Ane Rifkoh

Ane Rifkoh

Share

Menyanyi dan menulis adalah kesenanganku, hidup tanpa dua hobi itu berasa tidak punya kesibukan.

22/01/2024

Boleh riques. Ini riques seseorang sajadah merah


Semua Orang
Sorotan

19/01/2024

Kalo kalian cari tokoh utama yang kuat, disini bukan solusi novel untuk kalian. Karena karakter tokoh utama disini, lembek diawal.

Kebangkitan Istri Yang Mengalah season 1

Bergelar istri patuh yang tidak pernah melawan. Sekalipun diremehkan dan dicaci oleh keluarga suami bahkan uang nafkah turut terbagi. Kurang apalagi Riri sebagai istri?

Namun menjadi istri yang selalu mengalah nyatanya tidak membuat kehidupan rumah tangga Riri bahagia. Arkan sang suami lebih mementingkan keluarganya sendiri. Riri yang tidak ingin terus hidup menderita mulai mencari cara untuk mengatasi keluarga suaminya.

Kebangkitan Istri Yang Mengalah season 2

Setelah bercerai dari Arkan dan menikah lagi dengan seorang lelaki bernama Furqon, rupanya rumah tangga Riri tetap saja dirundung masalah. Perempuan di masa lalu suaminya datang, dan ingin merebut Furqon kembali. Lantas apa yang akan dilakukan Riri, melepas pernikahan lagi atau mempertahankan hubungannya yang dirasa Suami barunya jauh lebih baik?
Ikuti kisah Riri, setiap seasonnya selalu membawa warna untuk dinikmati.

Baca di fizzo

18/01/2024

Kata Ayah, kalau ingin melihat siapa yang perduli dan tidak pada keluarga kita. Maka nanti, setelah ayah tak ada lagi di dunia ini. Itulah kalimat ayah yang sering dingat Bulan.
Jungkir balik kehidupan rembulan dan kedua adiknya setelah kematian ayahnya. Diperparah dengan kondisi mental sang ibu yang terganggu setelah kematian ayahnya.
Bagaimana kelanjutan kehidupan rembulan setelah ini? Ikuti kisahnya dalam Rembulan ( Kehidupan Setelah Kematian Ayah)

Baca di aplikasi fizzo

Sorotan
Semua Orang

17/01/2024

Bab 1. Selalu disalahkan.

"Kamu kapan hamil sih Dek. Mas itu capek, setiap pulang liat kamu!" teriak Wildan. Tas yang ia bawa di lempar begitu saja ke sembarang arah.

"Kenapa Mas nyalahin aku! Ya aku ngga tau Mas. Kita berdua udah sama-sama periksa, dan sehat. Ya mungkin belum waktunya," jawab Anjani kesal.

"Belum waktunya kamu bilang?" Matanya melotot ke arah Anjani seraya marah dengan kalimat balasan istrinya.

"Ya terus aku harus bagaimana? Kamu pikir kamu aja yang capek. Aku juga capek Mas!"

Kali ini Anjani membalas perkataan suaminya dengan kesal. Padahal, selama ini ia berusaha diam kala suaminya membahas masalah yang sama. Tapi tidak dengan sekarang, rasanya lelah selalu di salahkan sepihak seperti ini.

"Kamu mikir ngga pernikahan kita sudah berapa lama? Sudah lima belas tahun Anjani! Aku butuh Anak sebagai pelipur lara dikala aku lelah bekerja! Liat kamu, semakin hari semakin tua dan jelek!" ucapnya selalu membuat Anjani merasa terhina.

"Cukup Mas! Jangan salahkan aku terus-menerus soal anak. Karena kita berdua berperan penting soal itu!" teriak Anjani tak terima.

"Akhhhh .... Capek! Lama-lama pulang ke rumah bikin aku ngga betah! Berdebat terus, ngga ada ujungnya!" teriaknya. Wildan lantas meninggalkan Anjani sendirian.

Braaaak!

"Astagfirullah ..." Anjani mengelus dadanya kala Wildan membanting pintu kamar mereka dengan kasar.

