PEDIR Museum
Pedir Museum bersifat universal, dan memilik kekayaan koleksi sejarah Islam Asia Tenggara disertasi deskripsi yang konkrit.
Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengumpulkan, Merawat, serta Melestarikan Barang-barang bersejarah seperti Naskah kuno(Manuskrip), Kain, Perhiasan Kuno, Senjata Zaman Kolonial, dan peraatan kehidupan Masyarakat Aceh tempo dulu.
01/01/2026
Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) pada tanggal 26 Oktober 2025 kembali melaksanakan Meuseuraya (Gotong Royong pembersihan dan penataan area makam) di Gampong Lamkuweuh, Meuraxa, Banda Aceh.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memenuhi inisiatif dari pemilik lahan yang melaporkan bahwa di area tanah miliknya terdapat bebatuan yang diduga nisan era kesultanan Aceh di masa lampau.
Kegiatan pembersihan area nisan tersebut diikuti oleh 13 orang dari beragam latar belakang, mulai dari kalangan profesional hingga mahasiswa, turut hadir p**a seorang mahasiswa asal Brunai Darussalam yang sedang menempuh studi di Aceh.
Kepedulian yang tinggi, keinginan untuk mempelajari jejak-jejak sejarah dan islam era kegemilangan Aceh, serta rasa tanggung jawab terhadap negeri inilah yang memanggil kawan-kawan Mapesa, untuk secepatnya bergerak jika ada laporan dari Masyarakat.
Kegiatan di area makam yang berasal dari Era Kesultanan Sumatra Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam ini meliputi pembersihan areal makam dari sampah, akar pohon, penggalian nisan yang sudah tertimbun tanah, penataan ulang, hingga perbaikan ringan nisan yang mengalami kerusakan.
Kredit video: Nanda Raisa Maulana
28/09/2025
Biografi Singkat Syaikh Yusuf ibn Isma’il Geulumpang Minyeuk At-Tirowy Al-Fidiry Al-Asyi Al-Jawiy (Abad 13 H/19 M)
Beliau ulama besar Aceh yang hidup pada penghujung abad ke-12 H hingga pertengahan abad ke-13 H. Berasal dari Geulumpang Minyeuk, Pidie, Aceh. Ulama yang telah menulis belasan risalah di berbagai bidang keilmuan. Dalam namanya, ia menisbahkan asal tempatnya (Geulumpang Minyeuk) dan juga kedudukannya pada at-Tirowiy (Tiro), merupakan pusat pendidikan keagamaan terkemuka dan melahirkan banyak cendekiawan pada masanya.
Karya tulisnya mencakup salinan kitab yang umumnya disertai ta'liq (komentar), maupun karya original berupa matan dan syarah, serta fatwa dan jawaban atas berbagai problematika umat Islam yang sampai kepadanya.
Murid-muridnya memanggil dengan sebutan Faqih Geulumpang Minyeuk, Syaikhuna Geulumpang Minyeuk, dan Syaikhuna Faqih Geulumpang Minyeuk Yusuf ibn Isma’il.
Kredit:
Masykur Syafruddin(Luengputu Manuskrip Aceh) - PEDIR Museum
Asyraf Aceh
Syahrial De Lingom
Teungku Mukhlis Caleu
Meuseuraya Akbar 2025. Kolaborasi Mapesa Aceh dengan Komunitas Beulangong Tanoh, PEDIR Museum, Aceh Darussalam Academy didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI LPDP Kementerian Keuangan RI
27/09/2025
Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin adalah ulama besar dari Pidie yang mendirikan Dayah Cut (di Tiro, Pidie, yang kini tersisa bekas kolam bersuci dan seni ukirnya), sebuah pusat pendidikan Islam yang mengajarkan ilmu agama sekaligus keterampilan militer. Dibesarkan sebagai pencinta ilmu, beliau mewariskan karya berupa Nazham Sifeut Dua Plòh, terjemahan 'Aqidatul 'Awam dalam Bahasa Aceh, yang menjadi bahan bacaan penting selama lebih dari satu abad. Selain sebagai pendidik yang mencetak ulama-ulama pejuang (termasuk kemenakannya, Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman), beliau adalah mujahid yang aktif dalam gerilya melawan Belanda, termasuk memimpin penyerangan benteng Lamteungoh tahun 1879. Beliau merupakan orang pertama yang menyandang gelar kehormatan "Teungku Chik di Tiro," kemudian diwarisi oleh para penerusnya. Beliau dikenang sebagai pemimpin spiritual, membela kaum lemah, pelindung orang-orang yang dizalimi, dan mempersiapkan generasi muda untuk melanjutkan perjuangan agama dan tanah air.
