SaneExplorer
Aceh Tour Event Organizer
All about Tourism, Culture, History in Aceh
COMING SOON!
#cahayaaceh
#pesonaindonesia
#saneexplorer
03/01/2017
Kubah Masjid Al-Tsunami
Desa Gurah, Peukan Bada,
Aceh Besar, Aceh.
Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 memang menjadi bencana terbesar di abad ke-21. Jejak kedahsyatan gelombang tsunami yang menelan ratusan ribu korban jiwa itu bahkan masih bisa disaksikan hingga kini.
Salah satu bukti kedahsyatan itu adalah berpindahnya kubah masjid berbobot 80 ton di Desa Gurah, Peukan Bada, Aceh Besar. Kubah yang kini dikenal dengan nama Masjid Al-Tsunami ini dulunya merupakan kubah masjid Jamik di Desa Lamteungoh, Peukan Bada, Aceh Besar.
Saat gelombang tsunami menerjang Aceh 2004 lalu, seluruh bangunan masjid rusak dan hanya menyisakan kubah masjid berdiameter 4x4 meter. Kubah itu terbawa arus gelombang sejauh 2,5 kilometer dan terdampar di Desa Gurah.
Kubah saat ini berada di tengah sawah, di pinggiran bukit Desa Gurah. Sawah itu dulu milik warga, namun telah diwakafkan untuk dudukan kubah tersebut.
Kubah ini juga disebut sebagai kapal penyelamat. Banyak orang menyelamatkan diri dengan naik ke atas kubah saat tsunami menerjang.
Awal kubah ditemukan, warga juga menemukan beberapa kitab suci Al-Quran yang telah terendam gelombang tsunami di lokasi kubah. Saat ini Al-Quran yang telah hancur itu disatukan dalam sebuah wadah kaca.
Kubah Masjid Al-Tsunami kini menjadi salah satu destinasi wisata di Aceh.
Pic by
Sumber Artikel : http://news.liputan6.com/read/2151749/dahsyatnya-tsunami-aceh-kubah-masjid-80-ton-terseret-25-km
13/12/2016
Benteng Indra Patra.
Desa Ladong, Masjid Raya ,Aceh Besar
Aceh, Indonesia.
Aceh tidak saja menyimpan sejarah tentang kejayaan peradaban Islam semasa Kesultanan Aceh saja. Jauh sebelum Islam masuk ke dalam kehidupan masyarakat Aceh, agama Hindu telah terlebih dahulu berkembang di masyarakat. Salah satu saksi bisu masa keemasan kerajaan Hindu di Aceh adalah Benteng Indra Patra.
Situs arkeologi ini didirikan sekitar tahun 604 M oleh Putra Raja Harsya yang berkuasa di India, yang melarikan diri dari kejaran Bangsa Huna. Keberadaan benteng ini menjadi peninggalan sejarah mengenai proses masuknya pengaruh Hindu dari India ke Aceh. Diperkirakan pada saat itu, Kerajaan Hindu, Lamuri, mulai berkembang di daerah Pesisir Utara Aceh Besar.
Dalam aspek fungsionalitas, benteng ini mengalami perkembangan sehingga masih dipergunakan hingga masa Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh.
Semasa Kesultanan Aceh, benteng ini berperan besar sebagai salah satu garis pertahanan dalam menghadapi Portugis.
Salah satu keunikan yang dimiliki benteng ini terletak pada susunan konstruksinya yang kokoh. Kekokohan benteng ini terbentuk oleh struktur penyusunnya yang terbuat dari bongkahan batu gunung yang saling merekat kuat satu sama lain. Rahasianya terletak pada adonan yang merekatkan bongkahan-bongkahan batu gunung tersebut.
Adonan tersebut dibuat dari campuran kapur, tumbukan kulit kerang, tanah liat dan putih telur. Penggunaan putih telur sebagai perekat bangunan seperti ini juga dapat kita temukan di beberapa bangunan kuno lain di Nusantara seperti Candi Borobudur dan Prambanan.
-+ Situs ini sudah berumur 1.000 tahun lebih...
*sumber artikel: http://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/sepenggal-sejarah-peralihan-hindu-islam-di-aceh
01/12/2016
Gunongan & Makan Kandang
Sukaramai,Baituhrrahman
Banda Aceh, Aceh
Indonesia
GUNONGAN merupakan simbol dan kekuatan cinta Sultan Iskandar Muda kepada sang permaisuri. Seorang putri cantik nan jelita dari Kerajaan Pahang, Malaysia.
Bangunan berbentuk persegi enam, menyerupai bunga dan bertingkat tiga dengan tingkat utama berbentuk mahkota itu dibangun pada abad ke-16 (1607-1636)
Gunongan tak berdiri sendiri, ada Kandang Baginda atau Balai Kembang Cahaya di belakangnya. Bangunan berbentuk persegi ini merupakan tempat makan-makan kerajaan, sebelum menjadi makam Sultan Iskandar Thani dan permaisurinya, Sultanah Safiatuddin Tajul Alam (1642-1675), putri Iskandar Muda
Kurang lebih umur c***r budaya ini telah berumur -+ 400 tahun
27/11/2016
Museum Rumah Cut Nyak Dhien
Lam Pisang, Peukan Bada
Aceh Besar, Aceh
Indonesia
Rumah ini Merupakan kediaman Cut Nyak Dien dan Teuku Umar didirikan pihak Belanda pada tahun 1873 sebagai bentuk apresiasi atas bergabungnya sang suami Cut Nyak Dien dengan Belanda.
Namun pada tahun 1896 Rumah ini di bakar oleh Belanda, setelah tahu siasat Teuku Umar.
Replika pun dibangun kembali, pada tahun 1981, selesai setahun kemudian.
Pada tanggal 4 februari tahun 1987 di resmikan/tandatangani oleh Fuad Hasan.
Sekarang Rumah Cut Nyak Dhien merupakan salah satu destinasi wisata sejarah di Kabupaten Aceh Besar
*sumber = acehguide.com
25/11/2016
.
Mesjid Raya Baiturrahman
Baituhrrahman,Banda Aceh
Aceh, Indonesia
Direktur Operasional PT Waskita Karya, Adi Wibowo bersama pihak PT Artefak Arkindo, selaku konsultan perencana dan pengawas, optimis pembangunanakan selesai tepat waktu akhir Juni 2017, termasuk untuk pembangunan lapangan parkir bawah tanah, tempat wudhuk, pemasangan lantai marmer , serta pemasangan 12 payung besar di kanan kiri masjid raya dan samping kanan kolam. *sumber berita
18/11/2016
Distinasi wajib bagi anda yang datang ke Banda Aceh.
Lokasi Pantai Lampuuk persisnya di wilayah barat Aceh, sekitar 15 kilometer dari Banda Aceh.
Pantai Lampuuk memiliki garis pantai sepanjang sekitar 5 kilometer.
Pantai ini berpasir putih bersih nan lembut, air laut berwarna biru kehijauan.
Ke arah daratan terdapat pepohonan pinus yang rimbun dan lebih jauh lagi terlihat deretan pegunungan yang hijau.
Di hampir sepanjang garis pantai dapat ditemui pondokan yang siap menghilangkan dahaga sembari minum es kelapa muda, atau menghilangkan rasa lapar anda dengan santapan ikan bakar khas lampuuk.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Address
23243