapat. Padahal dia merasa berhak mendapat hadiah. Walhasil dia merajuk, minta diantar ke panggung tujuhbelasan demi hadiah.
Aku mengalah sama Aghna. Daripada dia merajuk sepanjang malam, lebih baik aku bawa dia lihat panggung tujuhbelasan dan bertanya pada panitia tentang hadiahnya. Ternyata oh ternyata. Menurut panitia, hadiah untuk Aghna sudah diberikan saat lomba selesai. Berupa sekotak susu dan biskuit.
Malu rasanya menanyakan hadiah yang ternyata sudah diberi. Tapi aku hanya bisa senyum sambil mengusak rambut anakku ini.
Hadiah. Sama seperti kita, orang dewasa selalu mengharap hadiah saat merasa sudah melakukan suatu amal kebaikan.
Sepertinya aku juga sama dengan Aghna. Anakku yang baru berusia lima tahun. Aku selalu mengharap hadiah saat sudah beramal. Saat merasa ibadahku sudah banyak. Saat merasa aku sudah sering berdoa. Aku mengharap hadiah dari Allah.
Dan saat hadiah itu kurasa belum didapat, aku juga gelisah. Kapan Allah memberiku hadiah? Padahal aku sudah rutin tahajud, puasa, berdoa, dzikir, sedekah, dan semua amal ibadah yang mampu kulakukan. Aku merasa seperti anak berumur lima tahun yang gelisah saat hadiah dari Allah belum kudapat.
Dan, jangan jangan aku juga sama seperti Aghna yang tidak sadar bahwa hadiah untukku sudah diberi Allah?
Bukankah selama ini Allah masih memberiku hidup? Masih memberiku Rezqi? Masih memberiku kebahagiaan saat melihat anak anakku tertawa, atau bahkan saat mereka ribut memperebutkan sesuatu?
Bukankah Allah juga selama ini telah menjagaku dari bahaya? Allah juga Menutupi aib aibku. Dan bahkan banyak doa doaku yang telah diqabulNya.
Aahhh kenapa aku jadi seperti Aghna. Anak kecil yang menuntut hadiah, padahal sebenarnya hadiah telah kudapatkan. Bahkan hadiah dari Allah melebihi amal ibadahku selama ini.
Pantas saja aku sering gelisah saat belum mendapatkan keinginanku. Rupanya aku masih seperti anak kecil. Melakukan sesuatu karena berharap hadiah semata. Sehingga gelisah jika belum mendapatkannya.
Malu. Seharusnya, sebagai orang dewasa aku beramal bukan untuk hadiah. Tapi karena ikhlas untuk Rabbku semata. Seharusnya aku juga sadar, bahwa hadiah dari Allah itu setiap hari kurasakan. Setiap desah nafas dan detak jantung ini, adalah hadiah dari Allah. Bahkan kesadaran bahwa semua yang ada pada diri ini adalah hadiah dari Allah, sebenarnya merupakan hadiah dari Allah. Hidayah untuk Iman pada Allah, beribadah padaNya, itu pun adalah hadiah.
Yaa Allah, begitu banyak Hadiah Yang Telah Kau Beri padaku. Dan seringkali aku tidak menyadarinya. Betapa Bodoh dan Sesatnya diri ini, tidak menyadari Hadiah dariMu.
Pantas saja, Abu Bakar Ash Shiddiq dan para sahabat Rasul dijamin masuk surga. Mereka beribadah, menghamba pada Allah tanpa kenal waktu. Istiqomah. Dalam keadaan senang ataupun sulit. Tanpa mengharap hadiah. Mereka beribadah dan beramal, ikhlas semata untuk Allah. Bukan karena hadiah dunia ataupun surga. Dan mereka juga sadar bahwa sudah demikian banyak hadiah Yang Allah beri untuk mereka, sehingga ibadah mereka hanyalah bentuk penghambaan dan syukur mereka pada Allah.
Sedangkan aku. Aku masih begitu jauh dari mereka.
AstaghfiruLlah. Ampuni aku Yaa Robbal ‘Aalamiin.
Mohon beri petunjukMu agar aku selalu menyadari hadiah dariMu setiap saat. Mudahkan aku untuk bisa mengikuti para sahabat RasulMu. Ibadah semata untuk menghamba dan bersyukur pada Mu. Bukan untuk hadiah. Aamiin.