Kredit:
Rijksuniversiteit te Leiden
Masykur Syafruddin(Luengputu Manuskrip Aceh) - PEDIR Museum
Foto: Irfan M Nur
Meuseuraya Akbar 2025. Kolaborasi Mapesa Aceh dengan Komunitas Beulangong Tanoh, PEDIR Museum, Aceh Darussalam Academy didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI LPDP Kementerian Keuangan RI
26/09/2025
Dirham Sultan Iskandar Muda bin 'Ali (w. 1045 H/1636 M)
Koin ini ditemukan oleh masyarakat di Ajee, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar pada tahun 2019. Berat: 0,6 gr. Diameter: 12 mm.
Kredit:
Koleksi: Masykur Syafruddin(Luengputu Manuskrip Aceh) - PEDIR Museum
Foto oleh Irfan M Nur
Meuseuraya Akbar 2025. Kolaborasi Mapesa Aceh dengan Komunitas Beulangong Tanoh, PEDIR Museum, Aceh Darussalam Academy didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI LPDP Kementerian Keuangan RI
26/09/2025
Mata Uang Timah (Keuh) Kerajaan Aceh Darussalam
Keuh, salahsatu adalah mata uang Kerajaan Aceh Darussalam, umumnya berupa koin timah (dikenal sebagai Caxa oleh Portugis dan Kasha oleh Belanda). Nilai tukar dasarnya cukup kecil: 1.600 Keuh setara dengan satu Kupang perak, dan empat Kupang setara dengan satu Dirham emas. Penggunaan Keuh berkembang di Kerajaan Aceh Darussalam. Pada masa Sultan Syamsul 'Alam (1723), muncul Keuh Cot Bada dari seng (zink) yang hanya beredar lokal, dengan kurs 140 Keuh setara satu Ringgit Spanyol. Masa berikutnya, Sultan 'Alauddin Ahmad Syah (1723-1725) menetapkan Keuh timah senilai 800 keping per satu Ringgit Spanyol, yang berarti satu Dirham setara 200 Keuh. Pembuatan mata uang ini terus berlanjut hingga masa Sultan A'lauddin Mahmud Syah (1870-1874), menjelang perang dengan Belanda, meskipun bentuknya bervariasi sesuai kurs terhadap Ringgit Spanyol. Pembuatannya sendiri dilakukan dengan teknik tuangan menggunakan acuan batu, menyerupai cara pembuatan peluru timah.
Koleksi: Masykur Syafruddin(Luengputu Manuskrip Aceh) - PEDIR Museum
Meuseuraya Akbar 2025. Kolaborasi Mapesa Aceh dengan Komunitas Beulangong Tanoh, PEDIR Museum, Aceh Darussalam Academy
didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI LPDP Kementerian Keuangan RI
Click here to claim your Sponsored Listing.
Our Story
Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengumpulkan, Merawat, serta Melestarikan Barang-barang bersejarah seperti Naskah kuno(Manuskrip), Kain, Perhiasan Kuno, Senjata Zaman Kolonial, dan peraatan kehidupan Masyarakat Aceh tempo dulu (Etnografi).
Category
Contact the museum
Telephone
Address
Jalan PEDIR Museum, Mns Blang Glong, Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya
Banda
24184
Opening Hours
| Monday | 09:00 - 17:00 |
| Tuesday | 09:00 - 17:00 |
| Wednesday | 09:00 - 17:00 |
| Thursday | 09:00 - 17:00 |
| Friday | 09:00 - 17:00 |
| Saturday | 09:00 - 17:00 |
| Sunday | 09:00 - 17:00 |