Bait Rasa puisi cinta
“Bait Rasa dalam Diam, Tentang Luka, Rindu, Air Mata, dan Hati Seorang Wanita yang Tetap Bertahan di Tengah Kesunyian”
Memilih ingin menjauh
Sejauh mungkin
Sakit sendiri yang kurasakan kini
Kamu pernah menjadi satu-satunya nama
yang kusebut diam-diam di dalam doa,
menjadi alasan aku tersenyum
meski dunia sedang tidak baik-baik saja.
Aku pernah menaruh seluruh rasa
hanya padamu,
tanpa ragu, tanpa takut terluka.
Kupikir cinta akan tinggal,
kupikir hati yang saling menjaga
tak akan mudah berubah arah.
Tapi kini,
yang tersisa hanya sunyi
dan pesan-pesan yang tak lagi dibalas.
Kamu yang dulu begitu hangat,
sekarang terasa seperti orang asing
yang bahkan tak mengenal lukaku lagi.
Aku bertanya pada malam,
apa salahku sampai kamu tega
mendiamkanku seperti ini?
Padahal aku selalu ada
saat dunia menjauh darimu.
Sakit rasanya mencintai seseorang
yang perlahan memilih diam
daripada menjelaskan.
Karena kadang,
bukan perpisahan yang paling menyakitkan,
melainkan berubahnya seseorang
tanpa sepatah kata.
Aku tidak sepertimu
Mengabaikan perhatian orang😘
19/05/2026
Puaskah kau menyakitiku seperti ini?
Teganya kau membiarkanku tenggelam
dalam sepi yang tak pernah kau pedulikan.
Dulu tanganmu begitu hangat menggenggamku,
namun kini hatimu terasa jauh
meski tubuhmu masih di dekatku.
Ke mana kasih itu pergi?
Mengapa cintamu berubah sedingin malam
yang membuatku menangis diam-diam.
Aku lelah menunggu perhatian
yang semakin hari semakin hilang,
lelah berpura-pura kuat
padahal hati ini terus hancur perlahan.
Sanggupkah kau melihatku menderita seperti ini?
Melihat aku berjuang sendiri
menahan luka yang kau tinggalkan setiap hari.
Aku hanya ingin dicintai dengan tulus,
ingin didengar saat lelah,
ingin dipeluk saat dunia terasa berat.
Namun yang kudapat hanyalah diam
dan rasa sakit yang terus tumbuh.
Jika memang sudah tak ada kasih di hatimu untukku,
katakanlah dengan jujur,
jangan biarkan aku bertahan
di hubungan yang hanya membuatku terluka sendiri.
Karena cinta seharusnya menguatkan,
bukan membuat seseorang menangis setiap malam
mempertanyakan harga dirinya sendiri.
Dan bila akhirnya harus berpisah,
biarlah itu menjadi akhir dari luka,
daripada aku terus tinggal
dalam cinta yang tak lagi memiliki rasa.
Bait Rasa puisi cinta
19/05/2026
Kini aku mengerti,
tidak semua janji tinggal sampai akhir,
tidak semua pelukan mampu bertahan
saat hidup mulai dipenuhi luka dan air mata.
Dulu aku percaya,
dia akan mencintaiku selamanya,
menemani di waktu senang maupun susah,
menggenggam tanganku ketika dunia terasa berat.
Namun ternyata,
duka ini hanya aku yang memikul sendiri.
Aku berjalan sendiri mencari nafkah,
menahan lelah tanpa tempat bersandar,
tidur sendiri dengan hati yang sunyi,
sementara malam terus bertanya
mengapa cinta bisa berubah sedingin ini.
Tidak ada lagi suara lembut yang bertanya,
“kamu capek atau tidak?”
Tidak ada lagi perhatian kecil
yang dulu membuat hati merasa dihargai.
Yang tersisa hanyalah diam,
dan aku yang perlahan belajar kuat
meski hati terus retak setiap hari.
Kadang aku menangis diam-diam,
bukan karena aku lemah,
tetapi karena terlalu lama berjuang sendiri
di hubungan yang seharusnya dijalani berdua.
Aku hanya ingin dimengerti,
ingin dipeluk saat lelah,
ingin ada seseorang yang berkata
“terima kasih sudah bertahan sejauh ini.”
Namun malam mengajarkanku satu hal,
bahwa perempuan yang sering terluka
tetap bisa berdiri,
tetap bisa tersenyum,
meski hatinya penuh penyesalan dan kecewa.
Dan jika suatu hari nanti
aku kembali menemukan bahagia,
aku berharap itu datang
dari seseorang yang tidak hanya hadir saat s**a,
tetapi juga tetap tinggal
ketika hidup sedang paling sulit
Lelah sendiri
Gak tau apa yang
aku tunggu
18/05/2026
Jangan salahkan keadaan.
Aku sudah terlalu lama
memeluk luka sendirian
sambil berpura-pura kuat di depan dunia.
Aku pernah mencintaimu
dengan cara paling sederhana:
menanyakan kabarmu,
mengkhawatirkan harimu,
mendoakan langkahmu,
bahkan saat aku sendiri terluka.
Tapi kini aku sadar,
tidak semua hati
dihargai sebesar rasa yang diberi.
Ada cinta yang hanya singgah,
ada rindu yang hanya dijadikan tempat sementara.
Maka bila suatu saat
aku memilih pergi perlahan,
itu bukan karena aku tak lagi sayang.
Aku hanya ingin belajar
mencintai diriku sendiri
setelah terlalu lama kehilangan arah
karena mencintaimu terlalu dalam.