Bagi anda yang ingin bisa menyadari hadiah dari Allah setiap saat. Dan merasakan indahnya Menghamba dan bersyukur pada Allah tanpa mengharap hadiah.
Mari Riyadhoh bersama komunitas rumah riyadhoh. Ikuti private trainingnya setiap ahad. Bertempat di Ruang training Toko kue Rafita’s cake. Private Class MMA “Mudahnya Mencintai Allah”.
www.rumahriyadhoh.com
26/08/2022
Pertarungan Sepanjang Masa (part 2)
“Kenapa ada pergolakan bathin? Tadi katanya Ruh kita dari Allah, suci selalu menyuruh pada kebaikan yang dikehendaki Allah.” Tanyanya.
“Ruh memang selalu menyuruh pada kebaikan. Tapi jangan lupa, dalam diri kamu juga ada hawa nafsu. Ingat tadi, saat tubuh manusia diciptakan di alam Rahim, tubuh ini, pikiran ini, perasaan ini, dipengaruhi juga oleh lingkungan, oleh manusia yang menjadi orang tua kita, oleh makanan yang kita makan, oleh ucapan dan bisikan pada tubuh kita. Sehingga manusia juga punya hawa nafsu, yang dalam pembentukannya, banyak mendapat campur tangan dari selain Allah. Makanya, dalam hati manusia selalu terjadi pertarungan atau pergolakan bathin. Di satu sisi, ada Ruh yang menyuruh pada kebaikan atau Taqwa, tapi di sisi lain ada hawa nafsu yang menyuruh pada keburukan atau Fujur.
Di Al Quran Surat Al Balad ayat 8 disebutkan bahwa Allah mengilhamkan jalan kefujuran dan ketakwaan pada manusia. Dan kondisi hati manusia, setiap saat akan selalu mengalami pertarungan antara fujur dan takwa. Pertarungan antara Ruh dan Hawa Nafsu. Jika Ruh menang, maka manusia akan berbuat baik, akan bertakwa, mengikuti seluruh aturan Allah, hanya menjadi hamba Allah. namun, jika yang menang adalah hawa nafsu, jadilah manusia itu berbuat jahat, zhalim, fasik, kufur, melanggar aturan Allah, menumpahkan darah, merusak bumi, dan bahkan menjadi hamba dunia, hamba manusia lain, hamba hawa nafsu, bahkan hamba syetan malah.” Paparku.
“Hiiih…. Jadi manusia-manusia yang saat ini banyak berbuat jahat dan kerusakan itu manusia yang Ruh nya kalah oleh hawa nafsu ya Bu?” Tanyanya untuk meyakinkan.
“Iya. Menurut kamu, kira kira bisa hidup tenang gak, kalau hawa nafsu yang menang?” tanyaku.
“Kayaknya nggak sih Bu. Buktinya, orang yang jahat itu hidupnya sering was was. Aku juga kalau pernah mau nyontek, deg deg an banget. Takut ketahuan. Mau berbuat curang itu gak enak.” Jawab anakku.
“Nah itu tahu. Tubuh kita dan seluruh isinya, Allah yang ciptakan, maka sebenarnya, tubuh kita akan bereaksi negative pada hal Yang Tidak Allah Sukai. Itulah Fithrah manusia.” Jawabku.
“Tapi orang yang jahat itu koq kayak yang tenang Bu, seolah mereka tidak berbuat kejahatan. Kayak koruptor, mereka bergelimang harta. Hidupnya juga kayak senang dan tenang?” Tanya anakku penasaran.
“Kata siapa mereka hidup tenang dan senang? Sudah pasti mereka was was dan tidak tenang. Berapa banyak Bodyguard yang harus mereka sewa? Berapa banyak uang yang harus mereka keluarkan untuk menyuap sana sini agar kejahatannya gak terbongkar?
“Tahu gak Raja yang paling zhalim seperti Firaun dan Namrudz? Mereka contoh manusia yang ruhnya kalah telak dibanding hawa nafsunya. Kira kira hidup mereka tenang gak?” Tanyaku.
“Kayaknya sih nggak.” Jawab anakku.
“Kenapa? Apa Buktinya mereka gak tenang?” Tanyaku.