Sudah menjadi bumbu yang melekat dalam rumah tangga mereka, jika suaminya pulang selalu ada perdebatan. Ya, wanita dewasa itu sadar jika ia belum sepenuhnya menjadi istri terbaik untuk suaminya. Anjani merasa belum sempurna karena sampai sekarang belum ada sosok anak kecil menjadi pelipur dan pelebur lara mereka. Anjani sadar, ia sendiri juga membutuhkan tangan mungil dari seorang anak yang terlahir dari rahimnya. Tapi siapa yang bisa menghakimi tuhan, semua yang ia alami sudah menjadi takdir rumah tangganya. Perkara keturunan sama dengan jodoh, bersifat rahasia dan tidak tahu kapan hadirnya. Hanya berdoa yang bisa wanita itu panjatkan, agar secepatnya di karunia keturunan.

Ketika termenung seorang diri, pintu kamarnya terbuka. Wildan sudah keluar dengan pakaian santai seakan hendak pergi. Perlahan, ia berjalan melewati Anjani, tanpa sedikitpun pamit padanya.

"Mau kemana kamu Mas?" tanya Anjani berdiri mengikuti langkah suaminya.

"Ngga perlu tahu!" jawabnya ketus.

"Maaaaas! Kamu ngga bisa seenaknya begini. Minimal kamu bilang sama aku biar aku tahu kamu kemana."

"Aku hanya keluar sebentar. Aku mumet di rumah terus," ucapnya.

Wildan terus berjalan meninggalkan sang istri karena ia merasa sudah tidak nyaman di rumah.

"Tunggu Mas!" cegah Anjani.

"Apalagi sih? Aku itu buru-buru."

"Aku ingin bicara sesuatu Mas."

"Nanti saja! Aku buru-buru." Wildan terus berjalan meninggalkan Anjani.

"Mas tunggu!" Bak sudah dicocoki kapas, Wildan tak mendengar panggilan Anjani. Ia terus meninggalkan rumah dengan kuda besinya.

Anjani terdiam, ada kesedihan di wajahnya karena perubahan sikap suaminya yang begitu dingin. Tapi, ia bisa apa? Semua berlangsung setelah satu tahun belakangan ini.

Anjani Wicaksono ialah seorang wanita cantik, mandiri dan sangat menyayangi keluarganya. Ia anak dari seorang pengusaha kaya bernama Baskara Wicaksono dan Wiwit Pratiwi. Sejak istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan, Baskara terpuruk hingga membuatnya sakit-sakitan. Mungkin jika tak ada Anjani, ia sudah memutuskan mengakhiri hidupnya.

Anjani gadis yang nurut, ia selalu mendengar apapun yang diucapkan ayahnya. Suatu ketika, Anjani telah menyelesaikan pendidikannya. Sang ayah memintanya untuk menikah dengan salah seorang karyawan yang menurutnya baik. Pria itu ialah Wildan Santoso. Suami Anjani saat ini.

Anjani yang tak bisa menolak permintaan ayahnya, akhirnya menerima perjodohan itu dan menikah dengan Wildan. Perlahan, perjodohan itu menumbuhkan benih-benih cinta di hati Anjani. Ia bahkan bersyukur memiliki suami seperti Wildan yang selalu memperlakukan ia lembut dan penuh cinta. Hanya satu tahun belakangan ini sikapnya berubah total. Wildan sangat dingin padanya, ia bahkan sering melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan di depan Anjani. Anjani yang merasa suaminya kecewa, karena belum memiliki anak berusaha menerima sikap dingin itu. Ia berharap sang suami tidak lagi bersikap demikian jika nanti ia memiliki anak dari pernikahannya itu.

"Anjani ..." panggil seseorang.

"Papa ... Kenapa Papa keluar kamar?" tanya Anjani kaget.

"Papa mau jalan-jalan aja. Bosen di kamar terus," jawab Baskara mengayuh kursi rodanya mendekati Anjani. "Papa dengar tadi ada suara mobil. Apakah Suamimu sudah pulang?" tanyanya.

Anjani berusaha tenang dengan pertanyaan sang ayah. Ia tidak mau membuatnya kepikiran dengan problematika rumah tangga yang ia jalani. Hanya ayahnya yang Anjani punya, ia tak mau membebankan pikiran sang ayah atas apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

"Sudah Pa. Tapi di telpon lagi sama Klien untuk meeting," jawab Anjani beralasan.

"Oh gitu." Baskara hanya mengangguk dan percaya dengan penuturan sang anak.

"Pa, kita minum obat yuk. Kan ini udah jadwal Papa minum obat," ajak Anjani.

