Dalam Dimensi

Dalam Dimensi

Share

Mengenal diri menggali potensi diri

12/04/2026

Sebelum menikah, mungkin yang dilihat adalah tubuh (termasuk wajah) ... Setelah menikah, mungkin akan melihat yang ada di balik baju (malam pertama) ... Selanjutnya, setelah itu, yang akan dilihat adalah, yang ada di balik tubuh (psikologis, mental, spiritual) ...

Semakin lama usia pernikahan, semakin focus ke kualitas di balik raga ... Kualitas di balik raga itulah, yang membuat kita obrolannya nyambung atau tidak dengan orang lain ... Oleh karenanya, bubrah atau awetnya sebuah hubungan cinta, sebenarnya karena soal kualitas di balik raga ini ...

Semakin usia menua, tidak sedikit orang, yang sibuk menguatkan stamina raganya ... Beli obat kuat lah bagi yang pria, beli jamu sari rapet lah bagi yang wanita ... Dan mereka lupa mengkonsumsi obat, yang menguatkan kualitas jiwa, dan lupa meminum ramuan, yang merapetkan kadar eling lan waspodho ...

*Arif rahutomo

11/04/2026

Saat di dalam kandungan, selama tali pusat masih terhubung kepada sang ibu, bayi gak perlu pusing mikir soal bagaimana makan, nutrisi, dan sebagainya kebutuhan dirinya, selama ada di dalam rahim ...

Sepanjang kita hidup, kita semua sebenarnya, ada di dalam rahim yang bernama alam semesta ... Prinsipnya sama, selama kita terhubung kepada "Sang Rahim", semua akan tercukupi ... Nah, kalau tidak tercukupi itu kenapa? ... Karena kita tidak terhubung, dengan Sang Rahim Semesta ...

So, sambungkan kembali tali pusat kita ... Kembali connect kepada sumber yang mencukupi kita ... Caranya? ... Salah satu yang menjadi pondasinya, adalah sadar, "bahwa kita ini bergantung kepada sistem yang lebih besar" ... Saat ego dominan, maka tanpa sadar, kita merasa mandiri sepenuhnya ...

"Ego ke-aku-an itulah, yang memutus tali pusat kita, dari Sang Rahim semesta" ...

Hei ... Di alam semesta raya ini, semua saling bergantung ... Yang tidak bergantung kepada apapun, cuman Sang Rahim ... Jadilah bayi yang tahu diri, di alam semesta ini ... Dulu, waktu anda masih bayi, anda tercukupi ... Kalau sekarang, hidup anda tidak tercukupi, anda perlu evaluasi diri ...

*Arif Rahutomo

09/04/2026

Keyakinan

13/09/2025

Dulu saya pernah melayani sesi terapi selama sekitar 2-3 tahun. Dari banyak sesi terapi, nampak bahwa yang "bermasalah secara emosi", kebanyakan justru adalah orang baik. Kok bisa? Persisnya adalah, mereka adalah orang yang baik kepada orang lain, tapi jahat kepada dirinya sendiri, dengan cara berpura-pura. Berpura-pura? Iya. Saya serius. Suwer.

Terluka tapi pura-pura sembuh. Tersinggung tapi pura-pura sabar. Tersakiti tapi pura-pura ikhlas. Terdzalimi tapi pura-pura lapang dada. Tertekan tapi pura-pura move on. Sakit tapi pura-pura sehat. Dan segenap kepura-puraan yang merupakan kejahatan pada diri sendiri.

Tidak sedikit, orang yang terapi ke saya saat itu, tersembuhkan setelah saya ajari misuh dan mengumpat, "bajingan, asu, telek, bangsat !!!". Asli sembuh. Karena, dengan cara itu, semua energi emosi yang terjebak dan terakumulasi, terbuang ke luar. Anda boleh tidak percaya tulisan ini. Silahkan terus berpura-pura 🤣🤣.

_Arif Rahutomo.