“Jelaslah bu. Firaun dan Namrudz itu, Kekuasaannya Besar, Hartanya banyak, bahkan Firaun gak pernah sakit, tapi mereka hidupnya penuh ketakkutan. Takut kalau suatu saat ada yang menghancurkan kekuasaannya. Sampai sampai, sama bayi pun mereka takut. Mereka membunuh bayi bayi yang lahir saking takutnya bayi bayi itu akan menjadi penghancur kekuasaannya kelak.” Jawabnya dengan Bangga, seolah menang quiz.
“Pinter kamu.” Senyumku.
“makanya, jadilah manusia hamba Allah, jangan hamba yang lain. Cukup Allah saja jadi Tuhan, Pengatur dan Pelindung kita. Menangkan Ruh dalam jiwa kita. Jangan biarkan hawa nafsu menang. Pasti seluruh hidup kita akan baik.
Ingatlah Sabda Nabi SAW, “ketahuilah, dalam jasad manusia itu ada segumpal daging. Apabila baik segumpal daging itu, maka akan baik sesluruh tubuhnya. Dan apabila Buruk segumpal daging itu, maka buruk p**a seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah Qalbu (Hati).” (Terjemah HR Muttafaq ‘alaih).
“Jadi kamu sekarang sudah paham, kenapa ada orang berbuat jahat, ada juga orang berbuat baik. Pertarungan tiada henti dalam hati manusia antara Ruh dan Hawa Nafsu. Siapa pemenangnya, tergantung kita. hati kita begitu mudah bolak balik, antara Ruh dan Hawa Nafsu. Antara Fujur dan taqwa. Karena makna Qolbu memang Bolak balik. Untuk itulah ada doanya, Yaa Muqolibal Quluub. Tsabit Qolbii ‘alaa diiniKa. Wahai Dzat Yang Maha Membolak Balikan Hati, Teguhkan Hati ini dalam agamaMu.”
“Tahu gak, kenapa harus ada pertarungan dalam hati manusia? kenapa mesti ada Ruh dan Hawa Nafsu yang melakukan pertarungan Sepanjang Masa?” Tanyaku.
“Iya yah, kenapa? Kenapa Allah mesti menciptakan manusia itu punya hawa nafsu? Kenapa gak Allah ciptakan saja manusia itu kayak malaikat, baik semua?” Anakku balik bertanya.
“Itulah istimewanya manusia ciptaan Allah. Jika malaikat baik, Taat pada Allah, hanya mensucikan Allah, itu wajar. Karena mereka tidak punya hawa nafsu. Tapi Jika manusia Taat pada Allah, hanya menjadi Hamba Allah, senantiasa mensucikan Allah, bukankah itu Luar biasa? Karena Ruh nya bisa menang saat bertarung melawan hawa nafsu. Itulah sebabnya, manusia adalah makhluk paling mulia. Sebaik baik Ciptaan.”
“Dalam sebuah pertarungan akan ada pemenang. Manusia yang bisa menang melawan hawa nafsu, akan mendapat predikat Hamba Allah yang istimewa, bisa mendapat Cinta Allah, Bisa menjadi Kekasih Allah. Allah akan memberinya hadiah atas kemenangannya. Kebahagiaan Di Dunia dan di Akhirat. Bahkan Allah akan memberinya hadiah berupa Pertemuan dengan Allah di SurgaNya kelak.”
“Kalau kamu menang lomba Tahfidz, misalnya, senang gak kalau dapat hadiah?” Tanyaku.
“Seneng lah Bu.” Jawab anakku.
“Lalu kalau ternyata sebagai pemenang lomba, kamu dikasih hadiah oleh Syeikh yang kamu kagumi, misalnya oleh Syeikh Mishari Rasyid, yang kebetulan beliau yang membuat lomba, sekaligus penyandang dana lombanya tersebut, bagaimana?” Tanyaku.
“Wah, itu senengnya berkali kali lipat Bu. Bisa ketemu Syekh, trus jadi bisa kenal dan dikenali beliau sebagai pemenang lomba, itu Luar biasa banget Bu.” Jawabnya antusias.
“Nah itu baru jadi pemenang lomba dan dapat hadiah serta ketemu langsung sama Syeikh, senengnya udah banget. Apalagi kalau kita bisa memenangkan perlombaan dan pertarungan dalam bathin kita ini. Lalu saat jadi pemenangnya, kita bisa dapat hadiah, bahkan bertemu Allah langsung. Hadiah bertemu Allah di Surga.” Paparku.