"Iya. Kamu memang selalu mengingatkan Papa soal itu, padahal Papa sudah tidak butuh obat. Rasanya Papa ingin menyusul Mama-mu aja."

"Papaaaa! Jangan bicara seperti itu! Anjani tidak s**a. Apa Papa tidak sayang Anjani?" tanya Anjani dengan mimik wajah sedih.

"Sayang sekali. Tapi Papa merasa hidup ini hampa tanpa kehadiran Mama-mu," jawabnya sedih.

"Kan ada Anjani Pa. Papa ngga sendirian," balas Anjani memeluk tubuh tua renta ayahnya.

Baskara tak lagi membalas ucapan Anjani, ia hanya ikut memeluk tubuh putrinya. Ia sadar, hanya Anjani yang dimiliki saat ini. Keduanya tersedu sedan menangis karena ucapan Baskara. Ada luka yang terasa sakit bagi Anjani setiap kali Papanya putus asa.

"Papa jangan bicara seperti itu lagi yah. Papa harus janji sehat, dan temani Anjani terus," ucap Anjani memohon.

"Iya Sayang. Maafkan Papa, lagian Papa masih menunggu kehadiran Cucu Papa dari kamu," ucap Baskara tersenyum, wajah sedih itu sirna dengan keinginan Baskara yang ingin mendapatkan cucu dari Anjani.

Anjani melepas pelukannya, ia menatap sang ayah dengan mata nanar. Ternyata tak hanya dirinya yang mengharapkan kehadiran anak, tetapi ayahnya pun berharap demikian. Anjani tersenyum dan kembali memeluk tubuh renta ayahnya. Dalam hati ia berdoa semoga keinginan mereka bisa didengar Tuhan yang maha kasih.

****

Di tempat lain, Wildan baru saja sampai di depan rumah orangtuanya. Ia masuk dengan wajah tak enak di pandang.

"Kamu itu kenapa sih, dateng malah marah-marah," tanya Mawar kesal.

"Gimana aku ngga marah Ma. Aku tuh kalo pulang berantem terus sama Anjani. Aku capek Ma!" teriak Wildan sambil menghempaskan bokongnya ke kursi.

"Masalah apa lagi ... Anak?" tanya Mawar yang seakan sudah tahu maksud perkataan putranya. Karena hanya soal itu yang belakangan ini dikeluhkan oleh Wildan, putra sulungnya itu.

"Ya itu, apalagi Ma. Pernikahan ini semakin hari semakin membosankan. Rasanya ingin mengakhiri saja."

"Apa?" teriak Mawar mendelik. Ia memang sudah sering mendengar keluhan Wildan soal menginginkan anak. Tapi, belum pernah Wildan mengungkapan soal keinginan untuk mengakhiri pernikahannya.

"Iya Ma. Aku ingin cerai saja dengan Anjani."

"Tidak! Jangan bodoh kamu!" selah Mawar murka. "Kamu itu harus mikir, ngga mudah dapetin semua ini Wildan. Mama tidak mau kamu berpisah dari Anjani. Dia tambang emas kita! Mama tidak mau kehilangan dia, nanti bagaimana Mama membeli barang-barang mewah lagi," tolak Mawar tegas.

"Tapi Ma ...."

"Mama tidak setuju!" ucap Mawar memotong.

"Mas, minta duit d**g. Aku mau beli handphone baru." Tiba-tiba datang Raya meminta uang pada Wildan.

Gadis yang duduk di bangku SMA itu sudah terbiasa meminta uang pada kakaknya jika ingin membeli sesuatu. Begitu juga dengan Mawar, keluarganya bergantung hidup mewah dari harta kekayaan yang dimiliki Anjani, yang sekarang di kelola penuh oleh putra sulungnya itu. Mawar tidak mau lagi hidup susah.

"Jangan Ganggu Mas dulu Ra! Mas lagi pusing!"

"Mama ..." rengek gadis itu merajuk pada Mawar, sang ibu.

"Ke kamar dulu yah, Mama mau bicara dulu dengan Mas-mu." Raya mendengar penuturan ibunya. Ia masuk kamar dengan rasa kecewa.

"Kamu dengar 'kan Wildan. Raya ingin membeli handphone baru, apa kamu tega melihatnya sedih?" tanya Mawar. Wildan hanya diam saja.

"Pokoknya Mama ngga setuju kamu berpisah dari Anjani. Titik!"

