Rijalul Ansor Tanjunganom
fanpage Facebook Rijalul Ansor Tanjunganom terbaru
13/06/2026
Assalamu'alaikum wr wb. Menawi longgar monggo katuran rawuh acara Kedungrejo bersholawat bareng Rijalul Ansor Tanjunganom ngaji kitab Washiyatul Mustofa bersama Gus Sholihin.
Manggen ipon dateng masjid Al Falah Pulorejo kedungrejo, share lokasi
https://maps.app.goo.gl/mvwKbpZGCQUPrhTC9
Wekdalipon jam 19.00- selesai.
Dinten Sabtu malam minggu, 13 Juni 2026
Maturnuwun. W assalamu'alaikum wr wb. 🙏
Masjid Jami' Pulorejo Ds. Kedungrejo · Nganjuk Regency, East Java Find local businesses, view maps and get driving directions in Google Maps.
Lebih baik berjalan pelan tapi Pasti, daripada cepat tapi berhenti.!!
“Mampir, Mas…”
“Maem, Mas…”
Kalimat seperti ini sangat akrab di tengah masyarakat Jawa. Diucapkan hampir setiap hari kepada tetangga, teman, atau orang yang kebetulan lewat di depan rumah.
Masalahnya, tidak sedikit yang mengucapkannya hanya sebagai basa-basi.
Bukan karena benar-benar ingin tamunya mampir atau ikut makan, tetapi karena merasa tidak enak, sungkan, atau malu jika tidak menawari.
Lalu bagaimana hukum menerima ajakan itu dan memakan hidangannya ?
Haram.
ولو دخل على آكلين فأذنوا له لم يجز له الأكل معهم إلا إن ظن أنه عن طيب نفس، لا لنحو حياء
Apabila seseorang masuk menemui orang-orang yang sedang makan, lalu mereka mempersilahkannya untuk ikut makan bersama mereka, maka tidak boleh baginya makan bersama mereka kecuali jika ia menduga bahwa izin tersebut diberikan dengan kerelaan hati yang tulus, bukan karena rasa malu, sungkan, segan, atau alasan sejenisnya.”
وقوله لا لنحو حياء: أي لا ظن أن إذنهم له لنحو حياء منه فيحرم عليه الأكل معهم
“Maksud penulis dengan ucapan ‘bukan karena rasa malu dan semisalnya’ adalah bahwa ia tidak menduga izin mereka diberikan karena rasa sungkan atau malu kepadanya. Adapun jika ia menduga bahwa mereka mengizinkannya hanya karena sungkan atau malu kepadanya, maka haram baginya makan bersama mereka.”
Lalu lanjutan syarahnya:
ومن ثم حرم إجابة من عرض بالضيافة تجملا وأكل هدية من ظن منه أنه لا يهدى إلا خوف المذمة
“Oleh karena itu, haram memenuhi tawaran jamuan dari orang yang menawarkannya hanya sebagai basa-basi untuk menjaga sopan santun atau gengsi. Demikian p**a haram memakan atau menerima hadiah dari orang yang diduga kuat memberikannya hanya karena takut dicela atau dipandang buruk apabila tidak memberi.” Sayyid Abu Bakar Syatha, I‘ânat ath-Thâlibîn, Dâr as-Salâm, Kairo, 1442 H / 2021 M, Jilid 4, hlm. 2428.
Hal ini juga berlaku ke pengemis yang meminta-minta sampai akhirnya tuan rumah memberi karena sungkan.
——-
Begitu juga pada sebagian keluarga yang sebenarnya tidak mampu, tapi tetap “terpaksa” memberi hidangan tahlilan, jika niatnya “takut” dicap durhaka ke almarhum orang tua.
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Bahkan para ulama salaf mengingatkan bahwa seorang hamba bisa saja tergelincir dalam dosa karena kelemahan dirinya. Namun yang lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri adalah ketika hati sudah kehilangan rasa hormat terhadap larangan Allah.
Sebagian orang masih merasa gelisah setelah berbuat maksiat, menyesal, lalu berusaha memperbaiki diri. Selama rasa takut kepada Allah masih hidup, pintu taubat masih terbuka. Akan tetapi, ketika dosa dianggap biasa, dianggap sepele, bahkan dibanggakan, saat itulah penyakit hati mulai menggerogoti keimanan.
Dalam sebuah keterangan disebutkan:
"ألا ترى أن الإنسان لا يكفر بالمعصية، وإنما يكفر باستخفافها، وبترك الحرمة"
"Tidakkah engkau melihat bahwa seseorang tidak menjadi kafir karena sekadar melakukan maksiat, tetapi ia bisa menjadi kafir karena meremehkan maksiat tersebut dan karena hilangnya penghormatan terhadap larangan Allah."
Makna yang terkandung di dalamnya sangat dalam. Islam membedakan antara orang yang terjatuh dalam dosa karena hawa nafsu dengan orang yang meremehkan aturan Allah. Yang pertama masih mengakui bahwa dirinya salah, sedangkan yang kedua telah kehilangan pengagungan terhadap syariat.
Karena itu, jangan pernah merasa aman dengan dosa sekecil apa pun. Boleh jadi sebuah maksiat yang dianggap remeh justru lebih berbahaya daripada dosa besar yang membuat pelakunya menangis setiap malam karena penyesalan.
Tanda hati yang masih hidup bukanlah tidak pernah berbuat salah, melainkan masih merasa bersalah ketika berbuat salah.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap mengagungkan perintah-Nya, menghormati larangan-Nya, dan senantiasa diberi taufik untuk bertaubat sebelum hati menjadi keras dan kehilangan rasa takut kepada-Nya.
06/06/2026
06/06/2026
Pelantikan pengurus Harian GP Ansor Tanjunganom
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Nganjuk