“AlhamduliLlah aku sekarang paham Bu. Luar biasa ya Allah, menciptakan diri kita dengan segala potensi kita, lalu memberikan tantangan, dan pada saatnya, Ketika kita bisa memenangkan tantangan ini, Allah kasih hadiah pada kita.” Papar anakku.
“Maha Baiknya Allah, dan Maha Cintanya Allah pada kita, Allah bahkan memberi kita bekal dan petunjuk untuk bisa menang dalam pertarungan ini. Kamu tahu apa bekal dan petunjukNya?” Tanyaku.
“Oya? Kita dikasih bekal dan petunjuk biar menang? Allah Baik Banget ya Bu.” Tanya anakku tercengang.
“Al Quran dan Rasul, itu kan Allah beri buat kita biar kita bisa memenangkan pertarungan Tambahan lagi Allah kasih hidayah pada semua manusia, agar bisa menang melawan hawa nafsu. Allah Maha baik kan? Jadi kalau ada manusia yang berpaling dari Allah, hawa nafsunya menang, tidak mau taat pada Allah, itulah manusia yang ada penyakit dalam hatinya. Bahkan manusia itu mengunci mati hatinya dari Allah sehingga derajatnya jatuh menjadi manusia hina.” Paparku.
“Iih berarti kalau kita kalah melawan hawa nafsu, kita keterlaluan ya Bu. Padahal sudah dikasih hidayah, diturunkan Rasul dan Al Quran. Gimana caranya biar Ruh kita selalu menang Bu? Biar kita menjadi orang baik, hanya menjadi hamba Allah?” Tanya anakku.
“Nanti kita diskusi lagi yaa. Sekarang, kamu ikutan PrivateClass MMA “Mudahnya Mencintai Allah” biar lebih paham tentang hakikat diri kamu, dan bagaimana caranya menjadi hamba Allah Yang diCintai Allah.”
Bagi pembaca yang ingin lebih paham tentang hakikat diri, ap aitu Ruh, dan bagaimana bisa memenangkan Ruh dalam jiwa kita, silakan ikuti PrivateClass MMA “Mudahnya Mencintai Allah” bersama Komunitas Rumah Riyadhoh, setiap hari Ahad, di Ruang Training Toko Kue Rafita’s Cake. Acara ini terselenggara atas Kerjasama Komunitas Rumah Riyadhoh dengan Toko Kue Rafita’s Cake.
www.rumahriyadhoh.com
25/08/2022
Pertarungan Sepanjang Masa (part 1)
Obrolan sore ini cukup menguras energiku untuk berfikir. Awalnya, Anak remajaku bertanya tentang kasus pembunuhan yang sedang marak diulas oleh Media Nasional. Ya, kasus yang sangat menohok jantung aparat bahkan institusi keamanan di negeri ini. Seorang perwira yang dibunuh oleh Atasannya. Entah apa alasannya, karena begitu banyak ulasan alasannya, dimulai masalah skandal, hingga LGBT. Terus terang, aku tidak tertarik untuk menyimaknya. Karena kasus-kasus seperti ini acapkali sering terjadi, dan di boomingkan, entah untuk alasan politik, kekuasaan dan jabatan ataupun untuk menutupi isu lain.
Bukan tidak mau tahu, hanya saja aku cukup muak dengan permasalahan seperti itu. Kriminalitas, masalah ekonomi, dan politik sering berkaitan dalam satu kasus. Mungkin benar kata novel yang kubaca. Negeri ini penuh dengan para bedebah yang haus kekuasaan, harta, dan jabatan. Dan mereka sama sekali tidak peduli dengan yang Namanya Keadilan, ataupun Kemakmuran bagi rakyat negeri ini.
Pertanyaan anakku saat itu cukup kritis. “Kenapa sih manusia membunuh manusia lain? Seolah nyawa itu begitu murah? Jika pada akhirnya seseorang hanya menjadi seorang pembunuh, kenapa Allah menciptakan dia? Bukankah lebih baik Allah ciptakan saja semua manusia itu baik. Sehingga tidak akan ada kejahatan di dunia ini. Dan kita semua bisa hidup dengan tenteram.” Ujarnya.
Aku tidak mengira pertanyaan itu bisa lolos dari mulut anakku yang sehari hari kerjaannya hanya main game dan nonton anime pertarungan. Namun, mungkin inilah sisi keajaiban yang Allah beri pada manusia. Akal Fikiran, hati Nurani yang ada pada manusia. manusia bisa mencerap fakta yang terjadi, dan memberikan penilaian atas fakta. Di tambah hati Nurani yang tidak menyukai hal hal yang kejam, serakah, tidak adil, dan hal hal yang dirasa tidak baik serta menyalahi fithrahnya.