"Terus sampe kapan Wildan ngga punya anak Ma."

Mawar tampak berpikir, hingga beberapa menit kemudian ia tersenyum.

"Kenapa kamu ngga dapetin anak dari perempuan lain aja?"

"Apa? Maksud Mama gimana?" tanya Wildan bingung.

"Maksud Mama, kamu cari wanita yang bisa memberimu anak, simple kan? Kamu bisa memiliki keturunan tanpa harus kehilangan kekayaaan," ucap Mawar.

Wildan terdiam, memikirkan apa yang dikatakan ibunya. Meski terdengar menantang, namun Wildan belum berani bersuara dan memutuskan apa yang akan ia putuskan dari ide ibunya itu.

Baca selengkapnya di fizzo


Sorotan
Semua Orang

16/01/2024

"Jangan bercerai, Ma!"

Permintaan Clara membuatku bimbang, tatapannya penuh mengiba memintaku untuk tidak melepas pernikahan ini.

"Clara ngga mau hidup terpisah dengan Mama atau Papa! Clara mau bersama-sama terus! Clara ngga mau milih salah satunya!" mohon gadis itu lagi.

Entah apa yang mesti aku putuskan. Berat rasanya bercerai dari Mas Pandu, karena akupun sangat mencintainya. Tapi, rasanya aku tak sanggup harus mengorbankan hatiku terus-menerus untuk disakiti. Mas Pandu tidak pernah menghargai aku sebagai istri, berulangkali ia menyakitiku dengan berselingkuh. Aku ikhlas jikapun harus bekerja siang malam demi memenuhi kebutuhan kami, diperlakukan kasar pun aku terima. Tapi jika sudah menyangkut perempuan, apalagi tidak pernah mau berubah! Aku tidak bisa!

Bagaimana kisah Tiara selanjutnya? Bagaimana dengan permintaan Clara? Apa Tiara akan mengabulkan? Atau justru menolak demi kewarasan hidupnya.


Sorotan
Semua Orang

16/01/2024

Pernikahan yang sudah memasuki tahun kesepuluh nyatanya tak membuat hubungan suami-istri itu tetap awet. Anjani harus menerima kenyataan pahit, kala setahun belakangan, sikap suaminya berubah.

Wildan kerap kali menyalahkan Anjani karena belum memberinya keturunan, Wildan selalu menganggap Anjani lah penyebab dirinya belum juga memiliki anak.

Anjani ditalak suaminya begitu saja dengan secarik kertas tulisan tangan sendiri bersamaan dengan itu juga, ia dinyatakan hamil oleh sang dokter. Hatinya remuk, redam, tak beraturan perasaan Anjani saat itu.

Apa yang akan Anjani lakukan dengan status barunya? Atau ia akan mencari tahu keberadaan suaminya dan memberi tahu Wildan bahwa ia tengah hamil. Benih yang selama ini dinanti-nantinya.

Baca kisahnya yuk, bakalan banyak part bawang yang bikin kalian emosi. Jangan lupa follow Fbku Ane Rifkoh Semoga kalian s**a dengan novelku ini.

15/01/2024

Klik nama Ane Rifkoh diaplikasi fizzo


Semua Orang
Sorotan

15/01/2024

Bab 1. Kepergok

Setelah sampai kontrakan, entah kenapa perasaanku tidak enak. Aku merasa curiga ada sesuatu di dalam sana.

"Mengapa di kontrakan Dimas ada sepasang sandal perempuan.., sedangkan pintunya tertutup rapat?" batinku dalam hati.

Brak!

Tanpa berfikir lagi karena melihat ada yang tidak beres aku langsung mendobrak pintu kontrakan dengan kasar, tanpa memperdulikan pemiliknya. Pintu kontrakan terbuka dengan paksa. Saat pintu terbuka aku melihat mereka sedang.

"Wina, Dimas!" Aku menutup mulut sekejap.

"Astaghfirullah, apa yang sedang ...." Aku menatap mereka dengan tatapan tidak percaya, rasanya sulit menerima apa yang aku lihat.

‘’Astaghfirullahalazim! Tega sekali kalian melakukan itu di belakangku!” jeritku saat tidak sengaja aku melihat mereka di dalam kamar tanpa sehelai busana.

Mereka hanya menggunakan selimut sebagai penutup tubuh mereka yang telanjang bulat.

