Realisa Realita Rasa

Realisa Realita Rasa

Share

Dohar

03/03/2026

Bagi Relisa, setiap sudut rumah adalah medan ranjau.
​Penjara Tak Kasat Mata
​"Relita, sabunnya terlalu banyak. Mubazir," tegur Ibu Mertuanya, Widya, saat melihat Relita mencuci piring di pagi hari.
​Sore harinya, giliran cara asuh anaknya yang dikuliti. "Jangan biarkan Arka menangis begitu. Dulu suami kamu tidak pernah dibiarkan cengeng. Kamu terlalu lembek mendidiknya."
​Relita hanya bisa menelan kata-katanya. Ia ingin berteriak bahwa Arka menangis karena lelah, bukan karena kurang disiplin. Namun, di rumah ini, suara Relita hanyalah catatan kaki yang tak dianggap penting.
​Puncak di Meja Makan
​Malam itu, meja makan penuh dengan hidangan mewah untuk menyambut kepulangan kerabat jauh. Di tengah riuhnya percakapan, Widya tiba-tiba meletakkan garpunya dan menatap Relita dengan senyum tipis yang tak mencapai mata.
​"Melihat masakan ini, Ibu jadi teringat Sarah, mantan kekasih masmu dulu," ujar Widya lantang, membuat meja mendadak hening. "Dia tahu persis bumbu yang pas. Pintar membawa diri, cerdas, dan keluarganya pun selevel dengan kita. Sayang sekali ya, hubungan mereka kandas."
​Darah Relita terasa berhenti mengalir. Kalimat itu bukan sekadar bernostalgia; itu adalah serangan terbuka untuk menegaskan bahwa Relita adalah pilihan "kelas dua".
​Relita menoleh ke arah suaminya, memohon pembelaan lewat tatapan mata. Namun, sang suami justru menunduk dalam, asyik memotong daging di piringnya seolah-olah buta dan tuli. Diamnya sang suami adalah belati yang paling tajam.
​Pergolakan di Balik Pintu Kamar
​Malamnya, di dalam kamar yang seharusnya menjadi ruang aman, Relita menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak asing—layu dan kehilangan binar.
​Rasa Ingin Bertahan: Ia mencintai suaminya. Ia mengingat janji-janji manis di awal pernikahan dan ingin Arka tumbuh dengan keluarga yang utuh.
​Rasa Lelah: Namun, harga dirinya kian terkikis. Ia bukan lagi seorang istri, melainkan pelayan yang sedang diuji setiap detik tanpa pernah bisa lulus.
​"Mas," bisik Relita pada suaminya yang sudah berbaring. "Kenapa kamu diam saja tadi?"
​"Ibu hanya sedang rindu masa lalu, Rel. Jangan terlalu baper," jawabnya tanpa menoleh.
​Relita memejamkan mata. Di rumah yang megah ini, ia menyadari bahwa ia bukan sedang membangun masa depan, melainkan sedang memudarkan dirinya sendiri demi kenyamanan orang lain. Mencintai seseorang ternyata tidak seharusnya menuntut hilangnya martabat.

02/03/2026

Nyala Api di Tengah Kesulitan
​Pagi itu, bakul nasi di sudut dapur hampir kosong. Di luar, hujan turun rintik-rintik, membuat kayu bakar di belakang rumah menjadi lembap dan sulit dinyalakan. Namun, bagi Siti, menyerah bukanlah pilihan ketika ada perut mungil yang harus diisi.
​Sambil menggendong erat anak bungsunya yang terlelap dalam dekapan kain jarik, Siti berjongkok di depan tungku tanah liat. Matanya perih terkena asap, namun tangannya tetap cekatan meniup bara api agar tetap menyala. Di dalam periuk kecil itu, ia hanya memasak sedikit beras yang dicampur dengan umbi-umbian—siasat agar semua anggota keluarga merasa kenyang lebih lama.

28/02/2026

Langkah kakinya tidak pernah ragu,
Meski jalanan berbatu dan matahari membakar kulitnya.
Tangan kanannya menahan beban dunia,
Tangan kirinya mendekap cinta yang tak ternilai.
Baginya, lelah adalah bahasa yang ia simpan sendiri,
Agar anak-anaknya hanya tahu arti kebahagiaan

Want your business to be the top-listed Media Company in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Website

Address

Jakarta Timur
Jakarta
10