“Nak, ingat tidak dalam Surat Al Baqarah ayat 30, tentang Penciptaan Nabi Adam as?” Tanyaku.
“Yang isinya Allah menciptakan manusia untuk menjadi Khalifah Fil Ardh?” Tanyanya.
“Yup. Di dalam ayat tersebut, Allah menyampaikan pada malaikat bahwa Allah akan menjadikan manusia itu Khalifah Fil Ardh. Manajer, yang mengelola bumi ini. Lantas apa kata malaikat?” Ujiku.
“Malaikat bertanya, Apakah Allah akan menjadikan orang yang merusak bumi dan menumpahkan darah di bumi. Sedangkan para Malaikat selalu bertasbih memuji Allah dan mensucikan Allah?” Jawabnya.
“Dan Allah berfirman, sungguh Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh Makhluknya.” Lanjutku.
“Jadi, Allah Tahu bahwa sebagian manusia akan melakukan pertumpahan darah, dan merusak bumi. Namun Allah juga Tahu bahwa ada manusia yang benar benar bisa menjadi Khalifah di bumi. Yang menjaga, mengelola bumi ini dengan benar sesuai keinginan Allah. Bahkan Allah Tahu ada manusia yang akan bertasbih, memuji, dan mensucikan Allah di bumi ini. Kamu tahu kenapa?” Tanyaku.
“Allah Yang Menciptakan Manusia Bu, otomatis Allah Maha Tahu segala hal tentang CiptaanNya ini.” Jawab anakku.
“Exactly, Allah Yang Maha Tahu tentang diri manusia. tentang diri kita. Bagaimana dengan manusia sendiri? Kamu, misalnya tahu tentang diri kamu sendiri? Potensi apa saja yang ada pada diri kamu? Untuk apa kamu diciptakan?” Tanyaku.
“Aku kurang paham bu. Tapi kata pa Ustadz, kita diciptakan untuk beribadah.” Jawabnya.
Aku tersenyum. Yup. Betul.
“Lantas kenapa ada orang yang menumpahkan darah dan merusak bumi? Apa mereka tidak tahu kalau mereka diciptakan untuk ibadah pada Allah? Bukankah itu bertentangan dengan Fithrah manusia?” Tanyanya.
“Nak, Manusia adalah Makhluk ciptaan Allah yang terbaik. Allah menciptakan manusia fii ahsani taqwiim. Bentuk terbaik, karakter terbaik, potensi terbaik. Dan Allah menciptakan manusia itu untuk menjadi hamba, atau abdun, Ibaad nya Allah. Menjadikan Allah satu satunya Rabb. Pemilik, Raja, Penguasa, Pengatur, Pelindung, Pemberi dan seluruh hal yang ada dalam Asmaul husna. Saat Allah menciptakan kita dalam bentuk Ruh, atau arwah, Allah mengumpulkan seluruh Ruh atau Arwah ini. Lalu Allah bertanya. ‘A lastu bi Rabbikum? Bukankah Aku adalah Tuhan kalian?’ dan Ruh Ruh atau Arwah itu menjawab. ‘Balaa syahidnaa’. Yaa Benar, kami bersaksi.”
“Jadi Ruh kita masing masing sudah bersaksi dan berjanji menjadikan Allah sebagai satu satunya Rabb Manusia. Ruh ini bersifat suci karena langsung diciptakan Allah. Ruh ini selalu cenderung pada kebaikan dan segala hal baik sesuai dengan Keinginan Allah. Ruh ini, ditiupkan pada tubuh atau raga manusia saat dalam kandungan ibu.”
Di Hadits Riwayat Bukhari Muslim, disebutkan bahwa ‘manusia diciptakan dalam Rahim ibunya selama 40 hari dalam bentuk Nuthfah, lalu menjadi segumpal darah (Alaqah) selama 40 hari, lantas berubah menjadi segumpal daging (Mudghah) selama itu juga, lalu Allah utus Malaikat untuk meniupkan Ruh kepadanya.
Hanya saja, saat manusia lahir, Ruhnya dalam keadaan lupa.