Dewi Amita namaku, biasa orang memanggilku dengan sebutan Dewi. Aku seorang waiters yang bekerja di sebuah restoran terkenal di kota Serang.

Aku memiliki seorang kekasih bernama Dimas, dia adalah laki-laki baik menurut versiku. Selama ini aku cukup tahu sosoknya, karena kami bekerja di satu restoran yang sama. Posisi Dimas sebagai bartender. Dia adalah seorang perantau dari tanah Lampung. Yang kebetulan mengadu nasib di kota Serang.

Sedangkan wanita yang bersamanya di kamar kontrakan itu, ialah sahabatku Wina, namanya. Wina satu tahun lebih tua dariku, dan kami sama-sama tinggal di kota ini. Wina sudah kuanggap sebagai sahabat sekaligus kakak bagiku. Selain usianya satu tahun diatasku, ia juga memiliki kepribadian yang baik, itu yang membuat diriku nyaman dan menganggap dirinya lebih dari sekedar teman biasa.

Mengingat kala kami kenal dulu, aku dipertemukan mereka saat tes wawancara di restoran ini.

Aku ingat saat itu orang yang paling supel dan akrab saat tes hanya Dimas dan Wina.

Bersyukur kami bertiga diterima, hingga kami sama-sama berangkat ke Bandung untuk masa magang di sana.

Setelah kejadian itu lambat laun kami bertiga bak prangko dan surat, sulit dipisahkan.

Apalagi saat tahu kami akhirnya di tempatkan di salah satu restoran di kota yang sama, membuat keakraban kami semakin tidak bisa di jelaskan, aku kembali bersyukur.

Ketika di tempatkan di restoran yang sama, kami kembali di anugerahkan satu sift yang sama. Dari jam kerja sampai libur kami bertiga memiliki jadwal yang sama. Entah apakah ini keberuntungan, atau takdir? Karena Tuhan, tidak memberi kami celah sedikitpun untuk berpisah.

Dari sanalah kami bersahabat baik, sampai akhirnya Dimas berhenti menjadi sahabat kami. Kala Dimas mengungkapkan perasaannya padaku, ia mengatakan bahwa ia sangat mencintaiku, awalnya aku menolak ia mentah-mentah. Aku tidak ingin membuat persahabatan ini hancur karena sebuah perasaan, walau sejujurnya aku menaruh hati padanya.

Aku ragu jika sampai memberi keputusan yang salah. Namun karena Dimas bersikukuh memperjuangkan perasaannya dan terus menyakinkan bahwa ia benar serius mencintaiku, akhirnya aku luluh juga, dengan syarat meminta persetujuan pada Wina. Karena bagaimanapun ini dimulai dari persahabatan kami bertiga.

Saat ingin meminta persetujuan pada Wina, yang jelas ia menyaksikan sendiri bagaimana Dimas mengungkapkan perasaan itu, dia tersenyum dan memintaku untuk menerimanya. Aku bersyukur tandanya Wina merestui kami.

Kami kembali bersahabat meski status kali ini ada perbedaan, karena Dimas sudah menjadi kekasihku. Namun tak merubah suatu apapun, kami tetap bersahabat dan selalu dekat.

***

Tapi sekarang....

Kenyataan itu seolah membungkam mulutku, yang aku yakini masih sama rasanya meski sudah memiliki perbedaan status antara kami bertiga, hari ini puncak kehancuran itu tiba, aku menerima kenyataan pahit bahwa mereka berkhianat di belakangku.

Aku tidak pernah menyadari, apakah mereka dulu sama sama tertarik? Apakah dulu aku salah menerima cinta Dimas? Lalu jika benar kenapa mereka membohongiku selama ini? Jika mereka tidak sama-sama tertarik, tidak sama-sama mencintai lantas mengapa mereka melakukan perbuatan kotor itu? Jelas perbuatan yang menurutku tidak seharusnya mereka lakukan.

“Wi tunggu! Aku bisa jelaskan semuanya! Kamu salah paham!” teriak Dimas yang mengejar kala aku sudah mulai jauh dari tempat mereka.

Namun aku tidak perduli, semua yang kulihat hari ini benar benar tidak bisa dimaafkan.

“Lepaskan tanganku, Dimas! Jangan pernah sentuh aku!” Kutepis tangan Dimas saat ia sampai di depanku dan menarik tanganku.

