Opini dari Rakyat

Opini dari Rakyat

Share

Suara dari Rakyat

11/10/2023

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Saung Angklung Ujo kembali bangkit setelah di hantam pandemi Covid-19 selama dua tahun lebih.

momen kebangkitanya itu ditandai dengan pagelaran angklung yang di inisiasi oleh Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE KIM) berhasil memecahkan rekor dunia Guinness World Record yang digelar di Stadion Gelora B**g Karno (GBK) pada Sabtu (5/8/2023) lalu. Dengan menghadirkan 15.110 peserta.

Direktur Utama PT Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat Udjo menceritakan bahwa betapa susah payahnya Saung Angklung Udjo untuk bangkit dari keterpurukan saat pandemi Covid-19.

Pasalnya, Saung Angklung Ujo ini merupakan destinasi berkumpulnya orang-orang untuk belajar dan menikmati seni. Tetapi, ketika pandemi kegiatan kumpul-kumpul justru dibatasi bahkan hingga adanya pelarangan lantaran khawatir menjadi penyebarluasan Covid-19.

“Saat covid itu membuat sarana yang kami miliki habis terjual dan menyisakan aset tanah. Bahkan, listrik yang ada di Saung Angklung ini sempat dicabut karena tak sanggup membayar.

Alhamdulillah ada beberapa bantuan tapi memang tak signifikan untuk tetap hidup saat pandemi, sampai pernah kami memasukkannya ke kitabisa.com karena ada banyak perut yang perlu kami penuhi,”kata Taufik di Saung Angklung Udjo kota Bandung Jabar Jumat (11/8/2023).

Menurutnya, acara ini bukan hanya sekedar menciptakan rekor baru, tetapi dengan adanya kegiatan ini diharapkan akan melekatkan budaya pada generasi bangsa dan menginspirasi dunia dalam menghadapi tantangan global.

“GWR ini bukan sekedar acara ceremonial, namun rangkaian kegiatan GWR telah mampu hidup dan menghidupi,” katanya.

Taufik menyebut, pertunjukan angklung massal ini diinisiasi langsung oleh Ibu Negara lriana Joko Widodo bersama para istri menteri-menteri sebagai salahsatu rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78.

Taufik mengungkapkan, Saung Angklung Udjo bersama para mitra pengrajin diminta Kemendikbud Ristek untuk menyiapkan 20.000 lebih angklung yang dibagikan kepada peserta dan ini menjadi kegiatan yang mampu menghidupkan lagi Ekosistem Angklung sehingga para petani bamboo hingga puluhan pengrajin angklung dapat menunjukan eksistensinya kembali setelah serangan panjang Covid 19 yang mereka harus kehilangan mata pencahariannya.

“Meskipun ada kendala yang dihadapi, semisal mesti membuat puluhan ribu angklung yang hampir tak dapat disanggupi lantaran pengrajin angklung sudah beralih profesi. Tapi karena keinginan untuk suksesnya acara, kami pun semaksimal mungkin memberikan yang terbaik dan Alhamdulillah bisa tepat waktu. Kendala lainnya, mengumpulkan peserta yang mau bermain,” ucapnya.

Taufik menambahkan, Covid-19 membawa hikmah agar ke depannya harus waspada. Saat ini, kondisi Saung Angklung Udjo pun sudah kembali normal dan Taufik bersyukur masa sulit itu bisa terlalui.

“Kami berharap angklung bisa tersebar ke berbagai tempat, khususnya berbagai kementerian. Dan, angklung tak hanya dimainkan saat itu saja alias di momen-momen tertentu, tapi bisa hidup di setiap harinya,”pungkasnya.

(Yusuf Mugni/Anthika Asmara)
https://fokusjabar.id/2023/08/11/semangat-bangkit-dari-hantaman-pandemi-saung-angklung-udjo-berhasil-raih-rekor-dunia-guinnes-word-record/

Saung Angklung Udjo, Pengiring Rekor Dunia Pertunjukan Angklung 10/10/2023

Jakarta, CNN Indonesia -- Saung Angklung Udjo (SAU) sukses menjadi inisiator pemecah rekor baru untuk pagelaran angklung terbesar di dunia pada Sabtu (5/8) lalu di Stadion Utama Gelora B**g Karno (SUGBK).
Pusat pelatihan alat musik tradisional bambu tersebut sukses memandu 15.110 peserta untuk membawakan dua lagu, yakni Berkibarlah Benderaku ciptaan Ibu Sud dan Wind of Change dari band asal Jerman, Scorpions di tengah perayaan Hari Ulang Tahun Ke-78 Kemerdekaan RI.