Manusia lahir dengan karakteristik fisik yang menurun dari orang tuanya. Karakter dan sifatnya juga terpengaruh dengan sifat dan karakter orangtuanya. Sekaligus makanan yang dimakan orang tuanya. Amal perbuatan orang tua, terutama ibunya ikut berpengaruh. Harta halal atau haram yang didapat orang tuanya lantas dimakan oleh sang anak juga berpengaruh pada fisik dan sifat yang dikandung anak. Sedangkan ruh nya tidak terpengaruh apapun, selain pengaruh dari Rabb nya.
Seiring dengan perkembangan fisik seseorang, perkembangan akal fikiran, serta perasaannya, dan Ruh ini mulai ingat pada Rabb nya, maka muncullah pergolakan bathin dalam hati manusia. misalnya kamu. Kalau malam malam bangun, kamu pilih tahajud atau main game? Apalagi kalau malam internet lagi lancar jaya. Saat subuh, pilih ke masjid yang sholatnya lama, atau shalat sendiri di rumah, yang cepet. Abis shubuh pilih ngaji atau tidur lagi? Nah itu kan pergolakan bathin kamu.
“Kenapa ada pergolakan bathin? Tadi katanya Ruh kita dari Allah, suci selalu menyuruh pada kebaikan yang dikehendaki Allah.” Tanyanya.
(bersambung)
www.rumahriyadhoh.com
22/08/2022
Sumber Kekuatanmu Apa? (Bagian 2)
Dialog dengan Aghna ini sebenarnya sebuah pengingat bagiku. Bagi kita, manusia.
Dalam kehidupan kita, Ada tiga jenis usaha yang dilakukan manusia untuk bisa berhasil, bisa mencapai tujuan, keinginan, atau cita-citanya.
Yang pertama, jenis manusia yang menghalalkan segala cara untuk bisa menang. Manusia curang, culas. Manusia yang berusaha menjegal manusia lain untuk bisa mewujudkan keinginannya. Dalam kehidupan sehari hari, kita bisa melihat bagaimana seorang pengusaha menjatuhkan perusahaan saingannya dengan Black Campaign atau cara-cara curang lainnya untuk membangkrutkan perusahaan lain.
Seorang Politisi dan Penguasa menjatuhkan politisi atau penguasa saingannya untuk mendapat kekuasaan. Dengan serangan politik berupa Black Campaign lewat media, politik saling Sandra, rekayasa kasus, skandal, money politic, bahkan tindakan Kriminal.
Seorang Pejabat untuk mendapatkan jabatan tinggi dan melanggengkannya, seringkali melakukan tidakan curang berupa suap, menjatuhkan rekan saingannya dengan cara kotor bahkan tindakan criminal pun tidak terelakkan jika dirasa jabatan dan kedudukannya terancam.
Dalam dunia Pendidikan, seorang pelajar bisa jadi curang dalam ujian dengan mencontek, membayar joki ujian, menyuap guru atau dosen, membully teman yang dianggap saingan, dan beragam kecurangan lainnya.
Begitu pun dalam berbagai bidang kehidupan manusia lainnya.
Lalu apakah tipe manusia seperti ini bisa hidup Bahagia, jiwanya tenang, atau justru sebaliknya jiwanya akan terus bergolak menuntut kepuasan, keberhasilan, kemenangan yang tiada akhir. Ibarat meminum Air Laut yang asin. Tidak pernah hilang dahaganya. Manusia seperti ini akan terus kehausan hingga ia mati tenggelam dalam asinnya air laut.
Yang kedua, Tipe Manusia yang berusaha mengandalkan kekuatan dirinya sendiri untuk menang. Tipe ini akan berusaha maksimal untuk meraih tujuannya. Dia mungkin tidak akan curang karena percaya pada kemampuannya sendiri. Dia bisa saja berhasil meraih tujuannya. Hanya saja, tipe manusia seperti ini acapkali menjadi sombong.
Dia merasa bisa sukses karena usaha dan kerja kerasnya. Berhasil jadi pejabat karena prestasi gemilangnya. Berhasil jadi penguasa karena kecerdikannya. Berhasil jadi pengusaha sukses karena keuletannya dalam bisnis. Berhasil menjadi orang pop**ar karena kecerdasannya. Dan meremehkan orang lain yang belum mencapai keberhasilan seperti dirinya.