Kejarlah bahagiamu,
pergilah ke tempat yang membuatmu tenang.
Aku akan mencoba ikhlas,
meski hati ini masih menyebut namamu
di setiap malam yang sunyi.
Dan jika nanti
kau mengingatku kembali,
ingatlah satu hal—
pernah ada seseorang
yang mencintaimu tanpa syarat,
meski akhirnya ia harus kalah
oleh kecewa yang tak pernah selesai. 💔
18/05/2026
Kisahku yang pilu..
Aku pernah percaya bahwa rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang.
Tempat di mana lelah dipeluk hangat,
tempat air mata diseka dengan kasih sayang,
dan tempat hati merasa aman meski dunia begitu kejam.
Namun ternyata tidak semua rumah memiliki ketenangan.
Ada rumah yang dipenuhi diam,
ada cinta yang perlahan berubah dingin,
dan ada dua orang yang tinggal bersama
tetapi hatinya sudah saling menjauh.
Aku menjalani hari-hari dengan pura-pura kuat.
Tersenyum di depan anak-anak,
tertawa di depan orang lain,
padahal setiap malam aku menangis sendirian.
Aku tidur dengan hati penuh sesak,
sementara orang yang paling kuharap memelukku
justru menjauh dan menutup dirinya dariku.
Satu rumah terasa begitu asing.
Dia memilih tidur di kamar sendiri,
pintu tertutup rapat seolah aku bukan lagi bagian dari hidupnya.
Tidak ada sapaan,
tidak ada perhatian,
bahkan sekadar menanyakan kabarku pun tidak lagi ada.
Aku pernah mengetuk pintu itu perlahan,
berharap masih ada sedikit ruang untukku di hatinya.
Tetapi yang kudapat hanyalah penolakan dan dingin yang menusuk.
Sejak saat itu aku sadar,
kadang seseorang tidak perlu pergi dari rumah
untuk membuat kita merasa kehilangan.
Aku bertahan selama ini bukan karena tidak lelah.
Aku bertahan karena cinta,
karena anak-anak,
karena kenangan yang dulu begitu indah.
Aku terus meyakinkan diriku bahwa suatu hari semuanya akan membaik.
Bahwa dia akan kembali memandangku dengan cinta seperti dulu.
Tetapi waktu justru mengajarkanku kenyataan pahit.
Bahwa tidak semua perjuangan dihargai.
Tidak semua air mata dilihat.
Dan tidak semua hati yang bertahan
akan dipeluk kembali.
Ada malam-malam panjang
saat aku duduk sendirian di ruang tamu,
memandangi pintu kamar yang tertutup itu sambil bertanya pada Tuhan,
“Kurang apa lagi aku bertahan?”
Aku lelah menjadi orang yang selalu meminta dimengerti.
Lelah berharap pada seseorang
yang bahkan sudah tidak lagi peduli apakah aku terluka atau tidak.
Dan yang paling menyakitkan,
aku perlahan kehilangan diriku sendiri.
Aku menjadi perempuan yang mudah menangis,
mudah takut,
dan merasa tidak berharga hanya karena cinta yang tidak lagi utuh.
Kini aku mulai sadar…
kadang pergi bukan berarti membenci.
Kadang pergi adalah satu-satunya cara
agar hati ini tidak semakin hancur.
Aku tidak ingin hidup dalam hubungan
yang hanya dipenuhi keterpaksaan dan luka.
Aku ingin tenang.
Aku ingin kembali menemukan diriku yang dulu,
perempuan yang mampu tersenyum tanpa berpura-pura kuat.
Jika nanti aku benar-benar pergi,
bukan karena aku sudah tidak cinta.
Tetapi karena aku terlalu lama mencintai sendirian.
Dan mungkin suatu hari nanti
dia akan sadar bahwa perempuan yang diam-diam menangis setiap malam itu
pernah mencintainya dengan tulus.
Namun saat kesadaran itu datang,
mungkin aku sudah terlalu jauh untuk kembali.
18/05/2026
Sedikit lagi waktuku akan pergi darimu.
Bukan karena aku tidak cinta,
tetapi karena terlalu lama
kita saling diam dan kehilangan peduli.
Rumah ini masih sama,
namun hati kita sudah asing.
Kamu dengan duniamu,
aku dengan air mata,lelah dan
kecewaku sendiri.
Jangan ada penyesalan di antara kita.
Karena sebelum keputusan ini datang,
aku sudah berkali-kali mencoba bertahan,
menunggu, berharap maaf darimu
dan memperbaiki semuanya sendirian.
Kini saatnya kita belajar ikhlas.
Belajar menerima bahwa tidak semua yang bersama
ditakdirkan untuk tetap tinggal selamanya.
Biarkan aku pergi jauh tanpa dirimu.
Tidak perlu mencariku lagi,
karena hati yang terlalu sering terluka
akhirnya memilih pergi demi tenang.
Dan jika suatu hari nanti
kau mengingatku,
ingatlah bahwa aku pernah mencintaimu
dengan sungguh-sungguh,
meski akhirnya aku harus pergi
untuk menyelamatkan diriku.
18/05/2026
Semangat posting status
walau tak banyak yang memberi tanda s**a :)
Karena kadang,
yang paling tulus bukan yang ramai memuji,
melainkan diri sendiri
yang tetap kuat menulis rasa
meski sepi menyapa.
Tak semua luka harus dimengerti orang lain,
tak semua cerita harus mendapat perhatian.
Yang penting,
hatimu masih mampu bicara,
masih berani berdiri,
dan masih percaya
bahwa dirimu berharga
meski tanpa banyak like dan komentar
Click here to claim your Sponsored Listing.