05/09/2025

Sedekah ketika punya kemauan untuk kaya
(Muhammad nurul banan)

22/06/2025

Rumus sukses = usaha + doa istri + doa ortu + sedekah + rajin sholat hajat + membuang mentalblock + feelgood + memaafkan orang-orang yang menyakiti + banyak berbuat baik + rendah hati + tidak sombong + karma + tidak menunda bayar utang + ... + ... + ... etc

Dulu, waktu kecil, saya dikasih rumus simple kalau mau berhasil dalam hidup ... Sukses, kuncinya belajar ... Tapi lama-lama, heran juga, ada yang belajarnya sudah rajin, kok masih sering gagal juga, masih bisa apes juga ...

Seiring waktu, ternyata faktor penentu sukses itu tiada terhingga ... Mbuh ... Unlimited ... Semakin kita nanya rumus sukses ke banyak orang, jawabannya berbeda-beda ... Jadi bagaimana? ... Dalam pandangan saya, tugas kita cuman 3 ...

1) Memperbanyak sebab, yang memperbesar kemungkinan mencapai hasil ...

2) Sebisa mungkin menghindari sebab, yang membatalkan hasil ...

3) Berserah kepada Tuhan, karena sedemikian banyak hal / variabel, yang tidak semuanya bisa kita kontrol ...

Lalu apa kesimp**an lainnya? ... Jalan paling cepat untuk jadi "kenthir" (gila), adalah dengan cara memperbesar keinginan / ego, untuk mengontrol semua hal dalam hidup ...

*Arif Rahutomo

20/06/2025

Kalau anda ke mesin ATM, atau ke teller bank ... Anda mau mengambil uang 100 juta ... Padahal, saldo anda di rekening bank anda, cuman 100 ribu, bisa? ... Jelas tidak bisa ... Kemampuan anda, dan keinginan anda mengambil uang, akan dibatasi oleh, "seberapa besar saldo yang anda miliki" ... Iya khan? ... Dan seberapa besar saldo anda, tergantung pada, "seberapa sering dan seberapa banyak, anda menabung" ... Jadi, ini mau mbahas apa sih? ...

Saya tidak mau membahas soal per-bank-an ... Namun dalam kerangka pemahaman saya, alam semesta adalah semacam "bank", dan kita semua, adalah "nasabah semesta" ... Apapun yang bisa menjadi nyata dalam hidup, adalah hasil pencairan, dari saldo-saldo yang masing-masing pribadi, yang ada di bank semesta ... Hal inilah, yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang ... Dampak dari ketidakpahaman ini apa? ... Misalnya begini ...

Saya sering dicurhati orang, "pak, saya sudah pakai teknik afirmasi, program bawah sadar, visualisasi, LoA, dan sebagainya, kok apa yang saya inginkan tidak jadi nyata ya?" ... Gini lho ... Ketika anda menginginkan sesuatu, itu ibarat anda mau menarik uang di bank ... Lha itu tadi, tabungan anda di "bank semesta" banyak atau tidak? ... Atau jangan-jangan, saldo anda kosong? ... Saldo tekor kok mintanya neko-neko hahahahahahaha ...

Rahasia keberlimpahan yang sudah teruji berabad-abad, adalah, "memberi, berbagi dan melakukan kebaikan" ... Semua hal itu, adalah kegiatan "menabung energi", sehingga saldo anda di bank semesta, melimpah ruah ... Kalau saldo anda banyak, bahkan, kadang tidak perlu menarik uang ... Kadang, bank semesta, memberikan hadiah, kepada nasabah mereka, yang saldonya besar ... Focus hidup itu, menabung, bukan mengambil ...

Lalu, penggerak kita mau menabung ke bank semesta itu apa? ... Penggerak yang terbaik adalah, "menyadari bahwa, kehidupan di dunia ini cuman sementara" ... Sehingga, kita tergerak untuk "tidak buang waktu", dan mengumpulkan tabungan sebanyak-banyaknya ... Kalau tabungan banyak, buat "dicairkan di dunia" cukup, buat "dicairkan di kehidupan pasca kematian", juga cukup ... Kesadaran seperti ini, akan menggerakan kita, untuk terus menabung kebaikan, "di sini, saat ini, setiap saat" ...