Kesombongannya ini berbahaya karena akan menjerumuskan dirinya pada Menuhankan dirinya. Menulikan telinga, membutakan mata dan mengunci hati dari kebenaran atau hidayah yang datang padanya. Saat kegagalan menghampiri, dia akan cenderung menyalahkan orang lain. Dan sulit menerima kenyataan. Hidupnya akan gelisah, dan capek karena selalu mengandalkan kekuatan diri sendiri.
Yang ketiga, Tipe manusia yang menjadikan Allah sebagai sumber kekuatannya untuk menang atau berhasil. Tipe ini menjadikan perjuangannya untuk menang atau berhasil semata karena Allah. Selalu meminta pertolongan Allah. Dan keberhasilan atau kemenangannya adalah pemberian Allah. Inilah tipe yang seharusnya dimiliki manusia. karena pada dasarnya, hidup kita dan semua hal yang ada pada kita semata-mata hanya titipan Allah. Saat menjadi penguasa, orang tersebut menyadari bahwa kekuasaan adalah titipan. Allah lah Sang Maha Kuasa. sehingga orang tersebut akan sangat hati hati dalam menjalankan kekuasaan. Khawatir membuat Sang Pemberi Kekuasaan tidak senang pada tindakannya dalam berkuasa atas rakyat.
Saat menjadi pengusaha kaya, orang tersebut akan menyadari bahwa Allah lah Yang memberinya Rezeqi dan Kesuksesan, sehingga dia akan mengelola kekayaannya sesuai dengan aturan Allah. Membagikan kekayaannya dengan sadar bahwa Rezeqi yang di tangannya terselip banyak Rezeqi untuk manusia lain. Dia tidak menggenggam dunia di hatinya, melainkan cukup ditangannya sehingga mudah dilepaskan.
Saat menjadi Pejabat, orang ini akan sadar bahwa jabatan adalah titipan Allah. Jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan aturan Allah. Dia tidak akan serakah dengan jabatan tinggi. Senantiasa hati hati dalam menjalankan Amanah sesuai ketetapan Allah.
Demikianlah. Dalam kehidupan apa pun, Jika seseorang menyadari bahwa semua yang ada padanya adalah pemberian Allah. Jika keberhasilannya semata mata karena pertolongan Allah. Jika Kecerdasan dan kepintarannya, hartanya, jabatannya, anak dan istrinya semua adalah pemberian serta titipan Allah. Niscaya dia akan mengelola semua titipan Allah itu sebaik baiknya sesuai Keinginan Allah. Untuk menyenangkan Allah.
Saat Allah mengambil kembali titipannya, baik berupa kekuasaan, jabatan, harta, anak istri dan seluruh isi dunianya, dia akan tawakkal. Karena dia tidak pernah merasa memilki itu semua.
Semuanya Dari Allah, Karena Allah dan Untuk Allah. Hatinya akan terasa damai. Jiwanya tenang.
Manusia seperti inilah yang sukses secara hakiki. Sukses menjadi hamba Allah. Sehingga akan dipanggil Allah sebagai jiwa yang tenang. Nafsul Muthmainnah. Kembali kepada Allah dengan Ridho dan Diridhoi Allah. Menjadi kesayangan Allah yang layak mendapatkan kebahagiaan dunia dan Akhirat.
Kita tinggal memilih. Mau menjadi tipe manusia seperti apa.
Apakah menjadi tipe manusia pertama, dengan jiwa yang berkobar, nafsul ammarah?
Ataukah tipe manusia kedua dengan jiwa yang masih terkadang baik, terkadang buruk, nafsul lawwamah?
Ataukah tipe manusia yang Jiwanya tenang, konsisten dan istiqomah mengabdikan diri sebagai hamba Allah?
Semua tergantung pilihan kita.
Jika anda ingin memiliki nafsul muthmainnah. Menjadikan Allah segalanya bagi anda. Sebagai sumber kekuatan anda, sebagai Yang Maha Menguasai anda hingga jiwa anda tenang karena ada Allah. Mari riyadhoh bersama Komunitas Rumah Riyadhoh.
Ikuti Privateclass MMA “Mudahnya Mencintai Allah” setiap hari ahad di Ruang Training Toko Kue Rafita’s Cake. Training ini terselenggara atas Kerjasama Komunitas Rumah Riyadhoh bersama Toko Kue Rafita’s Cake, The Halal Cake Solution. (us)
www.rumahriyadhoh.com
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the public figure
Telephone
Website
Address
Jalan Situ Pete Blok Bambu
Bogor
16165