“Dewi, maafkan aku! Aku khilaf! Aku menyesal!” teriaknya selalu hal yang sama ia katakan padaku. Ia selalu mengatakan khilaf jika sudah melakukan kesalahan. Padahal sebelumnya aku telah memaafkan kesalahannya dulu saat dia ketahuan bermain api dengan wanita lain.

Waktu itu aku juga pernah memergoki Dimas sedang asik menggandeng perempuan lain di sebuah mall besar di kotaku. Aku melihatnya langsung, saat tak sengaja aku mengantarkan kakakku berbelanja.

“Apa yang mau kamu jelasin lagi? Aku sudah muak dengan semua alasan-alasanmu! Bahkan detik ini juga aku jijik melihatmu! Jangan dekati aku, tolong menjauh!” bentakku penuh penekanan.

“Aku tidak mau, Aku cinta kamu! Tolong maafkan aku!” ucapnya seraya menangkupkan tangan didada tanda dia meminta maaf tulus padaku.

Namun nasi sudah menjadi bubur. Jangankan untuk kembali padanya, memaafkan saja rasanya tidak sudi.

Saat Dimas lengah, kugunakan kesempatan ini untuk pergi. Dengan langkah seribu kaki aku menaiki motorku dan mengendarai dengan kecepatan tinggi, tidak perduli dengan keselamatan sendiri.

Di sepanjang perjalanan aku tidak fokus mengendarai. Aku selalu teringat dengan apa yang baru saja aku lihat.

Rasanya hatiku panas, marah, kesal dan sedih bercampur menjadi satu.

Bagaimana tidak, aku sangat membenci kelakuannya yang sudah melebihi batas. Aku tahu Dimas memang bukan laki-laki sempurna, yang sanggup menjaga diri dari hal seperti itu, namun bagiku itu tidak bisa di benarkan. Aku benci, mengapa aku bisa mencintainya orang seperti dia.

Kutepikan motor di sebuah restoran pinggir jalan. Aku tidak mau mengendarai motor dalam keadaan frustasi.

Aku duduk di meja paling ujung, agar oranglain tidak bisa melihat bahwa aku sedang menangis.

Meja paling ujung juga lebih nyaman di banding yang lain, karena tidak ada pembeli lain selain diriku.

*****

Siang itu....

Aku berniat datang ke kontrakan Dimas. Aku memiliki rencana akan mengajaknya makan siang di luar.

Kami sudah hampir 2 bulan sibuk dengan pekerjaan restoran yang padat. Bahkan hari libur saja kami di minta lembur oleh atasan. Makanya ketika ada kesempatan libur hari ini, aku ingin mengabiskan waktu bersama dengannya.

Namun yang kudapat bukanlah kesenangan, melainkan rasa sakit teramat dalam.

Jika saja Dimas berkhianat dengan wanita lain seperti dulu, bisa saja aku memaafkannya.

Tapi kali ini, yang dia lakukan adalah selingkuh dengan sahabatku sendiri. Bahkan sampai....

"Arghhhh!"

Aku melampiaskan kekesalanku pada meja yang jelas malah melukai diriku sendiri.

"Kenapa kalian lakukan ini padaku. Apa salahku pada kalian, hingga kalian tega menusukku dari belakang," batinku yang tak sanggup mengucapkan langsung.

"Kurang apa aku pada kalian. Padahal apapun yang kalian mau, aku selalu berusaha memberikannya selagi aku mampu dan bisa. Inikah balasan kalian.” lirihku seraya menatap jalan.

“Arghhhh!"

Aku menjerit histeris. Mengutuk kejadian hari ini.

Aku benar-benar marah, aku merasa dikhianati dan tidak hentinya menangis tergugu di ujung restoran ini.

Untung kondisi restoran ini sepi, hanya ada beberapa pembeli saja. Posisi mereka juga jauh dari tempat dudukku, jadi aku bisa menuntaskan kesedihan ini tanpa harus malu.

Setelah dirasa baik, aku putuskan pulang ke rumah. Aku tidak mau pulang dalam keadaan menangis.

Aku tidak ingin membuat orangtuaku khawatir dan bertanya-tanya.

Aku mulai menaiki motorku dan pulang dengan hati hancur berkeping-keping.

****

Sampai rumah aku putuskan mandi, rasanya badan ini letih. Padahal hari ini aku hanya menangis saja, tapi entah kenapa badan terkuras banyak energi.