Kalau anda bertamu ke rumah seseorang, maka tuan rumah, akan memberikan hidangan, sajian, suguhan yang terbaik, kepada anda ... Tidak ada pun, di-ada-ada-kan, tidak mampu pun, kadang di-mampu-mampu-kan ... Hasrat tuan rumah, selalu ingin memberikan yang terbaik untuk tamu ... Sadarkah anda, bahwa, kita ini di dunia, hanyalah "bertamu" ... Kita cuman mampir sebentar, untuk kemudian, beranjak pergi, meneruskan perjalanan jiwa, ke tempat lainnya ...

Saat anda, merasa di sini untuk tinggal, anda tidak akan dimuliakan seperti tamu ... Namun, saat anda memiliki kesadaran sebagai "tamu", di dunia ini ... Maka, dunia, sebagai tuan rumah, akan memberikan hidangan, sajian, suguhan, makanan dan minuman, yang terbaik untuk anda ... Dan satu lagi ... Jadilah tamu yang santun ... Dunia sebagai tuan rumah, juga bisa muak, mengusir anda keluar, memperlakukan anda tidak dengan sebaik-baiknya, kalau anda cuman tamu, tapi anda pecicilan dan sok-sokan ...

Assalamu'alaikum wahai dunia ... Ijinkan saya bertamu ... Ijinkan saya untuk singgah sebentar, untuk menabung, sebanyak mungkin kebaikan ... Aamiin ...

_/|\_

*Arif Rahutomo

19/06/2025

Zero mind alias tidak menilai, dalam keadaan tertentu, jauh lebih mendamaikan, dibandingkan positive thinking ... Saya sering membuktikannya dalam beberapa situasi ...

Pernah, di depan kendaraan saya, ada mobil jalan pelan banget di tengah ... Menghalangi jalan lah ... Saya berpikir positif, mungkin dia ini lagi kebingungan nyari lokasi ... Beberapa waktu berlalu, masih aja begitu itu mobil ... Lalu saya salip dari kiri saat ada celah ...

Eh lhadala ... Itu ternyata mbak yang nyetir lagi telponan, sambil ketawa ketiwi ... Wedhus kowe mbak !! wakakakkk ...

Kenapa jadi "wedhus"? ... Karena saya telah membangun positive thinking, dan ternyata realitanya gak sesuai ... Saat positive thinking, tidak sesuai fakta, kita bisa negative thinking banget loh ... Pikiran kita langsung ekstrim berbalik ke kutub sebaliknya ... Asli sli sliii ... Wkkkkk ...

Kalau saja saya berpikir netral, tidak menilai, maka tidak ada perbandingan, antara prasangka kita dengan realita senyatanya ... Kalau pun pikiran mendadak negative, tidak akan se-ekstrim kalau kita sudah berpikir positive sebelumnya ...

Ini sama saja contohnya, kalau anda jualan, sebelumnya berpikir positive pasti dibeli jualannya ... Lalu realitanya ditolak atau tidak ada yang membeli, anda bakalan jadi negative thinking banget itu ... Tapi kalau zero mind ... Anda jualan ya jualan aja, ikhtiar ... Tapi gak mikir apakah nanti kejual atau tidak ... Maka saat begitu, kalau jualan anda laku ya gak bangga berlebihan ... Kalau ditolak juga enggak "baper" kelewatan ...

So, saat positive thinking, tidak bisa menolong anda ... Saat positive thinking, tidak cukup membaikkan hidup anda ... Cobalah tidak menilai ... Zero mind ... Netral ...

*Arif Rahutomo

17/06/2025

Saya mengamati, problem hidup kita lebih dominan disebabkan karena kita sendiri atau keterkaitannya dengan manusia lain ... Kalau Sang Maha Pencipta sih Maha Pengampun ... Jadi gak terlalu bikin pusing lah, meskipun ya gak terus disepelekan ...