Berkat pencapaian tersebut, Indonesia memecahkan rekor Guinness World Record dan mengalahkan catatan 5.182 peserta pada 2011 lalu di Washington D.C, AS.

Dilansir melalui situs resmi Saung Angklung Udjo dan beberapa sumber lain, SAU dideskripsikan sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi komprehensif.

Bertempat di wilayah perbukitan di sebelah timur kota Bandung, SAU menyajikan pertunjukan, pusat kerajinan bambu, serta lokakarya pembuatan alat musik tradisional bambu.

Selain itu, SAU ditujukan menjadi laboratorium pendidikan dan pusat pembelajaran untuk melestarikan kebudayaan Sunda, terutama alat musik angklung.

Saung ini pertama kali didirikan pada 1966 oleh Udjo Ngalagena dan sang istri, Uum Sumiati, dengan misi utama memelihara dan melestarikan kebudayaan tradisional Sunda.

Sosok Mang Udjo sendiri merupakan pengrajin bambu yang kerap membuat mainan maupun alat musik tradisional. Ia mendirikan saung tersebut sebagai wadah bagi masyarakat untuk bertemu dan saling menyajikan karya berlandaskan kebudayaan lokal.

Udjo juga dikenal atas terobosan dan inovasinya untuk memperkenalkan angklung dengan bungkus yang lebih modern supaya dapat diterima oleh khalayak luas.

Meski Mang Udjo telah tiada, anak dan istrinya masih melanjutkan inovasi angklung tersebut melalui SAU. Oleh karena itu sejak berdiri hingga saat ini, SAU tetap berlokasi di Jalan Padasuka 118, Bandung Timur, Jawa barat, Indonesia.

Selain pertunjukan latihan rutin pada setiap sore, Saung Angklung Udjo juga telah beberapa kali mengadakan pertunjukan istimewa di pagi atau siang hari.

Acara-acara ini tidak hanya berlangsung di auditorium SAU, tetapi juga diundang untuk tampil di berbagai tempat baik dalam maupun luar negeri.

Pada pertengahan 2000-an, SAU menggelar konser kolaboratif yang begitu megah bersama dengan Sherina di Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung.

Selain menawarkan pertunjukan seni, Saung Angklung Udjo juga menjual beragam produk alat musik bambu tradisional seperti angklung, arumba, calung, dan lainnya kepada pengunjung dan pembeli.

Dalam penerapannya, SAU mengolah seluruh pendapatan yang digunakan untuk biaya pendidikan anak-anak setempat, terutama dari kalangan keluarga kurang mampu.

SAU bahkan telah menyabet berbagai penghargaan di tingkat nasional hingga internasional termasuk meraih Best ASEAN Cultural Preservation Effort dalam ajang ASEANTA Awards 2016.

Meski begitu, ketika dampak pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia sejak awal 2020 lalu, SAU pernah terpaksa melelang 13 alat musiknya melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Lelang ini bersifat non eksekusi sukarela atau bukan bagian dari barang yang disita.

Beberapa alat musik yang dilelang diantaranya unit orkestra angklung dengan harga limit Rp13 juta dan unit orkestra minimalis dengan harga limit Rp5 juta.

Pada Juni 2021, keturunan Mang Udjo sekaligus Direktur Utama PT SAU Taufik Hidayat Udjo menjelaskan pandemi Covid-19 membuat aktivitas di SAU terhenti dan kesulitan untuk bertahan.

Namun kini, SAU tetap bertahan secara swadaya dan berhasil menorehkan catatan baru sebagai konduktor pagelaran angklung terbesar di dunia.

(far/chs)

Saung Angklung Udjo, Pengiring Rekor Dunia Pertunjukan Angklung Saung Angklung Udjo (SAU) sukses menjadi inisiator pemecah rekor baru untuk pagelaran angklung terbesar di dunia di Stadion Utama Gelora B**g Karno.

07/10/2023

Kapan terakhir kali kamu menonton pertunjukan seni budaya Sunda?

07/10/2023

Menurut anda, apakah budaya Sunda masih terlestarikan dengan baik?

06/10/2023

Selamat datang di Opini dari Rakyat, silahkan kirimkan opini anda sebagai Rakyat kepada kami

06/10/2023

Menurut Anda, tahun berapakah Indonesia akan menjadi negara maju?

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Bandung?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Website

Address

Jalan Gatot Subroto
Bandung
40275