Selesai mandi aku membuka handphone ternyata banyak sekali miscall dari Dimas.

Belum lagi pesannya. Wina pun tak kalah heboh, ia sama mencoba beberapa kali menghubungiku. Aku tidak perduli dan kembali menyimpan handphone di nakas sebelah ranjang tempat tidur.

Baru saja aku menyimpan kembali handphone itu dan berniat keluar kamar tiba-tiba....

Ting! Ting! Ting!

Banyak sekali pesan masuk di handphone dari mereka.

Aku tidak menghiraukan semua itu, handphone aku matikan. Dan aku keluar untuk berkumpul dengan keluarga.

****

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, kebetulan hari ini aku sift pagi. Jika sudah masuk sift pagi jam 8 sudah harus sampai di restoran.

Meskipun restoran buka pukul sepuluh pagi, kami para karyawan harus berangkat pagi untuk menyiapkan segala keperluan untuk melayani tamu dengan baik.

Sebelum berangkat aku sarapan dulu, kebetulan mamah pagi ini sudah masak enak. Menu favoritku nasi goreng dan telor dadar.

“Wi buruan sarapan, nanti kamu telat lagi!” seru Mamah menyuruhku sarapan.

“Iya Mah ini mau sarapan.” Aku menjawab sambil memakai sepatu.

“Ya udah Mamah tinggal dulu, mau bantu Bapak siap-siap untuk jualan,” seru Mamah lagi.

"Iya Mah," jawabku singkat.

Itulah rutinitas kami setiap hari. Mamah selalu membantu bapak menyiapkan jualannya.

Bapakku seorang pedagang kecil di sebuah pasar. Namun kegigihannya dalam mencari nafkah, tidak pernah di ragukan lagi. Meski hanya penjual tempe, bapakku sudah mampu menyekolahkan sembilan anaknya sampai SMA.

Terkecuali 4 anak terakhir, mereka berbeda minat dengan kami para kakaknya.

Mereka berempat lebih senang menuntut ilmu di bangku pesantren di bandingkan di bangku sekolah.

Apapun itu, selagi ilmu sama pentingnya bagiku. Selesai sarapan aku bergegas menuju mamah, karna bapak sudah lebih dulu berangkat jualan.

Aku pamit mencium punggung tangan mamah dengan takzim, tak lupa juga meminta doa restu untuk kelancaran pekerjaan hari ini.

Ojek pun sudah sampai di halaman rumah, akupun naik dan pergi ke restoran untuk memulai pekerjaan pagi dengan semangat.

Sesampainya di restoran aku sudah di suguhkan dengan pemandangan tidak enak. Dimas dan Wina sudah ada di depan restoran.

Aku yakin tujuannya tidak lain pasti masalah kemarin. Mereka mulai mendekat dan memintaku untuk mendengarkan penjelasan nya. Malas rasanya meladeni mereka pagi ini.

"Wi! tolong dengarkan aku dulu!” pinta Wina sudah mulai membuka percakapan. Ia juga berusaha menghalangi jalanku.

Kesal rasanya. Baru datang sudah mengibarkan bendera perang.

Wina ingin melanjutkan ucapannya, namun secepat kilat aku memotongnya.

“Tolong Win! Hari ini sudah mulai jam kerja! Bisa kan, kita tidak membahas masalah ini? Tolong profesional, dan jaga sikap!” bentakku. Rasanya basa-basi sudah tidak dibutuhkan lagi.

Akhirnya mereka pun mengiyakan ucapanku, bukan karna semata mereka menyerah.

Tapi karena sudah ada supervisor yang datang. Jelas itu tidak akan membuat keberadaan mereka aman, yang ada hanya akan menambah masalah baru.

Kami pun masuk dan mulai melakukan pekerjaan sesuai profesi masing-masing.

***

Hampir 2 jam aku menghabiskan waktu mengerjakan ruangan AC seorang diri, akhirnya beres dan bersih. Sudah enak dipandang. Kemudian aku coba istirahat sebentar, duduk di kursi yang ada di ruangan itu.

Namun tiba-tiba...

"Wi!" teriak Wina.

"Mau apalagi sih dia, awas aja kalo masih mengangguku pagi ini, aku akan membuat perhitungan padanya," batinku berdetak kesal.

Bersambung.

Baca full di fizzo

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Serang?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address

Serang