Nah kalau manusia, kadang sulit memaafkan, kadang ada dendam, kadang ada iri ... Saya sih meyakini bahwa problem hidup yang gak selesai-selesai itu karena urusan dengan sesama manusia ini ... Misalnya saya dulu, pas ruwet sempat rajin sholatnya, rajin wirid, tapi urusan saya dengan manusia lain misalnya soal utang, pernah menyakiti hati orang tua, dan sebagainya, gak saya selesaikan ... Ya ruwet aja tuh hidup ...

Jadi, kalo sudah pake metode ho'oponopono lah, dzikir lah, meditasi lah, LoA lah, anu lah, itu lah dan masih aja tuh hidup amburadul ... Cek, pasti ada urusan dengan manusia lain, yang tidak atau belom diselesaikan ...

*Arif Rahutomo

13/06/2025

Zaman saya menggilai ilmu gaib, sekitar kelas 3 SMP, sampai kelas 1 SMA, banyak wiridan yang saya jalankan setiap hari ... Salah satu wiridan / amalan saya, adalah amalan ini ;

"WA-JA ‘ALNA MIN BAINI AIDIIHIM, SADDAN WA MIN KHALFIHIM, SADDAN FA AGHSYAINAAHUM FAHUM, LA YUBSHIRRUN ..."

Artinya : "dan Kami adakan di hadapan mereka dinding, dan di belakang mereka dinding (p**a), dan Kami tutup (mata) mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat ... (QS ; Yasin : 9) ...

Kalimat ayat di atas buat apa? ... Kalimat di atas, sering saya gunakan, kalau saya naik angkutan pedesaan, menuju kota, dimana saya bersekolah ... Perjalanan dari rumah ke sekolah, membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam, membutuhkan 2 jalur angkutan, alias ganti sekali ... Balik ke laptop, kalimat di atas buat apa? ... Coba baca baik-baik arti ayat di atas ... Supaya nyambung, dengan apa yang mau saya ceritakan, pada paragraf setelah ini ...

Kalau saya membaca kalimat di atas, dengan sebuah sikap bathin tertentu, yang ajarkan guru saya saat itu, saya akan menjadi "tidak terlihat" ... Akibatnya? ... Saya kalau naik angkutan, sering banget enggak mbayar ... Pada level kesadaran saya saat itu, emang asik ... Duit utuh, bisa buat jajan ... Saat itu saya tidak mikir, bahwa apa yang saya lakukan, merugikan kernet dan sopir angkutan ...Memang, tidak setiap kali "jurus" ini saya gunakan ... Tapi sering saya gunakan, selama 2 tahun (kelas 3 SMP - kelas 1 SMA) ...

Sampai suatu waktu, entah kenapa, kesadaran saya bergeser ... Ini saya ngapain ya, saya melakukan ini, kayak orang melarat aja ... Orang tua saya memang tidak kaya material, tapi ongkos naik kendaraan, kan saya dikasih ... Tidak ada keterdesakan, sehingga jurus ini dibutuhkan ... Saya sadar, saya terperangkap "ego kesaktian", yang penting gue untung, tidak perduli orang lain merugi ... Saya jadi malu, mosok saya tidak ada rasa terima kasih sama sekali, kepada kernet dan sopir angkutan ... Suruh bayar tarif pelajar aja, menghindar ...

Akhirnya, jurus itu, tidak pernah lagi saya gunakan ... Dalam bahasa saya sekarang, saya mengalami pergeseran level kesadaran ... Dari ego yang berpusat hanya untuk kepentingan diri sendiri, menuju pada empati dan memikirkan keuntungan bagi orang lain ... Zaman mahasiswa, saya pun mengalami pergeseran hal serupa itu, pada semester-semester akhir ... Awal-awal kuliah, kalau dosen saya salah, saya tidak segan mempermalukannya ... Sampai pernah, ada 1 dosen statistik gak mau mengajar lagi, karena saya sanggah di kelas ...

Zaman mahasiswa awal-awal, semangat saya membara sekali, kalau saya merasa benar ... Saya tidak perduli orang lain jadi malu kek, orang lain harga dirinya jatuh kek ... Kalau saya benar, saya hajar frontal ... Di semester semester akhir, saya melihat lebih luas, bukan hanya soal benar salah ... Menghargai usia orang yang lebih tua, menjaga harga diri orang lain, dan sebagainya, ikut saya pertimbangkan ... Hidup bagi saya, sudah tidak lagi melulu soal benar atau salah ....

Saya ambil contoh lainnya, supaya anda lebih nyambung ... Ketika anda masih kecil atau zaman remaja, dimana anda berbeda pendapat, dengan orang tua anda ... Mungkin anda pernah mengalami masa-masa, melawan orang tua, karena anda merasa benar ... Anda melawan dengan frontal ... Sering usia bertambah, bukankah anda lebih soft (halus)? ... Apalagi setelah anda punya anak ... Anda merasakan sendiri bahwa, mengasuh anak dan mendidik anak, tidaklah perkara mudah ... Respek anda pada orang tua bertambah ...

Kata banyak orang, "menua itu pasti, mendewasa itu pilihan" ... Kalimat itu tidak salah ... Namun saya melihat, tuanya usia seseorang, ikut berkontribusi pada pergeseran kesadaran seseorang ... Entah berapa persen kontribusinya, tapi saya yakin ada ... Ada beberapa pergeseran kesadaran, terjadi karena bertambahnya pengetahuan ... Namun ada beberapa pergeseran kesadaran, terjadi karena bertambahnya usia ... Anda belum naik juga kesadarannya?, belajarlah menambah pengetahuan anda ... Eh kok tidak naik juga level sadarnya? ... Itu bagaimana? ...

Ya itu tadi, "pada suatu keadaan tertentu, usia yang menua, berbicara lebih lantang dan memicu naiknya level kesadaran, daripada pengetahuan yang dikumpulkan" ... Jika sudah belajar macem-macem, kita gak bertumbuh level sadarnya ... Mungkin, kita perlu sedikit lebih menua usianya ...

_/|\_

*Arif Rahutomo

12/06/2025

Beberapa hari lalu, saya, istri saya, dan beberapa sahabat di Guyub Community, melakukan kegiatan sosial di panti asuhan ... Ini adalah kegiatan sosial komunitas kami, untuk keberapa kalinya, dengan sasaran yang berbeda-beda ...

Nah, ketika kami datang, lalu berkenalan dengan anak-anak di panti itu, ternyata, asal daerah anak-anak itu, jauh-jauh ... Banyak yang dari luar p**au Jawa ... Padahal, ini lokasi panti asuhannya "mblusuk", deket kuburan persis di sebelahnya ...

Pada saat, bapak pengelola panti asuhan menemui kami, lalu kami ngobrol dan bercanda, kami nanya banyak hal, untuk menimba pengalaman dan ilmu ... Dan dari sekian pertanyaan, salah satu pertanyaan kami begini, "pak, ini kan banyak anak-anak dari jauh, dari luar Jawa dan sebagainya, bagaimana kok bisa ketemu dengan bapak?"...

Jawabannya pertanyaan tadi, sungguh "dalam" ... Si bapak pengasuh panti menjawab, "jawabannya begini, ya anda semua khan gak kenal saya ... kok anda semua bisa datang ke sini?" ... Beugh, ini nancep ... Ini jawaban, yang seolah bukan jawaban, tapi ini jawaban ... Asli, saya bisa membaca, ilmu si bapak pengasuh panti ini, sangat mendalam ...

Iya juga ya ... Kami gak kenal si bapak ini, kok kami bisa ke sini? ... Wkkkk ... Fenomena ini mengingatkan saya, tentang fenomena peserta kelas vibrasi, beberapa tahun terakhir, setelah kelas saya pusatkan ke Yogyakarta ... Banyak peserta di kelas, gak berteman di facebook, gak tahu saya di youtube, gak pernah baca tulisan saya ... Dia hanya disuruh ikut oleh temannya ... Padahal, temannya itu ya belum pernah ikut ...

Yang lebih aneh lagi ... Sering, peserta kelas vibrasi, sudah membayar lunas ... Mendekati waktu pelaksanaan acara, nanya via whatsapp atau inbox, "pak, ini nanti kelasnya membahas apa sih?" ... Lha, saya nanya juga, "loh, anda udah mbayar lunas, anda sama sekali belum tahu nanti akan belajar apa, kok udah memutuskan ikut? ... Jawaban mereka, mirip jawaban si bapak pengasuh panti ... Jawabannya, " ya gak tahu, saya tergerak aja, untuk ikutan kelasnya pak Arif Rh" ...

Entah mengapa ... Saya semakin percaya ... Bahwa jiwa-jiwa yang ada pertalian karma, akan saling berjumpa, entah bagaimana cara-Nya ... Jiwa-jiwa yang se-frekuensi ... Akan saling bersilaturahmi, mengikuti gerakan dari hati ...

_/|\_

*Arif Rahutomo

09/06/2025

"Mas, suami saya menikah lagi, bahkan diam-diam tidak minta ijin saja ... Gimana ya mas, menerima semua ini sulit, dada rasanya sakit dan sesak beberapa bulan ini" ...

Entah sudah berapa kali, saya mendapatkan cerita soal "dimadu" demikian ... Banyak !! ... Dulu, saya tergoda untuk focus ke solusi ... Namun, sejak beberapa tahun lalu, saya tergoda untuk mengajukan pertanyaan ini :

"Pada rentang 7 generasi keluarga sebelum anda, atau pada silsilah keluarga suami anda, adakah yang poligami atau dipoligami?" ...

Jawaban dari pertanyaan itu, selalu "ADA", hanya beda-beda jawaban ... Ada yang orangtuanya, kakeknya, dan sebagainya ... Lalu, ada kesamaan lagi dalam hal ini :

"Apakah, wanita yang dipoligami dalam "generation above" anda itu, bisa menerima dipoligami, atau mereka tidak ikhlas, baik itu diungkapkan terang-terangan, atau dipendam di dalam hati mereka? ...

Jawabannya, kebanyakan wanita pada generasi sebelumnya, yang dipoligami, tidak bisa menerima kejadian itu ... Ada yang akhirnya minta cerai, ada yang tetap berumah-tangga, tapi ribut melulu dan ada yang kelihatan baik-baik saja, tapi dongkol di dalam ... Ada juga yang sampai-sampai, si wanita mengalami penyakit fisik serius, karena memendam emosi terhadap suaminya ...

Di sini, saya melihat beberapa variabel, yang ikut berkontribusi, dalam kasus ini :

1) Ada memory tentang kejadian yang sama, pada rentang 7 generasi sebelumnya.

2) Adanya emosi yang terperangkap, terkait kejadian itu, dan belum release.

Sampai di sini, apakah sudah paham, kenapa orang jawa zaman dulu, menerapkan konsep : "bibit, bebet dan bobot?" ... Karena latar belakang seseorang, akan sangat mempengaruhi kemungkinan alur realita kedepannya, saat berumah tangga ...

Kalau kamu sudah tahu, lalu tetap kamu "tabrak" aja ... Ya gak masalah sih ... Tapi, terima sepenuhnya, akan ada kemungkinan peristiwa itu akan terulang kembali ... So, jangan menyalahkan siapapun, karena itu adalah pilihan kamu sendiri ...

Apakah polanya bisa diputus, supaya tidak lagi "diwariskan"? ... Ya bisa donk ... Tapi hanya bisa dilakukan, saat kesadaranmu benar-benar masuk ke level yang dalam ....

_/|\_

*Arif Rahutomo

Want your place of worship to be the top-listed Place Of Worship in Central Java?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Address

Tegal
Central Java